Menelusuri Pergolakan Kehidupan dalam Nuansa Pemberontakan

Menelusuri Pergolakan Kehidupan dalam Nuansa Pemberontakan

Foto: Ist Pramoedya Anantatoer, Anak Semua Bangsa
Judul Asli             : Anak Semua Bangsa

Penulis                 : Pramoedya Ananta Toer

Cetakan                : 12 Januari 2010

Tebal                    : 539 halaman.    

Peresensi             Andreas M. Yeimo
                                                                                     
Anak Segala Bangsa, adalah novel berbentuk roman sejarah karya Pramoedya Ananta Toer, yang menjadi bagian kedua dari tetralogi Buru, mahakaryanya dari dalam benjara pulau Buru. 

Kehadiran roman sejarah ini bukan saja dimaksudkan untuk mengisahkan sebuah episode berbangsa yang berada di titik yang pelik dan menentukan, dan juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu, hadirnya roman itu memberikan bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia.  

Pramoedya Ananta Toer hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara. 3 tahun dalam penjara kolonial Belanda, 1 tahun di masa Indonesia Merdeka, di orde lama, dan 14 tahun yang melelahkan di orde Baru. 

Pada tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI, tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999.

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi  nasional. Berkali-kali karyanya dilarang terbitkan dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Ia adalah satu satu Wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang Nobel Sastra.

Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya menggambarkan penderitaan rakyat Jawa dibawah pemerintahan Belanda yang licik dan haus kekuasaan. Dari sudut pandang Minke, tokoh dalam novel ini yang berprovesi sebagai seorang penulis pribumi yang begitu mendewakan Eropa, kita dapat melihat kembali sejarah bangsa Indonesia, serta bercermin melihat diri sendiri. Kita diajak menelusuri pikiran Minke yang terombang-ambing dalam keyakinannya, sampai akhirnya sadar bahwa ia harus turun dan memperhatikan bangsanya sendiri.

Buku ini terdiri dari 539 halaman, tetapi peresensi mengambil hal-hal yang lebih menarik pada isi halaman Novel tersebut.

"Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati." (Mama, hal. 4)

"Nama berganti seribu kali dalam sehari, makna tetap." (Mama, hal.20)

"Kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhan juga orang berseru?" (Panji Darman/Jan Dapperste, hal.33)

"Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu." (Jean Marais, hal. 55)

"Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?" (Jean Marais, hal. 59)

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu pribumi itu,tidak terpelajar, kau harus bikin mereka terpelajar kau harus harus harus harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu." (Mama, hal. 72)

"Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya-kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya." (Mama, hal.77)

"Benih yang tidak sempurna akan punah sebelum berbuah." (Mama, hal.79)

"Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis." (Mama, hal. 83)

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." (Mama, hal. 84)

"Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu-pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa ditundukkan." (Khouw Ah Soe, hal.90)

"Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya." (Robert Suurhorf, hal. 98)

"Inilah jaman modern, Minke, yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa. Orang menjadi begitu mudah terlena, bahwa di balik segala seruan, anjuran, kegilaan tentang yang baru menganga kekuatan gaib yang tak kenyang-kenyang akan mangsa. Kekuatan gaib itu adalah deretan protozoa, angka-angka, yang bernama modal." (Miriam de La Croix, hal.107)

"Seluruh dunia kekuasaan memuji-memuji yang kolonial dianggap tak punya hak hidup termasuk mamamu ini." (Mama, hal.111)

"Apa akan bisa ditulis dalam Melayu? Bahasa miskin seperti itu? Belang bonteng dengan kata-kata semua bangsa di seluruh dunia? Hanya untuk menyatakan kalimat sederhana bahwa diri bukan hewan." (Minke, hal.114)

"Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri." (Kommer, hal. 119)

"Kartini pernah mengatakan: mengarang adalah bekerja untuk keabadian." (Kommer, hal. 121)

"Kau sudah lupa kiranya, Nak yang klonial selalu iblis tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu." (Mama, hal. 127)

"Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit." (Kommer, hal. 199)

"Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan." (Kommer, hal. 199)

"Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia." (Kommer, hal. 204)

"Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata..." (Kommer, hal. 204)

"Orang rakus harta benda selamanya tak pernah membaca cerita, orang tak berperadaban. Dia takkan pernah perhatikan nasib orang. Apalagi yang hanya dalam cerita tertulis." (Mama, hal. 382)

"Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir. (Kommer, hal. 390)

"Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminal, biar pun dia sarjana."  (Kommer, hal.390)

Menariknya isi buku ini yaitu cara pendekatan buku ini, serta pentingnya perluasan pengetahuan kita semua untuk mengetahui sejarah masalah lampau yang digambarkan dalam sebuah novel Anak Semua Bangsa ini.

Buku ini seharusnya menjadi bacaan wajib para organizatoris dan para Politikus yang masih memiliki nurani untuk menjunjung idealisme dalam memajukan dan membela rakyat yang diwakilinya.

Dalam buku ini mengungkapkan berbagai macam sejarah dan lahirnya Kapital penguasa dunia di Indonesia pada saat itu zaman Belanda. 

Buku ini sepertinya mengharapkan supaya dengan menguasai inti serta sejarah persoalan Indonesia, seluruh masyarakat Indonesia maupun semua pihak yang terlibat dalam persoalan yang sama seperti masalah Indonesia pada zaman Penjajahan Belanda supaya lebih sanggup mencari pemecahan masalah Politik  hingga menemukan solusinya.

Untuk bangsa Papua, buku ini sangat baik untuk kita jadikan bahan untuk belajar, bagaimana jalannya sebuah perjalanan panjang benih revolusi hingga lahirnya negara Indonesia, yang dijelaskan dalam tetralogi pulau Buru oleh Pramoedya dengan pendekatan yang khas, yang belum pernah digunakan sastrawan dan sejarawan lain di Indonesia.

Setidaknya kita bisa membandingkan dan berkaca.

Tetralogi Buru karya Pramoedya seluruhnya memiliki 4 bagian. Novel pertama berjudul Bumi Manusia. Novel yang diresensi ini merupakan novel kedua. Masih ada novel lanjutannya, masing-masing berjudul Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. 

Persensi adalah, mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta.

Ko'Sapa@2016

Post a Comment

Previous Post Next Post