Cinta Kandas Di Pelataran Altar

Cinta Kandas Di Pelataran Altar

Oleh: Philemon Keiya



Jack dan Lina pasangan titisan sang Khalik. Mereka sepasang kekasih yang tak terpisahkan, di sini, negeri Ngalum. Sejak mereka mulai saling nyatakan cinta di bawah Gunung Kupdim hingga saat ini, cinta mereka tumbuh subur bak sayuran nan segar di hutan Polki.

Kupa ne diplopkur,” ungkap Jack dalam surat cinta yang ditulisnya dari belakang SD YPPK Mabilabol belasan tahun lalu.

Mereka berdua cinta ‘mati’ pada satu dengan yang lain. Mulanya dari saling suka. Cinta monyet. Rawat dalam hati masing-masing hingga cinta bermekar pada lubuk hati masing-masing.

Pasangan yang orang tuanya, terikat dengan ajaran agama yang taat. Kebenaran Sang Ilahi menjadi pijakan. Buktinya cinta ini dibawa hingga di hadapan mesbah Sang Khalik, Gereja Paroki Roh Kudus Mabilabol.

Jack, seorang sarjana ekonomi yang baru saja selesai dari Universitas Cendrawasih di Jayapura. Ia jatuh cinta pada Lina si pendiam, pemilik senyum terindah. Tidak tahu marah. Murah senyum. Lina, lulusan kesehatan masyarakat di Uncen.

“Kita harus selesaikan sekolah dulu.”

Lina menguatkan Jack usai tamat SMA empat tahun lalu. Mereka sudah menjaga dan memupuk hingga cinta bermekaran nan subur dan hijau.

Tapi tak seindah jalan sebelumnya.Sayang, hadapan cinta mereka berhenti di Pelataran Altar. Dan, tak dilanjutkan. Cinta terhenti di sini. Harapan pupus di tangan wakil Allah.

***

Pagi itu, mentari merekah di ufuk timur Pulau Keriting. Oksibil tampak berseri. Gugusan pegunungan nampak indah. Salju abadi di Gunung Aplim Apom terlihat memutih. Putihnya salju abadi menyatu dengan kilauan bebatuan ujung gunung ini. Dari jauh, panorama ini terlihat indah. Biru, putih, hijau, abu-abu berpadu terlukis indah. Sebuah lukisan indah karya Sang Maestro.

Hari masih menjelang siang. Perbukitan Okpol terlihat bagai gelombang. Lambat laun raja siang mulai berkuasa. Sengatannya mulai terasa membakar kulit. Jack tak hiraukan sengatan dan gigitan sang surya.

Hatinya berbunga riang ria. Keramaian di hatinya mampu kalahkan serbuan panasnya sang matahari. Ia memacu perlahan motornya menuju ke kantor daerah Okpol. Noken berukuran sedang direntengkan di badannya. Noken yang terbuat dari kulit kayu itu berisi surat undangan yang depannya bergambar foto gandengan.

Dalam foto itu mereka berdua keluarkan senyum terbaik. Ini momen terindah yang terjadi dalam seumur hidup. Momen ini mereka berdua tunggu lama. Mereka sangat mengidamkan momen ini.

Surat undangan pernikahan mereka pilih berwarna putih biru langit. Jack dengan setelan pakaian jas hitam, baju putih dan dasi berwarna biru. Rambutnya dicukur rapi. Ia terlihat jentel. Kejantanannya terlihat dari cara senyumnya. Sementara Lina dengan gaun putih yang sangat cantik. Lina didandan ala kadarnya saja. Sangat manis. Lina menjelma menjadi seorang malaikat. Sungguh, sepasang kekasih yang sangat cocok.

Di depan surat undangan, nama mereka terukir indah di balik sebuah gambar love.

Sejak beberapa hari kemarin, Jack dan Lina sudah sebarkan undangan kepada keluarga masing-masing, mulai dari Jayapura, Wamena hingga di Oskibil, sehingga sebagian besar surat undangan tersebar kepada keluarga dan kerabat agar menyaksikan acara yang akan dipersatukan pastor di mesbah-Nya.

Motor yang dipacu ia hentikan di depan kantor bupati. Beberapa lembar undangan pernikahannya bersama sang bidadari hatinya itu ia sebarkan.

Hari itu, bukan dia saja. Atas bantuan teman-temannya, sebagian besar undangan sudah tersebar di pelosok Oksibil.

Menjelang hari bahagia mereka, Jack dan Lina lakukan berbagai persiapan. Terlebih persiapan batin. Karena, tak lama mereka akan bangun sebuah bahtera rumah tangga untuk mengarungi samudera kehidupan.

Tempat yang akan dipakai untuk dilangsungkannya acara dihiasi dengan dekorasi hidup dari alam. Makan minum juga dipersiapkan. Telah disepakati, akan dipersiapkan makanan barapen. Juga termasuk masakan prasmanan.Campur tangan keluarga pun turut datang.

Semua persiapan sudah selesai. Hati berbunga-bunga nan semerbak. Wajah riang Jack terlihat sangat jelas pada raut Jack dan Lina. Berbagai wejangan dan nasihat diberikan kepada mereka sebagai bekal.

Pagi yang indah. Salju Aplim Apom terukir indah.

Mentari mulai keluarkan senyumnya yang indah dari balik awan. Pagi ini, sang mentari malu-malu untuk menyapa setiap insan di kota ini.

Hari terakhir mau lepas lajang untuk Jack dan Lina. Jack bersama teman-temannya cengkerama di rumah temannya di ujung bandara. Hari sudah semakin siang. Mereka turun ke kali Oksibil untuk sekedar cuci muka. Jack minta izin kepada teman-temannya untuk pergi ke tempat persiapan.

Ia ingin memastikan seluruh persiapan. Karena, mereka akan melangsungkan janji sumpah setia di hadapan-Nya untuk sehidup semati hingga ajal menjemput. Besok, mereka akan mengikarkan cinta suci mereka di hadapan manusia, alam dan juga di hadapan Atangki.

Jack melangkahkan kaki penuh hati berbunga ke rumah yang sudah disepakati. Rerumputan melambai. Bunga di jalan terus melambai. Ia balas senyum.

Jack sudah tiba. Ia mengernyitkan kening. Ia berusaha pelankan langkah kakinya. Ia tak menyangka dengan aktivitas di rumah ini. Semua orang pada diam. Sangat kontras dengan aktivitas tadi pagi, tadi malam, kemarin dan seperti hari-hari sebelumnya.

Sangat sunyi. Sepi. Banyak orang duduk diam. Tak satu pun yang bicara. Ia semakin bingung. Ia berusaha menyapa sebisanya saja. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

Dalam rumah, ada keluarga dari Jack dan Lina. Semua diam. Jack berusaha menenangkan dirinya.

“Kenapa seperti ini? Kenapa semua diam? Akh, pasti semua akan baik-baik.” Ia mencoba meyakinkan pada dirinya sendiri.

Jack duduk di samping Luther, bapa adenya. Semua diam. Lina juga ada di situ. Ia terlihat muram. Ia ada di balik Merry, sahabatnya.

Jack berusaha membuang mata kepada Lina. Namun, Lina diam duduk.

“Akh, pasti ada di rumahnya,” pikirnya disertai desahan napas dan angin siang yang terus berhempus pelan.

“Kami mohon maaf. Kami tidak bisa berikan restu kepada Lina,” Marten, bapa Lina memecah keheningan siang itu.

Jack sangat kaget mendengar kalimat ini. Kata-kata itu bak petir dan guntur pada siang bolong tanpa hujan dan badai. Seakan langit rubuh dan ada di pundaknya.

Ia mengernyitkan kening tak percaya. Menatap semua orang tidak percaya.

“Kenapa?”

Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Jack.

Tak ada satu alasan pun diberikan kepada Jack dan keluarganya. Putusan sepihak yang meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi Jack. Ia berusaha meminta alasan kepada keluarga Lina, namun tidak ada hasil.

Tidak ada penjelasan, kenapa Jack dan Lina dipaksa pisah. Dipisahkan sebelum sehari diberlangsungkan acara pernikahan di hadapan Allah oleh pastor. Selangkah mau melangkah ke altar-Nya untuk mengikrarkan janji suci.

Lina tak kuasa menahan genangan air mata yang sedari tadi terkumpul di kelopak matanya. Air mata yang terlihat bulat bak danau itu akhirnya tumpah keluar. Lina menangis sejadi-jadinya. Sejumlah orang yang ada di situ ikut menangis.

“Kenapa dari dulu tidak setuju saja? Kami sudah foto bersama dan sudah sebarkan undangan pernikahan ini. Bapa, ini sangat menyakitkan bagi saya dan Jack!!!” teriak Lina.

“Kalau akhirnya mau sakiti kami dengan cara begini, kenapa dari awal tidak suruh pisah saja?”

Dalam isak tangisnya Lina merontak. Namun, apa boleh buat. Keputusan bapaknya sudah diambil.

Jack keluar pergi. Tak satu kata pun keluar dari mulut Jack. Semua gelap tiba-tiba. Hanya tatapan kosong yang terlihat. Gugusan pegunungan di Oksibil terlihat sendu. Awan hitam sudah menyelimuti. Tidak ada senyum manis dari salju Aplim Apom.

Jack melangka pergi dengan langkah gontai. Ia naik panggil pengojek yang sedang lewat. Ia tiba di rumahnya yang terletak kompleks Bank Papua Oksibil. Ia mengangkat tas yang berisi laptop kesayangan. Ia mengisi kebutuhan seperlunya.

Ia memacu motor berwarna merah hitam ke arah tenggara. Penglihatan semakin gelap. Hatinya sangat sakit bagai teriris sembilu. Sebuah pengkhianatan cinta. Ia merasa harkat dan martabatnya diinjak betul-betul oleh keluarga Lina.

Kebun cinta mereka yang sudah ditata rapi, dijaga baik, dibersihkan penuh kasih sayang hancur hanya dalam sekejap. Tiada angin tiada hujan. Semua berantakan. Nama baiknya dipertaruhkan. Sungguh sangat sakit hati.

Lina, seorang malaikat hitam manis yang selama ini ia idamkan akan menjadi motor penggerak dalam bahteranya hilang pergi hanya dalam sekejap. Berbagai impian dan cita-cita bersama yang sudah disusun rapi terkoyak habis.

Hatinya hancur berkeping-keping berantakan di bawah langit Oksibil.

Jack menyesali seluruh perbuatan baiknya. Sejak kecil, ia ada di altar-Nya. Sebagai seorang muda Katolik, ia salah satu misdinar yang sangat aktif. Titah-Nya ia patuh sejak kecil hingga saat ini. Namun, saat mau mengikrarkan sebuah tali keluarga di hadapan-Nya dari pelataran mezbah-Nya, justru Ia tak merestui.

Kecepatan motor di atas rata-rata. Hanya jeritan ban motornya yang terdengar. Ia memacu motor ke arah barat Oksibil. Dalam kecepatan tinggi, ia pertaruhkan nyawanya.

Semua nasihat yang sudah diberikan dari Bokam itu tidak berguna baginya. Pelita hidup telah padam. Ia buang ke lembah penantian yang tak pasti.

Linangan air mata tak lagi mampu dibendung lagi. Sepanjang jalan Seram di bawah gunung-gunung yang diam dalam sepinya malam. Gunung Tangok sendu membisu. Ia mengerti akan seorang pria yang sedang merana.

***

Malampun larut dalam sendu. Lina masih berlinang air mata. Lina beranikan diri untuk menentang bapaknya.

“Kami tidak bisa pisah. Jack itu saya punya pasangan sampai kapan pun. Kami sudah lama pacaran,” protes Lina sama bapaknya.

Semua pembicaraan dihiraukan. Tak satupun pembicaran yang sukses masuk dalam pikiran dan hati semua orang yang ada di dalam rumahnya. Apalagi bapanya yang selama ini ia banggakan.

Bapanya sudah tidak bisa menjadi orang yang Lina jadikan tempat pelarian seperti selama ini. Sudah tidak ada tempat sama sekali. Ingin sekali ia akhiri hidup ini dengan cara apa saja.

Malam semakin kelam. Semua hilang sirna dalam sekejap. Tak ada harapan satu pun harapan yang terbersit dalam pikiran. Tidak ada secercah harapan yang berseliweran di permukaan ingatan dan khayalan.

Terasa hampa. Sungguh! Tidak ada secuil harapan tergenggam. Pelita padam. Kasih-Nya hilang tiada mendekat. Bintang tak bercahaya. Bulan tak mau bersinar. Sendu sepi menikam kalbu.

Lina tak mampu bertahan di sini, dalam rumah. Ia keluar diam-diam. Lari dari rumah. Entah kemana. Tidak ada tujuan.

Ia lari seorang diri. Merontak dengan caranya. Melawan semua ketidakadilan terhadap ia dan Jack. Melawan pada Atangki dengan semua ini.

Lina tak mau ketemu siapa pun. Termasuk mamanya. Ia benar-benar benci dan marah. Termasuk Atangki. Semua telah jahat kepada mereka, Jack dan Lina. Saat ini, Lina hanya mau ada di dalam pelukan Jack. Itu saja.

“Jack, kamu ada dimana? Mari datang kembali. Datang kembali peluk tubuh ini. Hanya kamu, satu-satunya seorang yang saya harapkan. Jaaaaaaccckkk!!!”

Air mata terus keluar dalam pekatnya dingin malam di tanah Oksibil.

Seluruh harapan hilang bersama kelabunya senja tadi sore.

“Besok, tolong bawa datang denda saja. Dan, mulai besok, jangan pernah baku ketemu lagi.”

Satu kalimat yang terus menggema menghancurkan sejuta harapan dan impian yang telah ditata rapi dalam buku rencana keluarga Jack-Lina. Kalimat terakhir dari bapaknya yang keluar dari mulutnya yang Lina sangat benci. Sebuah keputusan yang sama sekali tidak diharapkan Lina.

Semua yang sudah dipersiapkan untuk menjadi sebuah bahtera rumah tangga, hancur begitu saja dalam sekejap. Padahal, Jack dan Lina sudah persiapkan dengan sangat susah payah. Mereka telah menjaga cinta ini sejak lama. Impian mereka untuk membuat banyak hal di Tanah Ngalum sirna dalam keputusan sepihak yang sangat menyakitkan. Padahal, cinta dari Lina ke Jack sangat besar. Juga sebaliknya.

Jack berusaha merontak dengan caranya. Sementara Lina hanya bisa mengeluarkan air mata sejak tadi dalam ruangan seorang diri. Ia marah kepada semua orang. Termasuk Tuhan, ia salahkan.

Cintanya besar kepada Jack. Sama halnya cinta kepada-Nya.

“Tuhan, benarkah cinta ini harus kandas di pelataran Altar-Mu yang selalu kami Agungkan tiap saat ini?”

Jack kembali jatuhkan air mata sambil melajukan motor tanpa arah.

Setahun kemudian….

“Hingga detik ini, sa masih sayang ko, Diplop.” 

Begitu pesan singkat yang dikirm Jack kepada Lina melalui sebuah catatan pendek. Tulisan tangannya itu Jack berikan kepada adiknya Lina.

Tak ada balasan yang cepat. Hati kembali terluka. Hari-hari di Oksibil tanpa cinta. Keindahan segala sesuatu sudah tidak seperti dulu lagi.

“Jack, Diploki
Teriring Doa dan linangan air mata
Jack, orang tua sudah jodohkan saya dengan laki-laki lain. Kami sudah tunangan. Itu alasan kenapa kita dipisahkan tanpa alasan.

Saya akan kenang ko sepanjang hayat. Saya akan doakan ko semoga ko dapat pendamping hidup yang sepadan.

Lina, mantan pacarmu.

Tiga minggu kemudian, Jack terima secarik kertas akhirnya diterima dari adiknya Lina. Ia tahu benar itu tulisan tangan Lina.

Jack kembali meratapi nasib cintanya. Air mata benar-benar kering. Semua yang pernah terjadi dan direncakana tak kan pernah terwujud. Lina, benar-benar pergi. Pergi dari hati ini untuk selamanya.

Cinta tulus nan suci ini harus berakhir di pelataran altar maha suci. Apakah ini tak direstu manusia atau tak dikehendaki Atangki?
Entahlah...

Dia menghibur diri dengan sebuah lantunan indah tapi menyayat hati. Lantunan asal bumi Ngalum yang pernah daun tahun beberapa tahun lalu. Lagu bahasa Ngalum ‘Ne Diplopkur’ oleh Mirab Band berulang kali tanpa bosan

Ne Diplopkur usin tan uma wandur
Jantung hatiku telah lama sudah pergi
Tap unor ono dokredir
Dugaanku ia pergi melihatnya, ia sudah hamil
Wan atmendiraa uma kumdulnedur
Ia sudah hamil
Kapa u pinonga
Dan itulah pilihannya/mu

Kup mum wanangkur doyoo
Bukanlah engkau saja perempuan
Unep sel kup saluka ya bainsur
Engkau pergi tetapi masih ada penggantimu

Kup mum ne diplopkur doyo
Bukan engkau saja jantung hatiku
Unep sel kup saluka ya bainsur
Engkau pergi tapi masih ada penggantimu


Di kaki bukit sakit hati,

Tengah Malam,
27 November 2018

Catatan;

*Kupa ne diplopkur : Saya sayang ko (dari laki-laki ke perempuan
*Atangki : Tuhan Allah
*Bokam : Honai Laki-laki
*Diplopki : Sayang (Panggilan sayang kepada laki-Laki
*Diplop : Sayang



Post a Comment

Previous Post Next Post