Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (4) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (4)

Oleh; Seba Woseba)*

Di Biak, orang kampung menyebut orang potong kepala sebagai "mansyobuk". Tapi orang di kota Biak menyebutnya "potle", singkatan dari "potong leher".

Seperti di Teluk Wondama pada zaman Belanda, pelaksana pemerintahan Belanda di distrik, yaitu HPB, atau "Tuan Bestir" bawahannya, di Biak tahu juga tentang misteri orang potong kepala. ("Tuan Bestir" adalah istilah orang Irian zaman Belanda yang mengacu pada orang Irian tamatan Sekolah Pamong Praja di Hollandia Binnen--sekarang, Abepura--dan bekerja sebagai pamong praja di Irian Barat.) Tapi mereka, menurut informasi lisan yang beredar di antara rakyat Biak yang percaya akan desas-desus itu, membantah adanya orang potong kepala itu.

Misteri itu berkembang menjadi orang potong kepala yang menjadikan rakyat Irian pedesaan yang mereka pilih secara rahasia sebagai sarana latihan kemiliteran khusus Belanda. Ada tiga cerita khusus tentang perluasan operasi mereka dengan cara tadi pada tiga kampung pesisir yang berdekatan di Teluk Wondama pada zaman Belanda. Ketiga peristiwa itu diperkirakan terjadi sesudah pertengahan 1950-an.

Di kampung A, penduduk yang percaya pada desas-desus bahwa orang potong kepala tengah mengincar mereka diam-diam di siang hari akan mulai aksi penculikannya di malam hari. Jadi, orang kampung itu mempersiapkan diri, termasuk senjatanya, untuk menghadapi orang potong kepala itu di malam hari.

Pada malam itu, beberapa orang laki-laki dewasa yang membawa senjata, seperti tombak dan busur dengan anak panah, melihat gerak mencurigakan dari dua orang bertubuh tinggi yang bergerak di darat melewati mereka. Orang potong kepala. Mereka segera keluar rumah dan mengejar kedua orang itu. Tapi orang potong kepala itu lari ke arah lereng gunung di darat dan hilang dalam hutan yang gelap. Orang kampung mengejar kedua orang itu ke lereng. Ada kali yang mengalir deras di bawah lereng yang tingkat kemiringannya sekitar 70-80 derajat, sebagian besar ditumbuhi rumput dan semak dan selebihnya berbatu-batuan. Tiba-tiba, salah seorang pemotong kepala itu muncul dari persembunyiannya di lereng itu, sempat dikejar orang kampung itu, lari cepat menuruni lereng menuju kali seakan-akan memakai sepatu roda sambil mengeluarkan pekikan "yippieeeeee" khas Belanda, dan hilang dekat kali! Orang kampung yang mengejarnya terheran-heran dengan kehebatan pemburu kepala itu mengelak, dan menghentikan pengejarannya. Mereka juga tidak menemukan pemotong kepala yang lain.

Cerita ini menunjukkan bahwa pemotong leher yang lolos secara menakjubkan itu mesti hafal sekali medan dan terlatih sangat baik. Kualifikaai ini hanya dimiliki pasukan khusus.

Peristiwa pengejaran dua orang pemotong kepala di kampung A segera tiba di kampung B dan C. Mereka juga tercengang mendengar tentang kehebatan pemotong kepala yang bisa lolos dengan meluncur menuruni lereng seakan memakai sepatu roda. Tapi mereka pun bersiap-siap menunggu giliran didatangi orang potong kepala.

Beberapa minggu kemudian, penduduk kampung B mengejar beberapa orang asing, dipercaya adalah orang potong kepala, di darat juga pada malam hari. Kali ini, sinar bulan purnama memudahkan mereka untuk mengejar orang potong leher itu di darat.

Ketika dikejar beberapa orang kampung yang bersenjata, kelompok pemotong kepala lari ke hutan lewat selahan kebun milik seorang warganya yang tidak dipagari lalu hilang di balik salah satu sisi kebun itu. Hampir semua pengejarnya mencari rombongan pemburu kepala itu di sekitar sisi kebun itu. Tapi satu orang pengejar mencoba mencari mereka di antara rumpun pohon pisang yang lebat di sisi sebelah kebun itu, dengan sebuah tombak penikam babi hutan di tangannya. Sambil melangkah lambat dengan berhati-hati mencari pemotong kepala yang barangkali bersembunyi di situ, dia tiba-tiba merasakan tepukan pada bahu kirinya dari belakang, berbalik, dan terpaku selama beberapa saat karena rasa kagetnya menyaksikan seorang laki-laki kulit putih di depannya yang segera hilang dari situ. Segera sesudah itu, orang kampung itu berteriak ke rekan-rekan sekampungnya, "Ke sini! Mereka ada di sini!" Mereka datang tapi tidak menemukan satu pun dari orang potong kepala itu.

Tampaknya, orang potong kepala itu melakukan pengalihan perhatian dengan membagi konsentrasi orang kampung pada satu pemotong kepala demi menyelamatkan pemotong kepala lainnya. Ini suatu ciri lain anggota pasukan khusus.

Beberapa hari kemudian, kampung C mendengar isu bahwa orang potong kepala akan beraksi di kampungnya. Jadi, mereka bersiap-siap.

Suatu malam yang gelap dan berbintang, ada suatu kebaktian rumah tangga--ibadah Kristen di rumah seorang anggota jemaat, dihadiri anggota jemaat, dan biasanya dipimpin guru jemaat suatu kampung--dengan memakai lampu petromaks. Sinar lampu itu menerangi juga sebagian luar rumah panggung yang dekat dengan pantai.

Pada saat ibadah berlangsung, pasang surut jauh ke laut. Sebagian anggota jemaat yang duduk di luar ruang tamu tempat guru jemaat memimpin ibadah memerhatikan sebuah perahu bertajik pada satu sisinya dan berukuran sedang tengah didayung secara diam-diam oleh dua orang ke pantai. Ketika perahu menyentuh pasir dari batas paling jauh dari pasang surut, mereka berdua turun dari perahu dan menariknya ke darat. Orang potong kepala, kata mereka berbisik-bisik. Mereka menunggu sampai ibadah selesai dalam beberapa menit sesudah orang potong kepala turun dari perahu.

Begitu ibadah selesai, seorang laki-laki dewasa yang ikut menyaksikan pendaratan dua orang pemotong kepala kebetulan membawa sebuah senter agak panjang dengan sorotan cahaya yang kuat. Dia menyenter kedua pemburu kepala itu selama beberapa detik. Mereka berdua laki-laki berkulit putih, berusia muda, tinggi, dan memakai hanya celana renang.

Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berdua tampak melempar sesuatu ke arah senter, memecahkan kaca senter itu, dan mengakibatkan senter itu mati. Kedua pemotong kepala itu memanfaatkan keadaan gelap untuk kabur.

Suatu taktik jitu untuk menghentikan untuk sementara atau menunda upaya "musuh" mengejarnya dan memanfaatkan waktu itu untuk melarikan diri. Tapi meragukan cerita bahwa lampu senter pecah dan padam lewat lemparan batu. Jarak antara perahu dan pemegang senter terlalu jauh untuk menghasilkan lemparan yang akurat. Barangkali, lampu senter itu pecah dan padam karena sebuah peluru senapan yang ditembakkan secara jitu. Bagaimana pun, pelempar batu atau penembak itu terlatih sangat baik. Itu suatu ciri lain pasukan khusus.

Jadi, siapakah sesungguhnya orang potong leher itu? Satuan tertentu pasukan khusus Belanda yang memanfaatkan isu orang potong leher untuk operasi rahasia khusus? Atau desas-desus yang muncul dua kali setahun selama libur sekolah pada bulan Juli-Agustus dan Desember di Irian Barat zaman Belanda untuk menakut-nakuti anak-anak sekolah supaya waspada terhadap keselamatan hidupnya ketika mereka di luar rumahnya? Mengapa desas-desus ini bertahan selama puluhan tahun pada berbagai tempat yang berjarak luas tanpa ada yang mampu menyingkapkannya? Mungkinkah urban legend tentang orang potong kepala suatu kebijakan atau siasat pemerintah Belanda yang memanfaatkan isu orang potong kepala untuk memelajari reaksi psikologis orang Irian terhadap desas-desus itu dan memanfaatkannya untuk kepentingannya, termasuk kepentingan militernya? 


)* Penulis buku, alumni UKSW Salatiga
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: