Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih, Papua - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih, Papua

Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih


Judul: Fungsi Dan Peranan Bahasa Berkias Tradisional Bahasa Maibart Dialek Aifat Dalam Kehidupan Masyarakat Maibrat Di Kabupaten Sorong, Irian Jaya

Penulis: Yacobus Paidi, dkk
Subjek: Sintaksis
Jenis: Laporan Penelitian
Tahun: 1998

Abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan secara objektif tentang fungsi dan peranan bahasa berkias tradisional bahasa Maibrat dialek Aifat yang meliputi ungkapan, peribahasa, pepatah, perumpamaan, tamsil dan ibarat, kata arif, serta pemeo dalam kehidupan masyarakat  Maibrat, Kabupaten Sorong, Provinsi Irian Jaya.

Manfaat hasil penelitian ini secara tidak langsung menginventarisasi salah satu kebudayaan bangsa. Seandainya bahasa Maibrat hilang, telah ada dokumentasi sastra. Khususnya tentang bahasa berkias. Dengan diketahuinya bahasa berkias tersebut, maka akan diketahui pula perilaku masyarakat pemiliknya, yaitu perilaku masyarakat Maibrat di Kecamatan Aifat, Kabupaten Sorong, Irian Jaya. Hasil penelitian ini pun dapat dimanfaatkan oleh aparat pemerintah pembangunan Kecamatan Aifat di Kabupaten Sorong Irian Jaya, yaitu dalam menegur ataupun dalam menasihati masyarakat Maibrat, sehingga masyarakat tersebut tidak tersinggung perasaannya. Di samping itu hasil penelitian ini dapat juga dimanfaatkan oleh petugas penyuluh KB ataupun penyuluh hukum. Dengan menggunakan bahasa berkias, masyarakat akan lebih tersentuh hatinya dan akhirnya masyarakat dapat melaksanakan sesuai yang dikehendaki para penyuluh. Hal tersebut akan membawa keberhasilan petugas dalam melaksanakan tugasnya.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan sosiologis, yang akan memberikan gambaran tentang fungsi dan peranan bahasa berkias dialek Aifat dalam kehidupan masyarakat Maibrat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Maibrat dialek Aifat masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maibrat di Kecamatan Ayamaru, Aifat, Aitinyo, dan sebagian Kecamatan Kebar di Kabupaten Manokwari. Penelitian ini menghasilkan 199 jenis bahasa berkias tradisional bahasa Maibrat dialek Aifat, dengan rincian 37 ungkapan, 111 peribahasa, 25 pepatah, dan 26 perumpamaan dengan fungsi dan peranannya masing-masing. Ungkapan  dan peribahasa pada umumnya mempunyai fungsi dan peranan untuk memberi nasihat, menegur, menyindir, ataupun untuk menyebutkan secara tidak langsung, agar orang yang diberi nasihat ataupun ditegur tidak tersinggung perasaannya. Fungsi dan peranan pepatah pada umumnya untuk mematahkan pembicaraan orang lain agar tak dapat membantah lagi. Sedangkan perumpamaan pada umumnya mempunyai fungsi dan peranan untuk menyebutkan tingkah laku sesorang atau keadaan dengan membandingkan dengan alam sekitarnya. Jenis tamsil, ibarat, kata arif, dan pemeo belum terjaring dalam penelitian ini.

Sumber Balai Bahasa Papua

0 comments: