Cycloop Ibu Yang Harus Dijaga Dan Dilindungi

Cycloop Ibu Yang Harus Dijaga Dan Dilindungi

 (Sebuah Refleksi Tentang Cagar Alam Cycloop Sebagai Sumber Kehidupan Masyarakat Selama Ini)

Oleh: Roberth Yewen

Roberth Yewen Doc. Pribadi 


Menjulang tinggi dan sering ditutupi kabut dan awan putih saat pagi dan sore hari, dia adalah cycloop salah satu pegunungan tertinggi yang berada di sekitar Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Nama lain dari pegunungan cycloop adalah Robhong Holo. Luasnya kurang lebih 36 kilometer yang membentang dari barat ke timur.

Gunung cycloop sudah terkenal sampai ke mancanegara, bahkan sudah banyak orang yang mendaki sampai ke puncak sambil memandang ke bawah dan melihat langsung keindahan danau sentani yang berada tepat di bawah kaki gunung cycloop kota sentani Kabupaten Jayapura.

Gunung cycloop tidak hanya menjadi tempat wisata yang sering dikunjungi para wisatawan lokal dan mancanegara, tetapi cycloop selama ini dianggap oleh masyarakat asli Kabupaten dan Kota Jayapura sebagai ibu yang memberikan kehidupan. Pasalnya, cycloop selama ini menjadi salah satu sumber mata air yang memberikan kehidupan kepada setiap penduduk yang hidup di bawah kaki gunung cycloop.

Hampir sebagian besar air yang mengalir di Kabupaten dan Kota Jayapura berasal dari kaki gunung cycloop. Sebut saja kali kemiri, kali doyo, kali kampwolker, dan beberapa kali lainnya. Selain itu, terbentuknya danau sentani tidak terlepas dari air yang mengalir dari atas kaki gunung cycloop.

Karena semakin terkenalnya gunung cycloop, maka Group Band Legendaris Papua, Black Brothers mengabadikan gunung cycloop dengan sebuah lagu yang berjudul “Gunung Cycloop”. Lagu yang dinyanyikan ini menceritakan sedikit tentang betapa agung dan megah serta tingginya gunung cycloop. Dalam lagu ini juga diibaratkan gunung cycloop bagaikan seorang raja (king) dan danau sentani adalah permaisuri atau ratu (queen).

Oleh karena itu, cycloop harus dijaga dan dilindungi. Apalagi cyloop dianggap oleh masyarakat setempat sebagai seorang ibu yang selama ini telah memberikan kehidupan bagi masyarakat yang ada di bumi Kenambai Umbai dan bumi Port Numbay. Cycloop adalah ibu kehidupan setiap harinya kepada warga masyarakat yang ada di bawah kakinya.

Mari Perbaiki Kembali Yang Telah Rusak Di Cycloop

Peristiwa banjir bandang yang menimpa warga masyarakat di wilayah Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura pada tanggal 16 Maret 2019 yang menelan ratusan korban jiwa, merupakan sebuah peristiwa yang harus dikenang selalu oleh anak cucu kedepan. Apalagi ini merupakan bencana alam yang mungkin paling parah dalam sejarah keberadaan Kabupaten Jayapura.

Namun demikian, tidak ada kata terlambat bagi sebuah perubahan (change) apalagi memperbaiki sesuatu yang telah rusak atau dirusaki oleh para oknum di atas kaki gunung cycloop. Sebuah gerakan bersama (joint movement) harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan dalam rangka menjaga (keep) dan melindungi (protect) cycloop sebagai ibu (mother) yang selama ini memberikan kehidupan bagi seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten dan Kota Jayapura.

Setiap orang harus merasa bertanggungjawab menjaga dan melindungi cycloop, karena selama ini telah memberikan kehidupan bagi seluruh masyarakat yang hidup dan mencari nafkah di negeri matahari terbit ini. Gerakan menjaga dan melindungi cycloop harus tertanam dalam setiap sanubari masyarakat, sehingga ada gerakan yang tumbuh dari diri sendiri untuk menjaga dan melindungi cagar alam cycloop.

Hutan-hutan di bawah kaki gunung cycloop yang selama ini dirusaki oknum warga masyarakat dengan cara membuat kebun secara sembarang, menebang pohon-pohon penyangga air secara liar,, membuat rumah di cela-cela gunung yang selama ini menjadi tempat air mengalir harus dikosongkan dan diproteksi kembali. Hal ini harus dilakukan, sehingga keaslian  gunung cycloop tetap terjaga dan masyarakat akan tetap mendapatkan kehidupan, seperti air bersih yang alami setiap harinya.

Tidak Boleh Saling Menyalahkan, Mari Saling Merefleksikan

Banjir bandang telah terjadi dan ratusan orang telah menjadi korban dalam peristiwa bencana alam ini. Oleh karena itu, tidak baik jika saling menyalahkan apalagi melempar batu sambil menyembunyikan tangan. Lebih baik jika saling merefleksikan kesalahan dan memperbaikinya secara bersama-sama, sehingga peristiwa banjir bandang yang diakibatkan oleh rusaknya cycloop sebagai ibu kedepan tidak terjadi lagi.

Pemerintah daerah dan DPRD telah membuat regulasi perlindungan terhadap cagar alam cycloop, tetapi selama ini belum relevan dan bahkan menggigit tentang perlindungan hutan dalam alam di sekitar cycloop yang dinyanyikan Black Brothers sebagai raja. Selain itu, para masyarakat adat memiliki tanggungjawab yang besar dalam menjaga dan lindungi cycloop dengan tidak menjual dan membebaskan orang untuk meramba, berkebun, bahkan mengambil kayu secara sembarangan di atas kaki gunung cycloop. Sementara itu, masyarakat dihimbau untuk tidak membuat perumahan di cela-cela gunung yang selama ini menjadi tempat mengalirnya air dari atas kaki gunung cycloop.

Jika semua bisa bisa dilakukan dengan saling bersinergi dan bekerjasama secara bersama-sama antara pemerintah daerah, DPRD, para masyarakat adat, dan masyarakat yang berada di bawah kaki gunung cycloop selama ini, maka visi dan misi dalam menjaga dan melindungi cycloop dapat terwujud secara perlahan-lahan kedepannya.

Ada pepatah mengatakan bahwa memang  untuk membangun itu sudah, tetapi merusaknya hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja. Oleh karena itu, semua pihak untuk tidak lagi saling menyalahkan, apalagi melemparkan batu sambil menyembunyikan tangan, tetap kembali merefleksikan diri masing-masing dan saling bahu membahu untuk memperbaiki dan membangun kembali yang telah rusak dan dirusaki di sekitar wilayah cagar alam cycloop.

Jika ini bisa dilakukan secara bertahap dan terus menerus sambil menghilangkan rasa ego sektoral semata, maka reboisasi atau perbaikan kembali kerusakan hutan di wilayah cagar alam cycloop yang selama bertahun-tahun mengalami telah rusak dan dirusaki akibat perambaan hutan secara liar dan pemukiman yang dilakukan secara tidak beraturan oleh oknum-oknum masyarakat dapat diatasi cepat dan tepat. Tidak ada kata terlambat bagi sebuah perubahan yang dilakukan untuk kepentingan dan keselamatan orang banyak di bumi Kenambai Umbai dan bumi Port Numbay.

Menanamkan Perlindungan Cycloop Pada Setiap Generasi Papua

Kesadaran untuk menjaga dan melindungi cagar alam cycloop sebagai salah satu sumber kehidupan masyarakat di Kabupaten dan Kota Jayapura dan merupakan salah satu tempat wisata perlu ditanamkan sejak dini secara terus menerus kepada setiap generasi yang ada di Papua. Karena percuma jika hari ini para orang tua berpikir tentang perlindungan cagar alam cycloop, sementara generasi berikut justru ikut melakukan kesalahan yang sama dengan merusaknya.

Oleh karena itu, perlu sekali ditanamkan sejak dini tentang kesadaran menjaga dan mencintai lingkungan, terutama cagar alam cycloop yang selama ini telah menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di Papua, khususnya di Kabupaten dan Kota Jayapura. Para generasi muda harus diperkenalkan tentang bagaimana menjaga dan merawat lingkungan, tetapi juga bagaimana dampak kerusakan hutan terhadap kehidupan masyarakat.

Tugas memberikan kesadaran kepada generasi muda tentang perlindungan cagar alam cycloop tidak hanya merupakan tanggungjawab pemerintah melalui lembaga pendidikan semata, tetapi merupakan tugas dan tanggungjawab bersama, terutama para orang tua di dalam mendidik anak-anak untuk tetap mencintai lingkungan dan menjaga serta memelihara lingkungan, terutama cagar alam cycloop sebagai satu-satunya sumber kehidupan bagi masyarakat di negeri matahari terbit ini.

Memang tidak mudah mengubah perilaku anak-anak muda saat ini dalam menjaga dan merawat lingkungan, tetapi jika itu dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan setiap harinya, baik di sekolah dan di keluarga masing-masing, maka generasi muda kedepan akan lebih mencintai dan menjaga serta merawat lingkungan dibandingkan generasi saat ini.

Tidak ada kata terlambat bagi semua perubahan, apalagi dalam mendidik dan menyadarkan para generasi muda untuk tetap mencintai dan melindungi serta memelihara lingkungan, khususnya cagar alam cycloop yang selama ini menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi masyarakat di wilayah Tabi, khususnya yang ada di Kabupaten dan Kota Jayapura. (***).



Penulis adalah Wartawan Cenderawasih Pos (Group Jawa Pos) dan juga Anggota Komunitas Sastra Papua (KO-SAPA). Penulis saat ini sedang menyelesaikan studi di Program Pascasarjana (S2) Sosiologi Universitas Cenderawasih

Post a Comment

Previous Post Next Post