“Cinta Tak Terbalaskan”

Oleh: Gelda Asrouw


Doc. Gelda Asrow

Kehidupan tidak pernah memandang siapa kita, dari mana kita, siapa kita, dan apa keberadaan kita. Bahkan takdir kehidupan manusiapun sedemikian rupa, kehidupan tidaklah kekal untuk selama-lamanya demikian umur setiap manusia. 

Ada yang menghilang dari dunia ini pada saat lahir, ada pulah yang menghilang dari dunia ini pada saat remaja, ada yang menghilang pada saat dewasa, bahkan ada yang menghilang pada saat lanjut usia (LANSIA) dari dunia ini, demikian dengan kehidupan mereka-mereka ini, semua terbalut dalam “Cinta Tak Terbalaskan”. 

Di dunia ini setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk dicintai bahkan mencintai, tidak hanya pada manusia normal atau manusia yang berumuran remaja dan dewasa. 

Demikian hal dengan Lansia atau orang-orang tua yang sudah memiliki umur yang lebih dari batas umur yang telah ditentukan baik dalam ajaran agama bahkan dalam ketentuan pemerintah UU Negara.

“Masa tua” aku adalah wanita yang beruntung, di saat yang sama aku merasa wanita yang sangat malang. Bulan depan genap lima tahun aku di sini. Aku berutung karena bisa menikmati dunia dengan segala cerita yang lebih indah dari 80 tahun yang lalu. Rangaku masih sehat dan seluruh fungsi tubuh masih bekerja dengan baik.

Orang bilang ini adalah berkat dari Tuhan sang pencipta, karena hampir semua teman-teman sebayaku sudah menepi dan hiruk-pikuknya dunia ini.

Aku adalah wanita yang sangat-sangat malang karena suami ku telah pergi beberapa tahun yang lalu, tempatku berbagai  suka duka selama kurang lebih dari lima puluh tahun yang lalu kini telah tiada. Aku merasa kesepian, di tambah lagi pertanyaan- pertanyaan yang membingungkanku. 

Sesekali di tempat yang begitu sepih dan sangat kesepian aku menitipkan diriku disini, untuk menunggu hari dimana aku tidak melihat dunia ini lagi ketika aku dilahirkan di waktu yang telah berlalu. 

Banyak pertanyaan yang membuatku terengah-engah yang membuatku meneteskan air mata dan membuatku menjadi rindu. Masa dimana aku berdoa kepada sang pencipta untuk memberikan aku sebuah malaikat kecil yang begitu mungil yang biasa di katan seorang bayi (anak). 

Lalu semua orang berkata kepadaku dimankah anak-anakmu?Apakah mereka masih ada ?

"Jawabnya, mereka ada, mereka ada di suatu tempat dan sedang menjalani kehidupan mereka masing-masing, mereka sibuk, terlalu sibuk untuk membiarkanku mengganggu kenyamanan mereka,"ucapnya sambil berpalingkan wajahnya. 

Di dunia sekarang yang semakin jahat membuat mereka tidak mungkin untuk selalu merawatku. Mereka terlalu sibuk untuk menyisihkan waktu untuk menemaniku di sisa usiaku ini. 

Itu sebabnya aku berada disini bersama orang-orang yang senasib, menanti uluran tangan orang lain untuk merawat. Mengurus ataupun sekedar mengajak kami berbincang-bincang.

Namun, aku jenuh. Kegiatan yang berulang-ulang kali kami lakukan itu membuatku bosan. Bangun pagi, dimandikan, makan, berbincang, tidur begitu dan berulang-ulang kali sehingga membuat kami menjadi bosan, namun apalah daya cinta kami yang tak terbalas dan menjadi beban di hati kami para Lansia.

Beruntung bagiku masih bisa berjalan-jalan keliling panti. Kakek tua yang berada disebelah ku tidak seberuntung aku. Lembaga panti mengatakan sendi-sendinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya.

Himmmm... entah apa istilahnya. Tetapi yang intinya kakek itu sudah tidak bisa berdaya selayaknya orang tua yang seperti dulunya. Oleh karena itu sepanjang hari kakek tua itu hanya bisa duduk di kursi roda dan membaringkan tubuhnya. 

Aku masih di beri kesehatan dan yang lumayan jika dibandingkan dengan kakek tua itu, yang sulit berkomunikasi, bahkan sulit untuk mengenali orang.

"Pikir-pikir, hidup ini singkat ya…", ujarnya. Sambil lambat dan pelan tanpa menoleh kepada ku. Suaranya serak dan pandangan matanya jatuh di terpian berumputan walapun tanpa fokus yang jelas. 

"Tidak terasa sudah delapan puluh tahun berlalu”. Aku mengangguk-angguk perlahan, apa yang mereka rasakan? tanyaku dalam hati terputus-putus oleh untaian napas. 

Meski sebenarnya banyak hal yang masih ingin aku tanyakan namun situasi perasaan yang tidak mengijinkanku untuk menanyakan kembali pertanyaan yang membuat hati mereka menjadi sedih dan rapuh.

Namun, kemudian ia berujar aku cukup bersyukur dengan hidupku, punya anak-anak walapun kesibukan pekerjaan mereka yang membuat mereka memilih untuk menyampikanku dari pada pekerjaan mereka.

Demikian kalimat Cinta Tak Terbalas yang aku utarakan sebagai judul dari cerita pendek ku ini. Dari hati yang paling dalam aku sendiri tersentuh mendengar cerita dari kehidupan Lansia di pantai Lembaga Bina Lanjut Usia Sentani Jayapura. 

Begitu banyak cerita baik maupun buruk yang terdengar baik maupun jelek dan lebih-lebih membuat hati tersentuh ketika mendengar cerita-cerita mereka tentang cinta dan kasih sayang yang telah pudar dari hati orang-orang yang mereka cintai dan sangat kasihi dikala mereka mengandung dan membesarkan mereka dengan ilkas tanpa pamrih satupun.

Namun, apakah balasan yang mereka dapatkan sama dengan itu? tidak….! mala cinta yang mereka berikan tak ada balasannya, kehidupan yang menjadi tanda tanya bagi mereka, masa tua yang menjadi beban hati batin mereka dan penderitaan yang mejadi air mata nereka itulah cinta yang tak terbalas oleh orang-orang yang pernah mencuri hati mereka hingga menuahnya diri mereka.

Terkadang cinta yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya tidak ada duanya, dikadung dengan bahagia selama sembilang bulan,  dengan bersusah paya memikulnya dalam perut kandungan ibu.

Melahirkan dengan penuh perjuangan dan taruhan nyawa, bahkan membersarkan dengan tetesan keringat dan perjuangan yang tak kenal lelah dan letih, lesuh. 

Itulah perjuangan sang orang tua kepada anak dengan cinta yang begitu muliah tanpa pamrih dari hati dan hidup mereka. Aku menarik napas dalam-dalam apasih yang kubuat yang merugikan mereka suarah ku sedikit disusupi nada geram.

Namun pada jaman sekarang ini cinta yang di balaskan oleh anak kepada sang orang tua tidak setulus yang diberikan oleh orang  tua kepada anaknya. 

Banyak keluh kesah, kesedihan kerinduan dan sebagainya yang dirindukan dari pada anaknya, namun semua itu hanyalah hisan di bibir dan kerinduan di hati yang tidak akan terbalas sempurnah oleh sang anak kepada orang tua.

Kehidupan memberikan ku banyak pelajaran banyak ilmu, banyak cerita dari sekian banyak kisah hidup yang ku temukan sedikit ini yang memberi ku sebuah gambaran tentang cinta yang sesunggunya namun tanpa balasan dari hasil cinta itu sendiri. 

Banyak orang mencintai dengan harapan hati mereka juga di cintai, tanpa ada satu hela kata penghianatan. Namun cinta sang bujangan dan cinta sang remaja memiliki cerita yang berbeda dengan cinta sang malaikat kedua dengan sang penerus generasi dunia ini, yaitu cinta sang orang tua kepada anak-anaknya.

Dunia yang begitu indah yang penuh dengan warna-warni kehidupan, baik maupun buruk senang maupun susah. setiap orang memiliki kehidupan dengan latar belakang dan beban hidup dan persoalan yang berbeda-beda. namun tidak disangka bagi lansia-lansia Panti Bina Lanjut Usia Sentani, Jayapura Pupua.

Tempat dimana yang didirikan oleh lembaga sosial kabupaten untuk memampung Lansia-lansia terlantar untuk menjamin hidup mereka jauh lebih baik dari sebelumya, namun tidak disangka tempat ini juga jadikan sebagai tempat penitipan orang-orang tua yang sudah lanjut usia oleh keluarganya, walaupun memiliki keluarga yang masih sempurna dan lengkap terkadang mereka di abaikan oleh keluarga mereka seketika mereka menitipkan sang lansia ini di pantai Bina Lansia.

Dengan demikian kasih saying yang diberikan anak kepada orang tua tidak terjalin dangan baik, halayaknya sang anak kepada orang tua yang  membuat kecemburuan social dari orang tua kepada anak. 

Dengan demikian rasa cinta dari orang tua yang diberikan kepada anak tidak terbalas dengan baik, maka banyak lansia yang memiliki padangan negatif terhadap anak-anak dan keluarganya akibat pelanpiasan dari ketidakpuasan terhadap masa tuanya. Masa dimana mereka membutuhkan kasih sayang yang sempurna dari anak-anak dan keluarga.

Setiap orang dilahirkan dengan cita, ketika ia bertumbuh maka yang terpenting menjadi dasar hidupnya adalah cinta dan kasih sayang. Sama halnya dengan orang tua, ketika mereka membesarkan kita dengan cinta yang mereka harapkan dari kita yaitu tentang kasih sayang dan cinta dari kita yang tulus. Setiap insan manusia di duina ini, membutuhkan cinta dan mengharapkan cinta untuk menemani kehidupannya.

Di Panti Bina Lansia Sentani, banyak sekali kehidupan para langsia yang sangat memprihatinkan, hidup yang sangat menyedihkan hidup yang penuh dengan asah harapan. Kehidupan yang tergantung pada orang lain, yang membuat diri mereka bukanlah apa-apa seperti kita anak-anak mudah sekarang ini.

Dengan rentangnya waktu, hari, bulan, bahkan tahun umur mereka bertambah, pemikiran mereka semakin menyempit yang membuat mereka kembali berpikir seperti seorang anak bayi, yang harus di urus, di tutun dan di rawat selayaknya seorang anak yang di rawat oleh orang tua, kehidupan yang memberikan banyak pelajaran, kisah-kisah inpiratif dari pejuang-pejuang lansia ini, dimana hati tidak sanggup menahan kepedihan, bibir tidak mampu berkata-kata maka matalah yan mampu mengungkapkan segalanya.

Jangan pernah jadikan orang tua kita tamu yang asing di dalam hidup kita. Tetapi marilah kita jadikan mereka mutiara yang tak ada duannya didunia ini. Dengan melindungi mereka dengan cinta dan kasih sayang walaupun tidak sesempurnah yang mereka berikan kepada kita kasih dan cinta yang paling sempurna berasal dari orang tua.


Sekilas cerpen ku, semoga bermanfaat…………..!!!!!!!!

Post a Comment

Previous Post Next Post