Rahim yang terkoyak

Dari balik jalan-jalan yang terjal
Di celah-celah perbukitan yang menjulang
Kekasihku datang membawa segenggam matoa harapan

Dia juga membawa anggrek hitam
Dan aku menghirup aromanya
Menyeruak ke langit-langit dunia



Tak ingin kulepas sesaat saja
Biar semesta tahu bahwa kita di rahim abadi

Di lembah kekelaman
kami lalu berkisah tentang tanah air kami yang bermetamorfosis
Yang dulu hijaunya menyatu dengan langit dan lautan

Tapi dunia merebutnya jadi meranggas
Yang kayu-kayunya ditebang atas nama peradapan semu

Lalu cerita kami terhenti saat zaman menuntut kami agar bumi yang dulu apik direbut kembali
Atau setidaknya ditata menjadi dunia nyata seperti sediakala

Tapi suara kami ditelan eksavator
Nada-nada kami dibunuh gema sensor
Mulut kami dipasung rupiah dan bedil
Raga kami dibayang-bayang kegelapan
Sedangkan rahim kami terkoyak-koyak

Aku dan cintaku kembali bernazar seperti mazmur Daud dalam kitab suci
Kami bernyanyi bersama:
"Dari jurang yang dalam kami berseru-seru kepadaMu"

#19JN20

Post a Comment

Previous Post Next Post