Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (3) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (3)

Oleh; Seba Woseba)*

Apa ada korban dari operasi potong kepala di Teluk Wondama dan Tandia tahun 1956? Saya tidak dengar ada kepala orang Wondama atau Tandia yang sudah dipotong dan ditanam di dalam tanah proyek pembangunan besar.

Meskipun tidak ada laporan tentang orang Irian yang kepalanya ditebas, isu itu tetap muncul dari tahun ke tahun pada berbagai daerah di Teluk Cendrawasih.

Termasuk di Sekolah Sambungan Putra berasrama di Miei, sebuah kampung bersejarah di Wondama karena kegiatan misionaris Belanda. Misi Gereja Reformasi Belanda memiliki dan mengelola sebuah lanjutan SR Kristen 3 tahun di Bukit Aitumieri, Miei, bernama Jongens Vervolgschool (JVV5) berasrama. Murid-murid dari berbagai kampung di Teluk Cendrawasih dan lulus ujian masuk dan lulus tes kesehatan bersekolah di JVVS berbahasa Belanda itu. Kecuali seorang guru Irian yang mengajar bahasa Melayu, tiga guru laki-laki lainnya, lajang atau berkeluarga, adalah orang Belanda. Saya jadi murid sekolah selama tiga tahun itu dari tahun 1958 hingga 1961.

Selama sekolah di sana, cerita tentang orang potong kepala beredar secara diam-diam di antara murid yang tahu kepada teman-teman sekolahnya yang tidak tahu, termasuk saya. Kami dipesan untuk waspada, siang-malam. Tidak ada satu pun dari kami hilang selama masa genting ketika desas-desus tentang orang potong kepala belum hilang.

Di Manokwari, desas-desus itu beredar lagi, awal Agustus 1961. Pada waktu itu, saya diterima menjadi seorang siswa Primaire Middelbare School empat tahun yang dikelola Stichting Christelijk Onderwijs di Fanindi, Manokwari. Pada tahun 1962/1963, pada zaman peralihan dari Belanda ke Indonesia, sekolah itu berubah nama menjadi SMP (tiga tahun) Yayasan Pendidikan Kristen.

Sambil menunggu sekolah mulai pertengahan Agustus 1961, saya menumpang di rumah Paman Cornelis di Manokwari, seorang mantri (perawat laki-laki) di Rumah Sakit Pemerintah di Manokwari. Ibunya, Emma, menceritakan suatu malam bahwa orang-orang potong kepala lagi mencari mangsa baru. Katanya, orang Irian yang sudah dengar desas-desus itu takut keluar malam di tempat sepi sekalipun ada penerangan listrik berwarna kuning di jalan dan penerangan listrik tambahan dari berbagai gedung dan rumah hunian di kiri-kanan jalan itu.

"Kecuali Petrus," puji nenek Emma. "Dia berani jalan sendiri, pulang ke rumahnya."

Petrus adalah salah seorang warga sekampung yang sudah tinggal dan bekerja di Manokwari selama beberapa tahun.

Tidak ada cerita lanjutan bahwa ada orang Irian yang hilang di Manokwari, sejauh yang nenek Emma tahu.

Seorang adik kelas semasa kuliah yang membaca postingan pertamaku tentang orang potong leher dan berasal dari Biak tidak menyangka urban legend tentang orang potong kepala hanya beredar di Biak, baik di kampung maupun di kota Biak, pada zaman Belanda. Ternyata legenda ini ada juga di luar Biak.

Pada musim operasi orang potong kepala di Biak, orang kampung, dewasa dan anak-anak, yang ke hutan harus beramai-ramai. Wanita dewasa berjalan di depan,disusul anak-anak, dan diakhiri laki-laki dewasa di belakang, sebagian bersenjata. Ini suatu formasi untuk membela dan melindungi diri terhadap kemungkinan sergapan orang potong kepala.

Pemimpin orang potong kepala itu adalah lelaki dewasa dari Biak. Tapi anak buahnya orang Belanda.

Memang, ada dua orang wanita kampung di Biak yang hilang sejak zaman Belanda waktu beredar cerita tentang orang potong kepala di kampungnya, rumah panggung dekat pantai. Pada waktu itu, kedua wanita muda itu berdayung ke suatu pinggiran pantai yang jauh dari kampungnya dan sepi. Mereka lalu hilang secara misterius--sampai sekarang.

Korban pertama orang potong kepala di Biak? Tidak ada yang tahu.

Desas-desus tentang orang potong kepala yang dia dengar pada tahun 1962, masih pada zaman Belanda, berangsur-angsur memudar pada zaman Indonesia dan hilang di Biak tahun 1969. Ini tahun penting dalam sejarah Irian Barat, tahun daerah ini menjadi suatu bagian Indonesia lewat suatu referendum.


)* Penulis buku, alumni UKSW Salatiga

Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: