BERKENALAN DENGAN DEMTA, BAHASA NON-AUSTRONESIA HAMPIR PUNAH DI PAPUA - INDONESIA - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

BERKENALAN DENGAN DEMTA, BAHASA NON-AUSTRONESIA HAMPIR PUNAH DI PAPUA - INDONESIA

Oleh; Chrisma Fernando Saragih

Ilustrasi: diambil dari https://hiveminer.com/Tags/fokha/Timeline

PENGANTAR
Saya pertama kali menginjakkan kaki di Demta pada tahun 1990 ketika adik kedua saya lahir di Kampung Ambora, Distrik Demta. Ketika itu saya baru berumur empat tahun. Tidak banyak yang saya ingat tentang kejadian-kejadian yang saya alami ketika berada di Kampung Ambora, Distrik Demta. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa saya lupa yaitu ketika keluarga saya dan saya pertama kali tiba di rumah kakek saya, saya langsung dibawa oleh kakek saya ke atas perahu dan diantar untuk melihat karang-karang dan ikan-ikan di laut. Saya diperkenalkan kepada suatu alam yang asing dengan menggunakan sebuah bahasa yang asing di telinga saya. 

Suatu pengalaman yang sungguh impresif bagi anak seumur saya waktu itu. Saya bahkan mendapat hadiah seekor udang lobster besar keesokan harinya, hasil balobe dari kakek saya di malam hari. Saya tidak tahu tentang Bahasa Demta saat itu (yang saya maksudkan dengan tidak tahu di sini bukan tidak tahu berbicara dengan Bahasa Demta tetapi lebih merujuk pada ketidaktahuan saya tentang informasi linguistis dari bahasa ini. Misalnya, saya tidak mengetahui struktur kalimatnya, bunyi-bunyi dan item-item lingustik lainnya. Sebagai informasi, sampai saat ini pun saya tidak dapat berbicara dengan Bahasa Demta J). Saya hanya mengenal beberapa kata Bahasa Demta yang diajarkan oleh ibu saya. Kata seperti bonggouw ‘uang’ adalah contoh kata yang paling saya ingat yang diajarkan kepada saya. Setelah saya besar dan lebih mengerti tentang Linguistik saya kemudian tahu bahwa bonggouw adalah sejenis kerang atau bia yang digunakan sebagai uang di zaman dulu dan terus dipakai sebagai kata yang merujuk pada uang di zaman moderen. 

Sedikit pengenalan saya dengan (informasi linguistis) Bahasa Demta baru terjadi ketika saya mengambil beberapa mata kuliah minat Linguistik di Fakultas Sastra – Univeristas Negeri Papua (sekarang Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua). Oleh karena itu, pembahasan tentang Bahasa Demta berikut ini hanya merupakan sebuah informasi singkat untuk memperkenalkan Bahasa Demta. Saya belum secara mendalam mempelajari bahasa ini. Data-data Bahasa Demta di sini, saya peroleh dari ibu saya yang merupakan seorang penutur Bahasa Demta di Manokwari pada tahun 2005 dan beberapa informasi umum lainnya diambil dari catatan linguis Belanda dan website ethnologue.

Demta (juga dikenal dengan nama Sowari dan Muris) merupakan sebuah bahasa dari fila Trans New Guinea yang dipakai oleh kelompok kecil desa-desa di pantai timur laut Papua[1]. Meskipun kebanyakan bahasa-bahasa dari fila Trans New Guinea tersebar di daerah pegunungan (Foley, 1986, 2000), Demta sangat unik karena area okupasinya tersebar di pesisir pantai. Sayangnya, sampai saat ini masih sangat sedikit (bahkan hampir tidak ada) yang diketahui tentang kajian ilmiah Bahasa Demta begitu juga kajian antropologis dan historis tentang guyub tuturnya. Menurut Ethnologue[2] Bahasa Demta telah berstatus di ambang kepunahan karena jumlah penuturnya semakin menurun dari angka 1300 di tahun 2000. Sampai saat ini, studi sistematis tentang aspek-aspek linguistis Bahasa Demta, sejauh pengetahuan saya, belum tersedia. Cowan (1965: 2) menyebutkan bahwa Demta berkerabat jauh dengan rumpun Bahasa Sentani, tetapi lebih cocoknya menjadi sebuah rumpun sendiri karena kepastian hubungan dan posisi dari masing-masing rumpun masih belum jelas. Data Bahasa Demta yang tersedia, sejauh yang saya ketahui, adalah daftar kata-kata yang pernah dikumpulkan oleh Johannes Cornelis Anceux, seorang linguis berkebangsaan Belanda (Voorhoeve, 1975; Smits dan Voorhoeve, 1994). Data-data lain tentang Bahasa Demta dapat diperoleh melalui website SIL’s ethnologue languages of the world. Akan tetapi, data yang terdapat dalam website ini hanyalah informasi yang sangat singkat tentang afiliasi genetik serta informasi etnografis dan demografis penutur bahasa Demta.

Secara geografis, bahasa Demta dipakai di 5 (lima) kampung dari Distrik Demta, Kabupaten Jayapura yaitu Demta, Ambora, Yaugafsa, Muris Besar dan Muris Kecil[3]. Sayangnya informasi terkini tentang vitalitas bahasa dan situasi sosiolinguistik Bahasa Demta di daerah-daerah persebarannya ini, sejauh pengetahuan saya, belum tersedia.

Data pendukung yang cukup membantu adalah informasi tentang batas linguistis Bahasa Demta dengan bahasa-bahasa lain disekitarnya yang dapat dilihat pada (Cowan, 1965; Anceux 1965 dan SIL, 2003). Bahasa Demta berbatasan dengan Bahasa Tabla dan Mekwei di timur, Bahasa Nimboran dan Mlap di Selatan dan Bahasa Tarpia (Tarfia) di Barat. Sedangkan, bagian utara berbatasan langsung dengan laut. Akan tetapi, pengaruh bahasa-bahasa ini terhadap keberadaan Bahasa Demta maupun sebaliknya sampai saat ini belum diketahui.

INVENTORI FONEMIK BAHASA DEMTA
Inventori fonemik ini sangat bersifat tentatif. Saya hanya mendapatkan data yang terbatas tentang Bahasa Demta sehingga hanya fonem-fonem yang bisa diidentifikasi melalui data-data itu yang saya sajikan di sini. Saya juga belum mengidentifikasi apakah yang saya anggap sebagai fonem berbeda di sini sebenarnya hanya merupakan alofon atau variasi bunyi dari satu fonem yang sama. Berikut ini bagan (yang sengaja saya sederhanakan dalam bentuk  tabel) bunyi vokal dan konsonan di Bahasa Demta.
 

Depan
Pusat
Belakang
Tinggi
i

u
Tengah
e

o
Rendah

a


Bahasa Demta memiliki sistem bunyi vokal yang cukup sederhana. Sejauh yang saya dapatkan, Bahasa Demta memiliki lima bunyi vokal: i, e, a, u dan o.

i - [mini] ‘saya’
e -[we] ‘kamu’
a - [ŋani] ‘dia’
u - [guʤa] ‘I eat or I’m eating’
o - [osouwga] ‘setiap hari’

Bunyi-bunyi ini, sejauh yang dapat saya identifikasi terdistribusi pada semua posisi awal, tengah maupun akhir, dalam sebuah kata. Bunyi [i] terdistribusi di semua posisi kata misalnya [ipur] ‘surat’, [niɲi] ‘ikan’, [ŋani] ‘dia’. Bunyi [e] juga terdistribusi di semua posisi, misalnya [emiguʤa] ‘I’m eating something’, [muŋgemi] ‘dia ingin memasak’, [muŋgirde] ‘kita sedang memasak’. Sama halnya dengan kedua bunyi di atas bunyi [a] [u] dan [o] juga terdistribusi di semua posisi kata seperti pada [atara] ‘bawah’, [uwgijouw] ‘orang gunung’, [ijmu] ‘air mata’, [osouwga] ‘setiap hari’ dan [guʤo] ‘dia memakan/dia sedang memakan’.
Selain bunyi vokal atau bunyi hidup Bahasa Demta juga memiliki beberapa bunyi konsonan seperti terjadi pada tabel di bawah ini.

Cara Artikulasi
Tempat Artikulasi

Bilabial
Dental-
Alveolar
Lamino-Palatal
Velar
Plosif
p   b
t     d

k   g
Frikatif

s


Afrikat


ʧ     ʤ

Sengauan
     M
       n
       ɲ
     ŋ
Getar

       r


Lateral-Aproximan

      
       j

Semivokal
     W

      


Bahasa Demta memiliki 16 (enam belas) bunyi konsonan: [p], [b], [m], [w], [t], [d], [s], [n], [r], [ʧ], [ʤ], [ɲ], [j], [k], [g], dan [ŋ].

p    - [popiʤij] ‘rambut’
b    - [tuntunbi] ‘pakaian (sebagai objek)’
m - [kombi] ‘mereka’
w    - [we] ‘kamu’
t     -  [tuntun] ‘pakain’
d  -  [gujirde] ‘kita/kami sedang makan’
s     - [krisij] ‘orang Kemtukresi’
n     - [ŋani] ‘dia’
r      - [apartukuw] ‘orang Sarmi’
ʤ-   [ʤao] ‘beras/nasi’
ɲ     -[ niɲi] ‘ikan’
j     - [jarim] ‘air’
k - [kuda] ‘saya sedang bermain’
g - [gama] ‘kita/kami’
ŋ - [ŋani] ‘dia’

Salah satu bunyi dari semua bunyi yang terdapat di tabel di atas yang tidak saya temukan di data adalah bunyi tak bersuara lamino-palata afrikat [ʧ]. Tetapi, saya berasumsi berdasarkan implikasi universal bahwa bila terdapat bunyi bersuara dari suatu deskripsi bunyi hal itu mengimpiklasikan bahwa bunyi tak bersuaranya juga ada. Bahasa Demta memiliki bunyi bersuara lamino-palata afrikat [ʤ] di dalam data yang saya kumpulkan. Oleh karena itu, ihwal ini mengimplikasikan bahwa Bahasa Demta juga memiliki pasangannya yang tak bersuara [ʧ]. Saya tidak sepenuhnya berasumsi bahwa hal ini adalah mutlak benar karena pada banyak bahasa implikasi universal terkadang tidak berlaku. Sekali lagi, inventori fonetik ini bersifat sangat tentatif.

MORFO-SINTAKS
Bagian ini hanya menyajikan dua kelas kata terbuka dalam Bahasa Demta yaitu nomina (kata benda) dan verba (kata kerja). Kelas-kelas kata lainnya belum dapat disajikan karena belum terdapatnya data yang terkumpul. Selain itu beberapa kalimat juga disajikan untuk menggambar struktur kalimat dalam Bahasa Demta.
Bahasa Demta memiliki struktur kalimat subjek > objek > verba atau SOV seperti pada kalimat di bawah ini.

Mini     osouwga          ninyi-mi           guj-a
Saya    setiap.hari        ikan-AKUS     makan-pres.1.T
‘Saya makan ikan setiap hari.

Mini berfungsi sebagai subjek; ninyi-mi merupakan objek dan guj-a merupakan kata kerja.
Hal ini merupakan fenomena umum bagi bahasa-bahasa Non-Austronesia di Papua.

Pronomina
Bahasa Demta memiliki 6 (enam) bentuk kata persona yang diklasifikasikan berdasarkan jumlah yakni tunggal dan jamak. Terdapat 3 (tiga) bentuk persona tunggal dan 3 (tiga) bentuk persona jamak. Tabel di bawah ini menyajikan bentuk-bentuk persona dalam Bahasa Demta.

