Selamat Datang!

ARNOLD C AP dan Nubuat Kematianya


Sebuah refleksi tentang lagu ‘Sup Mowi Ya’ (Tanah Papua)
Oleh; Dr. Izak Morin, MA



Sup Mowi Ya
Music & Lyrics: Arnold C. Ap, Mambesak Group

Awin kamam sye ai awin sup inema
Bapa mama, wahai mama! Kitong pu tanah ini suda!
Dad, mom, oh mom! This is our lovely land!

Dorek arwo sonai arwo nafur karkar
Fajar pagi menyingsing, cahaya pagi bersinar, sungguh mengagumkan!)
Dawn is emerging to bring up lovely sunshine. What a beautiful morning!

Aibon bonjos be suranda
Pohon satu satunya yang menjulang ke pantai
The only tree is leaning out to the beach

kyamara brino arwo
menyambut kedatangan pagi hari yang cerah
it is welcoming the calm and beautiful morning.

Ai awino sye ai awin, sup mowiya
Hai mama, wahai mama! Tanah ini suda
Hi mom, oh mom! That’s our lovely land.

Awin kamam sye ai awin sup inema
Bapa mama kitong pu tanah ini suda!
Dad, mom, oh mom! This is our lovely land!

Orya isyun imbruk mura ifur karkar
Matahari terbenam sungguh mengagumkan
The sunset is arriving its beauty is amazing

Sarai besob nin ya isik,
Pohon kelapa yang menjulang ke laut bayangannya terukir di atas pasir
The coconut tree is leaning out to the beach and its shadow is carved on the beach

kyamara brin mandira
menyambut keteduhan di sore hari
it is welcoming the calm and beautiful afternoon

Ai awino sye ai awin sup mowiya
Hai mama, wahai mama! Tanah ini suda
Hi mom, oh mom! That’s our lovely land.


Arnold Ap su tau bahwa de akan pergi untuk selamanya pada saat “fajar pagi menyingsing” dorek arwo dan pada saat “chahaya mentari pagi menyapa” sonai arwo. Memang benar, ia dibunuh saat fajar dan mentari pagi bergantian.

Arnold Ap menggambarkan dirinya sebagai aibon bonjos “pohon satu-satunya” karna dalam keluarganya Arnold adalah anak tunggal.

Arnold Ap su tau bahwa de akan mengalami penderitaan dan kematian di pinggiran pantai be suranda (yang menjulang ke pantai). Betul skali, karna ia disiksa dan dibunuh di Pantai Pasir Enam.

Arnold Ap su tau bahwa de akan dimakamkan pada saat matahari hendak terbenam brin mandira (sore hari yang cerah). Sungguh benar, ia diantar dengan berjalan kaki dari rumahnya di Uncen bawah ke tempat pemakaman di Abepura pada jam 6.30 sore karna mayatnya tidak diijinkan bermalam oleh pihak keamanan.


Arnold Ap,
Kau musisi Papua.
Kau su tau dimana
kau dijemput Penciptamu.

Arnold Ap,
Kau antroplog Papua.
Kau su tau kapan
kau disambut Tuhanmu.

Musisi Papua,
Pantai Pasir Enam jadi saksi bisu kepedihanmu.
Suara bentakan penguasa memecah kesunyian fajar pagi
Mentari pagi menguak luka di bawah tali pusarmu

Antropolog Papua,
Air matamu tertahan dalam kesakitan
Darahmu tercurah membaur deraian riak pantai
Tapi, hatimu berkata awin kamam sye ai awin supinema

Kau telah tiada
tapi pesanmu awin kamam sye ai awin supinema
akan tetap hidup dalam sanubari kami
dan terus bekerja demi terwujudnya pesan ini.


Refleksi ini dibuat dalam rangka ‘melawan lupa’ kematian tokoh musik dan budaya Tanah Papua: Arnold Ap yang terbunuh pada tanggal 26 April 1984.


Hormat dibri!!
Dr. Izak Morin, MA
Bagikan ke :
 
KITORANG : TIM REDAKSI | TERBITAN | PROFIL
Semua tulisan dalam situs ini memiliki HAK CIPTA, untuk memakai tulisan Komunitas Sastra Papua silahkan hubungi kami sastrapapua@gmail.com | Copyright © 2020 KO'SAPA.
Admin by TIM REDAKSI KO'SAPA
Proudly powered by dzulcyber.