Aku Adalah Lelaki Yamor - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Aku Adalah Lelaki Yamor

Cerpen : Sesilius Kegou)*
Ist 

Aku adalah lelaki Yamor. Mata pencahariaku nelayan di danau Yamor. Aku dibesarkan oleh ikan, udang dan rusa di dataran lembah dan rawa. Kampungku tidak seramai (Idedua, Modio, Bomomani, Apogomakida, Mauwa) kampung lain di sana. Di kebisingan dusun, kampungku, hanya sembilan rumah bertatap jejer perdekatan, dua rumah tidak tinggal orang (milik perumahan Desa). Cukup kami bahagia dengan hidup sederhana.
Kolam kecil yang dangkal biru di lereng gunung “Weyland” Gemou menjadi tumpuan harapan anak-anak seusiaku. Kami bermain mandi lumpur setelah pulang Sekolah. Aku tuntut ilmu di Sekolah Dasar kelas (I) satu beranjak kelas (II) dua di Yamor.
Aleks Gabou, guruku. Dia hanya tamatan SLTP, didikan sistem Belanda di pulau Doom, ketika itu saat jadikan sebagai ibu kota pusat Pemerintahan Sorong yang disebut Onderafdeling, sekitar tahun 1935. Dia adalah kebangganku yang mengeluarkan dari kepurukan buta jiwaku. Sejak aku terima raport, benar-benar kuurai raut wajah dan kulitnya yang keriput, kumis panjangnya memutih, botak yang tua. Guruku adalah pemberi harapan.
“Anak-anakku, kebahagiaan di dunia adalah kesuksesan. Anak-anak harus rantau,” kata guru sebelum serahkan raport, menjadi motivasi.
Gementar tanganku ketika kulihat hasil ulanganku yang memuaskan. Di raport cover merah. Raportku pernah basahi air hujan sehingga sebagian hampir rabik, tapi bagiku itu bukan ukuran.
Ayah dan Ibuku pekerja sebagai petani kebun. Keseharian tanam dan panen kemudian hidangkan hasil dari bumi. Hanya itu keseharian penduduk di sana. Adikku ada satu, tapi masih kecil yang selalu ikut bundaku kemana ia pergi.
Hari Kamis, gerhana Matahari total membungkus kampungku. Malam terakhir aku tidur di ayah dan bundaku. Besok pagi akan kutinggalkan semua. Malam itu sepertinya sedetik walau harapanku malam itu harus semakin lama.
Lenguh binatang dari dari dalam hutan terdengar nyaring, mungkin anjing liar. Kelelawar atau mungkin juga burung, terbang memenuhi langit-langit kampung. Kepakkan sayapnya seperti orkestra seram.
Nenek tua yang terintih mengambil air dari pancuran pipa. Suara lagu di toak terdengar rumah yang paling ujung dengan lambat-lambat denting piano diantara suara hewan-hewan yang lucu. Aku tahu, ada yang lebih bahagia dibandingkan gerhana dan kejala malam ini. Kekuasaan Tuhan.
Kami berkumpul dalam rumah, ayah di sampingku rajut noken angkrek, gulingan tali serat dalam jari-jari berkumpul rapat dan lepaskan sangat menarik di mataku. Mamaku sibuk santap malam. Adikku duduk makan ketimun.
“Nak, jangan bosan di sana.” Mama memandangku wajah sedih. Malam sudah larut. Kampung jadi tenang, sunyi. Santapan malam kami santap bahagia. Aku tidur dalam pelukan ayahku.
Aku tidur baik. Suara kokokan ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. “Oh sungguh ini sudah pagi.” Aku ingin lama malam ini.Tidak lama, mama sedang pasang api. Seperti biasa ketika dingin, tiap malam pukul 04.00-an mama tidak alpa pasang api. Aku bangun. Mama sedang letakkan beberapa ubi jalar di tungku api. “Mama, ini sudah pagi?” Harapanku mama harus jawab bahwa ini masih malam.
“Ayam berkokok, angin Yamor berdesis desir, itu tandanya sudah pagi nak.”
“Mama aku keluar dulu.” Ingin pastikan suasana alam. Di ufuk timur gugusan awan kemerahan, langit sudah cerah sejak tadi, tapi sekitar kampung tidak kelihatan terang. Aku gentar sekali lihat seluruh kampung masih gelap.
“Oh… benar ini sudah pagi, hari ini kutinggalkan bundaku. Aku ingin bawa foto bunda, tapi tidak ada alat potret.”
Sudah lama kududuk di samping rumah, “anak? masuk.” Kali ini mama sangat sedih, aku tinggalkan mama dan pergi. Aku masih kecil.
“Aku akan gambar wajah mama, biar aku lihat ketika rindu di sana.”
Alam benar-benar menetas. “Tuhan, apakah ini benar pagi?” pikirku. Anak-anak kampung mulai keluar bermain di halaman.
Sudah pukul 7: 00 WP. “Anakku pergilah, Doa kami meyertaimu,” kata bundaku, dengan hangatnya tangan hendak memberiku makanan secukup selama perjalanan.
Koba-koba baruku kupegang di tanganku menyepit tubuhku. Noken rajutan serat genemo terhias menyampin di badanku. Bajuku yang rabik di bahu kiriku seakan sahabat tubuhku, aku meninggalkan bunda, ayah, adikku dan kampungku. Celana Barcelona adalah pakaian penggantiku satu-satunya, kulipat lalu isi dalam noken.
Lepas dari kampung. Belantara Ogeihe menjadi saksi. Secepat apapun kujalan setapak dari kampung, melewati hutan, Ronal bersamaku. Banyak pepohonan berdiri julang tinggi. Dengar juga suara burung menyepi berkijau merdu. Embun pagi masih membasahi menempel rumput-rumput dikala pagi menanti sinar Matahari. Itulah tanah Papua.
***
Awal bulan Juni. Kampung Tatou, aku temui banyak orang dengan berbeda karakter satu dan yang lain. Tengah-tengah kampung ada gedung panjang, papan nama Sekolah dan peraturan Sekolah baru saja tanam, depan ruang-ruang kelas ada tanaman bunga kecil dipagari putung-putung kayu, memang jauh beda dengan kampungku. Di halaman ramai gemuruh siswa bermain ketika pagi.
“Tuhan bagaimana akan saya bisa sekolah di sini.”
Malu, takut garu kepalaku, tidak kusadar kepalaku licin, baru saja botak pagi tadi.
Hari itu hari pertama aku masuk Sekolah di SD Inpres Negeri Yegeiyepa, ada seorang guru berdiri depan serambi Sekolah. Malam tadi aku memang gelisah, membayangi khayal hari pertamaku di Sekolah baruku esok hari, bahkan aku ingin kembali ke kampungku.
Semakin hari, aku akrab orang-orang di sana. Empat tahun aku dan sebelas temanku beranjak kelas ujian, kelas enam. Kami ujian di SD YPPK St. Stefanus Apogomakida bersama beberapa Sekolah Dasar seluruh Piyaiye. Tidak lama kembali bertemu ayah dan ibuku, aku berlibur ke kampungku. Orang tuaku tidak kekar polos kala itu, banyak perubahan tanda-tanda usia tua.
Pantai Keluru renta lepas berlabu setelah dua minggu di kampungku, sedikit berombak di tanjung Moi. Angin tetap berdesis terhampas dada. Lautan utara menjadi saksi selama dua hari. Di atas lautan, aku menaru nyawaku berayung capek luar biasa menghalau gelombang laut. Laut perahu layar menjadi istanaku menuju kota Nabire.
Laut yang teduh, ikan-ikan berenang berseliweran. Pesisir pantai yang indah sana, pohon-pohon Kelapa menghijau, pasir pantai kilau putih sering membuatku lupa pulang.
Malam hening di istana kecilku di atas laut. Kota Nabire terlihat lampu berkedip kencang, hujan lebat mengguyur mengunjang perahu. Surat keterangan kelulusanku hampir saja basah. Hujan redah sesaat kemudian. Sepertinya malam terakhir di Istana lautan ini. Aku merantau di Nabire, di asrama Piyaiye. Ada seorang sahabat memberiku harapan di Nabire.
Hidup adalah perjuangan, gagasan yang pernah diuraikan oleh, Ernes Magai (sahabatku) lelaki asal Kab Dogiyai distrik Sukikai Selatan, kini menempuh pendidikan di Jayapura Papua, salah seorang Mahasiswa Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura sejak aku putih berabu. Kukenal betul tingkah laku dan kepribadiannya. Ernes Magai salah satu senor di rumpung pelajar mahasiswa Siriwo, Mapia, Topo dan Wanggar di Jayapura.
Banyak gagasannya aku pernah belajar dan contohi. Kalanya masa Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas. Selain itu kelapa muda di tengah Kota Nabire adalah makanan favorit kami. Kota yang kenal akan kaya jeruk manis milik orang Jawa, kami setia meranggkul anak-anak Katolik untuk bergabung dan belajar di Orang Muda Katolik (OMK) gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) bukit Meriam. Di sana ada Yoris dan Minggus, kami berguru padanya. Mereka setia dampingi kami.
***
Merana seorang diri di tanah  menetes air mata dan darah (Papua) tidak ada gunanya melingkup dalam hati yang rindu jika tanpa seorang sahabat.
Aku ingat, hari itu ulang tahun sekolah kami, SMA Negeri 1 Nabire, bergemuruh ramai di halaman. Sementara kelas kami jam olahraga, tapi guru Olahraga beri kami kerjakan tugas, presentase minggu depan, tiap kelompok lima orang dari sejumlah 40 siswa.
“Eh, kita satu buat kelompok, nanti sore susun makalahnya dari rumahku,” ajak Hengki. Hengki duduk menghadapku.
Hari itu momen terbaik bagi kami.
Efendi Minai masih duduk di kursi deretan tengah ke-tiga hitung dari pojok kiri, meja ke-dua hitung dari depan, sepertinya menghafal rumus Fisika. Milson Nawipa masih kerjakan tugas di kursi pojok kiri ujung ruang kelas.
“Milson, sudah. Ayo ke perpus,” aku mengajaknya. Aku harus bercerita penting di sana, itu tujuanku.
Kelas kami di gedung pertama, bagian timur dari aula. Bertatapan dengan ruang guru, tengahnya ada aula Serba Guna  “Douw Toppy”. Meluangkan waktu untuk diskusi sambil belajar Office di Perpustakaan SMA Negeri 1 Nabire. Papua (2014). Tentang perjuangan, diutarakan tidak bisa menghalangi oleh siapa pun dalam kehidupan bersosial. 
Hari itu, Efendi Minai menguras tentang kehidupan sehari-hari berindentitas bangsa Melanesia di timur Indonesia, dikenal hingga kini yaitu, “People Papua”. Sangat unik berindentitas kultur tersendiri yaitu sikap mengatur diri sendiri. Namun semua yang terjadi adalah kenghancuran semakin meningkat dilantaran, benar-benar tidak nampak dan jelas makasud yang telah diidamkan dalam benak militer yang telah ditempatkan di atas tanah Papua.
“Tindakan militer terus menekan martabat orang Papua, melalui berbagai cara intimidasi dan penindasan terus tidak henti. Akibat kekacauan, di kota-kota besar hingga di pelosok-pelosok tanah Papua nampaknya.” Efendi Minai bicara, gerakan tangan serupa mimikan.
Hari semakin hari terus menyelimuti tangisan pilu, air mata Manusia Papua selalu deraih membasahi pipi, darah selalu metetes mengalir di atas negeri Cenderawasih. Manusia Papua telah alami penindasan, kini dan akan terus tidak henti. Pertumpahan tetesan air mata pedih dan darah harapanku menyimpan untuk harapan hidup dari semenjak nenek moyang, masa lampau.
Militer merugiakan 1000 harapan bangsa Papua. Tunas-tunas harapan Papua terus mengancam menghabisi satu demi satu oleh sekelompok militer tersebar dimana-mana dalam berbagai tindakan dan perilaku tidak memuaskan.
Pandangan dalam pilu anak Negeri, Negeri Cenderawasih terus melotot, negeriku bagaikan ladang tanpa dipagari hingga binatang buas (mamalia) yang mendiami di hutan rimbah berantara hadir seenaknya, menikmati di ladang tidak mempunyai pagar.
Pribumi semakin hari semakin kurang, penindasan merajalela dalam ladangnya. Sekian lamanya, jajahan dari Tahun 1961 hingga kini, pelosok Papua telah penuhi dengan berbagai ancaman. Pelanggaran Hak Asasi Manusia Papua tidak pernah tuntas.
“Aku hanya berdiri di sini, memeluk pilu dalam hatiku berlahan-lahan kutanggung dan membisu menatap ke ufuk timur di pagi hari matahari terbit hingga sore hati terbenam di barat bumi menanti datangnya rembulan menyinari hingga tibanya malam larut terus bergantian. Membisu sehingga tibanya malam itu pengantar tidur kumainkan kaidowuu (iringan keropi). Selagi kunikmatan dunia tanyangan ‘mimpi’ takkan jadi nyata hanyalah cerita sandiwara.” Ringkasan Efendi Minai.
***
Harapan dalam lubukku yang telah melekat dan yang selalu kujuang, hanya ada gagasan adalah aku ingin bebas dari berbagai sektor jajahan. Aku terus lawan melalui dunia menulis, kadang Indonesia memandang diriku tidak ada arti, tidak mempunyai apa-apa, tidak berani. Karena aku bisa hanya lontarkan kepediahan melalui tulisan berupa puisi, cerpen, artikel, dan lain-lain yang terus kau dambaan hatiku.
Jadi mimpi itu memang harus berani mimpi. Bagaimana dengan Anda?  Bahkan saat krisis ekonomi pun, kita jangan merasa takut bermimpi. Sebab, kita harus yakin bahwa mimpi atau visii sama dengan cetak biru (blue print) dari realita. Artinya sesuatu yang akan menjadi kenyataan.
Keyakinan, kalau sesorang berani memiliki visi, ia pasti mampu menciptakan kekuatan positif di dalam logikanya. Hasilnya adalah kemampuan kerja dan kualitas hidupnya yang meningkat. Oleh karena itu, sangat yakin dengan ungkapan berikut ini: “Hati-hatilah dengan angan-anganmu, karena angan-anganmu itu akan menjadi kenyataan.”
Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah mengatakan, “ Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Visi memang bisa menyugesti orang. Semua langkah kita akan arahkan ke sana mulailah mengejar Cita-citanya. Maka mimpi tentang cita-cita, mimpi tentang masa depan, tentu akan dapat memengaruhi para pengikut yang di pimpinnya.
Sebagai pemimpin, seseorang harus punya ilmu “obor”. Artinya harus dapat menerangi sekelilingnya. Seseorang berusaha dengan visi besar adalah obor bagi para sesama. dengan visi besar akan dapat menciptakan lingkungan berusaha yang dinamis dan penuh motivasi.
Cita-cita merupakan sosok yang seharusnya tidak takut bermimpi. Apalagi mimpi itu tidak perlu biaya. Namun masalahnya adalah belum tentu semua orang punya keberanian, keinginam untuk bermimpi. Sehingga tidak berlebihan kalau bermimpipun membutuhkan sebuah keberanian.
Hal itu bisa terjadi karena kita terkadang masih terpaku pada mitosmitos, yang telah mentradisi di kalangan masyarakat luas. Misalnya, ada mitos yang mengatakan, bahwa kalau kita mau sukses, kita harus punya gelar sarjana. Padahal kenyataannya, cukup banyak orang yang sukses tanpa menyandang gelar sarjana. Banyak Pelajar yang memulai usahanya dengan mengembangkan mimpi-mimpinya dari modal nol.
Kita lihat saja bagaimana Bill Gates yang bermimpi, bahwa personal computer akan tersedia di rumah setiap orang. Untuk merealisasikan mimpinya, Ia rela drop out dari studinya, dan lebih memilih menekuni Microsoft-nya. Ternyata Ia berhasil. Sehingga Ia kini menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
***
Motivasiku ke jenjang perguruan tinggi: Tulisan ini persembahkan bagi Mahasiswa baru (maba). Karena sebagai calon Mahasiswa kadang sulit untuk beradaptasi di lingkungan baru (Kampus, Sosial, Organisasi) dengan berbagai sudut pandang, Semoga tulisan ini membantu bagi Mahasiswa baru.
Menjadi mahasiswa baru, bisa jadi sangat menyenangkan dalam dunia pendidikan pada umumnya, sekaligus menakutkan. Kenapa? Karena bagimanapun juga terjadi dalam perkuliahan.
Kuliah adalah dunia baru yang bisa kita memberikan banyak pengalaman, lebih berbeda seja Sekolah Menengah Atas (SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang pernah kita tempuh. Masalahnya, dunia baru tidak sama dengan dunia lain.
Pelajar yang baru beranjak kuliah memang tidak kuat, kita tidak bisa lambaikan tangan! Dengan kata lain, kalau sudah jadi mahasiswa, kita tidak boleh menyerah, apalagi pemalas.
Kemudian bagimana cara untuk cepat beradaptasi, agar kita bisa dapat memulai masa perkuliahan?
Zaman sekarang cari teman baru tidak sesulit seperti cari pacar. Yang sulit itu kalau dia menganggap kita teman, sementara kita menganggap dia pacar. Biasanya, mahasiswa baru mencari teman saat OSPEK, berhubung di ajang tersebut, mereka akan susah senang bersama. Nah, kalau kita tidak ikut ospek, sebagai gantinya, kita bisa bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sesuai dengan minat kita. Karena ada persamaan minat, harusnya kita bisa gampang mendapat bahan harus obrolan dengan teman-teman se-UKM. Tapi harus ikut Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK).
Kampus manapun, selalu saja ada tipe senior yang jutek dan rese. Bagiamana menghadapi senior macam ini? Sebaiknya, jangan bikin mereka punya alasan untuk menipu kita. Bersikap biasa saja, dan jangan bergaya berlebihan kalau ke kampus dan dalam persatuan organisasi lain di luar kampus; di organisasi luar kampus, kita akan belajar banyak tentang bagaimana cara kepemimpinan yang baik dan terarur. Karena, di sana banyak kakak senior yang selalu memberi kita motivasi. Kita jangan takut dengan mereka. Ketika kita akrab dengan mereka, maka mereka lebih akrab dengan kita lagi. 
Jangan juga jadi junior yang kelihatan lemah dan malas. Kalau para senior cuma sebatas bermain dan tidak ramah, biarkan saja. Kalau mereka sampai emosi; main fisik, memfitnah boleh memberi solusi. Masalah uang jangan ragu untuk cerita ke orang tua, bisa juga ke dosen dan lebih bagus lagi cerita sama kakak-kakak senior yang lainya.
Banyak hal baru yang harus kita kenal saat kuliah, seperti SKS, IP, IPK, KRS, semester pendek, mata kuliah wajib, mata kuliah pilihan, dan sebagainya. Sistem belajarnya juga sangat berbeda dengan SMA saat masa-masa indah. Sebagai Mahasiswa, kita harus proaktif, karena sistem perkuliahan sangat mementingkan inisiatif mahasiswanya sendiri. Jangan khawatir. Beberapa kampus menyediakan buku panduan pendidikan S-1 yang untuk para mahasiswa baru. Tapi kalau kita masih bingung, jangan ragu untuk konsultasi dengan dosen wali atau senior yang kamu kenal. Jangan lupa, rajin juga membantu kita menghadapi mata kuliah susah yang bikin kamu di bangku paling belakang saja rasanya.
Jadwal kuliah, berbeda dengan jadwal Sekolah. Jarak antar kelas bisa panjang sekali. Kelas pertama bisa dimulai jam 8 pagi, kelas keduanya baru ada lagi jam 2 siang juga jam malam. Selama jeda, bawa laptop untuk wiffi-an di kampus. Kalau bosan, kamu bisa main ke kosan atau rumah teman yang deket kampus. Atau nongkrong saja sama teman-temanmu di UKM, siapa tahu bisa tambah kenalan baru. Tidak semua dosen sifatnya halus, tapi kadang memang ada dosen yang tukan melawan agar dosen mendapat kesan pertama yang baik tentang kita, sebisa mungkin jangan pernah terlambat masuk kelas. Kemudian tunjukkan sikap aktif dan penuh inisiatif selama kelas berlangsung. Selain itu selesaikan semua tugas dari dosen dengan maksimal. Last but not least, coba ajak dosen duduk bersamaan di luar kelas, kita bisa ajak beliau duduk bersamaan tentang mata kuliahnya, atau tentang hal-hal umum, seperti pengalaman beliau sewaktu masih jadi Mahasiswa. Kadang dosen killer malah senang, bercerita tentang dirinya sendiri.
***
Percaya saja kita sebenarnya hidup di zaman yang serba mudah. Hari begini, akses internet semakin gampang, sehingga mendapatkan materi untuk bahan makalah jauh lebih mudah tapi jangan nyontek. Kemudian, jangan ragu untuk kerja berkelompok bersama teman-teman yang kamu rasa cocok. Atur pembagian tugas dengan jelas, lalu review tugas kalian bersama-sama sebelum dikumpulkan.
)*Penulis adalah Cerpenis Muda Papua yang kini kuliah di Semarang.
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: