Setungku Ubi untuk Muda-Mudi Wamena (III) - Ancaman Beras Impor

Setungku Ubi untuk Muda-Mudi Wamena (III) - Ancaman Beras Impor

Foto; travel.kompas.com
Terabaikannya lahan dan merosotnya produktifitas tadi bisa jadi memicu masuknya beras impor ke Bumi Cendrawasih. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jayawijaya, Paulus Sarira mengatakan, beras raskin yang masuk ke daerahnya sudah mencapai puluhan ribu ton pertahun. Jumlah itu belum termasuk beras nonsubsidi, ujarnya.  “Di mana yang dulu dominan mengonsumsi ubi, sekarang makan beras. Itu beras raskin. (Berapa yang masuk?) Saya tidak tahu persis. Dua tahun lalu saya punya data, sekitar 24 ribu ton per tahun. Sekarang mungkin sekitar 30 ribu ton,” imbuhnya. Sementara itu, berdasarkan catatan Bulog Papua, beras rakyat miskin yang didistribusikan ke Papua dan Papua Barat mencapai lebih dari 100 ribu ton. Raskin sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan pangan sekitar 100 ribu lebih  keluarga di sana. Sedangkan, menurut Program Officer EDP Oxfam, Kiloner Wenda, potensi produksi ubi di Pegunungan Jaya Wijaya bisa mencapai seratusan ton per hektare setiap tahunnya.

Namun, potensi itu kurang tergarap dengan baik. Padahal, lahan potensial yang bisa ditanami ubi mencapai belasan ribu hektare. Kiloner menilai, ini disebabkan minimnya akses petani terhadap pasar dan nilai jual ubi yang kurang tinggi.“Kemungkinan produksi itu kita hitung kasar itu sekitar 90-145 ton per hektare. Dengan hitungan minimal satu gundukan 5 kilogram. Potensi produksinya sangat bagus. Cuma orang yang mau bekerjanya malas,” katanya.

Oleh sebab itu, Oxfam bersama Yayasan Pendidikan Usaha Mandiri (Yapum) berupaya mendekatkan pasar ke pemukiman petani melalui pengumpul ubi. Rio Albert Pangemanan menjelaskan.“Mereka harus lihat. Dari mana mereka bisa mendapat keuntungan dari kebun. Kebun bisa dapat untung begitu mereka dapat kepastian pasar. Kita intervensinya tidak bisa dari semua sisi pekerjaan. Yang paling mungkin adalah kita membuka akses pasar. Sehingga, orang melihat dari ini ada peluang mereka mengakses uang dan pasar lebih mudah ketimbang harus katakanlah 1,5 jam ke kota. Mengeluarkan uang kurang lebih mengeluarkan Rp50 ribu untuk sekali pergi dan pulang mereka kehilangan Rp 100 ribu,” jelasnya.

Rio yakin, cara itu bisa membuat petani ubi bergairah kembali berladang. “Kalau kita bisa memberi kepastian ada pasar dan akses pasar lebih gampang, otomatis menggairahkan mereka kembali berkebun. Karena yang menjadi masalah, begitu ada ubi dia mau pasarkan ke mana, sedangkan dia tidak punya uang untuk membayar transportasi. Dari segi tenaga ini kita bicara 60 kilometer lebih. Bagaimana mereka memanggul ubi yang dalam satu noken bisa sampai  20-40 kilogram itu seorang diri.” Meski begitu menurut Rio, tidak mudah untuk mendekatkan pasar kepada masyarakat petani yang tinggal di pegunungan. Salah satu kendalanya adalah jarak antar kabupaten kota dan ongkos sewa mobil di Wamena yang bisa mencapai Rp 1,2 juta perhari.

Menjelang sore, terik matahari segera berganti hujan. Belasan mama mengantri di bawah tenda terpal berwarna biru. Mereka tampak antusias menimbang ubi dalam noken kepada petugas pengumpul. Di antara mereka, Adriana Wenda dan Orpa Wenda ikut menukar hasil ubi yang sudah ditanam sejak September tahun lalu. “Kalau ubi umurnya enam bulan. Kalau tanam 1-6 bulan baru panen. (Mama bawa berapa banyak?)  Satu noken itu biasanya Rp 110-120 ribu. (Panen berapa banyak?) Sudah 200 ubi. (Bakal dijual semua?) Makan sendiri, masak. Kemudian makan bersama. (Yang dijual?) Ada 50 buah,” paparnya.

Dia menambahhkan, “Tiap hari bawa noken ke rumah itu ada dua noken. Kalau babi banyak, itu makanan babi ada dua noken. Satu nokennya untuk kita makan. (Setiap hari mengambil ke kebun?) Ia setiap hari. (Lalu jual?) Bisa 1-2 noken. (Ada berapa buah satu noken?) Ada delapan.”

Dari ubi seberat 10 kilogram, ibu dua orang anak ini bisa mengantongi uang sebesar Rp 50 ribu. Menurut Ketua Titik Pengumpul Ubi, Sarlota, pengumpul menghargai satu kilogram ubi sebesar Rp 5 ribu. Sedang di pasar, satu kilogram ubi bisa mencapai Rp 9 ribu.“Setelah panen itu, ditimbang sesuai dengan kiloaan. Perkilo dikalikan dengan beratnya. Satu kilo itu Rp 5000. Lalu kami langsung bayar,” katanya.

Harga pengumpul itu memang terbilang kecil menurut petani, Eli Tabuni. Sebelumnya, dia bisa menjual satu noken ubi sebesar Rp 150 ribu di pasar. Namun, hasil penjualan itu belum dikurangi ongkos transportasi yang terbilang mahal, yakni bisa mencapai Rp 50 ribu per orang. Dia juga harus menanggung potensi kerugian, apabila tidak berhasil menjual ubi di pasar.“Pernoken itu ada delapan buah itu yang besar. Kalau jual di pasar itu Rp 150 ribu. Karena (ada) pengumpul lebih untung. Karena tidak jual ke pasar (yang jauh dari pemukiman). Ini langsung mereka sendiri membawa ke pasar. Untung, tidak rugi,” jelasnya.

Dari hasil penjualan ubi ke pengumpul ini lah, Adriana Wenda, Orpa Wenda dan Eli Tabuni bisa membeli berbagai keperluan dapur, seperti minyak goreng.“Itu untuk beli minyak goreng, piring. Kebutuhan dapur dan sabun, pakaian. Karena bertani untuk anak-anak sekolah.”


Eli berharap, mekanisme pasar yang digagas Oxfam dan Yapum ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani ubi seperti dirinya. Sehingga kelak, dia masih bisa menyediakan tungku berisi lusinan ubi bagi anak, juga cucu.(Dmr, Fik)

Selesai

Post a Comment

Previous Post Next Post