Papua, Kerinduan Tanpa Perkenalan - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Papua, Kerinduan Tanpa Perkenalan

ilustrai; nasional tempo.co
Oleh; E.S Ito)*

Bagi kita, Fomalhout adalah nama yang asing. Tetapi, kapal pemerintah kolonial itulah yang pada 27 Januari 1927 berlayar ke hulu Sungai Digul, lalu membuang sauh 465 kilometer dari muara.

Dari geladak kapal, para serdadu dan kuli turun, membuka hutan, terjadilah sebuah tempat terbuka di rimba Nieuw Guinea. Setelah dibangun dua bulan, kelak daerah itu menjadi kamp pembuangan paling ditakuti saat itu, Boven Digoel (Digul Hulu).

Digul ditetapkan sebagai interneringskamp bagi mereka yang terlibat dan bersimpati pemberontakan 1926-1927. Tokoh nasionalis Hatta dan Sjahrir pernah dibuang ke tempat ini. Di balik kepedihan akibat exorbitante rechten yang dimiliki Gubernur Jenderal De Graeff, kedatangan Fomalhout memberi pesan jelas. Digul adalah tempat Indonesia sebagai gagasan saat itu berkenalan dengan tanah Papua. Semacam bentuk perkenalan dalam keterasingan.

Hampir 80 tahun sejak Fomalhout menerobos Digul, perkenalan Indonesia-Papua tidak berlanjut pada tingkat lebih intim. Upaya perkenalan menjadi keterikatan dilalui dengan proses panjang, mulai dari perundingan di Ridderzall, Den Haag, 23 Agustus-2 November 1949, proses penentuan pendapat rakyat, hingga beragam operasi militer yang dilakukan Jakarta di tanah Papua.

Keterasingan sejarah
Perkenalan itu statis, sama statisnya dengan hidup masyarakat Papua. Membandingkan Papua kini dengan Papua 1962 saat Indonesia de facto menggabungkannya tidak banyak yang berubah. Banyak orang masih berkoteka, payudara perempuan masih terbuka, Hornai pun tak banyak berubah, minim ventilasi, jauh dari standar kesehatan tempat tinggal. Yang berubah dari Papua bukan manusia, tetapi alamnya. Hutan Papua kian gundul. Gunung-gunung emas dan tembaga berubah menjadi danau tanpa air. Sementara AIDS terus mengintai bak jagal kejam.

Di tanah Papua, pembangunan yang dijalankan rezim Jakarta memiliki satu makna tunggal, eksploitasi. Bagi rakyat Papua, integrasi dengan Indonesia tak lebih dari wilayah geografis. Sedangkan manusia, ide dan gagasannya ditinggalkan pada lembah kemiskinan dan kebodohan.

Selain eksploitasi dan represivitas, tampaknya juga ada yang salah dalam perkenalan ”kita” orang yang selalu memberi apologi pada kekerasan Jakarta dengan Papua. Sejarah Papua tidak pernah diintegrasikan dengan sejarah Indonesia, seperti manusianya yang terasing. Materi yang kita terima tidak lebih dari sejarah operasi Trikora, bukan sejarah Papua. Penerjunan Herlina si Pending Emas dan tenggelamnya Yos Sudarso bersama KRI Macan Tutul adalah kisah heroik satu sisi. Pemahaman kita tentang Papua akhirnya tidak beranjak dari wacana tunggal kesatuan NKRI.
Antara Papua dan ”Jakarta” ada keterasingan sejarah. Keluarnya UU No 21/2001 tentang Otonomi Khusus untuk Papua, disertai pembentukan Majelis Rakyat Papua, tidak akan berarti tanpa diikuti integrasi sejarah Papua dengan Indonesia.

Menyimpan tanda tanya
Landasan nasionalisme, senasib dan sepenanggungan, kini tinggal jargon. Yang terjadi, ”mari menanggung nasib masing-masing”. Dalam konteks konflik Papua yang terus berlarut, dari Jakarta bukan solidaritas yang dikumandangkan, tetapi superioritas. Juga bukan persatuan sebenarnya yang kita ajakkan kepada masyarakat Papua, tetapi tidak lebih dari prinsip sauve qui peut (sebisa-bisanya menyelamatkan diri sendiri).

Integrasi manusia Papua dengan Indonesia masih menyimpan tanda tanya besar. Di ujung sana, saudara-saudara mereka pada bagian lain Indonesia tidak mengenal mereka. Sementara tiap detik dari hidup mereka direcoki dorongan untuk memahami aneka tindakan Jakarta.

Saya mencoba optimistis. Perkenalan ”kita” dengan Papua belum gagal. Kita harus menyelami manusia Papua, bukan sekadar kekayaan alamnya. Seperti Fomalhout menerobos Digul, kita harus mengarungi sejarah Papua, bukan sejarah Trikora. Beragam tokoh, pro maupun kontra hasil Pepera, harus diketengahkan melebihi Herlina atau Yos Sudarso. Papua dan bagian lain dari Indonesia harus menjadi kita, dan tidak lagi menjadi ”kita” dan dia.

Kelak, perkenalan kita dengan Papua akan menumbuhkan kerinduan, membuat kita sulit untuk saling melepaskan diri.

)* Penulis, Tinggal di Depok

Harian Kompas, 14 Maret 2006
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: