Rahim yang terkoyak - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Rahim yang terkoyak

Dari balik jalan-jalan yang terjal
Di celah-celah perbukitan yang menjulang
Kekasihku datang membawa segenggam matoa harapan

Dia juga membawa anggrek hitam
Dan aku menghirup aromanya
Menyeruak ke langit-langit dunia



Tak ingin kulepas sesaat saja
Biar semesta tahu bahwa kita di rahim abadi

Di lembah kekelaman
kami lalu berkisah tentang tanah air kami yang bermetamorfosis
Yang dulu hijaunya menyatu dengan langit dan lautan

Tapi dunia merebutnya jadi meranggas
Yang kayu-kayunya ditebang atas nama peradapan semu

Lalu cerita kami terhenti saat zaman menuntut kami agar bumi yang dulu apik direbut kembali
Atau setidaknya ditata menjadi dunia nyata seperti sediakala

Tapi suara kami ditelan eksavator
Nada-nada kami dibunuh gema sensor
Mulut kami dipasung rupiah dan bedil
Raga kami dibayang-bayang kegelapan
Sedangkan rahim kami terkoyak-koyak

Aku dan cintaku kembali bernazar seperti mazmur Daud dalam kitab suci
Kami bernyanyi bersama:
"Dari jurang yang dalam kami berseru-seru kepadaMu"

#19JN20
Print Friendly and PDF

Tentang : Nipidia

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: