Demokrasi Berwajah Serdadu

Demokrasi Berwajah Serdadu

Fhoto: Philke

Serdadu menyisip di segala titik dan menyusup semua sudut
Di pojok, di lorong hingga di sudut tembok baja, bahkan dalam toko 'tuk membuntuti yang berdosa di sepasang matanya.
Herodes tirani sudah memerintahkan 'mengikat tak di gugat' dan tak mungkin segera menarik semua argojonya.
Seyogianya, insan-insan hitam di bumi koloni sudah dan akan diam-diam menuju ke lian tanpa mengetahui pusaranya.

Kehidupan bangsa hitam di timur nusantara yang terkoloni, bahwasanya 'sudah' tersalibkan di ujung bedil dan itu semua telah mewakili bahasa titik.
Tiada langkah bebas dan jika bebas berkelana terbuntut, di antaranya bedil dan pasal karet yang di jiplak.
Dalam genggaman predator, jiwa-jiwa merintih terselip di bot sepatu serdadu, tiada tawa, tak ada kenyaman.
Diam dalam kata ialah 'nyata' jika 'tindak' nyawa berujung di diamkan selamanya.

Riwayat hidup sang pembantai etnis 'Rudolf Hitlet'.
Dalam  wajah lain, telah bangkit di bumi matahari menyingsing.
Di jantung demokrasi terasa tak demokratis.
Demokrasi bertopeng serdadu masih berkuasa memelihara fasisme, rasialisme dan militerisme.
Reformasi hanya khiasan ketika yang nampak mendominasi melebihi Mahakuasa dengan dahlil militeristik.

Para keamanan itu tak kenyamanan bagi jelata.
Jargon pelindung jadi pembuntut
Jargon pengayom berubah pengakimi
Jargon penyelamat jadi penyebar ringkih
Jargon malaikat berubah jadi dewa pembawa murka

Selamat jalan, demokrasi Indonesia.
Duka demokrasi itu ratapan bangsa bagi tiap jiwa yang merindukan "keadilan".
Sampai jumpa lagi pada zaman yang lebih waras, etis dan berkemanusiaan

Bumi Koloni, 01/12/19
Giyai Aleks

Post a Comment

Previous Post Next Post