Carilah Sastra hingga ke Cina - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Carilah Sastra hingga ke Cina

ilustrasi; en.wikipedia.org

Minat orang Indonesia terhadap sastra Cina memang belum terkembang. Di Cina sendiri, sehabis gilanya Revolusi Kebudayaan, 'sastra Cina Daratan' kabarnya kembali menunjukkan perkembangan. Uniknya, novel konon mengemuka, sedangkan puisi hadir di pinggir semata.

Fajar era baru merekah pada 18 Januari 2000. Hari itu sepucuk keputusan presiden terbaca seperti sebuah undangan pesta: orang Indonesia pewaris kebudayaan Tionghoa tak perlu lagi sungkan-sungkan mengungkapkan kebudayaan mereka. Maka Imlek dirayakan tanpa kecemasan, barongsay dipertunjukkan sonder ketakutan. Seirama dengan kecenderungan itu, pameran buku Setengah Abad Ikapi tahun lalu juga tak lupa memajang kitab-kitab beraksara Cina. Sementara itu, lewat kapal impor yang menganga, berdatanganlah produk-produk otomotif dan elektronik Cina ke Nusantara. Harganya murah, gayanya oke juga.

Tapi, ada yang belum begitu oke: tak seperti motor Cina alias "mocin" yang disambut dengan sejenis euforia, gema sastra Cina di Indonesia masih sayup-sayup sampai. Sebelum reformasi, publik di sini paling bisa membaca Catatan Harian Seorang Gila-nya Lu Xun atau koleksi cerpen Orang Tua dan Seekor Anjing, yang keduanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Apalagi pada tahun 1970-an, kalau saja Sapardi Djoko Damono tak memperkenalkan Puisi Cina Klasik terbitan Budaya Jaya, boleh jadi hidung Indonesia tak sempat mencium semerbak sajak dari Tiongkok.

Di luar sana dunia agaknya lebih bisa mengapresiasi buah pena sastrawan asal Cina. Tahun lalu, misalnya, Akademi Swedia mengasih keplok plus uang segepok kepada Gao Xinjian. Dia memang warga Prancis tapi dia lahir, besar, dan menderita di Cina. Bahkan, dia pernah menyusuri tepian Sungai Yangtze sepanjang 15.000 kilometer hingga bisa menulis novel Soul Mountain yang disanjung-sanjung itu. Sementara itu, di Amerika publik mengelu-elukan Jin Xuefei alias Ha Jin, warga negara itu yang juga berasal dari Cina. Dialah pengarang novel Waiting yang termashur itu.

"Kita kan orientasinya masih ke Eropa, ya. Harusnya kita mulai (mengarahkan perhatian) ke Timur. Karena, kesusastraan di sana juga cukup bagus," ujar Iwan Fridolin, dosen pada Jurusan Sastra Cina, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Di antara segelintir orang Indonesia yang aktif mengarahkan "orientasi ke Timur" siapa lagi kalau bukan Wilson Tjandinegara, 55 tahun. Sehabis reformasi, penyajak dan penerjemah yang rajin campur serius ini lebih dari sekali bolak-balik Jakarta-Beijing buat menyelami telaga sastra Cina. Terakhir, dia kembali dari Negeri Tirai Bambu, Desember lalu. Fasih berbahasa Mandarin, Wilson telah mengindonesiakan sejumlah sajak Mandarin, termasuk sajak-sajak yang ditulis oleh penyair Indonesia keturunan Tionghoa. Karya terbarunya adalah 101 Puisi Mandarin terbitan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) tahun lalu yang berisikan sajak-sajak pendek dari Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Hari-hari ini Wilson lagi mengindonesiakan puisi-puisi dari zaman Dinasti Tang seraya menulis "Perpuisian Cina Daratan Tahun '90-an".

Berkata Wilson, sehabis gilanya Revolusi Kebudayaan (1966-1976), 'sastra Cina Daratan' kembali menunjukkan perkembangan. Dia bilang, salah satu tandanya adalah berkembangnya "puisi gelap" sejak tahun 1979. Dengan itu para penyair meniupkan semangat pemberontakan terhadap ketatnya kontrol partai atas segala sisi kehidupan orang banyak, tak terkecuali sisi sunyi yang disebut puisi.

Di sana, masih kata Wilson, banyak penyair muda berbakat yang karyanya cukup memikat. Sekadar menyebut beberapa di antara mereka adalah Zhang Shuguang, Wang Jiaxin, Chen Dongdong, Pai Hua, Di Yongming, Ma Li, Xi Du, dan Hang Canran. Ada pula penyair terkemuka yang tergolong "generasi tua". Misalnya saja, Zang Kejia, Xi Qing, dan Bian Zhilin.

Sayangnya, puisi di negeri itu belakangan dikabarkan cenderung memudar pesonanya. "Aspek terpenting dalam sastra Cina beberapa dekade ini adalah novel. Posisi puisi telah bergeser menjadi marginal," urai penyusun buku 55 Puisi Cinta Mandarin (1998) itu. Sayang, Wilson tak memastikan sebab musababnya. Cuma samar-samar dia bilang bahwa sejak diterapkannya kebijakan pintu terbuka bagi ekonomi pasar di Cina pada tahun 1970-an, meruak kegairahan berbisnis di sana. Sampai-sampai, katanya, sebagian penulis dan penyair ikut-ikutan berbisnis ria.

Ada pula dia kutip sebuah laporan hasil angket di harian Bei Jing Qing Xien Bao edisi 14 Februari 1996. Di sebuah kota di Cina Daratan pada tahun 1995 diadakan jajak pendapat terhadap 18 perguruan tinggi. Hasilnya seperti ini: cuma 4,6 persen di antara peserta angket yang membaca puisi. Adapun 31,7 persen lainnya kadang-kadang saja membaca puisi. Dan yang sama sekali tidak meminati puisi mencapai lebih dari separonya. "Rupanya masalah ini perlu direnungkan lebih mendalam," ujar Wilson yang menyebut fenomena itu sebagai "krisis puisi di Cina".

Namun, kata Wilson lagi, secara umum sastra di Cina terus berkembang. Dan salah satu aspeknya yang menonjol adalah karya-karya para penulis yang punya latar belakang pengalaman di bidang ketentaraan atau karya-karya yang berkisah seputar pengalaman perang. Wilson sendiri menyebutnya "sastra kemiliteran". Ia menggambarkan, selama 17 tahun pertama sejak kemerdekaan (1946-1966), di antara karya penting yang muncul adalah novel Tie Dao You Ji Dui (Pasukan Gerilya Rel Kereta Api) karya Liu Zhixia dan Zhan Huo Zhong De Ging Chun (Masa Muda dalam Api Peperangan) karya Xie ge. Sementara itu, pada tahun 1980-an, di antara sastrawan terkemukanya adalah Li Cumbao dan Mo Yan. Pada tahun 1990-an ada Zhu Siuhai, Zhu Sujin, dan penyair Zhou Tao.

"Sekarang ini memang bebas. Seperti novel yang judulnya Ombak itu sangat menarik," papar Iwan Fridolin. Dia pun bilang, para penulis di Cina dewasa ini sebetulnya tengah mencoba berpaling kembali ke arah kehidupan Cina pada tahun 1920-an atau 1930-an, suatu masa yang memunculkan banyak penulis terkenal. "Jadi, kira-kira hampir sama dengan realisme abad ke-19 di Eropa. Itu yang menarik kalau kita mau melihat sendiri," ujarnya.

Yang tak kalah menarik, malah mungkin bisa bikin iri, adalah gambaran tentang sastra yang dikaji. "Jurnal sastra di Cina banyak sekali. Setiap provinsi saja punya jurnal sastra sendiri-sendiri," tutur Iwan. Benar juga kata Sang Nabi: carilah ilmu--termasuk sastra, tentu, hingga ke Cina. Dengan begitu, siapa tahu, yang dapat kita serap dari sana di era baru ini bukan "mocin" melulu.

Hawe Setiawan
Laporan: Ahmad Robert

Pernah dimuat pada Detak.com Rabu, 14 - 02 - 2001
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: