Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih, Papua - KO'SAPA

Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih, Papua

Penelitian Balai Bahasa Papua dan Universitas Cenderawasih

Sistem Sapaan dalam Bahasa Amungkal

Penulis   : Novaria Panggabean
Subjek   : Sosiolinguistik
Jenis      : Laporan Penelitian
Tahun    : 2006

Abstrak: 
Sistem sapaan suatu kelompok masyarakat memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Amungkal misalnya, mempunyai keunikan tersendiri dalam memberikan sapaan di dalam kehidupan sehari-hari. Keunikan itu seperti terlihat pada pemakaian istilah sapaan dalam bahasa Amungkal, yaitu menggunakan sapaan nan untuk mentebut kakak laki-laki, dan menggunakan kata nao untuk menyebut kakak perempuan. Sedangkan untuk menyebut adik laki-laki menggunakan sapaan nigak atau sapaan kepada adik perempuan adalah nengel. Berdasarkan keunikan inilah, yang mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian tentang sistem sapaan bahasa Amungkal.

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini meliputi jenis-jenis sapaan yang digunakan, strategi pemilihan sapaan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sapaan dalam bahasa Amungkal.

Sapaan adalah cara mengacu seseorang di dalam interaksi linguistik yang dilakukan secara langsung (Crystal, 1991:7). Menurut Kridalaksana (1874:14), semua bahasa mempunyai bahasa tutur sapa, yakni sistem yang mempertautkan seperangkat kata-kata atau ungkapan yang dipakai untuk menyapa para pelaku dalam suatu peristiwa. Setiap bahasa memiliki kekhasan mengenai sistem sapaan.

Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif. Pengumpulan data kualitatif ini menggunakan teknik studi pustaka dan teknik wawancara. Data penelitian ini diperoleh dari studi pustaka tentang berbagai hal yang terkait dengan masyaraakt bahasa Amungkal. Data penelitian juga diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Data yang berupa jawaban yang diberikan oleh informan dipadukan dengan hasil studi pustaka.

Secara umum sapaan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu term of reference dan term of addresse. Term of reference berkaitan dengan sapaan yang menyangkut kekerabatan, sedangkan  term of addresse  berkaitan dengan sapaan yang menyangkut panggilan terhadap orang di luar lingkungan kekerabatan.

Faktor perbedaan kerabat sangat mempengaruhi bentuk sapaan yang digunakan oleh penutur kepada lawan tuturnya dalam bahasa Amungkal. Jika penutur tidak memiliki hubungan dengan lawan tuturnya, urutan kelahiran cenderung tidak menjadi pertimbangan dalam pemilihan bentuk sapaan yang digunakan. Dalam kondisi demikian penutur akan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain umur, jenis kelamin, pekerjaan/ jabatan, dan keakraban.

Analisis Struktur Cerpen Remaja Papua


Penulis   : Novaria Panggabean
Subjek    : Struktur dan Budaya
Jenis       : Laporan Penelitian
Tahun     : 2006

Abstrak: 
Pada dasarnya remaja Papua memiliki minat yang besar terhadap sastra. Hanya saja wadah atau ajang yang menampung dan mengarahkan remaja berproses secara kreatif sangat kurang. Di samping itu, medan wilayah yang sangat luas dan masih banyak yang terisolir. Hal ini dapat dilihat dari hasil Sayembara Penulisan Cerpen Remaja se-Papua yang hanya diikuti oleh remaja di tiga wilayah yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Dari tiga wilayah tersebut, remaja yang mengikuti kegiatan ini sangat antusias. Hal ini yang menjadi daya tarik penulis untuk menyelami lebih mendalam terutama dalam hal penelusuran struktur.

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah pengaluran, penokohan, pelataran, dan sudut pandang dalam cerpen remaja hasil Sayembara Penulisan Cerpen Remaja Papua tahun 2005. Teori yang digunakan dalam menganalisis cerpen remaja Papua adalah teori strukturalisme yang terfokus pada keutuhan karya sastra. Pendekatan ini memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai sebuah struktur. Unsur-unsur yang membangun struktur sastra terdiri atas: penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan tema.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta yang diselidiki. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumenter. Alur yang digunakan dalam keempat cerpen remaja Papua hasil Sayembara Penulisan Cerpen Remaja se-Papua tahun 2005 adalah alur sorot balik dan maju. Secara umum, tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam sumber data  penelitian ini  adalah  tokoh-tokoh yang nyata secara fisik dan tentu saja mempunyai nama.   Selain  itu   cerpen-cerpen  tersebut membatasi jumlah tokoh dalam ceritanya.  Latar  yang digunakan dalam cerpen ini  hanya menggunakan tiga unsur, yaitu latar tempat, waktu, dan sosial yang menyebutkan dengan jelas tempat dimana peristiwa terjadi. Gagasan yang disampaikan dalam cerpen-cerpen tersebut adalah tentang persahabatan, pendidikan, pencarian jati diri dan persoalan yang terjadi di dalam sebuah keluarga.

Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Papua


Penulis   : Asmabuasappe, dkk.
Subjek    : Cerita Rakyat
Jenis       : Laporan Penelitian
Tahun     : 2006

Abstrak: 
Objek penelitian ini menitikberatkan pada sastra daerah Papua. Dalam hal ini, cerita yang akan dianalisis sebanyak 27 cerita yang mewakili setiap daerah kabupaten yang ada di Wilayah Kabupaten Papua, baik Provinsi Papua maupun Irian Jaya Barat. Daerah tersebut, yakni Merauke, Jayapura, Nabire, Jayawijaya, Sorong, Fak-Fak, dan Biak.  Kriteria cerita rakyat  yang dijadikan objek penelitian yakni yang sifatnya masih membumi pada masyarakat di daerah setempat.

Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang hanya menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri dan tidak berdasarkan hal atau kenyataan di luar karya sastra seperti sejarah, adat, dan agama. Nilai-nilai budaya yang perdapat di dalam karya sastra tidak perlu dicocok-cocokkan dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metide deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan data secara sistematis, faktual, dan akurat. Tema, amanat, dan nilai budaya yang terdapat dalam karya sastra itu dipaparkan sebagaimana adanya dalam teks cerita.  Deskripsi nilai-nilai budaya disertai kutipan teks cerita yang mengacu pada nilai yang dikemukakan.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustka. Data diperoleh dari sastra lisan yang diterbitkan oleh beberapa penerbit. Selain itu, digunakan juga metode observasi.

Sumber data penelitian ini adalah cerita rakyat Papua yang sudah ditransliterasi dan sudah diterbitkan serta cerita rakyat yang diperoleh langsung dari sejumlah  informan di lapangan.

Berdasarkan analisis 27 cerita rakyat Papua tersebut, dari hasil penelitian itu berikut ini kesimpulannya. Cerita rakyat Papua merupakan warisan budaya bangsa yang mempunyai arti penting bagi kehidupan umat manusia  karena cerita rakyat tersebut mempunyai kaitan erat dengan kehidupan masyarakat pendukungnya. Hal tersebut  terbukti dari tema dan amanat yang terkandung dalam cerita itu yang mengungkapkan gagasan-gagasan, pandangan hidup, etika, dan ajaran moral yang merupakan buah pikiran dan cita-cita amat luhur yang berkaitan dengan kehidupan  masyarakatnya. Hal itu merupakan bukti bahwa cerita rakyat tersebut adalah kekayaan budaya bangsa yang merupakan perbendaharaan pikiran dan cita-cita luhur dan tentunya dapat dipakai sebagai pedoman hidup, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berdasarkan hal tersebut, terbukti bahwa cerita rakyat Papua sebagai salah satu bagian dari sastra nusantara di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya luhur.

Adapun nilai-nilai budaya yang terdapat di dalam dua puluh tujuh cerita rakyat Papua setelah diamati, pada umumnya mengandung ajaran-ajaran moral yang perlu diteladani oleh masyarakat. Ajaran-ajaran moral itu adalah 1. Perlunya menjalin silaturrahmi di dalam keluarga, 2. Menepati janji, 3. Tidak boleh durhaka kepada orang tua, 4. Hendaklah bersikap teliti dan jangan terburu nafsu dalam mengambil keputusan, 5. Harus berbuat baik kepada sesama manusia, 6. Tidak boleh kikir, 7. Seorang penguasa hendaklah bijaksana, terampil berbicara, lincah, dinamis, tidak egois, 8. Seseorang hendaklah bersikap cerdik, 9. Harus berani bertindak demi kemajuan, 10. Rela berkorban, 11. Taat kepada perintah Tuhan, 12. Tidak membedakan status sosial, 13. Tidak menganggap enteng orang lain, 14. Teguh pendirian, 15. Patuh pada orang tua, 16. Tidak membedakan status sosial, 17. Tidak menilai seseorang dari segi fisiknya saja, 18. Teguh pendirian, 19. Musyawarah mufakat, 20. Menjaga tali persaudaraan, 21. Saling membantu terhadap sesama, 22. menghargai pendapat orang lain, 23. Menjaga lingkungan sekitar, 24. Mampu mengendalikan amarah, 25. Timbulkan rasa kasih sayang antar sesama, dan 26. Jangan malas.

Mengungkap Makna-makna Ritual Patung MBis Asmat dalam Novel Namaku Tewerawut Karya Ani Sekarningsih

Penulis  : Jonner Sianipar
Subjek   : Struktur Sastra
Jenis      :  Laporan Penelitian
Tahun   :  2006

Abstrak: 
Noval Namaku Tewerawut seakan membawa pembaca menelusuri kehidupan penduduk asli suku asmat yang sangat kuat mempertahankan tradisi nenek moyangnya sampai kini. Tradisi yang sangat khas adalah prosesi ritualitas di seputar patung MBis atau patung roh leluhur. Oleh karena itu, novel berjudul Namaku tewerawut ini diteliti oleh penulis untuk mengetahui 1. Bentuk-bentuk ritualitas di seputar patung leluhur atau patung MBis Asmat  yang dianggap sakral, 2. Makna ritualitas di sekitar patung MBis itu, dan 3. Sejauh mana makna atau pengaruh ritual itu bagi masyarakat Asmat, sehingga tetap dipertahankan hingga kini.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah strukturalisme dari Lucien Goldmann. Maka, novel Namaku Tewerawut ini diteliti dengan menghubungkan kejadian dan tokoh-tokoh khayali dalam teks dengan kejadian aktual di luar teks, yaitu budaya suku Asmat terutama yang berkaitan dengan ritualitas di sekitar patung MBis sebagai unsur kebudayaan Asmat yang paling utama dan khas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi pustaka.

Masyarakat suku Asmat yang dibicarakan  dalam novel ini adalah kondisi dari masa sebelum pencerahan atau ketika mereka belum mengenal agama atau belum berperadaban modern. Saat ini masyarakat Asmat secara umum sudah maju dan modern. Namun kondisi geografis tempat tinggal mereka yang terisolir telah berdampak buruk pada kondisi sosial ekonomi mereka. Meskipun mereka sudah menerima agama Kristen, namun pola-pola budaya mereka yang lama masih mempengaruhi kehidupan sebagian warganya terutama yang masih hidup terisolir di hutan-hutan. Ritual patung MBis atau patung tonggak leluhur menjadi semacam identitas budaya masyarakat Asmat yang utama. Roh para leluhur ditransformasikan dalam wujud patung MBis. Setiap patung yang mereka hasilkan diyakini akan dititisi oleh roh para leluhur sebagai penguasa kehidupan mereka. Oleh karena itu, roh para leluhur  sangat dihormati dan dipuja dalam wujud patung MBis lewat rangkaian upacara ritual panjang yang dianggap sakral.

Dalam novel tersebut, juga diceritakan rangkaian penghormatan terhadaproh para leluhur antara lain dengan melakukan perang untuk memenggal kapala musuh yang akan dipersembahkan kepada roh leluhur. Pembunuhan terhadap musuh sekaligus sebagai bukti balas dendam atas kematian-kematian yang pernah terjadi walaupun kematian yang disebabkan oleh faktor lain, seperti penyakit. Tengkorak kepala musuh kemudian dikoleksi yang menjadi lambang keperkasaan seorang pria Asmat yang akan menghantar seorang pria Asmat menjadi panglima atau pahlawan perang. Darah musuh  yang dikayau dijadikaan sebagai media penyucian terhadap patung MBis dengan melumurkannya ke sekujur patung MBis itu. Dunia masyarakat Asmat adalah dunia roh. Semua benda yang dianggap memiliki roh dapat menjadi sahabat dan dapat juga memusuhi manusia.
Unsur Didaktis dalam Cerita-Rakyat Nabire dan Enarotoli
 
Penulis: Siswanto, dkk
Subjek: Sosiologi Sastra
Jenis   : Laporan Penelitian
Tahun: 2006
Abstrak: 
Cerita rakyat Nabire dan Enarotali sebagai hasil karya sastra, selain menghendaki untuk menghibur yang diharapkan  menjadi sarana untuk membentuk manusia Papua seutuhnya yang tidak terlepas dari hakikat, kodrat, dan martabat manusia yang merupakan kesatuan integrasi segi-segi esensial yang meliputi kedudukan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan nakhluk bertuhan.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran struktur batin dan unsure didaktis yang terdapat dalam kumpulan cerita rakyat Nabire dan Enarotoli. Namun didaktis tersebut meliputi nilai etika, nilai filosofis, nilai religiositas, dan nilai intelektual. Ruang lingkup penelitian meliputi struktur batin dan unsure didaktis yang terdapat dalam kumpulan cerita rakyat Nabire dan Enarotoli tang terdiri dari nilai etika, nilai filosofis, nilai religiositas, dan nilai intelektual.

Metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi pustaka. Dalam proses pengumpulan data cerita yang merupakan unsur-unsur didaktis. Setelah itu, membuat  sinopsis cerita satu per satu. Kemudian menganalisis struktur batin berupa tema dan amanat yang terdapat dalam cerita rakyat Nabire dan Enarotoli yang terdiri dari nilai etika, nilai filosofis, nilai religiositas, dan nilai intelektual.

Sumber data yang dipakai dalam penelitian adalah kumpulan cerita rakyat daerah Nabire dengan Enarotoli yang sudah ditranskripsi dan disusun oleh Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas kebudayaan. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul Cerita Rakyat Nabire dan Enarotoli yang diterbitkan oleh Penerbit CV Gunung Moria.

Struktur batin yang dibahas dalam penelitian adalah tema dan amanat. Tema-tema yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat Nabire dan Enarotoli pada umumnya berkisar tentang kehidupan sehari-hari adalah kebersamaan dalam keluarga, keberanian, kasih sayang, kerja keras, gotong royong, atau tema-tema tradisional lainnya, seperti kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan.

Amanat yang terdapat dalam penelitian ini adalah tema-temanya yang bersifat social kemasyarakatan seperti kita harus kerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal, harus selalu menjunjung tinggi nilai-nialai yang terdapat dalam masyarakat. Kemudian juga tema-tema lain seperti janganlah berbuat kejahatan sebab akan menuai hasil dari kejahatan tersebut.

Pengaruh Latar Terhadap Pembentukan Karakter Tokoh Dalam Roman Antropologis Namaku Tewerawut

Penulis    : Asmabuasappe
Subjek     : Struktur Sastra
Jenis        : Laporan Penelitian
Tahun      : 2005 
Abstrak: 
Papua merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan berbagai kekhasan nilai-nilai sosial budaya. Nilai-nilai tersebut diekspresikan diantaranya melalui cerita-cerita lisan. Dalam cerita-cerita rakyat Papua terselip nilai-nilai mitos, religius, ekologis, dan kosmologis yang unik dan menarik. Pembentukan watak dan karakter, kepribadian, serta pandangan terhadap suatu masalah tidak terlepas dari latar yang mewarnai kehidupan suatu komunitas masyarakat. Bagi masyarakat Papua, alam adalah sahabat karib mereka sehingga selalu hadir dalam setiap kegiatan dan kehidupan sehari-hari.

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis tertarik meneliti pengaruh latar, baik latar fisik maupun latar sosial terhadap pembentukan watak tokoh-tokoh cerita dalam roman antropologis Namaku Tewerawut. Jadi, penelitian ini membahasa tentang pengaruh latar terhadap pembentukan watak tokoh dalam roman antropologis Namaku Tewerawut karya Ani Sekarningsih. Sehingga kita dapat mengetahui pengaruh latar terhadap pembentukan watak tokoh-tokoh cerita dalam roman tersebut.

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). Menurut Zaidan (2000:206), tokoh adalah orang yang memainkan peran dalam karya sastra. Dalam kaitan itu, penokohan aladalah proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita. Penokohan dapat dilakukan melalui teknik kisahan dan teknik ragaan. Watak dan sifat tokoh itu terlihat dalam lakuan fisik (tindakan dan ujaran) dan lakuan rohani (renungan atau pikiran). Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang hanya menitikberatkan pada karya sastra itu sendiri dan tidak berdasarkan hal atau kenyataan di luar karya sastra itu (Djamaris, 1993:34). Adapun untuk menganalisis data dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif.

Jenis latar yang terdapat dalam roman yang dikaji terdiri atas latar fisik dan laatr social. Latar fisik meliputi: sungai, rawa, kampung yang kering dan gersang. Perbedaan waktu Irian Jaya-Jakarta dan London. Latar sosial terdiri atas: perempuan Asmat tidak dibiasakan mengungkapkan perasaan dan pikiran, keingintahuan untuk menyelami kehidupan sosial masyarakat Papua, hidup dalam lingkungan keteraturan, dan anggapan bahwa awan-awan adalah rumah nenek moyang orang Asmat. Jenis latar yang banyak mempengaruhi terbentuknya watak para tokoh cerita kebanyakan latar sosial.

Struktur Sastra Lisan Papua


Penulis    : Muntihanah
Subjek     : Sastra Lisan
Jenis        : Laporan Penelitian
Penerbit   : Balai Bahasa Papua
Tahun      : 2005 
Abstrak: 
Cerita rakyat Papua mengandung nilai-nilai sosial budaya masyarakat Papua. Namun cerita rakyat tersebut tidak kenal oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini terjadi karena kondisi masyarakat kita saat ini bersaing dengan pengaruh budaya luar dan teknologi.

Pengkajian ini membahas tema dan struktur Kumpulan Cerita Rakyat Papua, yang diambil dari Kumpulan Cerita Rakyat Papua Edisi I. Kajian ini merupakan proses lanjutan setelah pendokumentasian Cerita Rakyat yang sudah dilakukan dengan penerbitan buku-buku Cerita Rakyat Papua oleh Grasindo bekerja sama dengnan Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Cycloops (YPLHC) Papua.

Sastra lisan adalah jenis karya sastra yang dituturkan dari mulut ke mulut, tersebar secara lisan, anonim, dan menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lampau (Shipley dalam Zainal, dkk.2000:4). Pengkajian ini menjadikan sastra jenis prosa rakyat merupakan objek yang diteliti. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui struktur yang terdapat dalam cerita rakyat tersebut. Untuk itu, penelitian ini menggunakan pendekatan instrinsik. Pendekatan intrinsik memisahkan karya sastra dari lingkungan yang melahirkannya. Tugas penelitian intrinsik adalah meneliti hubungan antarunsur dalam sistem formal (Damono,1993:6).

Unsur-unsur yang membangun struktur karya sastra terdiri atas: penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan tema. Pengkajian cerita ini terbatas pada lima cerita, yaitu Asal Mula Nama Wamena, Asal Usul Suku Asmat menjadi Pengukir, Insrennanggi, Terjadinya Sungai Kohoin di Teminabuan, dan Woiram.

Tema yang ditampilkan dalam cerita tersebut beragam permasalahan. Alur yang digunakan dalam kelima cerita rakyat tersebut  semuanya menggunakan alur maju. Dalam menampilkan alur ini, ada beberapa cerita yang tidak melewati tahapan-tahapan alur yang ditawarkan oleh Nurgiyantoro. Umumnya, cerita sangat terbatas dalam jumlah tokoh dalam cerita. Ada beberapa cerita yang hanya menggunakan dua tokoh yang aktif selain tokoh kolektif. Latar dalam cerita umumnya merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Berdasarkan pengkajian latar tempat ini dapat dilihat hubungan erat masyarakat dengan alam. Seluruh ceriata yang terpilih untuk diaanlisis, menggunakan sudut pandang diaan yang terbatas untuk menampilkan tokohnya. Selain itu, pencerita juga menampilkan tokoh dengan menggunakan sapaan dan kata ganti. Narator cenderung menjadi pengamat yang terbatas dan seakan-akan merekam segala peristiwa yang berlangsung.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini digunakan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta, sifat, serta hubungan antarfenomena yang diteliti (Nasir, 1985:63), dalam hal ini tema dan struktur cerita rakyat. Adapun teknik yang digunakan adalah analisis teks.

Struktur dan Nilai Budaya Puisi Anak Papua


Penulis : Sukardi Gau
Subjek : Cerita Rakyat
Jenis    : Laporan Penelitian
Tahun  : 2005 
Abstrak: 
Karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang pernah ditulis oleh anak Papua belumlah ditangani sebagaimana mestinya. Sebab kenyataan menunjukkan bahwa hingga saat ini, kita belum temukan satu pun naskah-naskah puisi yang ditulis oleh anak-anak Papua telah diteliti, didokumentasikan, dan diterbitkan. Penyebabnya antara lain adalah kurangnya perhatian masyarakat kita di Papua terhadap karya sastra tulis, khususnya puisi. Puisi masih dianggap seolah-olah sebagai sesuatu yang tidak penting bagi mereka.

Penelitian ini merupakan upaya pendokumentasian terhadap puisi-puisi yang pernah ditulis oleh anak Papua. Anak Papua yang dimaksud adalah para siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah (SD, SMP, dan SMU) yang ada di Papua. Selain itu, penelitian ini juga akan menganalisis struktural (sistem formal) dan nilai budaya yang terkandung dalam naskah puisi anak Papua. Masalah yang dikemukakan oleh peneliti adalah bagaimana struktur (sistem formal) dan nilai-nilai budaya apa saja yang terkandung dalam naskah puisi anak Papua tersebut.

Data penelitian ini bersumber dari naskah puisi Sayembara Penulisan Puisi Siswa SD dan Remaja di Kota dan Kabupaten Jayapura. Adapun jumlah naskah puisi yang dianalisis sebanyak 141 naskah. Dalam penelitian ini, puisi-puisi ditulis oleh anak-anak Papua akan diperlakukan sebagai karya sastra yang memiliki otonomi penuh.Yang disoroti dalam penelitian ini adalah sistem formalnya, yang unsur-unsurnya antara lain kosakata, citraan, bahasa kiasan (metafora, personofikasi, dsb), sarana retorika (hiperbola, repetisi, pararelisme, dsb), dan aspek ketatabahasaan (pemendekan kata, reduplikasi, dsb). Di samping dilihat unsur-unsur sistem formal tersebut, juga diperhatikan keterkaitan unsur-unsur sistem formal tersebut, jga diperhatikan keterkaitan unsur-unsur sistem formal itu dengan sistem formal itu dalam membangun keutuhan sajak.

Landasan teori yang digunakan untuk menganalisis ujaran-ujaran moral dalam puisi anak Papua ini adalah teori struktural. Selain itu, pengkajian ajaran-ajaran moral puisi anak Papua menggunakan pendekatan pragmatik seperti yang dikembangkan oleh Abrams (dalam Teeuw, 1988: 49-53). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan struktural.

Dari hasil penelitian ini, tampak bahwa sistem formal yang digunakan dalam puisi-puisi tersebut sangat beragam cara pengungkapannya. Adapun unsur-unsur sistem formal yang paling menonjol dikemukakan dan digunakan dalam puisi anak-anak Papua adalah kosakata (kosakata sehari-hari, kosakata bahasa daerah, dan kosakata ilmiah), citraan (citraan lihatan dan citraan dengaran), bahasa kiasan (personifikasi, metafora, perbandingan, dan alegori), sarana retorika (repetisi, rhetoric reticence, pertanyaan retorik, pararelisme, tautologi, dan hiperbola), dan aspek kebahasaan (pemendekan kata, reduplikasi, dan imperatif).

Secara umum, nilai budaya yang terdapat dalam Puisi Anak Papua adalah patriotisme dan bela negara, nilai kemanusiaan, etos kerja, sikap hormat kepada guru dan orang tua, persaudaraan, dan persahabatan.

Tinjauan Tema Alur Latar dan Perwatakan Cerita Rakyat Waropen

Penulis: Siswanto
Subjek: Cerita Rakyat
Jenis   : Laporan Penelitian
Tahun  : 2005 
Abstrak: 
Cerita rakyat Waropen merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Waropen yang sampai sekarang masih dituturkan dari mulut ke mulut. Pengarangnya anonim dan dianggap sebagai milik bersama atau kelompok dan tetap dipelihara dari generasi ke generasi. Media penuturannya menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Penuturan cerita dilakukan oleh kaum wanita, seperti nenek atau ibu kepada cucu anak-anaknya. Kaum pria, kakek atau ayah dapat juga berperan sebagai penutur, tetapi frekuensinya kecil.

Penulis berusaha untik menganalisis cerita rakyat dari Waropen dengan menggunakan pendekatan structural yang mengkaji unsur instrinsiknya dan menekankan pada tinjauan tema, alur, latar, dan perwatakan tokohnya. Analisis struktur bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif, yakni suatu pemaparan yang menjelaskan hubungan antar data yang diperoleh dari kepustakaan dan yang menjadi objek penelitian ( Effendi, 1974:4).

Tinjauan tema, alur, latar, dan perwatakan cerita rakyat Waropen ini menggunakan metode struktural dan deskriptif. Dalam hal ini yang dideskripsikan adalah tema, alur, lata, dan perwatakan/penokohan. Tema-tema cerita rakyat Waropen pada umumnya merupakan tema tradisional, dimana kebenaran akan menang terhadap kejahatan, siapa yang berbuat pasti akan menuai. Alur cerita rakyat Waropen merupakan alur maju yang dan memiliki struktur alur yang sangat sederhana. Latar cerita rakyat Waropen terdiri atas latar tempat dan waktu. Isi cerita rakyat waropen erat kaitannya dengan alam, lingkungan, dan kepercayaan. Secara umum, cerita rakyat Waropen memiliki fungsi sebagai alat untuk menjaga kelangsungan dan stabilitas keberadaan budaya Waropen. Adapun judul-judul cerita rakyat Waropen yang diteliti adalah Sumundui, Seranawakokoy, Andaghadagha, Nufusiori, dan Simunopendi.

Perwatakan/penokohan cerita rakyat Waropen terdiri atas tokoh utama dan tokoh pendukung. Tokoh-tokoh utamanya terdiri atas tokoh hewan atau manusia. Tokoh-tokoh pendukungnya juga terdiri atas tokoh manusia, hewandan supranatural.

Struktur Sastra Lisan Biak – Numfor: Prosa

Penulis: R. Fatubun
Subjek: Sastra Lisan
Jenis   : Laporan Penelitian
Tahun : 2002 
Abstrak: 
Kajian-kajian tentang Biak-Numfor dalam berbagai aspek, belum banyak, itu pun masih sederhana, kecuali yang dilakukan akhir-akhir ini sudah lebih bagus.Di bidang bahasa sudah ada kajian mengenai fonologi (Fautngil, 1988), morfologi (idem, 1989), dan sintaksis (idem, 1994). Leksikografi dilakukan oleh Soeparno (1975) dan tata bahasa dialek Sordiweri oleh Steinhauer (1985). Selain itu, buku tentang percakapan dalam bahasa Biak dikerjakan oleh Muharamsyah (1975). Laporan tentang sosial budaya, kelompok bahasa, dan agama pernah ditulis oleh Blust (1978), Kamma (1954), Wurm dan Hattori (1982), dan oleh Voorhoeve (1975). Naskah yang berisi ayat-ayat Alkitab dan Nyanyian Rohani pernah ditulis oleh van Hasselt (1932, 1949), GKI Jayapura (1969), Kapissa (1975), dan oleh Lembaga Alkitab Indonesia – LAI (1990). Dalam bidang folklor pernah diadakan sebuah penelitian tentang ungkapan tradisional Biak-Numfor (1985). Di samping itu ada beberapa cerita rakyat yang pernah dimuat seri penerbitan ”Cerita Rakyat Irian Jaya” oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dati I Irian Jaya sejak tahun 1974.

Namun demikian, kegiatan dalam aspek folklor itu tidak berlanjut sedangkan cerita yang diambil hanya secara selektif dari sejumlah cerita rakyat di daerah Papua secara keseluruhan, yang di antaranya adalah cerita rakyat dari Biak-Numfor. Pendokumentasian cerita rakyat Biak-Numfor secara lebih khusus dilakukan oleh Fatubun, dkk. (2000). Artinya, belum ada kajian khusus mengenai struktur cerita-cerita rakyat Biak-Numfor secara lebih mendalam. Padahal, perlu diungkap tentang bentuk-bentuk struktur cerita rakyat Biak-Numfor, sudut pandang, dan hal-hal arketip (karakter, situasi, simbol, dan lain-lain) dalam sastra lisan itu.

Penelitian ini menggunakan kerangka teori berdasarkan definisi cerita rakyat dalam Webster’s Encyclopedic Unabriged Dictionary of the English Language yang memberikan rumusan tentang folktale (cerita rakyat) atau yang disebut juga sebagai folkstory, yaitu cerita atau legenda yang berasal dari sebuah masyarakat, khususnya cerita-cerita yang membentuk bagian dari tradisi lisan masyarakat itu (halaman 551, terjemahan peneliti). Kemudian dikuatkan dengan definisi cerita rakyat dalam The Concise Oxford Dictionary Terms (halaman 85). Folktale (cerita rakyat) aalah cerita dari mulut ke mulut bukan yang lewat tulis, dengan begitu mengalami perubahan karena diceritakan berulang-ulang sebelum ditulis. Termasuk dalam cerita rakyat ini adalah legenda, fabel, lelucon, dan cerita peri. Banyak cerita rakyat berhubungan dengan mahkluk-mahkluk mistik dan transformasi-transformasi magis (terjemahan peneliti).

Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dan observasi langsung, sedangkan teori yang digunakan adalah objective criticism, yaitu sastra  Biak-Numfor diperlakukan secara objektif dan dapat dikaji dari hal-hal yang objektif. Populasi penelitian ini adalah semua literary devices yang ada dalam cerita rakyat yang masih terpelihara dan masih diceritakan di daerah Biak-Numfor. Sedangkan sampel adalah devices, yakni seperti disebutkan pada masalah penelitian ini, yaitu plot, karakter dan karakterisasi, setting, point of view, tema, dan lain-lain arketipe.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan dan perekaman  kemudian mengkaji strukturnya. Teknik analisas data mengikuti langkah-langkah dari Kennedy yang sudah diformulasikan dalam pernyataan pada bagian masalah penelitian.

Cerita Rakyat dan Ungkapan Peribahasa Daerah Wauna Depapre Kabupaten Jayapura


Penulis: Masmur Asso
Subjek: Cerita Rakyat
Jenis  : Laporan Penelitian
Tahun: 2003 
Abstrak: 
Masyarakat Papua sudah mulai kehilangan nilai-nilai adat dan nilai-nilai rohani yang luhur akibat pengaruh budaya luar. Di bidang sastra daerah terdapat cerita rakyat dan ungkapan peribahasa daerah yang mengisahkan sejarah penyebaran orang Papua, nilai-nilai religi, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi, kepemimpinan, pergaulan, peperangan, dan sebagainya. Akan tetapi, kandungan nilai-nilai tersebut belum tergali secara ilmiah atau belum terdokumentasikan secara lebih baik, sehingga dikhawatirkan lambat laun akan musnah satu demi satu. Ditunjang oleh Undang-undang No. 21 Tahun 2001 Pasal 58 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, maka Dinas Kebudayaan Provinsi Papua melalui Proyek Pembinaan Sastra Daerah di Kabupaten Jayapura, telah mengumpulkan dan menulis buku “Cerita Rakyat dan Ungkapan Peribahasa Daerah Wauna-Depapre”, untuk kepentingan pendokumentasian, dan juga sebagai bahan informasi bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa, sekaligus untuk melestarikan sastra lisan tersebut. Selain itu, penulisan buku ini bertujuan untuk secara tidak langsung mendorong generasi muda orang Papua supaya berperan aktif menggali, membina, dan memelihara sastra lisan Papua sebagai jati dirinya. Buku ini juga dapat sebagai bahan informasi bagi pendidik untuk keperluan bahan pengajaran bermuatan lokal di sekolah-sekolah.

Tempat penelitian dilaksanakan di daerah Wauna, Depapre, Kabupaten Jayapura. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif, maksudnya sebagai pembuat penggambaran tentang sastra lisan Papua (Ali, 1982: 20), khususnya sastra lisan orang Wauna, Depapre, Kabupaten Jayapura. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.
Dalam buku ini dimuat 12 judul cerita rakyat dari daerah Wauna, Depapre. Kedua belas cerita rakyat itu adalah “Pemuda Wafymay dari Kampung Wauna Terlepas dari Siasat Ondoafi”, Kehidupan Wapoway Bersama Seorang Neneknya”, “Hidupnya Seorang Pemuda”, “Ondoafi Deponeway Membuat Acara Pesta Festival Tari-tarian”, “Siriway Walry Klang Mendapat Undangan Bersama Neneknya”, “Siasat Penangkapan Pemuda Ini oleh Ondoafi Deponeway”, “Maksud Hati Memeluk Gunung Apa Daya Tangan tak Sampai”, “Pulau Dewata Kasoari Papua New Guinea” (Ayekukumeng), “Awal Tersebarnya Manusia Papua ke Seluruh Daratan dan Ciri Sifatnya”, “Asal Mula Nama Depapre”, “Keanehan di Teluk Tanah Merah”, “Manusia Berbadan Ular”.

Bab terakhir buku ini berisi 22 ungkapan peribahasa daerah Wauna, Depapre, Kabupaten Jayapura. Peribahasa itu ditulis dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia, kemudian diberikan penjelasan cukup tentang makna dari ungkapan peribahasa tersebut.

Struktur Sastra Lisan Lha


Penulis: Aleida Mawene, dkk.
Subjek: Sastra Lisan
Jenis  : Laporan Penelitian
Sumber: Universitas Cendrawasih, Papua
Tahun: 2002 
Abstrak: 
Sastra lisan Iha menyebar secara lisan pada masyarakat Iha di Kabupaten Fak-Fak. Sastra lisan Iha belum pernah didokumentasikan. Sebelum punah sastra lisan itu perlu didokumentasikan demi mempertahankannya sebagai alat pengontrol norma-norma masyarakat Iha. Deskripsi dilakukan terhadap kedudukan dan fungsi, struktur, serta nilai-nilai hakiki budaya masyarakat Iha yang terdapat cerita rakyat tersebut.

Penelitian ini menggunakan kerangka teori umum dari Rene Wellek dan Austin Waren (1989:109) bahwa kesusastraan merupakan institusi sosial atau kreasi sosial yang menggunakan bahasa sebagai media. Lebih khusus dilandaskan pada pendapat Thompson (1946) bahwa setiap kelompok manusia mempunyai sastra lisan dengan ciri-ciri tersendiri, yang dikuatkan oleh A. Teeuw (1984:11), bahwa sastra lisan merupakan milik masyarakat dan tidak pernah diciptakan dalam situasi kekosongan budayanya.

Metode yang digunakan adalah kualitatif dan pendekatan resepsi-struktural genetik, dengan teknik wawancara dalam bahasa penutur yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan langsung informan yang fasih berbahasa Indonesia. Analisa data dilakukan mengacu pada Levi-Strauss. Data dipenggal-penggal menurut fakta cerita yang berkaitan dengan pelaku dan perilakunya; menyusun ikhtisar mengenai term dan fungsi cerita serta hubungan yang ditujukan oleh setiap bagian cerita; kemudian menyusun formula struktur alur cerita yang terdiri dari bagian-bagian cerita dan hubungan antarbagian cerita tersebut. Penelitian ini akhirnya berhasil mendeskripsikan aspek-aspek seperti yang disebutkan di atas dari 18 judul sastra lisan yang terdapat pada masyarakat Iha, dan disajikan dalam bahasa Indonesia.

Penelitian ini mengungkap beberapa kesimpulan, yaitu bahwa panjang cerita berkisar antara 2 sampai 3 halaman; judul cerita sebagian besar mengangkat nama terem atau tokoh utamanya yang tidak menghiraukan fungsi terem yang memiliki sifat positif atau negatif. Penutur cerita adalah laki-laki dan perempuan, yakni para penatua adat yang lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat suku Iha di Kabupaten Fak-Fak, berusia antara 36 sampai dengan 63 tahun. Pekerjaan penutur beragam, ada petani, peramu, nelayan, wiraswasta, dan ibu rumah tangga. Kesempatan menuturkannya adalah pada saat panen ikan di laut, waktu bulan purnama, sebagai pengisi waktu senggang sehabis kerja, atau ketika ingin tahu tentang asal-usul suatu benda atau tempat, serta sesaat sebelum tidur.

Struktur alur cerita terdiri dari bagian-bagian yang memiliki hubungan sebab-akibat dan setiap bagian memiliki terem dan fungsinya masing-masing. Bagian-bagian itu diformulasikan menjadi tujuh skema dengan model 3 – 9 bagian. Model skema cerita-cerita tersebut paling banyak memiliki 6 – 7 bagian. Terem dalam cerita itu memiliki hubungan dengan pola (1) terem manusia dengan binatang; (2) manusia dengan makhluk gaib; (3) manusia dengan binatang dan makhluk gaib; (4) binatang dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda; dan (5) manusia super dengan raksasa. Jumlah pelaku dalam cerita berkisar empat sampai sembilan orang. Pelaku cerita adalah manusia, binatang, makhluk gaib, dan tumbuh-tumbuhan atau benda-benda.

Secara umum amanat dalam cerita dapat dikelompokkan dalam 16 macam formula yang diaktualisasikan dari pernyataan yang dirumuskan berdasarkan alur yang diperoleh. Perumusan pernyataan amanat dengan menghubungkan sebab – akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Fungsi dan Peranan Bahasa Berkias Tradisional bahasa Maibart Dialek Aifat dalam Kehidupan Masyarakat Maibrat di Kabupaten Sorong, Irian Jaya


Penulis: Yacobus Paidi, dkk
Subjek: Sintaksis
Jenis: Laporan Penelitian
Tahun: 1998 
Abstrak: 
Penelitian ini mendeskripsikan secara objektif tentang fungsi dan peranan bahasa berkias tradisional bahasa Maibrat dialek Aifat yang meliputi ungkapan, peribahasa, pepatah, perumpamaan, tamsil dan ibarat, kata arif, serta pemeo dalam kehidupan masyarakat  Maibrat, Kabupaten Sorong, Provinsi Irian Jaya.

Manfaat hasil penelitian ini secara tidak langsung menginventarisasi salah satu kebudayaan bangsa. Seandainya bahasa Maibrat hilang, telah ada dokumentasi sastra. Khususnya tentang bahasa berkias. Dengan diketahuinya bahasa berkias tersebut, maka akan diketahui pula perilaku masyarakat pemiliknya, yaitu perilaku masyarakat Maibrat di Kecamatan Aifat, Kabupaten Sorong, Irian Jaya. Hasil penelitian ini pun dapat dimanfaatkan oleh aparat pemerintah pembangunan Kecamatan Aifat di Kabupaten Sorong Irian Jaya, yaitu dalam menegur ataupun dalam menasihati masyarakat Maibrat, sehingga masyarakat tersebut tidak tersinggung perasaannya. Di samping itu hasil penelitian ini dapat juga dimanfaatkan oleh petugas penyuluh KB ataupun penyuluh hukum. Dengan menggunakan bahasa berkias, masyarakat akan lebih tersentuh hatinya dan akhirnya masyarakat dapat melaksanakan sesuai yang dikehendaki para penyuluh. Hal tersebut akan membawa keberhasilan petugas dalam melaksanakan tugasnya.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan sosiologis, yang akan memberikan gambaran tentang fungsi dan peranan bahasa berkias dialek Aifat dalam kehidupan masyarakat Maibrat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Maibrat dialek Aifat masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Maibrat di Kecamatan Ayamaru, Aifat, Aitinyo, dan sebagian Kecamatan Kebar di Kabupaten Manokwari. Penelitian ini menghasilkan 199 jenis bahasa berkias tradisional bahasa Maibrat dialek Aifat, dengan rincian 37 ungkapan, 111 peribahasa, 25 pepatah, dan 26 perumpamaan dengan fungsi dan peranannya masing-masing. Ungkapan  dan peribahasa pada umumnya mempunyai fungsi dan peranan untuk memberi nasihat, menegur, menyindir, ataupun untuk menyebutkan secara tidak langsung, agar orang yang diberi nasihat ataupun ditegur tidak tersinggung perasaannya. Fungsi dan peranan pepatah pada umumnya untuk mematahkan pembicaraan orang lain agar tak dapat membantah lagi. Sedangkan perumpamaan pada umumnya mempunyai fungsi dan peranan untuk menyebutkan tingkah laku sesorang atau keadaan dengan membandingkan dengan alam sekitarnya. Jenis tamsil, ibarat, kata arif, dan pemeo belum terjaring dalam penelitian ini.

Struktur Sastra Lisan Sentani


Penulis : R. Fatubun, dkk
Subjek : Sastra Lisan
Jenis    : Laporan Penelitian
Tahun  : 1997 
Abstrak: 
Penelitian dilakukan untuk mengumpulkan cerita rakyat Sentani jenis prosa kemudian menganalisis strukturnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik wawancara dengan informan yang direkam dalam pita kaset. Kriteria informan ialah orang suku Sentani asli yang lahir dan dibesarkan di Sentani, meguasai bahasa Sentani serta pada saat wawancara dilakukan informan merupakan penduduk Sentani.
Landasan teorinya ialah mimetic criticism, obdjective criticism, subdjective criticism, dan pragmatic criticism, dan juga archetypal criticism untuk melihat archetypal characters, situations, symbols dan association bila diperlukan. Pendekatannya mempertimbangkan unsur ekstrinsik.
Penelitian berhasil menjaring sebanyak 26 cerita rakyat Sentani masing-masing dari Sentani Barat, Sentani Tengah, dan Sentani Timur. Cerita dikategorikan menjadi sembilan jenis legenda di antaranya enam legenda lokal dan tiga legenda personal; tujuh lelucon tentang orang pandir, lima dongeng biasa di antaranya satu tentang sihir; lima dongeng binatang di antaranya tiga tentang burung, satu dongeng tentang manusia dengan binatang liar, dan lima dongeng tentang binatang liar.
Tema cerita beragam, masing-masing (1) ketidakpatuhan terhadap aturan atau nasehat akan mendatangkan kecelakaan; (2) mengganggu satwa akan membawa bencana; (3) penipuan akan mengakibatkan ketidaksenangan dan ketidakharmonisan antara sahabat, tetangga, atau masyarakat; (4) tidak baik menghina orang cacad karena mereka juga bisa berguna bagi kita suatu saat; (5) keluguan dapat membawa keuntungan; (6) keteguhan yang tidak beralasan jelas dapat membawa perpecahan; (7) perbuatan jahat mengakibatkan malapetaka pada diri sendiri; (8) menentang kekuasaan lebih tinggi akan mendatangkan bencana; (9) kesombongan akan merugikan diri sendiri; (10) orang kecil perlu diperhatikan karena mereka dapat berguna bagi kita suatu saat; (11) ketidaksetiaan pada teman atau sahabat akan mengakibatkan perpisahan; dan (12) merendahkan sahabat atau orang lain dapat membawa malapetaka. Karena lokasi penemuan cerita yang berbeda-beda maka beberapa cerita yang sama mengalami versi yang berbeda.
Penutur cerita adalah laki-laki dan perempuan dari berbagai status sosial, yaitu tua, muda, petani, ondoafi (kepala suku), dan mahasiswa. Mereka pertama kali mendengar cerita itu dari kakek, nenek, orang tua baik dari dalam lingkup keluarganya maupun di luar keluarga. Semua penutur dapat berbahasa daerah Sentani, bahasa Indonesia, dan sebahagian ada yang dapat berbahasa Inggris. Waktu bercerita dilakukan kapan saja pada waktu senggang. Tujuan bercerita adalah untuk memberi atau menyampaikan informasi tentang lingkungan masyarakat, memberi informasi tentang adat-istiadat setempat, dan menyampaikan ajaran moral. Semua hal itu sesuai dengan yang disampaikan Wiliam R. Bascom. Hambatan-hambatan yang dialami antara lain (1) keragaman dialek Sentani yang mempersulit pemahaman terhadap cerita; (2) adanya cerita yang tanpa judul sehingga harus diberi sendiri judulnya; dan (3) versi kelima tentang terjadinya Danau Sentani tidak jelas penyelesaiannya.

Sastra Lisan Ekagi Paniai


Penulis : Dharmojo, dkk.
Subjek : Sastra Lisan
Jenis    : Laporan Penelitian
Tahun  : 1996 
Abstrak: 
Sastra lisan Ekagi adalah sastra lisan milik masyarakat Ekagi yang mendiami tujuh dari 17 kecamatan di Kabupaten Paniai, terletak di kawasan Teluk Cenderawasih, Papua. Ketujuh kecamatan yang menjadi populasi lokasi penelitian adalah Kecamatan Paniai Timur, Paniai Barat, Agadide, Tigi, Kamu, Mapia, dan Kecamatan Uwapa. Sampel lokasi dipilih satu kecamatan yang dianggap sebagai pusat (sentral) yang paling banyak penutur asli sastra lisan itu. Pengumpulan cerita dilakukan dengan cara sample purporsive, yakni semua cerita yang dapat dikumpulkan oleh siapa saja dan kapan saja sejauh memenuhi kriteria sebagai cerita rakyat Ekagi.
Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan untuk mengetahui keberadaan yang sesungguhnya dari sastra-sastra lisan Ekagi di tengah masyarakat pemangkunya, yakni suku Ekagi pada saat ini, sekaligus sebagai tindakan mengatasi kekhawatiran terhadap ancaman kepunahan sastra lisan itu, mengingat arus globalisasi saat ini yang tidak terbendung. Kerangka teori yang digunakan adalah tiga tahapan dalam penelitian lapangan terhadap folklor dari James Danandjaya, yakni (1) tahap penelitian di tempat; (2) tahap penelitian di tempat yang sesungguhnya; dan (3) tahap pembuatan naskah folklor bagi pengarsipan. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan eklektif, yaitu pendekatan gabungan dari sosiologis, historis, dan arketipal atau proses pewarisan budaya masa lampau. Pendekatan yang lebih ditekankan ialah sosiologis karena mengacu pada jenis penelitian yang social sciences research dan humanities research atau penelitian yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan sosial budayanya.  Teknik yang digunakan adalah dengan merekam dengan tape recorder tuturan dari informan ke dalam pita kaset. Karena tuturan dilakukan dalam bahasa daerah maka hasil rekaman itu ditranskripsikan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas bantuan informan,  dengan menganut prinsip penerjemahan dari Nida dan Taber, yaitu dengan memperhitungkan situasi dan kondisi bahasa penerima serta gaya penceritaannya. Penerjemahan, terutama penyalinan amanat antarbudaya dan atau antarbahasa dalam tuturan gramatikal dan leksikal dengan maksud efek dan wujud, sedapat mungkin tetap dipertahankan sebagaimana ditawarkan Harimurti Kridalaksana, karena seperti dikatakan A.M. Moeliono, tidak mungkin membuat terjemahan kata demi kata di antara bahasa yang berbeda strukturnya jika hasilnya harus dipahami dengan tepat. 
Penelitian mengungkapkan bahwa cerita-cerita rakyat Ekagi sampai saat ini masih hidup dan terus dipergunakan oleh masyarakat pemangkunya, namun kurang diakrabi oleh kalangan muda. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lisan Ekagi masih relevan dengan keadaan zaman sekarang ini, sehingga perlu diwariskan kepada generasi penerus masyarakat Ekagi. Sastra lisan itu dipergunakan masyarakat Ekagi antara lain untuk mengisi rangkaian upacara adat tertentu dengan judul-judul cerita rakyat tertentu; karena adanya permintaan untuk mengetahui sejarah atau asal-asul sesuatu tempat, fam atau marga suku Ekagi, atau kepahlawanan seseorang; sebagai media untuk mengajarkan moral kepada generasi muda; atau untuk mengisi waktu luang. Cerita-cerita itu erat kaitannya dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial masyarakat Ekagi.
Penuturnya umumnya adalah kaum tua atau separuh baya baik laki-laki maupun perempuan. Waktu penyampaiannya ialah menjelang berlangsungnya upacara adat tertentu, waktu menunggui tanaman di ladang dari gangguan hewan liar, untuk mengisi waktu luang baik siang waktu istirahat maupun malam hari sambil menidurkan anak.
Adapun kedudukan cerita rakyat itu dalam masyarakat Ekagi adalah sebagai institusi dan kreasi sosial, sebagai wadah dan media berbagai kegiatan sosial, seperti pendidikan, adat istiadat, norma susila, ekonomi, dan lain-lain. Sedangkan fungsinya adalah sebagai sistem projeksi, alat pengesahan dari pranata/lembaga-lembaga kebudayaan, alat pendidikan, alat pemeriksa dan pengawas masyarakat, dan lain-lain.
Hambatan yang dihadapi ketika pengumpulan cerita rakyat Ekagi adalah (1) banyaknya ragam bahasa Ekagi yang dipergunakan informan sehingga ragu menentukan satu ragam tersebut; (2) penutur tidak selalu menyebutkan judul cerita dengan alasan yang penting isi atau nilai cerita;  (3) tokoh-tokoh dalam cerita itu umumnya tidak diberi nama, kecuali jenis kelamin usia, atau status keluarga tokoh, misalnya sebagai bapak, ibu, anak, atau pemuda; dan (4) ada cerita yang tidak tuntas dituturkan informan dengan alasan karena pesan orang tua tidak boleh dituturkan.
Penelitian berhasil menjaring 50 judul sastra lisan Ekagi yang terdiri dari legenda, mite, dan dongeng. Ditemukan 15 nilai budaya, masing-masing (1) tanggung jawab dan kasih sayang orang tua; (2) kepahlawanan seseorang; (3) kesabaran, ketabahan, dan ketidakputusasaan; (4) kecerdikan; (5) pengobatan; (6) sikap sopan santun kepada sesama; (7) bersikap lapang dada; (8) menyantuni anak yatim piatu; (9) larangan mencuri; (10) tolong menolong dengan sesama makhluk Tuhan; (11) kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib; (12) ikhtiar dan kerja keras; (13) patuh kepada nasehat orang tua; (14) tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain; dan (15) tidak boleh malas.

Antologi Sastra Lisan Ekagi Paniai


Penulis :Dharmojo, dkk.
Subjek : Antologi Sastra
Jenis    : Laporan Penelitian
Tahun   : 1995 
Abstrak: 
Masyarakat Ekagi mendiami tujuh dari 17 kecamatan di Kabupaten Paniai, terletak di kawasan Teluk Cenderawasih, Papua. Kabupaten Paniai berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Yapen Waropen, di sebelah selatan dengan Kabupaten Fakfak, di sebelah timur dengan Kabupaten Jayawijaya, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Manokwari. Ketujuh kecamatan yang menjadi populasi lokasi penelitian adalah Kecamatan Paniai Timur, Paniai Barat, Agadide, Tigi, Kamu, Mapia, dan Kecamatan Uwapa.
Mengumpulkan sastra lisan Ekagi sebanyak-banyaknya perlu dilakukan mengingat sastra daerah mempunyai kedudukan dan fungsi penting sebagai penunjang perkembangan bahasa daerah dan sebagai pengungkap alam pikiran serta sikap dan nilai kebudayaan masyarakat pendukungnya. Selain itu, sastra lisan Ekagi masih dalam bentuk lisan, belum tertulis, dengan jumlah penutur yang semakin berkurang, yang dikhawatirkan jika dibiarkan berlarut-larut maka akan punah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendokumentasian dalam bentuk tulisan secara tuntas untuk tindakan penyelamatannya, sekaligus sebagai bahan penelitian selanjutnya. Selanjutnya sastra lisan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian mendeskripsikan latar belakang sosial budayanya, bahasanya, penutur ceritanya, dan tujuan bercerita. Antologi dilakukan khusus terhadap sastra lisan jenis prosa.
Antologi ini mengambil kerangka teori penelitian lapangan dari James Danandjaya; pendapat Andrew Lang, Mac Culloch, dan Hartland, bahwa sastra lisan merupakan lukisan perjuangan hidup dan pengalaman masyarakat lama; pendapat Thompson bahwa kebiasaan lama dan kepercayaan dari semua macam yang ditampilkan sastra lisan, perlu mendapat perhatian; dan sastra sebagai ide pengarang dapat sebagai pedoman bagi orang banyak, untuk memberi pikiran, membentuk norma, baik pada orang sezamannya maupun untuk mereka yang kelak menyusul, sebagaimana dikemukakan Robson.
Metode yang digunakan ialah deskriptif dengan teknik perekaman tuturan informan memakai tape recorder. Data tersebut ditranskripsikan dalam bahasa daerah Ekagi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas bantuan informan dengan menjaring data tentang deskripsi latar belakang sosial budaya sastra lisan yang meliputi sosial budya, bahasa, penutur cerita, dan tujuan bercerita. Pengumpulkan data ini dengan cara menyebarkan angket, wawancara terbuka, serta observasi untuk melengkapi data yang diperlukan.
Sastra Ekagi pernah dicatat dan didokumentasikan oleh misionaris Katholik, S. Hylkena OFM (1972) ke dalam bahasa daerah dan bahasa Belanda, namun tidak sampai tuntas, sedangkan penelitian serius belum pernah dilakukan orang lain. Kegiatan antologi ini berhasil mengumpulkan/mencatat dalam bahasa daerah Ekagi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 50 cerita rakyat Ekagi jenis legenda, mite, dan dongeng. Kemudian dapat diungkap pula bahwa sastra lisan Ekagi masih hidup dan dipergunakan masyarakatnya dalam upacara adat tertentu, mengisi waktu luang pada sore atau menjelang tidur, atau saat melepas lelah ketika bekerja siang hari.
Hambatan yang dihadapi ketika pengumpulan cerita rakyat Ekagi adalah (1) banyaknya ragam bahasa Ekagi yang dipergunakan informan sehingga ragu menentukan satu ragam tersebut; (2) penutur tidak selalu menyebutkan judul cerita dengan alasan yang penting isi atau nilai cerita;  (3) tokoh-tokoh dalam cerita itu umumnya tidak diberi nama, kecuali jenis kelamin usia, atau status keluarga tokoh, misalnya sebagai bapak, ibu, anak, atau pemuda.


Sumber Balai Bahasa Papua







Post a Comment