K A P A K --Novel Etnografi, Penutup

K A P A K --Novel Etnografi, Penutup





 
Yowero harus menunggu satu bulan lamanya sebelum seluruh berkas tentang pembunuhan itu selesai. Sementara sarana transportasi laut yang telah ditunggu-tunggu lebih dari empat puluh hari akhirnya muncul dengan bunyi stom yang melengking keras, memecah hening suasana. Seorang Sersan kepala mengawal Yowero dalam perjalanan. KM Asmat memerlukan dua malam satu hari pelayaran untuk menempuh jarak Agats—Merauke dengan gelombang yang mengamuk menghantam dinding kapal dan mengacaukan seluruh isi dalamnya. Yowero tak pernah menumpang kapal sebelumnya, ia terbaring sambil memejamkan mata untuk mengatasi rasa mual yang menggila di perutnya.
Seluruh isi kapal telah lusuh dan kumal ketika KM Asmat merapat di dermaga Merauke. Yowero meloncat ke luar dari kapal dalam keadaan lemas, tenaga yang tersisa hanyalah sekadar kekuatan untuk mencapai terali besi yang menjadi bagian dari Polres Merauke. Sedetik kemudian, ketika seorang petugas yang tak dikenal mengunci terali besi rapat-rapat, maka Yowero telah menjadi bagian dari tahanan yang ada di dalamnya. Ia harus melewatkan hari-hari di ruangan sempit yang membosankan sebelum persidangan yang menentukan nasibnya tiba.
Dan hari itu, pagi yang mendung di bulan Desember, Yowero tak banyak bicara di kursi tersangka. Ia membenarkan semua tuduhan jaksa dan mengakui semua perbuatannya. Persidangan berlangsung cepat dengan vonis tujuh belas tahun bagi Yowero. Ruang sidang menjadi hening ketika hakim mengetukkan palu kemudian Yowero digiring ke mobil tahanan sebagai narapidana. Yowero tak bisa memperhitungkan berapa panjang waktu yang disebut dengan tujuh belas tahun, kaerna ia memang tak pernah belajar menghitung. Tapi, tentu saja ia akan menjalaninya.
Yowero ternganga ketika ia sampai di sebuah tempat berdinding tinggi, berwarna kelabu dengan orang-orang berwajah tak ramah di dalamnya. Ia tak melawan sama sekali ketika didorong masuk ke dalam sebuah ruangan dengan dua ratus narapidana lain memandangnya bak serigala lapar. Seperti halnya narapidana lain yang baru masuk, maka Yowero harus menjalani salam perkenalan yang sudah menjadi tradisi selama puluhan tahun di tempat ini.
Ketika sebuah tangan dengan kekuatan raksasa terangkat tinggi-tinggi kemduian bersarang di perutnya, Yowero terpelanting menabrak dinding dan terpekik. Ia berniat berdiri untuk menyadari apa yang telah terjadi, tapi sebelum kedua kakinya tegak berdiri, sebuah tendangan menyodoknya kuat-kuat. Yowero pun terjerembap di atas lantai dengan hidung berdarah. Sorak-sorai terdengar bergemuruh dari narapidana yang tengah “menyalami” Yowero. Mereka menjadi nyalang ketika melihat darah telah mengalir, mewarnai hidung narapidana yang masih baru itu.
“Hajar dia!”
“Sergap dia!”
“Makan dia!”
“Hantam dia!”
Suara-suara itu bergema ke seluruh ruangan bagai bunyi gendang yang ditabuh bertalu-talu, tepat pada sepasang telinga Jowero. Kemudian pukulan dan tendangan menghantam bertubi-tubi. Tubuh yang kurus kecil itu pun berguling ke sana kemari seperti bola sepak di antara para pemain ternama. Yowero mengerang, meraung-raung, tapi tak ada seorang pun yang menaruh belas kasihan, hingga darah megnalir makin deras dari mulut dan hidung Yowero.
Tetek manis,” Yowero mengeluh. Ia telah melihat ribuan kunang-kunang berhamburan, enam warna pelangi melengkung berganti-ganti, kemudian sorak-sorai dan sumpah serapah. Selebihnya, pedih perih. Air mata Yowero mengalir, ia tak berdaya kini, bahkan sekadar berteriak untuk menyatakan rasa sakit. Pukulan dan tendangan masih menghujani Yowero bertubi-tubi hingga anak Asmat itu diam tak berkutik dengan segala luka memar dan kesadaran yang sudah sampai di ambang batas. Yowero kehilangan daya sudah, ia tak tahu pasti apa yang terjadi pada dirinya, rasa sakit ini telah mencapai titik yang paling kritis. Tapi di atas segala pedih yang ada, Yowero masih memiliki sejumput kekuatan yang tersisa dari satu keyakinan, bahwa apa pun yang terjadi atas dirinya, maka bayar darah terhadap tiga istri Jirimo telah membuat roh Donatus dan Mundus menjadi tenang di dampu ow capinmi---alam kematian---dan siap menuju safar---sorga.


Selesai



DAFTAR ISTILAH
Nyong                    : anak laki-laki
Konak                    : cawat
Kitorang                : kita orang
Dorang/dong        : dia orang
Sa pu                      : saya punya
Kau pu                   : kau punya
Maitua                    : istri, teman wanita
Paitua                     : suami, teman laki-laki 
Koe                         : kamu
Tra                         : tidak
Cuki mai                 : kata makian
Noken                    : tas khas Asmat
Maniso                   : rewel
Tetek manis          : Yang Maha Kuasa

Post a Comment

Previous Post Next Post