Persona
Tunggal
Arti
Jamak
Arti
1
mini
‘saya’
gama
‘kita/kami’
2
we
‘kamu’
me
‘kalian’
3
ngani
‘dia’
kombi
‘mereka’

Nomina
Nomina atau kata benda dalam Bahasa Demta dapat dibagi menjadi kata benda untuk nama orang, nama tempat dan nama benda. Beberapa nama orang yang sempat terdata saya sajikan di bawah ini. Nama-nama ini sering disebut juga sebagai ‘nama tanah’. Biasanya nama-nama ini diberikan kepada orang yang lahir di kampung-kampung orang Demta. Misalnya, adik kedua saya diberi nama Jupur dan ibu saya diberi nama Geya.

Jupur (nama laki-laki)
Naucu (nama laki-laki)
Karam (nama laki-laki)
Aman Kawadawim (nama laki-laki)
Ipiriy Ongkapim (nama laki-laki)
Ipun ( nama laki-laki)
Subiy (nama laki-laki )
Kawa ( nama laki-laki bisa juga nama perempuan )
Yasu (nama laki- laki )
Picu (nama laki- laki )
Nakur (nama laki- laki )
Mirijain ( nama laki-laki )
Geya ( nama perempuan )
Maran ( nama perempuan )
Bariyjan ( nama perempuan )
Auvem (nama perempuan )
Dau (nama perempuan )
Augi ( nama perempuan )
Ocam ( namaperempuan )
Unar ( nama  perempuan )
Oy ( nama perempuan)
Usuw ( nama perempuaan )
Nyem ( nama perempuan )
Sama ( nama perempuan)
Samiy ( nama laki- laki )
Kawa ( nama perempuan )
Tonoi ( nama perempuan )
Wauw ( nama perempuan)
Tuper  (nama laki- laki tapi juga nama perempuan )
Yauwgap ( nama perempuan)
Onun ( nama laki- laki )
Kirau ( nama laki-laki )
Dawin ( nama perempuan )
Kaswai ( nama peremmmpuan )
Damiron ( nama laki-laki )
Mandai ( nama perempuan )
Tinam ( nama laki-laki orang sarmi )
Soro ( nama laki-laki  orang sarmi )
Kapim  ( nama laki-laki tapi juga nama perempuan )
Amsauw ( nama perempuan )

Kategori gramatika yang teridentifikasi pada nomina adalah kasus (case). Bahasa Demta membedakan peran semantis dari setiap nomina dengan memberikan imbuhan akhiran kasus pada bentuk nomina. Ada beberapa catatan pengecualian yaitu kasus nominatif biasanya bersifat opsional. Selain itu, kasus akusatif dapat juga diberikan pada kata kerja terutama kata kerja dengan kala waktu akan datang. Untuk tipe kata kerja ini, objek dari kata kerja tidak menerima kasus akusatif tetapi kasus akusatifnya melekat pada kata kerja, misalnya kata mungg-e-mi ‘Saya akan memasak.’ Bandingkan Mini jao mungg-e-mi [saya nasi masak-fut.1.T-AKUS > ‘Saya akan memasak nasi’ dengan Mini jao-mi mungg-a [saya nasi-AKUS masak-pres.1.T> ‘Saya (sedang) memasak nasi’.) Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kata kerja ini merupakan sebuah nominal karena dapat menerima kasus. Bentuk-bentuk kasus ini tampaknya juga diberikan pada pronomina.

me-ta ‘kalian-nominatif’
me-mi ‘kalian-akusatif
ninyi-ta ‘ikan-nominatif’
ninyi-mi ‘ikan-akusatif’
tuntun-bi ‘baju-akusatif’
mini-ni ‘saya-posesif’
apar-den ‘perahu-instrumen’
apar-on ‘perahu-lokasi’

Saya belum banyak mendapatkan data tentang proses-proses morfologi dalam Bahasa Demta. Salah satu proses morfologi yang saya dapat adalah reduplikasi pada nomina untuk menjamakkan nomina tersebut, misal ninyi-ninyi ‘ikan-ikan’. Tapi saya sedikit ragu bahwa reduplikasi benar-benar merupakan salah satu proses morfologis dalam Bahasa Demta. Menurut saya, proses morfologis ini diadopsi dari Bahasa Melayu. Proses morfologis lain yang saya temukan dalam nomina Bahasa Demta adalah paduan/percampuran kata atau compounding, misalnya kata apartukuw ‘orang Sarmi’ yang sebenar terdiri dari dua kata apar ‘perahu’ dan tukuw ‘di ujung’.

Verba
Bahasa Demta memiliki struktur internal verba yang cukup kompleks. Hal ini memang merupakan tipe sistem verba bahasa-bahasa dalam kelompok Trans New Guinea. Setiap kata kerja harus bersepakat dengan beberapa kategori gramatika di dalam struktur internal kata kerja tersebut. Umumnya kategori gramatika ini merupakan imbuhan akhiran (sufiks). Oleh karena itu, Bahasa Demta tidak memiliki kata kerja yang berdiri sendiri. Bahasa Demta hanya memiliki akar kata terikat atau bound root. Misalnya, Bahasa Demta tidak memiliki kata kerja untuk ‘makan’ yang dapat berdiri sendiri. Ketika penutur ditanya apa arti kata ‘makan’ di dalam Bahasa Demta, penutur akan memerlukan tiga informasi tambahan (siapa yang makan, kapan makannya dan berapa banyak jumlah orang yang makan) untuk menentukan bentuk kata ‘makan’ tersebut. Dengan kondisi seperti ini satu kata kerja di dalam Bahasa Demta dapat disamakan dengan satu kalimat di dalam Bahasa Indonesia atau Inggris.

Kategori gramatika dalam struktur internal verba adalah kala (tense), persona (person) dan jumlah (number). Kala dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu waktu lampau, waktu sekarang dan waktu akan datang. Persona dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Sedangkan, jumlah dibagi menjadi 2 (dua) yaitu tunggal dan jamak.

Ada beberapa hal menarik tentang pembagian kategori gramatika ini. Pertama, di dalam kata kerja Bahasa Demta ketiga kategori gramatika ini digabungkan hanya di dalam 1 (satu) bentuk morfem. Fenomena ini biasa dikenal dengan istilah morfem gabungan atau portmanteau, misalnya, kata mungg-a yang berarti ‘saya (sedang) memasak’. Mungg adalah akar kata terikat untuk ‘masak’ dan imbuhan akhiran –a merupakan morfem gabungan untuk (i) kala waktu sekarang, (ii) persona orang pertama dan (iii) jumlah tunggal. Contoh yang lain adalah kata mungg-i ‘saya sudah memasak’. Mungg adalah akar kata terikat untuk ‘masak’sedangkan imbuhan akhiran –i merupakan morfem gabungan untuk (i) kala waktu lampau, (ii) persona orang pertama dan (iii) jumlah tunggal. Beberapa contoh kalimat dengan akar kata dasar ‘masak’ di dalam Bahasa Demta tersaji di bawah ini.

Kalimat Pendek
Kalimat Lengkap
Jao-mi             mungg-a
nasi-AKUS     masak-pres.1T.
‘Saya (sedang) memasak nasi.’
Mini     jao-mi              mungg-a
Saya    nasi-AKUS     masak- pres.1.T.
‘Saya (sedang) memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-iype
nasi-AKUS     masak-pres.2T.
‘Kamu memasak nasi.’
We       jao-mi              mungg-iype
kamu   nasi-AKUS     masak-pres.2.T.
‘Kamu memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-o
nasi-AKUS     masak-pres.3.T.
‘Dia (sedang) memasak nasi.’
Ngani  jao-mi              mungg-o
Dia      nasi-AKUS     masak-pres.3.T.
‘Dia (sedang) memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-irde
Nasi-AKUS    masak-pres.1.J.
‘Kita/kami (sedang) memasak nasi.’
Gama  jao-mi              mungg-irde
Kita     nasi-AKUS     masak-pres.1.J.
‘Kita/kami (sedang) memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-ime
nasi-AKUS     masak-pres.non-1.J.
‘Kalian (sedang) memasak nasi.’
Me                   Jao-mi             mungg-ime
kalian               Nasi-AKUS    masak-pres.non-1.J.
‘Kalian (sedang) memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-ime
nasi-AKUS     masak-pres.non-1.J.
‘Mereka (sedang) memasak nasi.’
Kombi                         jao-mi              mungg-ime
mereka             Nasi-AKUS    masak-pres.non-1.J.
‘Kalian (sedang) memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-i
nasi-AKUS     masak-pas.1.T.
‘Saya sudah memasak nasi.’
Mini     jao-mi              mungg-i
saya     nasi-AKUS     masak-pas.1.T.
‘Saya sudah memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-iy
nasi-AKUS     masak-pas.2.T.
‘Kamu sudah memasak nasi.’
We       jao-mi              mungg-iy
kamu   nasi-AKUS     masak-pas.2.T.
‘Kamu sudah memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-uw
nasi-AKUS     masak-pas.3.T.
‘Dia sudah memasak nasi.’
Ngani  jao-mi              mungg-uw
dia       nasi-AKUS     masak-pas.3.T.
‘Dia sudah memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-ir
nasi-AKUS     masak-pas.1.J.
‘Kita/kami sudah memasak nasi.’
Gama jao-mi              mungg-ir
kita      nasi-AKUS     masak-pas.1.J.
‘Kita/kami sudah memasak nasi.’
Jao-mi             mungg-am
nasi-AKUS     masak-pas.2.J.
‘Kalian sudah memasak nasi.’
Me       jao-mi              mungg-am
kalian  nasi-AKUS      masak-pas.non-1.J.
‘Kalian sudah memasak nasi.’
Kombi              jao-mi              mungg-am
mereka             nasi-AKUS     masak-pas.3.J.
‘Mereka sudah memasak nasi.’
Kombi              jao-mi             mungg-am
mereka             nasi-AKUS     masak-pas.non-1.J.
‘Mereka sudah memasak nasi.’
Jao      mungg-e-mi
nasi      masak-fut.1.T-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Mini     jao       mungg-e-mi
saya     nasi      masak-fut.1.T-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Jao      mungg-o-mi
nasi      masak-fut.2.T-AKUS
‘Kamu akan memasak nasi.’
We       jao       mungg-o-mi
kamu   nasi      masak-fut.2.T-AKUS
‘Kamu akan memasak nasi.’
Jao      mung-nge-mi
nasi      masak-fut.3.T-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Ngani  jao       mung-nge-mi
dia       nasi      masak-fut.3.T-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Jao      mung-ma-mi
nasi      masak-fut.1.J-AKUS
‘Kita/kami akan memasak nasi.’
Gama jao       mung-ma-mi
kita      nasi      masak-fut.1.J-AKUS
‘Kita/kami akan memasak nasi.’
Jao      mung-mo-mi
nasi      masak-fut.2.J-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Me       jao       mung-mo-mi
kalian  nasi      masak-fut.2.J-AKUS
‘Saya akan memasak nasi.’
Jao      mung-ngime-mi
nasi      masak-fut.3.J-AKUS
‘Mereka sudah memasak nasi.’
Kombi              jao       mung-ngime-mi
mereka             nasi      masak-fut.3.J-AKUS
‘Mereka sudah memasak nasi.’

Hal lain yang menarik dari kategori gramatika pada kata kerja adalah bentuk ketiga kategori bervariasi dan disesuaikan dengan waktu terjadinya aksi. Misalnya –a berfungsi sebagai morfem yang mewakili waktu sekarang, orang pertama dan tunggal, –i  berfungsi sebagai morfem yang merujuk pada waktu lampau, orang pertama dan tunggal, sedangkan –e berfungsi sebagai morfem yang merujuk pada waktu masa depan, orang pertama dan tunggal. Ada satu catatan penting untuk bentuk kategori pada waktu lampau dan waktu sekarang yaitu orang kedua dan orang ketiga jamak memiliki bentuk yang sama, misalnya –ime berfungsi sebagai morfem untuk waktu sekarang, orang kedua/ketiga, dan jamak, sedangkan –am berfungsi sebagai waktu lampau, orang kedua/ketiga dan jamak. Di sini keduanya dibedakan dengan istilah non-1 atau bukan orang pertama.

ISTILAH NAMA SUKU-SUKU DI SEKITAR DALAM BAHASA DEMTA
Orang Demta memberikan nama-nama kepada beberapa suku yang ada di sekitarnya atau kemungkinkan besar suku-suku yang pernah melakukan kontak dengan mereka. Berikut ini istilah nama-nama suku-suku tersebut.

Ataraon ‘orang Biak’
Warnyambu ‘orang Serui’
Yarimjouw ‘orang Sentani’
Aram ‘orang Genyem/Nimboran’
Yakariy ‘orang Tanah Merah’
Aparaiy ‘orang Tarfia’
Apartukuw ‘orang Sarmi’
Krisiy ‘orang Kemtukresi’
Uwgijouw ‘orang Gunung’
Aiymitukuw ‘orang Papua New Guinea’

NAMA-NAMA MARGA ORANG DEMTA
Beberapa nama marga dari orang Demta tersaji di bawah ini.

Karafir
Tunya
Ebe
Tir
Kwan (Kowan)
Papiri
Dodop
Ipunkawa
Darinye

BEBERAPA SINGKATAN DAN SIMBOL

pres
waktu sekarang
pas
waktu lampau
fut
waktu akan datang
1
orang pertama
2
orang kedua
3
orang ketiga
T
Tunggal
J
jamak
non-1
bukan orang pertama
AKUS
Akusatif

PENUTUP
Deskripsi Bahasa Demta ini masih prematur dan sangat bersifat tentatif. Banyak analisis yang harus terus diperbaharui dengan menambahkan lebih banyak lagi data. Analisis-analisis penting yang tidak terdapat dalam deskripsi ini misalnya analisis proses fonologis dan morfologis yang sangat membantu dalam memberikan sebuah deskripsi yang baik. Sekilas dari data yang terkumpul, saya lihat banyak sekali terjadi alternasi baik pada segmen bunyi maupun morfem yang melibatkan pertemuan antara proses morfologi dan fonologi. Semua kekurangan ini saya tinggalkan untuk studi-studi ke depan. Semoga di masa yang akan datang Bahasa Demta dapat dideskripsikan secara komprehensif.



REFERENSI

Anceux, J. C. 1965. The Nimboran Language Phonology and Morphology. Netherlands: Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land-, en Volkenkunde
Cowan, H.K.J. (1965). Grammar of The Sentani Language with Specimen Text and Vocabulary. Netherlands: Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land-, en Volkenkunde
Foley, W.A. (1986). The Papuan Languages of New Guinea. Cambridge: Cambridge University Press.
Foley, W.A. (2000). The languages of New Guinea. Annual Review of Anthropology 29: 357–404. Online URL: http://dx.doi.org/10.1146/annurev.anthro.29.1.357
SIL. (2003). Peta Bahasa Papua. Jakarta: SIL International
Smits, L. dan Voorhoeve, C.L. (1994). “The J. C. Anceaux Collection of Wordlist of Irian Jaya, B: Non Austronesian (Papuan) Languages (Part I)”. Leiden/Jakarta: DSALCUL/IRIS
Voorhoeve, C.L. 1975. Languages of Irian Jaya Preliminary Classification, Language Maps Wordlists. Canbera: Australian National University



[1]Terdapat lima desa (kampung) yang menggunakan bahasa Demta, yaitu: Demta, Ambora, Yaugafsa, Muris Kecil dan Muris Besar.
[2]SIL’s ethnologue languages of the world website,  http://www.ethnologue.com/language/dmy, (akses terakhir 22/02/2015).
[3]Y. Karafir, 2005. Komunikasi personal.
Print Friendly and PDF

Tentang : Chrisma Fernando Saragih

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: