Mari Memeluk Papua

Mari Memeluk Papua

Oleh: Arie Keriting*

Berhentilah membanggakan paras wajah dan melupakan realita, bangsa kita ini seharusnya bisa lebih baik dari itu.
Foto; www.merpatitempur.com

Alasan saya bereaksi keras dengan berita yang mengangkat statement diplomat cantik yang memberi tanggapan seputar isu HAM di Papua dalam Sidang Umum PBB, tidak lain karena saya mencintai Indonesia, saya Orang Indonesia, tapi dalam waktu yang bersamaan saya juga merasa punya tanggung jawab moral untuk Orang Papua, karena sebagai sesama Bangsa Indonesia, saya merasa hak-hak Orang Papua justru sedang kita kesampingkan melalui pernyataan itu. Enam Negara Pasifik tersebut hanyalah pemantik, sikap kitalah yang menentukan apakah kita memang benar-benar peduli dengan kondisi di Papua atau tidak.

Saya sepenuhnya tidak sepakat dengan apa yang disampaikan oleh diplomat cantik itu, terutama pada bagian yang menyatakan "Komitmen Indonesia terhadap HAM, tidak perlu dipertanyakan lagi", yang kemudian dilanjutkan dengan pembeberan fakta-fakta bahwa negara kita telah terlibat berbagai organisasi yang terkait dengan HAM dalam berbagai level baik di dalam negeri maupun level internasional. Keterlibatan negara kita dalam berbagai organisasi dunia itu tidak lantas menjadi pertanda keseriusan kita dalam menangani permasalahan HAM. Apalagi mengenai Papua, sedemikian banyak laporan tindak pelanggaran HAM yang sampai sekarang terus menerus terjadi. Yang paling terngiang adalah penembakan 4 orang warga di Paniai Papua. Dan tidak hanya menimpa warga sipil, kekerasan demi kekerasan juga terus menghantui aparat yang bertugas di Papua. Korban yang terus berjatuhan baik di pihak aparat hukum maupun sipil ini, apakah tidak perlu kita pertanyakan?

Tentu saja saya mengapresiasi dan mendukung sikap Diplomat Cantik kita itu yang tidak mau negara lain mencampuri urusan dalam negeri kita. Tetapi tentu saja tetap harus berdiri diatas kebenaran dan tujuan yang baik. Meskipun pada dasarnya urusan Hak Asasi Manusia itu tidak selayaknya dibatasi oleh wilayah teritorial. Jika ada hak-hak manusia lain yang tertindas nasibnya, maka di manapun kita berada tentu sebagai sesama manusia akan bersikap. Palestina misalnya, banyak negara diseluruh dunia yang juga menunjukkan sikapnya untuk mendorong pihak-pihak yang terkait dengan konflik kemanusiaan di Palestina agar segera menemukan penyelesaian. Bahkan termasuk Indonesia sendiri. Tapi tentu saja, pilihan komunikasi dalam menunjukkan sikap diplomasi mutlak di tangan perwakilan kita tersebut, termasuk Diplomat Cantik kita ini. Saya sepenuhnya mendukung itu.
Samapai kapan kita akan terus menerus merayakan paras wajah
 dan lupa dengan apa yang disampaikan

Tetapi yang kemudian harus dipertimbangkan adalah dampaknya di dalam negeri. Bagaimana kemudian penerimaan publik kita sendiri terhadap pernyataan tersebut, utamanya saudara-saudara sebangsa kita yang berada di Papua. Banyak sahabat saya di Papua yang memprotes keras dan menyayangkan statement tersebut. DAN MEREKA BUKAN OPM, SEPARATIS, ATAU AKTIVIS DALAM ORGANISASI KEMERDEKAAN PAPUA MANAPUN, BUKAN. Mereka sama seperti saya, adalah orang yang peduli dan berusaha mengikuti perkembangan di Papua dari tahun ke tahun. Mengatakan pada masyarakat dunia," Komitmen negara kita terhadap permasalahan HAM tidak perlu dipertanyakan lagi", tentu saja tidak sejalan dengan kenyataan yang hari ini kita temui di lapangan. Banyak kasus pelanggaran HAM yang sampai sekarang tidak jelas ujungnya akan seperti apa. Apakah keterlibatan negara kita dalam berbagai organisasi Hak Asasi Manusia itu lantas dapat dijadikan keabsahan bagi komitmen negara dalam mengusut kasus HAM? Coba bawa jawaban Diplomat Cantik kita itu, disampaikan juga ke hadapan ibu-ibu dan bapak-bapak yang selama bertahun-tahun melakukan aksi kamisan di depan Istana Negara. Apakah mereka juga akan sepakat dengan Diplomat Cantik kita itu bahwa komitmen negara terhadap masalah HAM tidak perlu dipertanyakan lagi?

Statement tersebut, dalam kacamata saya terlihat sebagai upaya untuk menutupi, menafikkan, dan menyangkal adanya tindakan pelanggaran HAM di Papua. Dan menimbang fakta yang ada di lapangan, saya sepenuhnya menyadari keresahan kawan-kawan saya di sana. Lalu muncul tanggapan para netizen, "lihatlah Papua sekarang, pembangunan terus digalakkan, jangan lihat jeleknya saja dong, hargai usaha pemerintah". Ini tidak nyambung. Saya sangat mendukung dan menghargai upaya Presiden Jokowi dalam membangun infrastruktur di Kawasan Indonesia Timur saat ini. Belum ada Presiden yang secara real peduli dan turun tangan langsung mengikuti perkembangan pembangunan di Kawasan Indonesia Timur seperti halnya Pak Jokowi, belum ada. Tetapi permasalahan HAM ini adalah hal yang berbeda. Banyak yang harus kita pertanyakan, banyak. Dan jawabannya bukanlah pembangunan infrastruktur. Itu dua hal yang berbeda.

Saya sebagai salah seorang rakyat Indonesia, memutuskan untuk mengambil posisi tidak sepakat dengan statement Diplomat Cantik kita itu. Kenapa? Karena saya jauh lebih peduli terhadap keutuhan NKRI daripada termakan provokasi 6 negara pasifik itu. Saya tahu pasti banyak yang terluka jiwa dan raganya di Papua dengan kondisi yang terjadi selama sekian tahun di sana. Aparat dan masyarakat sipil, keduanya adalah korban yang terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan di Papua. Hak Asasi Manusia mereka terancam dan terenggut selama bertahun-tahun. Banyak yang harus kita pertanyakan terkait isu HAM di Papua, banyak.

Statemen itu seharusnya melukai perasaan kita, jika kita benar peduli dengan isu HAM, tidak hanya di Papua, tetapi di Indonesia secara keseluruhan.

Khusus untuk Papua, saya merasa bahwa sebagai sesama anak bangsa kita sebaiknya jauh lebih peduli. Enam negara pasifik berbicara tentang Papua, kemudian negara langsung bereaksi keras. Tetapi ketika bangsa kita sendiri yang menyuarakan hal tersebut, lebih sering hanya menjadi angin lalu. Rekomendasi Tim Pencari fakta yang menyelidiki kasus-kasus pelanggaran di Papua saja sampai hari ini tidak jelas nasibnya bagaimana. Dari sekian banyak kasus yang direkomendasikan, tercatat baru dua kasus yang diajukan ke Mahkamah Peradilan. Masih banyak yang terabaikan. Kita tidak butuh negara-negara pasifik itu untuk mengingatkan kita, sudah seharusnya. Dengan catatan kita memang ingat dan peduli.

Saya ini bukan Orang Asli Papua. Tetapi saya mencintai Papua dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya bersyukur bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia, sehngga sebagai rakyat Indonesia maka saya berhak untuk bahagia mencintai dan membanggakan Papua sebagai bagian dari bangsa saya. Saya merasa bahwa Papua adalah kepribadian saya juga. Menakutkan mengikuti perkembangan belakangan ini, yang menunjukkan semakin menguatnya dorongan dan pergerakan yang menginginkan Papua untuk bisa melepaskan diri dari Indonesia. Jika hal itu sampai terjadi maka saya adalah salah satu orang yang akan merasa sangat sedih dan kehilangan. Saya berharap akan bisa terus menjadi bagian dan membanggakan Papua karena kita memang sebangsa dan setanah air. Dan ini tidak bisa kita capai dengan mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dipertanyakan terkait masalah HAM di sana. Kita tahu pasti ada banyak luka di sana. Aparat dan Warga Sipil kita masih hidup dalam kekhawatiran dan saling curiga. Kita tidak boleh menutup mata dengan itu semua. Mari memeluk Papua dengan perasaan sayang. Mengaminkan bahwa memang ada banyak kesalahan masa lampau yang sampai sekarang belum bisa kita ungkap dan sembuhkan. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai berbagai insiden yang terjadi terkait dengan permasalahan HAM di sana.
Ilustrasi; pacific.scoop.co.nz

Banyak kalangan masyarakat yang membanggakan kehadiran diplomat muda, perempuan, cantik, dianggap membungkam kepala negara lain. Bahkan tokoh sekelas Addie MS, yang saya tahu peduli dengan permasalahan Hak Asasi Manusia entah kenapa juga membanggakan Diplomat Cantik tersebut. Apakah tidak menyadari isi dari statement Diplomat Cantik tadi ini, juga mencakup pengingkaran terhadap lemahnya komitment negara dalam mengusut kasus Hak Asasi Manusia. Saya yakin kita semua tahu itu, bahwa realitanya tidak seperti yang dikatakan oleh Diplomat Cantik ini. Komitmen negara kita terhadap permasalahan HAM terus menjadi pertanyaan besar sampai saat ini. Lalu kenapa kita harus membanggakan kehadiran sosok Diplomat Cantik tadi ini? Karena dia muda dan cantik? Bangsa kita ini memang mudah terbawa arus. Membanggakan hal-hal yang tidak semestinya. Bukannya menyimak apa yang diplomat itu sampaikan malah membanggakan kecantikannya. Semakin banyak yang membanggakan Diplomat Cantik dan Statementnya itu, menunjukkan semakin banyak yang setuju bahwa "Komitmen Negara terhadap permasalahan tidak perlu dipertanyakan lagi", sementara kita tahu realitanya tidak demikian, maka tidak perlulah terlalu berbangga hati. Pernyataan itu menyakiti sebagian dari kita, pernyataan itu tidak sesuai kenyataan, pernyataan itu hanya berisi arogansi dan ketidak-pedulian terhadap Hak Asasi Manusia di Papua, jangan menumpuk kekecewaaan dengan membanggakan itu semua.

Saya cukup muak melihat respon media kita terhadap kehadiran Diplomat Cantik tersebut. Berbagai media yang memberitakan, seakan sulit untuk tidak menambahkan predikat "Cantik" kepada Diplomat tersebut. Bukan salah dia tentu saja, media kitalah yang seperti itu. Tetapi itu mungkin karena memang masyarakat kita juga lebih tertarik ketika predikat-predikat itu disertakan. Dan karena paras cantik itu, kita terkadang lalai dengan isi yang disampaikan, padahal mungkin saja suara yang mereka sampaikan itu bertentangan dengan suara hati kita. Kita sebaiknya berhenti merayakan paras wajah dan melupakan realita yang terjadi. Jangan sampai keteledoran dan ketidak dewasaan dalam berkomunikasi tersebut justru semakin menjauhkan Papua dari pelukan kita. Apalah artinya membungkan enam negara pasifik, jika kemudian membuat saudara kita sendiri meneriakkan ketidak adilan karena merasa pelanggaran terhadap hak Asasi Manusia yang terjadi di sekitarnya tidak diakui dan tidak dipedulikan. Banyak pertanyaan mengenai komitmen negara kita terhadap HAM, kita harus pahami itu. Dan jangan sekedar bicara keabsolutan teritorial, Papua bukan hanya sebuah wilayah. Papua adalah manusia, kebudayaan, kehidupan, keluarga, dan Anak Bangsa kita. Mari memeluk mereka.

*Arie Keriting adalah  Stand Up Comedy, aktor yang tinggal di Jakarta. Tulisan telah mendapat ijin untuk di muat pada situs sastrapapua.com

Post a Comment

Previous Post Next Post