Sadar literasi, selamatkan diri dari semua pertanyaan dalam ko punya pikiran dan hati

Sadar literasi, selamatkan diri dari semua pertanyaan dalam ko punya pikiran dan hati

“Sadar literasi, selamatkan diri dari semua pertanyaan dalam ko punya pikiran dan hati”

Oleh : Norberd Kemi W. Bobii

Lambung dirusaki jika asupan makan minum kosong, otak dan hati dirusaki jika perpustakaan buku kosong ; di organ tubuh mana kah posisi tempat duduknya literasi pengetahuan kemajuan kita itu ?”
; refleksi terhadap hari buku nasional 17 mei 2020 dan hentinya aktifitas pendidikan formal pasca pandemi covid-19.

Kehidupan manusia dipengaruhi oleh pengetahuan sebagai penuntunnya dalam praktik keseharian untuk menjawab kebutuhan hidup, menuntaskan banyaknya pertanyaan dalam dirinya atas rasa heran, keraguan dan sadar dengan keterbatasannya terhadap segala sesuatu multisegi secara pandangan fisik, hasil analisis sementara dari realitas dan pengetahuan dalam diri sejak kecil.

Pengetahuan tersebut berkembang dari proses inderawi seseorang terhadap semesta alam dan kehidupan sekitarnya dan sebagian besar proses inderawi tersebut telah menjadi proses ilmiah dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan baik dari zaman aristoteles 384 SM, zaman renasains atau zaman modern sejak tahun 1500 untuk membuka jalan kemajuan manusia terhadap segala sesuatu. (DR. Harry Hamersma, 2008)

Berbagai pertanyaan ada dalam hati dan pikiran manusia yang lebih kecil susunannya dan kontekstual maupun ide yang belum dituntaskan agar menjadi realitas bermakna, namun kebuntuan menghalangi dengan jelas segala pertanyaan itu, nah disinilah pengetahuan  itu sebagai suntik hormon adrenalin yang aktif yang kuat mendorong manusia mendalami pengetahuan sebagai literasi dan menuntaskan segala pertanyaan itu.

Literasi secara sederhana yaitu belajar dari kata latin literatus orang yang belajar, proses belajar ini akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan dalam upaya penyelidikan dalam diri terhadap sesuatu materi benda dan ide atau gagasan didapatkan dari salah satunya adalah buku. Buku disini yang dimaksudkan adalah memahami tulisan, makna atau naskah ilmiah dari buku untuk menciptakan mendorong melakukan sesuatu dari tempat duduknya pengetahuan tersebut.

Buku terus dijadikan sebagai pijakan dan sarana utama dalam pembelajaran manusia di zaman modern. Dengan buku manusia menjadi tahu asal dan tujuan serta syarat syarat dalam menyelesaikan pertanyaan atas bidangnya, keinginan, latar belakang dan motivasinya. Buku adalah sumber literasi menuntun manusia untuk berliterasi dari kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu.

Dunia akan terus maju, bertumbuh dan semuanya telah dibuat dalam buku untuk dimaknai secara komprehensif, yang belum dibuat dalam buku adalah tugas manusia masa kini tersebut untuk memberikan terang dari literasinya yang didapat dan dihasilkan agar menuntaskan realitas yang dilihat kurang, belum ataupun tidak bersesuaian dengan makna dan nilai tertentu untuk kemajuan individu dan kemajuan bersama dalam kelompok apapun.

Literasi tersebut kemudian menjadi pusat kelola sumber awal pentingya pengetahuan untuk dilakukan. Literasi ini termasuk dalam ajaran dan didikan sehingga timbullah pengajaran dan pendidikan. Pendidikan itu sendiri bersifat ajar dan didik, dari kata didik sebagai proses ajar dan evaluasi yang mendidik. Pendidikan kemudian dibentuk formal, non formal dan informal.

Dalam rangka literasi, manusia merasa pendidikan formal di sekolah dan kampus adalah ibu dari segalanya  dan akhir pengetahuan sehingga menghentikan tubuh dan pikirannya untuk mengenal pendidikan non formal berupa kursus, les tambahan dan sejeninsnya serta terutama menghalangi dengan sangat kuat pendidikan informal yaitu belajar mandiri atau berliterasi mandiri.

Dahulu saat manusia belum dalam kesadaran berilmu pengetahuan yaitu saat sejak ia kecil, manusia tersebut memperoleh pendidikan informal dari siapa saja, tentu dari orang tua, keluarga, komunitas dan lingkungannya, namun setelah memasuki usia sadar akan ilmu dan teknologi manusia menginjak dan menindas pengetahuan, bayangkan ketika dahulu orang tua dan lingkungan tidak memberikan pendidikan informal kepada manusia itu, apakah dia ada di kemajuan pengetahuan dirinya hari ini.

Axin (1976) dan Soedomo (1989) mendefinisikan bahwa pendidikan informal yaitu pendidikan yang diterima tanpa sengaja. Berdasarkan definisi kalimat tanpa sengaja ini, maka menurut saya pendidikan informal adalah kegiatan literasi individu ataupun individu dalam kelompok tanpa syarat normatif yang bertanya dalam dirinya dan berhasrat memiliki tujuan tertentu.

Memahami literasi secara filosofis ontologisnya, yaitu ontos yang berarti ada dan logos ilmu diartikan menjadi ilmu tentang yang ada. Dari asal filosofisnya oleh Louis O Katsoff yaitu mencari ultimate reality atau realitas tertinggi atau asal semua benda yang ada. Hal ini tentang hakikat yang ada, membahas mengenai ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. (Prof. DR. Amsal Bachtiar, MA; Filsafat ilmu :134)

Landasan ontologis tersebut dalam pemikiran oleh Ki Hajar Dewantara adalah memaknai pendidikan sebagai alat perjuangan kebudayaan yaitu daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya pikiran (intelek) dan budi pekerti yaitu kekuatan batin, karakter. (Kompasiana: KHD,2004:15)

Karena hebatnya peran literasi, baik secara formal, non formal terutama informal maka lahirlah seorang Albert Einstein penemu rumus fisika dunia, juga seorang penemu rumus fisika lainnya George Saa memenangkan first step to nobel prize in physics pada tahun 2004 dengan makalahnya berjudul infinite triangle and hexagonal lattice networks of identical resistor yaitu rumus penghitung hambatan antara dua titik rangkaian resistor disebut George Saa Formula.

Lebih jauh lagi Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela setelah sekolah hukum dan berliterasi, menyaksikan realitas saat itu, sejak lama dengan organisasi antikolonial apartheid sehingga memiliki pola menumbangkan apartheid yang rasial, menindas dan memerdekakan Afrika Selatan dan menciptakan perdamaian di dunia.

Banyak lagi orang orang yang karena hasil literasi sehingga mendedikasikan diri terhadap pemikiran bagi dunia seperti Karl Marx yang belajar juga dari filsafat klasik jerman, ekonomi politik inggris dan sosialisme prancis dengan telah melahirkan sosialisme ilmiah sebagai potensi revolusi oleh kaum pekerja yang akhirnya dipraktekan oleh lenin, mao, che guevara dan lainnya menggunakan teori marx yang disebut marxisme. (NSS Kristeva, MA; Negara Marxis dan Revolusi Proletariat).

Hal inipun dikarenakan karena Marx sering bergulat dalam literasi dan sangat berprinsip pada literasi hasil dari membaca pengetahuan, menulis dan munculnya pertanyaan dalam diri terhadap kekacauan realitas sehingga menunjuk jalan ilmiah keinginan masyarakat dunia yang adil dan maju bersama secara sosial.

Ibnu Sina seorang bapak kedokteran dunia juga ulama islam, ilmuwan, dokter dan filsuf tahun 980 M, yang pertama kali berpikir tentang metode sosical distancing, physically distancing (jaga jarak fisik) dan no sosial panik dalam analisis dan penemuan soal bahaya virus, yang kini juga sedang digunakan World Health Organization (WHO) Lembaga Kesehatan Dunia untuk semua negara dalam wabah pandemi Corona (COVID-19) sejak 2019, 2020. Kedokteran barat sebagian besar berkembang dari seorang ulama persia ini.

Nadiem Makariem pengusaha pendiri gojek yang kini sukses, awalnya telah melihat realitas ojek setiap hari dan memiliki segudang literasi menuju sukses dan menjadi Menteri Pendidikan Indonesia di usia 35 tahun. Di Papua, Arnold Ap seorang seniman budayawan Papua yang mahir dalam seni dan menghasilkan makna melalui seni dan budaya secara sosial bagi masyarakat luas dan dikenang dan menghantarkan hati dan pikiran masyarakat dalam suasana tergerak dan bergerak.

Mereka diatas adalah contoh keberhasilan sadar maju akan literasi. Pada dasarnya bahwa manusia adalah seorang penanya atau filsuf karena keseringan bertanya dalam hati dan pikiran bahwa kenapa hal ini bisa begini  dan begitu, kenapa bentuk dan keadaan ini bisa terjadi dan bagaimana cara membuka pemahaman bersama soal pertanyaan itu, ini dimulai semua dengan sadar literasi dan dapat menjadi orang yang memajukan kehidupan. Buku kitab suci, buku berbagai ilmu, buku berbagai pengetahuan adalah sarana manusia bisa memulai hal hal tertentu.

Tanpa literasi yang dimulai dari membaca sering, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah masalah tertentu, kita hanyalah kita saat ini dari masa lalu, bukan kita yang maju, progress dan kita bukanlah masa depan karena tak tahu membuka jalan bagi gelapnya jalan kita sendiri dan jalan mereka yang lain.

Saya ingin memberikan dukungan lebih dengan penekanan kepada pendidikan informal yang dapat kita sebut sebagai literasi informal. Tanpa punya rasa sadar dari dalam akar sel tubuh kita hanya tahu bermimpi dan menjadi robot dalam literasi formal yang kaku dan plegmatis. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah praktik pembebasan. Dalam literasi informal kita mengijinkan kemajuan pikiran dan hati dalam diri mewujudkan kebenaran dan terang masa kini kepada masa depan.

Manusia bisa belajar tentang segala sesuatu yang dirasa bahwa itu ada dan dilakukan serta harus dituntaskan demi kebaikan, proses mengejar kebenaran, kemajuan dan juga manusia bisa belajar tentang sesuatu ilmu yang telah pasti ada baik hitungan, materi, struktur untuk penerapan lanjut serta lebih kompleks dan juga manusia bisa belajar sesuatu tentang yang lebih tinggi tak terbatas diantara intelek dan moral yaitu hubungan spiritual tentang sang kuasa. Manusia diupayakan maju berpengetahuan dan berkembang dengan pesat, tentunya pembelajaran pengetahuan itu semuanya dikomandoi dengan jelas oleh satu nama marga yang besar yaitu literasi.

Salam Literasi.

Post a Comment

Previous Post Next Post