Budak-Budak Tertindih, Puisi Alex Giyai

Budak-Budak Tertindih, Puisi Alex Giyai

Lukisan Bung Piaye Art
Tikus-tikus hitam di selang zaman
Berserak, bersepakan dan bertindih
Bersorak jajaki jejak yang kefanaan
Di angkara culas nan menyublim tawa
Tertuju pada istana tuan penindih

Tersunggut berserah seutuh diri
Dengan jiwa bergantung dan pasrah
Mencari necis mengais jubah tirani
Agar leluasa foya di beranda koloni
'tuk kebiri tanah leluhur yang permai

Betapa hidup di perah bagai binatang
Ajal terus di tebas tapi rela terbudak
Berdengking senyap di telang waktu
Lalu denting tikaian saling adu kata
Melempar batu kutukan lubangi hidup

Senyaring hening tiada merunduk
Melakoni hidup mengsiasati pailit
Engan berat balik pada sang hekekat
Doa-doa pun nanti jawaban panjang
Usang dalam ketamakan yang tiada tara

Wakeitei, (29/07/19)
Giyai Aleks
Lukisan: Bung Piyaiye Art


Rosario Bintang Kejora        
 
Alex Giyai - Doc. Pribadi
Salam Maria Penuh Rahmat
Kupanggil namamu
Bunda segala bangsa
Juga mama sang fajar timur
Terdorong di dekap pada dadamu
Tak bernoda

Salam Maria Penuh Rahmat
Ratu Rosari yang selalu berdoa
Kupanggil namamu
Bunda Penolong Abadi
Abadikan kami 'tuk juangkan
Damai nan keadilan di bumi

Anakmu yang Kau pangku
Adalah Putera Allah
Katakan kepadaNya
Bahwa kami umat juga
Tengah kehabisan anggur

Mintalah Puteramu mengubah
Air di tempayan iman kami
menjadi Anggur kehidupan
Agar ada kami bermakna
Bagi bumi Papua
Karena kami tahu PuteraMu
Takkan pernah menolak permintaanmu
Untuk membebas kaum tertindas
Amin.

Nabidei, (01/09/19)

Giyai Aleks

Post a Comment

Previous Post Next Post