Menekuri jejak bah di Kali Kemiri, Sentani - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Menekuri jejak bah di Kali Kemiri, Sentani

Stenly Monim dan anjing peliharaannya
Oleh; Kristianto Galuwo

Jemu dengan genangan air, anjing itu mengendusi beberapa tunggul yang masih bergetah. Di sekitarnya, ratusan batang kayu yang sebagiannya mulai melapuk, berjejal-jejalan dengan bebatuan sisa amuk banjir bandang.

SEEKOR anjing kampung yang kuyup, mengais tumpukan ranting dan dahan yang lembap. Kemudian anjing itu berpindah ke genangan air dan mendecap.

Jemu dengan genangan air, anjing itu mengendusi beberapa tunggul yang masih bergetah. Di sekitarnya, ratusan batang kayu yang sebagiannya mulai melapuk, berjejal-jejalan dengan bebatuan sisa amuk banjir bandang yang menerjang sebagian besar Kota Sentani, Sabtu malam (16/3/2019)
Anjing itu kembali berlari, pergi mengekori tuannya, Stenly Monim (31). “Namanya Moli. Sudah tua, hidup dengan kami sudah sepuluh tahun,” katanya, saat ditemui Jubi di Kali Kemiri, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (21/3/2019).

Stenly adalah korban selamat dari banjir bandang tersebut. Tempat yang ia tinggali, serupa pulau teduh seluas lapangan sepak bola mini, di antara cabang Kali Kemiri. Masih tersisa beberapa pohon di lokasi itu.

Moli, baru dijumpai Stenly, Rabu siang (20/3/2019), ketika ia sedang menyusuri tepian kali. “Sa kaget dan senang sekali, karena sa pikir dia (Moli) sudah mati.”

Ketika pertama kali bersua, kata Stenly, Moli berjingkrak dan menerjangnya, mengitarinya berkali-kali, menjilati tangannya lalu berkaing. Ada beberapa goresan luka di punggung Moli. Hampir sama dengan garitan luka di punggung Stenly, saat dihantam banjir.

Setelah lima menitan menyusuri lokasi bekas luapan Kali Kemiri, Stenly berhenti di depan reruntuhan rumahnya. Moli terus berada di sekitarnya. Ia mengaku baru pertama kali mengunjungi tempat itu, setelah bah menerjang.

Sebelum mengunjungi lokasi rumahnya, anak perempuannya, Risyelita Monim (11), dititipkannya di rumah kerabat yang letaknya tak berjauhan, dari titik rumah mereka yang tinggal puing.

Putri keduanya, Martina Marice Monim (9), tidak tertolong dan baru saja dimakamkan di Kampung Sereh, pada Rabu (20/3/2019). Putra bungsunya, Alberto Monim (1), belum ditemukan sampai sekarang.

“Padahal kami baru merayakan ulang tahun Alberto. Tujuh Maret kemarin, dia genap setahun,” kenangnya.

Istrinya, Lara Merlin (25), selamat karena sedang berkunjung ke rumah kerabatnya di Ifar Gunung. Saat ini, Stenly dan keluarganya yang tersisa, mengungsi di rumah kerabat.

Firasat yang terlambat ditafsir
Stenly cemas karena hujan deras menjelang gulita, ketika malam bencana itu. Ia berkali-kali pergi ke tepian kali untuk memantau arus. Sejam kemudian, luapan air semakin deras sampai mengikis tepian ‘pulau’ yang di atasnya berdiri lima rumah.

Biasanya, kata Stenly, hujan sederas apa pun selama berhari-hari, tak sampai mencipta arus serupa malam itu.

“Tapi malam itu aneh sekali. Tempat kami ini sedikit tinggi. Tapi air masuk cepat sekali. Sa tra sangka-sangka. Sa langsung bawa anak-anak ke rumah di atas, milik peninggalan orang tua yang masih dihuni mama, kakak dan adik beserta keluarga lain.”

Posisi rumah Stenly berada di tengah. Ketika air dan lumpur berpasir semakin meruah, ia pergi mengabari dua tetangga yang berdekatan dengan rumahnya. Kemudian mereka semua berkumpul di rumah orang tuanya. Tetangga di sebelah rumah orang tuanya pun diajak.

“Kami hampir dua puluh orang malam itu, ditambah kakak dan adik sa, juga anak-anak mereka.”

Tiba-tiba gemuruh terdengar, kata Stenly, tapi mereka tak bisa ke mana-mana. Kedua sisi sungai yang mengapit telah meluap. Tiada titian menuju seberang.

Menurutnya, bah hanya menyapu sekali. Tapi batang-batang kayu dan bebatuan terus menggelinding digulir sisa-sisa arus. Ia tersuruk di tumpukan kayu yang akhirnya menjadi serupa perisai baginya.

Stenly berteriak memanggil nama anak-anaknya dan kerabatnya. Tiba-tiba sahutan dari anak tertua, Risyelita, terdengar. Ia berusaha keluar dari celah tumpukan kayu, lalu mencari anaknya.

“Posisi Lita (nama panggilan anaknya) ternyata sangat dekat. Ia memeluk batang kayu juga. Sa langsung meraihnya dan memeluknya erat, sambil berpegangan di dahan.”

Terhimpun tenaga, ia menerjang arus perlahan-lahan sambil memeluk anaknya, dan mencari keluarga lainnya. Namun dua anaknya yang terpisah tak kunjung ia temui.

Malam itu, sejauh puluhan meter ia melawan arus untuk menyelamatkan Lita. Dari seberang, ada tiga pria yang berlarian lantas melihatnya. Mereka berhenti untuk mengangkat dua batang pohon pinang yang tumbang, lalu menjulurkan ke arahnya. Setelah itu mereka bergegas pergi.

Sa bilang ke anak sa, ‘peluk bapa kuat-kuat dari belakang, nanti bapa menyeberang sambil peluk pohon pinang’. Awalnya ia takut. Tapi sa bilang ‘bapa akan selamatkan ko‘, baru dia berani.”

Saat berusaha menyeberangkan anaknya sambil memeluk pohon pinang, belum sampai ke tepi, arus deras menghantam hingga mereka terjungkir lalu hanyut. Tapi posisi mereka sudah berdekatan dengan tepian. Setelah berhasil berpijak di tanah, ia berlari menyusuri sepanjang kali sambil meneriakkan nama anaknya.

Saat berkisah itu, dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara Lita memanggil ayahnya. Bocah itu berlari melewati lumpur berpasir dan semakin dekat ke arah Stenly, yang hanya pasrah lalu memanggil anaknya. Tak terlisan perintah untuk menyuruh Lita beranjak dari tempat itu. Ia menyambut anak satu-satunya, yang bisa ia peluk dalam keadaan hidup.

Duka setelah bencana
Putri kedua Stenly, Martina, ditemukan dengan posisi dipeluk oleh tantenya, Minggu pagi (17/3/2019), keduanya dalam kondisi meninggal.
“Tim bantuan datang sekitar jam satu malam. Dini hari baru jenazah ditemukan. Sebenarnya letak mereka malam itu, tidak jauh dari posisi sa, saat sa berlindung di tumpukan kayu. Tapi sa tidak melihat atau mendengar suara mereka,” katanya.

Putranya, Alberto, sempat dikabarkan hanyut sampai ke BTN Gajah Mada. Informasi itu, ia peroleh dari sepupunya yang selamat dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Abepura, Kota Jayapura.

“Sepupu sa, Rina Sokoy, yang peluk Alberto dan mereka hanyut sampai ke BTN Gajah Mada. Itu jauhnya bisa dua kilometer dari sini. Tapi sayang, Alberto terlepas karena kayu menghantam Rina. Sa berharap ada yang menemukannya hidup. Sa rindu sekali, sa terus berdoa,” katanya.

Nasib kerabat dan tiga tetangganya, kata Stenly, sama sepertinya. Mereka kehilangan beberapa anggota keluarga. Ada yang ditemukan meninggal, dinyatakan hilang, tapi ada yang selamat kemudian dirawat di rumah sakit karena luka-luka dan patah tulang.

Untuk beroleh informasi jumlah warga di sekitar Kali Kemiri, Jubi menemui Ketua Rukun Warga (RW) 7 Kemiri, Andreas Hikoyabi (44). Ia mengatakan ada sekitar 700 jiwa yang bermukim di bantaran Kali Kemiri.

“Sekitar dua puluhan lebih yang sudah ditemukan jenazahnya. Enam di antaranya sudah dijemput keluarga di RS Bhayangkara, lalu dimakamkan. Kemarin juga tim yang membawa anjing pelacak masih menemukan jenazah di sini,” katanya, sambil memantau pencarian korban oleh Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan, di tepi Kali Kemiri, Kamis (21/3/2019).

Warga sekitar menduga, masih ada korban yang terkubur lumpur di lokasi yang sedang digali, karena ada tanda sekumpulan lalat biru terbang di sana. Andreas lalu menunjuk reruntuhan rumah teruruk lumpur, yang tengah berupaya digali Tim SAR Gabungan menggunakan ekskavator.

Salah satu anggota Tim SAR Jayapura, Sangap S (35), mengatakan upaya pencarian korban masih dilakukan di Kemiri, karena ini adalah salah satu titik terparah yang tersisir banjir. Tapi setelah dilakukan pencarian oleh Tim SAR Gabungan, tidak ada korban yang ditemukan sampai sore.

“Awalnya kami menemukan anjing mati di sebelah atas. Kami tidak tanam. Setelah itu cari lagi ke bawah, ada bau busuk. Kami pikir ada jenazah. Gali-gali, tidak ada. Setelah anjing mati kami tanam, bau itu hilang. Ternyata bau anjing mati itu yang terbawa angin,” katanya. (*)

Laporan ini dibantu oleh wartawan Jubi, Engel Wally.

Sumber; Jubi
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: