Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (5) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (5)

Oleh; Seba Woseba)*

Urban legend (legenda kekotaan) adalah suatu kisah atau anekdot seram atau mengerikan berdasarkan desas-desus atau kabar orang dan beredar luas sebagai benar. Urban legend disebut juga urban myth (mitos kekotaan).

Desas-desus tentang orang potong kepala, disebut juga orang potong leher, potle (potong leher), atau mansyobuk di Biak, barangkali adalah urban myth yang paling terkenal dan bertahan paling lama di Irian Barat zaman Belanda dan gaungnya di Irian Barat zaman Indonesia, dari sekitar pertengahan 1962 hingga 1969, dalam hal ini, di antara penduduk kampung dan kota di Irian Barat bagian Utara.

Siapakah yang pertama kali menyebarkan desas-desus tentang orang potong kepala? Tidak ada yang bisa memastikan. Diduga yang menyebarkannya pertama kali adalah oknum dari pemerintah Belanda di Irian Barat. Tapi tidak bisa dipastikan apakah sumber pertama legenda kekotaan atau mitos kekotaan itu orang Belanda atau orang Irian.

Siapa yang percaya pada desas-desus tentang orang potong kepala? Orang kampung, orang kota, termasuk guru Injil, guru sekolah rakyat, anak-anak sekolah, dan guru jemaat--semuanya orang Irian.

Mengapa guru kampung yang seharusnya tidak percaya pada desas-desus itu dan menyampaikan kebenaran di balik desas-desus itu kepada orang sekampung malah percaya bersama mereka? Barangkali, sisi seram atau mengerikan dari mitos itu yang berulang-ulang disebarkan pada waktu dan tempat yang berbeda-beda dan ketiadaan info yang benar tentang orang potong kepala mengakibatkan mereka percaya. Alih-alih dipotong kepalanya, mereka--seperti ayahku dan seorang penginjil dari Tandia-- mempersenjatai dirinya demi membela diri. Tidak ada kasus yang di dalamnya mereka keliru membunuh orang yang mereka kira adalah orang potong kepala. Kalau terjadi dan diketahui, ini akan memperluas masalah tentang orang potong kepala ke masalah hukum.

Selain guru, anak-anak sekolah di Biak percaya juga pada orang potong kepala yang mereka sebut mansyobuk di kampung dan potle di kota. Tapi kepercayaan mereka dikondisikan entah oleh siapa lewat kabar angin tentang orang potong kepala dua kali setiap tahun: pada libur panjang bulan Juli dan Agustus dan libur Natal dan Tahun Baru pada bulan Desember. Pada musim libur ini ketika anak-anak itu punya waktu banyak untuk keluar rumah menikmati liburnya, desas-desus tentang orang potong kepala tersebar. Anak-anak diingatkan orang tuanya supaya mereka berhati-hati di luar. Sesudah kembali sekolah, kabar orang tentang mansyobuk atau potle hilang untuk muncul lagi pada musim libur tahun berikutnya. Sekalipun desas-desus ini dimaksudkan untuk menjamin keselamatan anak-anak sekolah selama liburnya, ini tidak mendidik mereka mengetahui kebenaran di balik mitos kekotaan itu dan menikmati liburnya berdasarkan kebenaran itu.

Orang-orang kampung di Biak yang dipengaruhi desas-desus tentang orang potong kepala membuat pengamanan terhadap dirinya. Mereka masuk hutan bersama-sama (tua dan muda, laki-laki dan perempuan) untuk berbagai kepentingan. Cara pengamanan diri ini yang berbeda dengan pengkondisian anak-anak sekolah di Biak menunjukkan bahwa sasaran orang potong leher mencakup mereka juga.

Mengapa yang diincar orang potong kepala hanya kepala orang Irian saja? Tidak ada jawaban yang pasti mengapa orang Belanda, Indo-Eropa, Tionghoa, Maluku, dan orang-orang non-Irian lainnya dari bekas Hindia Belanda yang tinggal di Irian Barat tidak masuk dalam daftar pemenggalan kepala orang potong kepala.

Pengecualian ini menimbulkan dugaan bahwa mitos tentang orang potong kepala di Irian Barat zaman Belanda yang difokuskan pada orang Irian saja hasil rekayasa pemerintah Belanda. Ini mencakup penyebaran sas-sus tentang sajian hanya kepala orang Irian kepada tuan tanah. Kepercayaan akan tuan tanah adalah suatu mitos rakyat Irian yang secara cerdik dipakai untuk memperkuat mitos lain yang direkayasa tentang orang potong kepala.

Tradisi potong kepala atau perburuan kepala (head-hunting) di antara berbagai suku Irian pra-Kristen berbentuk penebasan kepala seorang musuh yang dibawa pembunuhnya, dikeringkan, dan disimpan di rumahnya. Tengkorak musuh itu dipercaya punya daya hidup (life force) yang juga punya manfaat gaib bagi pemiliknya. Ajaran Kristen dan penegakan wibawa pemerintah Belanda kemudian mengakhiri tradisi perburuan kepala itu. Singkat kata, mitos tentang orang potong kepala dan tuan tanah yang ada dalam tradisi orang Irian memperkuat pengaruh desas-desus tentang orang potong kepala pada akal budi orang Irian yang sudah hidup dalam zaman modern abad ke-20.

Untuk apa rekayasa itu? Diduga legenda kekotaan itu direkayasa pemerintah Belanda secara rahasia lewat kesatuan pasukan khusus Belanda yang dipimpin atau dibantu orang Irian untuk memelajari reaksi psikologis orang Irian lewat mitos tentang orang potong kepala. Hasil yang mereka peroleh dipakai untuk kepentingan militer dan pemerintah Belanda. Dugaan tentang keterlibatan pasukan khusus Belanda dalam semacam latihan perang-perangan dengan penduduk Irian di tiga kampung di Wondama dengan memanfaatkan mitos tentang orang potong kepala sebagai tabir memberi pasukan khusus itu pengalaman berperang dalam konteks geografis dan budaya yang khusus.

(Selesai)

)* Penulis buku, alumni UKSW Salatiga
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: