K A P A K --Novel Etnografi, Tujuh

K A P A K --Novel Etnografi, Tujuh







DOKTER ASTRID terpaku di VK, ia harus berhadapan dengan ibu partus dalam kondisi vagina yang telah compang-camping. Sifilis itu telah mencapai stadium paling parah, membentuk bunga-bunga kol (kondilomata lata). Dari mana wanita Asmat ini terjangkit penyakit kelamin? Dokter wanita itu menarik napas panjang. Tentu, ia tak perlu bersusah-payah untuk mendapatkan jawaban. Komoditi gaharu yang kian marak, plasma-plasma yang bermunculan, para pencari kayu yang membanjir, kemudian PSK---Pekerja Seks Komersial---tentunya sudah menjadi lebih dari sekadar jawaban. Satu hal yang tak terduga adalah, bahwa penyakit menular yang dibawa para PSK itu akhirnya menjalar kepada orang Asmat sebagai penduduk asli, dan ibu-ibu sebgai pihak pasif yang dapat tertular selalu menjadi korban. Ibu partus yang tengah mengerang, memperjuangkan kelahiran bayi itulah buktinya.
“Kenakan handskun baik-baik, penyakit itu akan menular bila sedikit saja kita menyentuhnya, injeksi antibiotik dosis tinggi setelah bayinya lahir, kemudian rekomendasikan untuk kontrol sampai penyakitnya sembuh sama sekali,” Dokter Astrid akhirnya bersuara setelah mampu menguasai diri dari keterkejutan.
“Baik, Dok,” jawab bidan kepala yang selalu bersenang hati melaksanakan tugasnya. Sementara dua bidan desa yang lain tengah sibuk menyiapkan bermacam peralatan partus, pispot, gunting tali plasenta, pipet pengisap lendir, jarum, benang jahit, serta satu ampul antibiotik dosis tinggi.
“Bagaimana ibu ini bisa tertular?” tanpa sadar Dokter Astrid bergumam perlahan seakan ia tak mampu menganalisis masalah dengan kemampuannya sebagai dokter.
“Ini tablet penambah darah, satu hari satu kali. Jangan lupa Ibu harus rajin berobat sampai penyakit Ibu sembuh,” Bidan Sita berpesan sambil menyampaikan satu sachet SF.
“Oh ya Ibu, mana paitua?” Dokter Astrid bertanya.
“Ada di luar,” wanita itu menjawab, ia berjalan terbungkuk-bungkuk, menahan sakit pada bagian perutnya.
Dokter Astrid bermaksud berbicara dengan suami wanita itu, tapi seorang mantri tampak datang tergesa-gesa. “Pagi, Dok, ada telepon dari Kapolsek, penting.”
“Baik, tapi tolong periksa Bapa ini, mungkin dorang terkena PMS, lakukan terapi. Rekomendasikan kontrol sampai sembuh penyakitnya,” Dokter Astrid berpesan sambil bergegas menuju ke ruang kerja.
“Baik, Dok,” jawab mantri itu.
Beberapa detik kemudian Dokter Astrid telah berada di ruang kerja dan segera mengangkat gagang telepon yang tergeletak di atas meja. “Halo, selamat pagi, Bapak Kapolsek,” demikian Dokter Astrid berbicara.
“Selamat pagi, Dokter, maaf mengganggu,” terdengar suara khas Kapolssek dengan logat Batak-nya yang kental.
“Apa yang bisa saya bantu?” Dokter Astrid bertanya.
“Kami baru saja menerima laporan dari Desa Buetkuar, ada tiga orang wanita terbunuh di sana. Apakah Dokter bisa membantu kami untuk melakukan visum?” suara Kapolsek terlontar dengan tegas, meski nada permohonan ada tersirat di sana. Kapolsek itu menunggu beberapa saat, tapi tak segera mendapat jawaban.
“Halo, Dokter masih ada di situ?”
“Oh masih, Bapa, maaf, kapan visum dilakukan?” Dokter Astrid tergagap, ia tak dapat menutupi keterkejutannya.
“Secepatnya, kalau Dokter tidak keberatan. Kita tidak bisa menunda sampai mayat itu membusuk.”
“Baik, Pak, saya akan segera bersiap-siap,” Dokter Astrid menutup gagang telepon dengan tangan setengah gemetar. Ia baru saja terenyak oleh ibu partus dengan sifilis yang sudah kronis. Belum lagi ia dapat sepenuhnya menguasai keterkejutan itu, maka kini ia harus berhadapan dengan kasus pembunuhan tiga orang wanita. Dokter itu memerlukan beberapa menit untuk menempatkan keseimbangan diri dalam rasionalitas sebelum berjalan tergesa menuju ke rumah dinas yang terletak di belakang Puskesmas, di kompleks perumahan pegawai.
Dokter itu menyempatkan diri masuk ke ruang emergency untuk memastikan ada paramedis yang berjaga-jaga di situ. Ketika dokter itu melihat mantri Yusak telah selesai membersihkan ruangan, wanita itu segera berkata, “Mantri Yusak, apakah Anda bisa pergi bersama saya dengan tim dari Polsek untuk melakukan visum korban pembunuhan di Buetkuar?” kata-kata itu terlontar dengan tegas. Di lain pihak, Yusak, seorang anak Asmat yang telah tumbuh dewasa sebagai paramedis, terdiam sesaat. Sepasang matanya yang dalam memandang pimpinan Puskesmas ini, seakan ingin mendapat kepastian, bahwa kata-kata yang telah terucap ini benar adanya.
“Oke?” Dokter Astrid mencoba memperoleh kesanggupan, ia sengaja memilih Yusak, karena mantri ini memahami betul adat-istiadat masyarakat setempat. Bukankah ia adalah seorang pelaku dari istiadat itu?
“Baik, Dokter,” mantri Yusak segera berdiri. Dalam waktu beberapa menit ia harus mempersiapkan diri untuk menempuh empat jam perjalanan dengan speedboat, menuju desa yang paling terpencil dari ibu kota wilayah Asmat ini. Mantri itu mengerti, mengapa Dokter selalu memilihnya sebagai rekan kerja dalam setiap perjalanan dinas. Ia adalah “tuan tanah”, yang memahami tiap jengkal kehidupan di tempat ini. Sementara dokter PTT itu, bertugas dalam rangka pengabdian setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, tiga tahun masa pengabdian dengan satu tahun yang telah dilampaui, tidaklah cukup baginya untuk memahami adat-istiadat suku Asmat dengan segala misteri dan kebisuan masyarakat dalam menjawab setiap pertanyaan.
Sementara itu, di rumah dinas yang tersusun rapi dari papan-papan, Dokter Astrid tengah sibuk mengepak perbekalan. Ia telah mengganti seragam dinasnya dengan celana jins, T-shirt, sepatu kets, dan jaket berwarna kelam yang sangat tebal. Wanita itu menyambar selendang tenun ikat dari Maumere untuk didilitkan pada lehernya yang jenjang, kemudian menyelipkan sebilah pisau lipat pada saku celananya. Pisau itu akan sangat bermanfaat selama dalam perjalanan.
Dokter Astrid mengunci pintu, kemudian berjalan dengan langkah pasti menuju ke ruang kerja paramedis. Mantri Yusak telah siap dengan perlengkapan visum di dalam ransel. “Siap, Dok?” demikian mantri Yusak bertanya. Mantri itu melirik pada tas kulit yang tesandang di bahu Dokter Astrid, ia mengerti pimpinannya tak pernah lupa membawa perbekalan, seperti air Vit, gula-gula, kue kering, dan catatan harian, sehingga tas itu tampak mengembung, karena isi yang berjubel.
“Ayo berangkat. Oh ya, Bidan Sita, kitorang jalan dulu, mau buat visum pembunuhan di Buetkuar. Jaga Puskesmas baik-baik,” Dokter Astrid berpesan.
“Baik, Dok,” Bidan Sita menganggukkan kepala, ia melepas kedua orang itu pergi, kemudian kembali sibuk dengan laporan imunisasi yang harus diselesaikan bulan ini.
Dokter Astrid dan Mantri Yusak segera berjalan di atas jembatan yang disusun dari papan-papan kayu besi yang terus memanjang sebagai sarana perbuhungan di desa ini. Penebangan hutan yang mulai terjadi sejak tahun 1960-an, setelah wilayah Asmat dikenal masyarakat luar telah menyebabkan erosi. Air laut pun naik, menggenangi permukaan tanah, sehingga daratan yang keras berubah menjadi endapan lumpur. Membangun rumah panggung dan jembatan dari papan-papan merupakan solusi untuk melangsungkan kehidupan di tempat ini.
Dokter Astrid teringat pada Jimny hadiah orangtuanya setelah ia melakukan sumpah sebagai dokter. Ia pun tersenyum masam, sarana transportasi modern itu tak berarti apa-apa di tempat terpencil ini. Kondisi jalan yang ada tak memungkinkan bagi pengendara untuk melaju di atas mobil kecuali bila ia mau jatuh terjungkir ke dalam lumpur. Mereka terus berjalan dengan sangat hati-hati, hujan yang turun semalam telah menggenangi papan-papan dan membuatnya menjadi sangat licin.
Di kantor Polsek telah menunggu beberapa orang yang siap berangkat ke Buekuar dengan sekadar perbekalan. Mereka adalah Kapolsek Tambunan, Serda Effendi, seorang driver, dan dua orang penduduk Buetkuar yang datang melapor. Kedatangan Dokter Astrid dan Mantri Yusak agaknya telah ditunggu, nyata sekali bahwa rombongan itu telah siap berangkat ke tempat tujuan.
“Selamat pagi menjelang siang, maaf kitorang terlambat,” Dokter Astrid mengulurkan tangan kepada setiap orang yang hadir di kantor itu, senyumnya yang tersungging tampak sebagai suatu keramahan, memukau setiap orang. Dokter Astrid sadar akan keterpukauan itu, tapi ia adalah seorang profesional, ia tak mau mengambil manfaat atas semua itu dan bersikap seolah-olah tak ada yang amat menarik dari penampilannya.
“Terima kasih, Anda bersedia datang untuk tugas ini,” Kapolsek Tambunan menjabat tangan Dokter Astrid dengan erat. Ia sungguh bersimpati dengan keberadaan dokter itu di tempat terpencil ini. Meski jauh dalam hati letnan dua itu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ditanyakan seorang nona manis berpendidikan tinggi di belantara ini? Sementara kesanggupan untuk ikut serta melakukan visum korban pembunuhan di desa paling terpencil merupakan sebuah keberanian setelah beragam misteri dan kekerasan hidup.
Mereka berjalan beriringan menuju dermaga kecil yang terletak di seputar kompleks pasar. Di sana, speed boat dengan johnson 85 PK telah menunggu. Dengan amat hati-hati satu demi satu orang menuruni anak tangga untuk mencapai kendaraan air itu. semua telah siap di tempat masing-masing ketika johnson meraung kemudian speed boat bergerak meninggalkan dermaga dengan permukaan air Sungai Asuwetsy yang terpecah seperti ekor di belakangnya. Dokter Astrid merapatkan jaket dan tenun ikat di lehernya untuk melindungi diri dari angin yang menerpa. Di atas langit biru membentang, sebagai suatu pertanda, bahwa hari ini tak akan turun hujan. Hal ini berarti, bahwa drum-drum yang kosong tak bisa segera terisi, kecuali bila seseorang bersedia mendorong gerobak untuk membeli air di PAM atau YKPA---Yayasan Kemajuan dan Pengembangan Wilayah Asmat.
Speed boat terus melaju, didorong oleh kekuatan 85 PK dari johnson yang terus meraung, menjauh dari desa Bis Agats. Desa itu kini tampak sebagai sekelompok rumah disangga ribuan tiang dengan permukaan Sungai Asuwetsy yang terus bergelombang kecil di bawahnya. Ketika pemukiman penduduk itu telah terlampaui, maka pemandangan yang tampak pada dua tepi kali adalah rimbun pohon mangi-mangi. Selebihnya hijau rimba belantara, tiada bertepi. Sesekali rombongan kecil itu melewati desa yang tampak sepi, karena penghuninya tengah pergi ke hutan untuk meramah sagu.
“Oh iya, siapa yang terbunuh, Bapa?” Dokter Astrid membuka pembicaraan, memecah beku suasana, karena setiap orang yang berada di dalam speed boat itu tenggelam dalam tanda tanya tentang kejadian tragis itu.
“Tiga orang istri kepala perang,” jawab Letnan Dua Tambunan.
“Tiga orang istri kepala perang?!” Dokter Astrid ternganga. “Bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi?” dokter itu berusaha semampunya untuk menguasai keterkejutan, tapi sepasang matanya yang terus terbelalak cuku menunjukkan, bahwa ia tak sepenuhnya mampu menguasai diri.
“Seseorang telah melakukannya. Kita belum tahu persis apa motifnya dan bagaimana prosesnya,” Letnan Dua Tambunan menjawab tenang, sama tenangnya dengan suasana hutan yang ada di seputar speed boat itu. Letnan itu telah bertahun-tahun menjadi begitu dekat dengan bermacam kejahatan, ia selalu berkepala dingin manakala berhadapan dengan setiap kasus, yang paling tragis sekalipun.
Dokter Astrid terdiam, ia tak lagi bertanya atau berkata-kata. Wanita itu ternggelam dalam sebuah pemahaman yang sulit dicerna, tapi tak mampu ditolaknya. Berulang kali ia berhadapan dengan kasus mengerikan yang menimpa perempuan pada suku ini, manakala mereka mesti jatuh sebagai korban.
Sementara itu johnson terus menderu, suaranya bergaung, menggema ke seluruh penjuru hutan, memapas jarak yang terentang untuk mencapai sebuah tujuan. Ketika dari kejauhan mulai tampak atap ilalang menyembul dari balik rimbunan hutan, maka kecepatan mesin dikurangi, semakin lambat, dan akhirnya berhenti sama sekali. Suara yang tersisa hanyalah deburan lirih yang dari gelombang kecil yang memukul dinding speed boat. Mereka tak berani segera merapat ke tepi sungai. Dari jarak yang tidak terlalu jauh itu, nyata-nyata terdengar suara hiruk-pikuk dari seisi kampung yang telah menghambur ke luar rumah dan mengamuk beramai-ramai dengan bermacam senjata perang tergenggam di tangan.
Suara hiruk-pikuk itu seakan berubah menjadi reruntuhan gempa ketika tampak bayang-bayang speed boat bergerak mendekat. Letnan Dua Tambunan perlu melepas tembakan ke udara untuk menenangkan situasi, tapi tampaknya bunyi senjata api itu tidak memberikan pengaruh apa pun, bahkan menjadi pemicu bagi orang-orang yang sedang berkabung sekaligus meradang itu untuk berteriak lebih keras lagi.
“Dor!” sekali lagi Letnan Tambunan melepaskan tembakan ke udara, dan suasana menjadi semakin gaduh. Ketika untuk yang ketiga kali tembakan dilepas, akan tetapi tidak ada tanda-tanda, bahwa massa bisa ditenangkan, maka Letnan Tambunan menyilakan dua orang penduduk Buetkuar yang datang melapor untuk turun, berbicara kepada kepala perang, mengenai maksud kedatangannya.
Dua orang itu pun menurut kemudian melompat dari speed boat untuk menjelang kepala perang yang tengah menggenggam sebatang tombak. Dari kejauhan Letnan Tambunan beserta rombongan menyaksikan pembicaraan itu dalam bentuk adegan bisu. Tak berapa lama kemudian tampak kepala perang itu memberikan perintah supaya semua orang tenang dan segera meletakkan senjata. Suasana telah benar-benar reda ketika rombongan kecil dalam speed boat itu turun satu demi satu kemudian menjabat tangan kepala perang itu.
“Selamato,” demikian satu sama lain berucap kemudian semuanya berjalan beriringan menuju ke rumah bujang. Dokter Astrid berusaha sedapat mungkin untuk menguasai rasa takut, ia berjalan merapat di antara Letnan Tambunan dan Sersan Efendi untuk menjaga kemungkinan buruk yang terjadi, bila sewaktu-waktu ada senjata yang terlepas memburu sasaran.
“Bagaimana kejadiannya?” Letnan Tambunan membuka pembicaraan.
“Hari kemarin, ketika saya pulang dari hutan untuk mencari maitua, saya punya anak menjawab, Yowero su bunuh mamak. Saya cari satu demi satu dan ketiganya saya dapati sudah tidak bernyawa lagi. Semuanya berlumuran darah, karena bacokan kapak,” Jirimo menjawab.
“Siapa Yowero?” Letnan Tambunan kembali bertanya.
Dorang, masyarakat desa ini juga, Bapa,” jawab Jirimo singkat.
“Di mana anak itu sekarang?”
Dorang su lari. Kitorang su  mencari ke sana kemari, tapi dorang tarada lagi.”
“Bapa ada punya masalah dengan itu anak?” pertanyaan Letnan dijawab Jirimo dengan gelengan kepala. Ketika ia menatap Jirimo dalam-dalam untuk menjenguk bagian paling gelap pada diri kepala perang itu, maka orang yang ditatapnya segera membuang pandang. Matanya yang merah kembali basah.
Letnan Tambunan terdiam, pembunuhan baginya bukanlah kasus kriminal yang aneh, tapi apa motifnya? Letnan itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali berbicara. “Baiklah, Bapa, sekarang kita harap Bapa dengan masyarakat tenang. Sebentar Ibu Dokter akan periksa itu mayat-mayat untuk memastikan, bahwa Bapa punya maitua memang benar korban pembunuhan. Setelah itu kami akan berusaha untuk menangkap pelakunya. Nanti, kalau pelaku itu tertangkap, kitorang bisa adili dorang sesuai dengan kesalahannya.”
Jirimo terdiam, ia memerlukan beberapa saat untuk menyusun kekuatan supaya bisa menenangkan masyarakatnya. Sebagai kepala perang ia memang cukup berpengaruh untuk itu dan segera melakukannya. “Saudara-saudara, ini Bapak Polisi dan Ibu Dokter datang ke kampung ini untuk periksa mayat maitua dan menangkap Yowero si pembunuh. Saya harap semua tenang supaya Bapa dan Ibu bisa bekerja dengan baik. Yowero pasti akan ditangkap dan mendapatkan hukuman.” Kata-kata Jirimo besar sekali pengaruhnya, karena semua orang yang berada di rumah bujang tak ada satu pun yang melawan. Semuanya keluar dari rumah bujang kemudian berjalan beriringan menuju ke pemakaman yang terletak di seberang perkampungan.
Setelah menyeberangi sungai dengan mendayung perahu, maka sampailah mereka di tempat yang dituju. Tiga gundukan tanah yang masih merah. Tak ada rangkaian bunga sebagai tanda dukacita, kecuali daun-daun kering yang gugur berserakan.
“Bapa Jirimo, sebelumnya kami memohon maaf, karena harus mengganggu maitua punya istirahat. Penggalian ini terpaksa dilakukan supaya kami dapat memastikan adanya pembunuhan kemudian dapat menangkap pelakunya,” Letnan Tambunan berbicara dengan amat hati-hati pada Jirimo, ia sungguh-sungguh tak punya cara lain untuk membuktikan pembunuhan itu kecuali dengan melakukan visum pada tubuh korban.
Di lain pihak Jirimo terdiam, berat hati kepala perang itu untuk membongkar kembali kuburan istrinya, tapi apakah ia punya cara lain untuk menuntut keadilan kecuali dengan cara menggali mayat-mayat itu. Jirimo menatap gundukan tanah itu berlama-lama, perlahan ketika kepalanya mengangguk, maka orang-orang pun segera bekerja mengayunkan cangkul. Setelah suara mata cangkul yang beradu berulang kali dengan tanah berlumpur, maka sedu sedan mulai terdengar. Semakin lama sedu sedan itu semakin ramai dan akhirnya pecah menjadi isak tangis. Tangis itu segera berubah menjadi raungan berkepanjangan ketika mayat-mayat itu tertampakkan dan diangkat ke permukaan. Di antara orang-orang itu ada yang melolong ada pula yang berguling-guling di atas lumpur. Bau busuk menyengat hidung. Dokter Astrid dan Mantri Yusak telah mengenakan masker, sehingga dapat melindungi diri dari bau yang menyengat itu. Sementara Letnan Tambunan dan Sersan Efendi segera melilitkan jaket pada seputar hidung. Untuk yang kesekian kali mereka harus berhadapan dengan tragis kasus pembunuhan dan kekuatan hati selalu menjadi jawaban. Demikianlah tugas mereka.
Dokter Astrid bekerja dengan profesional. Sebagai seorang wanita diam-diam hatinya teriris, tapi sebagai seorang dokter ia harus menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Dokter itu menyerahkan buku visum dan alat tulis kepada Mantri Yusak kemudian menggunakan sarung tangan. Tak seorang pun di tempat itu yang menyadari, bahwa tangan dokter itu gemetar, karena rasa takut yang dalam.
Seisi kampung mengantar kepergian itu dalam bisu. Mereka tak bisa mengerti, mengapa mayat-mayat harus digali, diperiksa, kemudian Mantri Yusak menuliskan semua kata-kata yang diucapkan Dokter Astrid. Tapi mereka tak juga melontarkan pertanyaan, karena tidak mengerti bagaimana pertanyaan itu harus dilontarkan. Rombongan kecil di atas speed boat itu melambaikan tangan kepada Jirimo ketika mesin Jonson mulai menderu, mengacaukan suasana hening di kampung itu. Jirimo berdiri di tepi sungai memandang kendaraan air itu berlalu dengan sepasang mata hampa. Hati kepala perang itu luluh-lantak sudah, ia tak pernah menyangka, bahwa suatu saat harus kehilangan ketiga istrinya dengan cara yang amat tragis. Apa salah mereka, sehingga harus menjelang ajal di ujung mata kapak. Jirimo terduduk lemas memandang bayang-bayang speed boat yang kian lama kian mengecil dan akhirnya menghilang di balik tikungan.
Jirimo terus memandang ke depan seolah ingin menembus rimbunan hutan yang membatasi jarak pandang. Ia tak sadar, bahwa di sekitarnya tak lagi tampak manusia. Ia sendiri kini dan kesendirian itu sungguh memilukan. Jirimo mencoba memikirkan kembali bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi, tapi ia terlalu bebal untuk menjawab semua itu dan akhirnya menjadi bisu.
Sementara semakin jauh dari tempat Jirimo terpaku, rombongan Kapolsek terus bergerak di atas speed boat, tak seorang pun dari kelima orang itu yang berbicara. Letnan Tambunan terdiam dalam kebisuan, ia sadar tugas berat sedang menunggunya. Bila kasus pembunuhan ini tidak segera terungkap, maka masyarakat Buetkuar akan terus mengamuk, sementara radiogram dari Polres Merauke akan selalu berisi, “Tuntaskan kasus ini.” Tuntutan itu adalah perintah yang tak bisa ditawar. Letnan itu menyadari posisinya sebagai penegak hukum sekaligus sebagai bawahan. Ia harus tunduk kepada komandan tanpa syarat. Tanpa syarat!
Tanpa terasa matahari telah condong ke barat. Letnan Tambunan tersentak ketika ia merasa perutnya lapar. Pagi tadi ia hanya sarapan kue donat dan segelas susu cokelat kemudian tergesa pergi ke kantor untuk memimpin rombongan ini melakukan visum. Ia sengaja membawa perbekalan untuk makan siang di tengah jalan. Rasa lapar dan jarak yang telah ditempuh, cukup jauh untuk melupakan bau bacin dan rasa ngeri setelah penggalian mayat.
“Oke, kita berhenti untuk makan siang. Sudah lewat waktu unutk makan,” Letnan Tambunan memberi isyarat kepada driver untuk menepi di bawah pohon rindang yang cabangnya menjorok di atas permukaan air sungai. Suasana menjadi sunyi ketika mesin johnson dimatikan. Driver itu menambatkan tali pada sebatang pohon mangi-mangi, sehingga speed boat menjadi tenang. Perbekalan dibuka, nasi kuning, air Vit, gula-gula, dan kue kering yang dibawa Dokter Astrid.
“Ayo, Dokter, beginilah kita punya kehidupan di hutan. Mengapa Dokter memilih kehidupan di tempat terpencil ini?” Letnan Tambunan membuka pembicaraan sambil menyapkan nasi kuning ke mulutnya. Nasi itu terasa enak disantap dalam keadaan lapar di tengah keheningan hutan pula.
“Patung Asmat merupakan misteri bagi orang yang pernah mendengar nama Asmat,” Dokter Astrid menjawab singkat sambil membuka kotak nasi kuning di tangannya. Ia sungguh-sungguh merasa lapar. Ia telah terbiasa melakukan visum dengan kondisi mayat yang paling rusak dan mengerikan sekalipun, sehingga tak memerlukan waktu terlalu panjang untuk melupakan semua itu. Dokter Astrid sadar, bahwa kesehatan adalah modal utama sebelum aktivitas berikut menyusul kemudian. Ia harus memaksakan diri menelan makanan atau menanggung risiko terkena malaria. Dan dokter itu tidak mau menanggung akibat yang kedua.
“Sekarang Dokter sudah berada di dalam misteri itu, bagaimana kira-kira proses pembunuhan wanita itu terjadi?” Sersan Efendi menimpali.
“Keadaan korban cukup menunjukkan, bahwa si pelaku diliputi dendam yang mendalam dengan motivasi yang cukup rumit, kecuali bila ia mau menjawabnya dalam interogasi,” Dokter Astrid mengunyah nasi pelan-pelan. Berulang kali ia melakukan patroli ke desa-desa dengan paramadis dan PLKB kemudian menghabiskan bekal dengan cara seperti ini, tapi kali ini ia merasa ada sesuatu yang lain menyusup ke dalam benaknya. Nasib tragis tiga wanita itu, apa dosanya, sehingga maut menjemput dengan cara yang mengerikan?
“Dokter melamun?” tegur Mantri Yusak.
“Ah tidak…” Dokter Astrid tersedak, kemudian terbatuk-batuk.
“Inilah Asmat yang pernah Dokter bayangkan waktu masih di Jawa. Dokter menyesal?” Mantri Yusak kembali bertanya.
“Saya tidak menyesal. Saya sangat bersyukur bisa bertugas di wilayah Asmat dalam waktu yang cukup lama. Saya cuma menaruh belas kasihan kepada kaum wanita di sini. Dalam banyak kasus mereka selalu menjadi korban. Suatu saat saya akan menulis buku tentang wanita Asmat,” Dokter Astrid membuang pandang jauh-jauh, seakan tengah merekam seluruh penderitaan wanita Asmat.
“Kalau buku itu terbit, tolonglah kirim untuk saya satu,” Letnan Tambunan menadahkan tangan dengan muka lucu, sehingga Dokter Astrid mengakhiri kegalauan itu dengan senyum tersungging. Ia selalu mempunyai kesan yang mendalam setiap menyelesaikan tugas sebagai dokter.
Mereka menyudahi makan siang ini di atas air, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Kecamatan Agats. Rasa lelah menyebabkan masing-masing pihak berdiam diri, hingga menjelang rembang petang perjalanan berakhir di tempat tujuan.
***
Radiogram mengenai kasus pembunuhan ini segera dikirim ke Polres Merauke, Timika, serta Polsek lain yang berada di sekitar kecamatan ini. Setelah itu, maka aparat keamanan yang bertanggung jawab terhadap kasus ini hanya bisa melakukan satu hal, menunggu. Letnan Tambunan tak bisa menunggu lebih lama, karena telepon di ruang kerjanya segera berdering, ia harus segera turun ke Merauke dalam rangka panggilan dinas. Dengan perlahan Letnan itu meletakkan gagang telepon, ia terenyak beberapa saat sebelum tangannya bergerak menekan sejumlah nomor telepon.
“Halo, selamat pagi, dengan Kapolsek ini. Saya mau tanya apakah ada penerbangan ke Merauke pada Selasa besok? Oh, tidak ada? Kenapa? Ya, ya, terima kasih.” Gagang telepon diletakkan kembali dengan hentakan yang cukup kuat. Sekarang hari Kamis, sepuluh hari lagi ia sudah harus berada di Merauke untuk menghadiri rapat dinas. Pengerbangan pada hari Selasa tidak bisa diharap, karena persediaan aftur sudah lewat tanggal. Merpati baru akan landing di Bandara Ewer setelah persediaan aftur dikirim kembali dengan kapal. Kapan kapal akan sandar di dermaga? Letnan Tambunan kembali menekan sejumlah nomor telepon.
“Halo, selamat pagi, kantor Pelni, dengan Kapolsek ini. Saya mau tanya, kapan kira-kira kapal masuk? Bulan depan? Bukankah Iweri pada bulan lalu sudah tidak masuk ke sini? Oh, baik, baik, terima kasih.” Letnan itu kembali meletakkan gagang telepon, kali ini dengan geram. Ia harus sampai di tempat tujuan dalam waktu kurang dari sepuluh hari, sementara sarana transportasi, baik laut maupun udara tak bisa diharapkan sama sekali. Datang terlambat atau tidak datang sama sekali adalah masalah besar. Pintu sel selalu terbuka lebar bagi aparat yang melalaikan tugas. Ia harus melakukan upaya-upaya untuk mencapai kota Merauke dalam waktu kurang dari sepuluh hari. Dengan langkah tegap Letnan itu berjalan menuju ruang SSB yang terletak di belakang bangunan kantor Polsek. Di sana ia mendapatkan Sersan Dua Efendi tengah seruis menyampaikan berita di muka corong.
“Sersan Efendi, tolong kirim berita ke Senggo supaya anggota Polsek sana memesan tiket Merpati untuk penerbangan ke Merauke pada Senin depan.”
“Siap, Dan,” jawab Sersan Dua Efenedi.
Setelah itu Letnan Tambunan kembali disibukkan dengan bermacam masalah yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat ini, pencurian, perkelahian, orang-orang yang mabuk dan berbuat onar, serta PSK yang bergentayangan, memburu keuntungan gaharu tanpa adanya izin resmi dari pemerintah setempat. Kepala Letnan itu menjadi berdenyut-denyut, sungguh pun ia telah terkondisi untuk selalu berhadapan dengan penyakit-penyakit masyarakat, tapi sepanjang pengalamannya sebagai polisi, ia belum pernah bertugas di tempat yang sekacau ini, terlebih setelah gaharu semakin marak sementara krisis ekonomi terus berkepanjangan.
Ketika tiba-tiba Sersan Efendi muncul di muka pintu, kemudian mengatakan bahwa tiket penerbangan Senggo—Merauke sudah siap untuk Senin depan, Letnan itu merasa denyutan di kepalanya mulai berkurang. Keberangkatan ke Merauke berarti ia bisa melepaskan diri dari tugas yang melelahkan. Selebihnya adalah suasana segar dari jalanan aspal yang licin, kendaraan yang berlalu-lalang, lampu-lampu yang berbinar, dan berjenis-jenis buah-buahan. Letnan Tambunan semakin merasa lebih baik ketika berpamit kepada Sersan Mayor Agustan yang akan berlaku sebagai pejabat sementara selama perjalnaan dinasnya ke Merauke.
“Pak Agustan, saya berangkat, Anda bertugas menjadi pimpinan di sini sampai tugas saya selesai. Kasus pembunuhan ini harus diusut sampai tuntas,” demikian Letnan Tambunan berpesan.
“Siap, Dan,” Sersan Mayour Agustan menjawab singkat kemudian menjabat tangan komandannya erat-erat. Sersan mayor itu berdiri beberapa saat lamanya di tepi dermaga melepas Letnan Tambunan berangkat ke Senggo dengan mengendarai speed boat. Letnan itu harus menempuh delapan jam perjalanan di atas air untuk mencapai bandara Senggo kemudian terbang dengan twin otter menuju ibu kota Kabupaten Merauke untuk memenuhi panggilan dinas.
Sersan Mayor itu masih tetap berdiri di tepi dermaga hingga speed boat yang membawa Kapolsek pergi tampak semakin menjauh dan akhirnya melarut dalam riak air. Sersan Agustan menghela napas dalam-dalam. Ia sadar, setelah kepergian Kapolsek, maka seluruh tugas berat akan terpikul di pundaknya. Dan pembunuhan tiga istri kepala perang itu….
Sersan Agustan menjadi gamang. Ia sudah lebih dari sekadar letih dengan masalah perjudian, peredaran minuman keras, yang membuat para peminum menjadi mabuk kemudian membuat keributan, dan prostitusi liar itu. Kesulitan transportasi menyebabkan orang yang bepergian ke Merauke akan memperpanjang masa tinggal hingga lebih dari satu bulan, meski keperluan yang harus diselesaikan hanya memerlukan waktu beberapa hari. Hal itu berarti, bahwa selam Kapolsek tidak berada di tempat tugas, maka ia harus mampu menyelesaikan segala persoalan yang muncul.
Agustan sudah dua puluh tahun lamanya bertugas di wilayah Asmat, berpindah dari satu kecamatan menuju kecamatan lain. Ia cukup menyadari, bahwa selama kurun waktu itu pula ada banyak orang yang hilang tanpa jejak dan tak pernah bisa ditemukan jasadnya. Tak seorang pun menduga, apa yang sebenarnya telah terjadi pada orang-orang yang malang itu? Ia merekam semua kejadian itu di kepalanya, dan semakin hari kepalanya semakin terasa berat. Tak mudah bekerja di wilayah terpencil, sementara masyarakat yang harus dibina telah mengalami culture shock. Era globalisasi yang memungkinkan segala macam perubahan serta bentuk interaksi sosial merambah wilayah ini, tanpa pengontrol. Kesenjangan dan keributan yang terlalu sering terjadi akibat peredaran minuman keras adalah dampak mencemaskan yang nyaris tak bisa ditanggulangi.
Kalau saja boleh memilih, Agustan lebih senang bertugas di kota. Jumlah aparat yang berlebih memungkinkan ia bisa bekerja dengan damai, sementara rasa percaya dari masyarakat masih ada. Fungsi sebagai petugas keamanan masih berjalan pada alurnya. Tapi di tempat ini? Apalah arti dirinya? Ia dengan dua-tiga bintara yang aktif bertugas? Agustan tidak pusing dengan jabatan sebagai Kapolsek yang ditawarkan, manakala kecamatan ini mengalami pemekaran. Jabatan itu hanya sekadar difinitif, tidak ditunjang dengan dana operasional yang memadai, terlebih dukungan dari masyarakat. Apalah arti semua itu, bila dibandingkan dengan segala macam penderitaan yang harus dipikul sebagai anggota? Tapi, adakah ia memiliki banyak pilihan? Sebagai prajurit ia hanya dapat menjawab “Siap, Komandan,” zonder persyaratan. Dan ia selalu siap selama dua puluh tahun lamanya.
Sersan mayor itu berjalan perlahan, menuju kediamannya, sebuah rumah panggung yang disusun dari papan-papan. Ia harus bersiap untuk ikut serta dalam kunjungan ke desa bersama Tipika. Empat jam setelah speed boat melaju, meninggalkan dermaga, membawa rombongan kecil itu ke Desa Ewer, maka Sersan Dua Efendi yang tengah mengirim berita lewat SSB, dikunjungi seorang tamu tak dikenal.
“Selamat pagi, Bapa,” suara itu terlontar secara tiba-tiba dari mulut seorang remaja yang berdiri di ambang pintu.
Sersan Efendi menoleh sesaat, ia memberi isyarat supaya remaja itu menunggu, kemudian kembali melanjutkan tugas, menerima dan menyampaikan berita. SSB adalah media paling tepat untuk berkomunikasi setelah jarak yang amat jauh dan sarana transportasi yang amat terbatas. Sersan itu memerlukan waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan tugas hari ini dengan satu perintah yang membuat kepalanya terasa berat. “Tuntaskan kasus pembunuhan tiga istri kepala perang itu!”
“Bagaimana beliau?” sersan itu membuka pembicaraan.
“Begini, Bapa, kitorang mau datang berlindung,” suara itu terucap perlahan dari lidah yang gemetar.
“Berlindung? Kamu orang kenapa?” Sersan Efendi mengerutkan keningnya, sesaat ia memandang remaja yang duduk tak jauh dari tempatnya menyampaikan berita. Seorang anak laki-laki dengan kulit hitam, badan kurus, dan muka tak dikenal.
“Orang-orang di kampung semua mengejar saya. Dorang-dorang itu mau bunuh saya,” remaja itu menjawab, sorot matanya yang pucat tak dapat menyembunyikan ketakutannya. Ketakutan itu agaknya telah mencapai puncak, sehingga wajah remaja itu telah berubah menjadi sepucat mayat.
“Kenapa kamu orang mau dibunuh?” Sersan Efendi menjadi serius, ia kembali menatap wajah tamu yang duduk di depannya itu, kali ini dengan lebih saksama.
Dorang-dorang itu menuntut bayar darah,” remaja itu menjawab.
“Bayar darah bagi siapa?” Sersan Efendi bertanya penuh selidik, diam-diam ia menjadi tidak mengerti dengan arah pembicaraan itu. Tapi ia berkemauan supaya bisa mengerti.
“Di sa pu kampung ada tiga perempuan mati terbunuh dorang mengira sayalah pembunuh itu. jadi, dorang semua merontak mengejar saya,” kata-kata itu terlontar dengan rapi, tapi bagi Sersan Efendi, kalimat itu telah berubah bagai sebuah gada yang dientakkan dengan kekuatan raksasa. Sersan itu terpaku di tempatnya duduk, memandang remaja di depannya, seolah ia tengah memandangi makhluk asing dari planet lain.
“Kau tinggal di kampung mana?” pertanyaan Sersan Efendi kembali terlontar, kali ini dengan sepenuh kesungguhan.
“Buetkuar.”
“Namamu?”
“Yowero.”
Sersan Efendi terlonjak dari kursi, ia menatap ke depan. Terpana. Kasus pelik yang dihadapinya kini telah menemui titik terang. Ia tidak perlu mencari tertuduh dalam kasus ini, karena pelakunya datang menyerahkan diri. Ia hanya perlu berjalan satu langkah untuk menyelesaikan kasus ini, yaitu melakukan interogasi. Tapi, remaja kurus kecil di depannya itu, adakah ia layak sebagai pelaku pembunuhan tiga istri kepala perang? Sersan itu termangu.
“Bagaimana kejadiannya?” akhirnya Sersan Efendi menyudahi ketermanguan itu.
“Saya baru saja pulang dari hutan, duduk-duduk di kampung, tiba-tiba saya dengar suara orang gaduh mengejar saya dengan senjata. Dorang mau bunuh saya untuk menuntut bayar darah.”
“Apa alasannya, sehingga engkau mau dibunuh?”
“Saya tidak tahu, Bapa, itu sebabnya saya datang kemari minta perlindungan.”
“Bukankah engkau memang pembunuh itu?” Sersan Efendi bertanya penuh selidik.
“Tidak, Bapa, sungguh mati,” Yowero menyangkal.
“Salah seorang anak wanita yang kamu bunuh itu, melihat perbuatanmu, anak itulah yang melaporkan kepada semua orang.”
“Sungguh tidak, Bapa, saya tidak sekejam itu.”
Sersan Efendi kembali termangu, bukan sekali ini ia mesti berhadapan dengan tersangka yang menyangkal perbuatannya. Ia memerlukan cukup waktu dan juga siasat untuk menggiring tersangka pada pengakuan.
“Baiklah, sekarang lebih baik kamu orang tinggal di dalam sel, daripada nanti orang Buetkuar datang beramai-ramai dan menghajarmu sampai mati.” Sersan Efendi menggiring Yowero ke dalam sel, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIT, saatnya untuk beristirahat sebelum tiba saat untuk kembali bertugas di SSB pada sore nanti.
Sementara di dalam sel yang pengap, tanpa jendela, Yowero terduduk lesu di sudut ruangan. Ia meninggalkan johnson, satu-satunya kekayaan yang terbawa serta, di tepi kali. Perutnya terasa lapar, ia belum sempat makan sejak keluar dari persembunyiannya di tengah hutan. Tapi, apa yang bisa ia makan di dalam ruangan sempit ini? tanpa terasa keringat dingin mulai mengucur membasahi sekujur tubuh. Yowero bukan saja menjadi kalut oleh rasa lapar yang menggila, tapi juga oleh rasa bimbang terhadap nasib yang tidak menentu. Dinding sel ini bisa melindungi dirinya dari kejaran massa yang ingin membunuhnya, tapi sampai berapa lama ia bisa bertahan di dalam tempat seperti ini?
Yowero bertahan dalam rasa lapar sampai hari berubah menjadi gelap. Sersan Efendi datang dengan sepiring nasi ikan dan sebotol air dingin, tanpa banyak bicara dan segera berlalu pergi. Yowero tak berpikir panjang, ia segera melahap nasi ikan itu hingga licin tandas dan meneguk air putih untuk membasahi tenggorokannya yang terasa terbakar, makanan sekadarnya itu telah membuat tubuhnya terasa lebih baik, sehingga ia bisa tertidur meski tanpa tikar dan selimut, sementara nyamuk-nyamuk ramai berdengung seakan berpesta pora.
Suasana pagi dan gonggongan anjing telah membangunkan Yowero pada keesokan harinya. Seluruh badan anak Asmat itu terasa linu. Yowero memerlukan beberapa detik untuk kembali pada kesadaran sebelum ia benar-benar terjaga dan mendapati dirinya di dalam sel yang gelap. Ia menyempatkan diri masuk ke sebuah ruangan kecil di dalam sel ini dengan sebuah lubang air di dalamnya. Di lubang itu Yowero membuang air seni. Setelah itu ia duduk berdiam diri dengan pikiran mengambang. Yowero tak bisa menghitung berapa lama ia terduduk dalam bisu sampai daun pintu terkuak dengan suara berderit. Yowero mengira ia akan menatap anggota Polsek yang kemarin ditemuinya di ruang SSB, tapi perkiraannya itu keliru. Laki-laki yang berdiri di ambang pintu kini adalah orang yang lain lagi. Seorang polisi berseragam cokelat dengan empat tanda lengkung kuning pada kedua lengannya. Umur laki-laki itu sudah menjelang empat puluh tahun, berbeda dengan anggota Polsek yang kemarin, maka orang yang satu ini tampak lebih angker. Yowero merasa keberanian yang terssisa dalam dirinya melayang sudah.
“Kamu orang keluar!” Sersan Mayor Agustan memberi isyarat supaya Yowero bangkit meninggalkan raungan. Bagai tersihir Yowero berdiri kemudian berjalan mengekor di belakang Sersan Mayour itu. Ia menyempatkan diri membasuh muka kemudian meneguk air hujan yang tertampung di dalam sebuah drum untuk membasahi lidahnya yang kering dan terasa pahit.
“Duduk!” sekali lagi Sersan Agustan memberikan perintah dan Yowero menurut begitu saja, anak Asmat itu terduduk lesu dengan muka tertunduk. “Sersan Dua Efendi telah melapor kepada saya, bahwa engkau datang untuk berlindung, karena orang-orang Buetkuar merontak hendak membunuhmu sebagai bayar darah bagi kematian tiga istri kepala perang. Benar begitu?” Agustan membuka pembicaraan.
“Benar, Bapa,” jawab Yowero singkat.
“Salah seorang anak dari istri korban ada yang melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa engkau memang telah membunuh mamaknya. Anak tiu bersembunyi di balik semak-semak dengan ketakutan luar biasa, karena dia takut, kalau-kalau engkau juga akan membunuhnya. Bagaimana, Yowero?” Sersan Mayor itu mengajukan pertanyaan.
“Anak itu tipu, Bapa,” Yowero menyangkal.
“Dia masih terlalu kecil untuk menipu,” Sersan Mayor Agustan menyanggah.
“Saya tidak membunuh, Bapa. Sungguh mati. Jirimo sendiri yang membunuh dorang pu maitua.”
“Dengan alasan?” Augstan bertanya penuh selidik.
“Jirimo sudah bosan dengan dorang pu maitua. Mbak-mbak ada terlalu banyak, Jirimo senang baku piara dengan mbak-mbak daripada tinggal-tinggal dengan dong pu maitua,” Yowero masih terus membantah.
“Buktinya?”
“Saya pernah melihat darah pada Jirimo pu pisau.”
“Wanita itu terwas, karena luka bekas kapak, bukan pisau,” Sersan Mayor Agustan menatap Yowero dalam-dalam. Bukan sekali ini ia mesti berhadapan dengan pelaku pembunuhan yang berbelit-belit sebelum mengakui perbuatannya.
“Bagaimana engkau melakukannya?” Sersan Agustan kembali bertanya.
“Tidak, Bapa, sungguh, saya tidak membunuhnya,” Yowero masih mencoba menyangkal. Ia sungguh-sungguh merasa perlu untuk melindungi diri yang secara tiba-tiba menjadi begitu kerdil. Setelah satu kampung yang mengancamnya, maka kini ia harus berhadapan dengan aparat keamanan yang berwenang penuh terhadap keselamatannya sekaligus berkuasa mengorek segala keterangan dari mulutnya.
“Di mana orangtuamu?” Sersan Agustan mengalihkan pembicaran.
“Mamak ada di hutan, Bapa su meninggal,” Yowero menjawab singkat tanpa memahami ke mana arah pembicaraan sersan itu.
“Kapan kau pu bapa meninggal?”
Su lama, sudah cukup lama.”
“Kenapa?”
“Jirimo bunuh Bapa dorang dengan suanggi,” sementara kata-kata itu terucap, pandangan Yowero menerawang jauh, menembus kaca jendela kemudian dedaunan yang rimbun di sebaliknya.
“Jirimo?!” mata Sersan Mayor Agustan terbelalak lebar, ia menatap Yowero sedemikian rupa seakan anak itu telah berubah menjadi makhluk aneh yang mengherankan.
“Betul, bapa, Jirimo juga telah membunuh Bapa Adik Donatus dengan panah yang sudah diembus suanggi, jauh hari sebelum Bapa meninggal.”
“Kenapa Jirimo membunuh kau pu bapa dan bapa adik?” Sersan Mayor Agustan terus mendesak Yowero dengan pertanyaan-pertanyaan, ia telah merasa sampai pada pokok persoalan sebelum sampai pada pengakuan.
“Dia memang orang jahat, maka dari itu dia selalu membunuh dan membunuh,” Yowero begitu yakin dengan kata-katanya tanpa menyadari telah digiring menuju sebuah jebakan.
“Kau punya bapa kerja apa?”
“Dulu Bapa kepala perang, tidak lama setelah Bapa meninggal, Jirimo menggantikan kedudukan sa pu bapa menjadi kepala perang.”
“Kamu orang punya mama masih sehat?”
“Mama masih sehat, adat kami membenarkan Jirimo menikahi Mamak, karena dorang su menjadi kepala perang. Saya tidak terima, Bapa,” mata Yowero berkaca-kaca, tak lama kemudian anak Asmat itu pun terisak-isak.
“Kenapa kau orang tidak terima?” Sersan Mayor Agustan mengerutkan keningnya.
“Bagaimana saya harus menjadi anak dari orang yang su membunuh sa pu bapa dan bapa adik, dan bagaimana pula saya bisa membiarkan Mamak menjadi istrinya,” Yowero masih terus terisak-isak.
“Kenapa engkau tidak menantang Jirimo berkelahi?” Sersan Agustan melanjutkan pertanyaan. Ia belum akan berhenti sampai interogasi dapat menggiring tersangka pada pengakuan.
“Saya tidak berani, Bapa. Jirimo punya badan terlalu besar, dia juga sangat pintar memainkan tombak dan panah. Menantang dorang berkelahi sama saja dengan bunuh diri,” Yowero mengusap mukanya yang basah oleh air mata, ia seakan telah kehilangan separuh dari kesadarannya dan limbung oleh rasa takut yang tak lagi dapat dikuasai.
“Kamu orang Papua, saya juga orang Papua. Kamu orang Asmat, saya orang Muyu. Tapi saya cukup mengerti Asmat punya adat, dalam hal ini adalah adat tentang bayar darah. Bukankah roh orang yang mati, karena suanggi tidak akan tenang di alam sana, kecuali salah seorang kerabat mereka telah membayarnya dengan darah pula?” Sersan Agustan memutar pembicaraan.
“Betul, Bapa.”
“Itu sebabnya engkau membunuh tiga istri Jirimo untuk bayar darah. Mereka adalah sasaran pengganti, karena engkau tidak cukup mampu melawan suaminya,” Sersan Mayor Agustan memberikan ketegasan dan tangis Yowero pun terpecah sudah. Suasana sunyi di ruangan itu pun terobek oleh tangis yang meraung-raung.
Di seberang meja Sersan Mayor Agustan menarik napas dalam-dalam, secara eksplisit pengakuan itu berlum ia dapatkan, tapi bukankah tangis itu sudah lebih dari sekadar jawaban? Sersan itu mengerti, bahwa interogasi selalu memerlukan waktu yang panjang, bahkan melelahkan bagi kedua pihak. Untuk tugas-tugas semacam inilah ia digaji negara setiap bulan.
“Baiklah, sekarang kamu orang bisa istirahat kembali di sel. Besok, kita lanjutkan kembali pembicaraan.” Sersan itu mengantar Yowero ke dalam sel, mengunci pintu rapat-rapat kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan sel dengan suara detak sepatu yang kian lama kian sayup dan akhirnya menghilang sama sekali. Sersan itu kembali lagi tak lama kemudian dengan satu mangkuk nasi ikan, sejumput sayur kangkung, dan sebotol air dingin. Hanya menu ini yang bisa ia berikan kepada seorang tahanan, itu pun ia ambil dari meja makannya sendiri, ia tak cukup memegang dana operasional untuk memberikan makanan bagi para tahanan.
Agustan memberikan makanan itu kepada Yowero tanpa sepatah kata kemudian berlalu pergi. Ia tak kembali lagi setelah itu sampai pada keesokan harinya. Yowero telah benar-benar menjadi dekil dan asam Sersan Augstan cukup arif untuk memberi kesempatan Yowero mandi kemudian menyerahkan satu setel pakaian ganti, sehingga anak Asmat itu sudah tampak bersih dan segar ketika dua orang itu duduk berhadapan untuk melanjutkan interogasi.
“Kau sudah merasa lebih baik?” Sersan Mayor Agustan membuka pembicaraan.
“Sudah, Bapa,” suara Yowero lemah dan perlahan.
“Kau masih beranggapan, bahwa Jirimo yang membunuh istrinya sendiri?” interogasi dilanjutkan. Agustan menunggu beberapa saat lamanya, tapi sampai beberapa menit ia tak juga mendapatkan jawaban, seingga ia merasa perlu untuk mengulang kembali pertanyaan. Dan jawaban yang ia peroleh tetap sama. Diam.
“Yowero, kamu orang mesti tahu, bahwa saya sedang menjalankan tugas. Bukti-bukti sudah cukup menunjukkan, bahwa engkaulah pelakunya. Kitorang, polisi bekerja berdasarkan bukti. Ingat, bahwa engkau tak lagi punya tempat berlindung kecuali di kantor ini. sekali saja engkau berani menampakkan diri, maka Jirimo pasti akan membunuhmu.”
“Apa yang harus saya katakan, Bapa?” suara Yowero terdengar begitu memelas, diam-diam Sersan Agustan teriris karenanya, tapi ia adalah seorang profesional, pantang baginya terseret ke dalam suasana sentimentil dalam melakukan interogasi.
“Bagaimana engkau membunuh ketiga wanita itu?” pertanyaan Sersan Agustan bagai moncong senjata yang ditudingkan ke arah Yowero dalam jarak yang amat dekat, anak Asmat itu kehilangan ruangan kosong untuk mengelak.
“Bagaimana saya melakukannya?” Yowero berbisik kepada dirinya sendiri, ia tak segera berkata-kata. Anak Asmat itu membisu beberapa saat lamanya, mencoba mengingat-ingat kembali patahan peristiwa yang telah menjadi masa lalu kemudian menggiringnya ke ruang interogasi.
                                                                   ***
Kematian Donatus dan Mundus adalah pukulan telak bagi Yowero, terlebih karena pembunuhan itu dilakukan oleh orang yang sama, Jirimo. Setelah Mundus tiada, maka kedudukan kepala perang di kampung Buetkuar menjadi kosong. Jirimo melihat peluang ini, ia cukup mampu dan berkehendak untuk menggantikan. Sementara kemampuannya memainkan senjata perang merupakan syarat yang telah dipenuhi. Masyarakat setempat pun setuju ketika Jirimo menobatkan diri sebagai pengganti Mundus. Dengan posisinya sebagai kepala perang, maka adat Suku Asmat membenarkan Jirimo mengambil Mika selaku janda kepala perang sebagai istri. Jirimo berniat mengambil haknya, ia tak menyadari, bahwa niat itu telah mengobarkan bara dendam dalam diri seorang anak yang tengah menjelang dewasa, Yowero. Betapa ingin Yowero berkelahi dengan laki-laki itu supaya bisa membunuhnya. Tapi ketika becermin di atas permukaan air sungai, Yowero harus menyadari, bahwa ia terlalu kecil untuk berhadapan dengan Jirimo sebagai musuh. Keberanian itu telah surut memang, tapi ia tak pernah kehilangan keinginan untuk menuntut bayar darah bagi kematian Donatus dan Mundus. Tanpa dibayar darah, maka roh dua orang yang dicintainya tidak akan pernah tenang di alam sana. Tapi, bagiamana ia harus melakukannya?
Yowero kemudian teringat kepada tiga istri Jirimo, bukankah wanita di kampung ini adalah makhluk lemah yang mudah teperdaya? Mereka tak akan mampu melawan, bila seorang pemuda yang kurus kecil sekalipun menyerangnya. Kalau saja Jirimo tak berniat mengambil Mika sebagai istri, barangkali masalahnya akan menjadi lain. Yowero menimbang-nimbang dalam waktu yang cukup lama, sampai hari yang naas itu tiba. Yowero tak pernah mencatat kapan kala itu ketika diam-diam ia membuntuti tiga istri Jirimo yang tengah menyusup ke wilayah yang lebih dalam untuk mencari gaharu. Dengan langkah pasti Yowero mendekati bevak, ia pura-pura meminjam kapak untuk membetulkan pen---bagian dalam baling-baling johnson---yang rusak kepada salah seorang wanita itu. Beberapa detik kemudian, dendam pun berbicara. Kapak itu terayun dengan cepat, seorang korban jatuh. Yowero kemudian mencari dua wanita lain, yang tak pernah menyadari, bahwa hari kematiannya telah tiba. Wanita itu terkapar satu demi satu di ujung mata kapak, tanpa banyak cingcong.
Yowero tak menyadari, bahwa seorang anak kecil dari wanita yang dikapak, menyaksikan kekejian itu dari tempat persembunyian dengan ketakutan luar biasa. Selang beberapa lama ketika suami dari wanita itu datang u ntuk mencari istrinya, maka anak kecil itu menjawab: “Yowero su membunuh Mamak.” Buetkuar pun gempar. Sementara Yowero segera kembali ke kampung dengan kapak berlumuran darah, tergenggam di tangan. ia berdiam diri di rumah panggung beberapa saat dengan pikiran mengambang sampai terdengar hiruk-pikuk suara orang mengamuk hendak membunuhnya.


                                                                                          ***

Bersambung ....

Post a Comment

Previous Post Next Post