Selamat Datang!

Alqatiri ; Penulis Sastra di Papua harus menjadi alat kontrol sosial

Kelas Menulis Puisi Kosapa 

Kosapa – “Penulis Sastra di Papua harus menjadi alat kritik, kontrol sosial. Sebab banyak orang menulis tentang Papua  yang bagus bagus dengan keindahan alam cinta dsb. Tetapi fakta di sekitar kita berbeda-beda sehingga penulis muda Papua harus mengambil bagian.”
Sastrawan Papua Igir Alqatiri mengatakan, generasi muda Papua harus mampu menulis puisi dari perspektif yang berbeda, agar semua penulis tidak mengikuti aliran puisi romantisme. Tapi bagaimana ada yang  bisa menuliskan berdasarkan aliran puisi realis.
“Saya kebanyakan menulis tetang, cinta, keindahan dibaluti dengan kritik sosial atas fakta-fakta yang terjadi di Papua. Soal makna tegantung pembacanya yang akan menafsirkannya,” katanya, kepada wartawan Suara Mee saat menyimpaikan materi pada Kelas Puisi yang di akomodir oleh Komunitas Sastra Papua (Ko’SaPa) belum lama ini.
Alqatiri mengatakan, jangan orang luar yang menulis tentang sastra Papua, sebab selama ini merka menulis hanya sebatas romantisme, keindahan dan mengabaikan fakta kejadian hari ini .
“Kalau orang luar yang menulis tentang satra di Papu itu perspektifnya berbeda dengan orang Papua terhadap perlakuan penguasa kepada orang Papua, marginalisasi,kesenjangan sosial, pelanggaran HAM selama ini,” katanya. 
Lanjut Alqatiri, generasi muda diajak untuk kembali menulis produk sastra sendiri dari apa yang terjadi di Papua.  Menurut Alqatiri kalau menulis puisi harus mampu menpadukan perasaan, Cinta, Rindu, benci,marah, cemburu sehingga puisi kita menjadi lebih menarik.
Selain menceriterakan pengalamannya bergelut di dunia Sastra, Sastrwati Vony Aronggear mengajak generasi muda Papua untuk perbanyak membaca buku, untuk menambah perbendarahaan kata sinonim kata dan tidak bias ketika menulis.  
“Kita orang Papua dekat dengaan sastra lisan. Tidak punya referensi. Kalau orang luar Papua mereka punya data otentik. Sehingga kita juga harus ada pendokumentasian sastra di Papua,” imbuhnya.
Selain itu aktivis Literasi di Papua Ummu Fatimah Lestari mengatakan, sewaktu menulis puisi penulis juga perlu memahami alur menulis Puisi. Dan belajar juga dari sastrawan terdahulu.
“Kenapa semikian karena ketika kita menulis puisi kita tidak hanya asal menulis tetapi bagaimana kita bisa sesuai dengan alur yang ada. Lama kelamaan kalau sudah terbiasa barulah silahkan menulis sebebasnya,” katanya.
Bagikan ke :
 
KITORANG : TIM REDAKSI | TERBITAN | PROFIL
Semua tulisan dalam situs ini memiliki HAK CIPTA, untuk memakai tulisan Komunitas Sastra Papua silahkan hubungi kami sastrapapua@gmail.com | Copyright © 2020 KO'SAPA.
Admin by TIM REDAKSI KO'SAPA
Proudly powered by dzulcyber.