Penemuan Taupita sebagai permainan tertua Tonga - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Penemuan Taupita sebagai permainan tertua Tonga

Oleh David Burley dan Sean Connaughton

ist


Ada momen-momen langka dalam suatu proyek arkeologi ketika, tanpa diharapkan, suatu peristiwa atau penemuan terjadi dan membawa wawasan yang luar biasa tentang masa lalu, atau masa lalu yang terhubung dengan masa kini melalui cara yang sangat mencengangkan. Keduanya terjadi pada akhir Juli 2007, ketika kita melakukan ekskavasi arkeologis di Desa Nukuleka di pintu masuk timur laut Laguna Fanga ‘Uta di Tonga.
Tulisan ini adalah dokumentasi sebuah permainan cangkang kerang, Taupita, tetapi permainan cangkang kerang, seperti yang kita temui, memiliki sejarah yang hampir 3.000 tahun usianya. Kisah ini juga merupakan cerita yang menghubungkan leluhur paling tua di Tonga, orang-orang Lapita, dengan orang-orang Desa Nukuleka saat ini.

Dalam artikel yang pernah diterbitkan di Matangi Tonga sebelumnya, mengenai orang-orang pertama di Tonga, telah dijabarkan banyaknya bukti yang menemukan Nukuleka sebagai desa pertama di Tonga. Hasil uji pertanggalan karbon dan Uranium–torium menunjukkan bahwa kedatangan orang pertama di Tonga terjadi pada 900 SM atau tidak lama setelah itu.

Penduduk pertama di Tonga ini membawa serta semua keperluan hidup untuk menetap di pulau-pulau yang baru ditemukan, termasuk ekonomi lokal yang memadukan ubi talas dan jenis tanaman pertanian lainnya dengan memancing dan menangkap ikan dan kerang-kerangan dari terumbu karang. Bukti adanya sistem ini di Nukuleka tidak mungkin bisa dilewatkan. Endapan tebal limbah zaman itu, termasuk cangkang kerang, tulang ikan, pecahan keramik, dan artefak lainnya tercampur dalam sedimen yang kaya bahan organik. Endapan ini adalah tanah untuk kebun-kebun di Nukuleka saat ini.
Ekskavasi arkeologi di Nukuleka dilakukan pada awal 1960-an, dengan beberapa proyek tambahan dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Dari upaya ini, spesies Bivalvia, kerang Anadara antiquata (dikenal oleh orang lokal sebagai kaloa’a) ditemukan berlimpah dan merupakan sumber makanan utama bagi penghuni pertama Tonga. Meskipun populasi spesies ini telah berkurang, ia masih terus menjadi makanan yang dihargai, dijual di pasar ikan Nuku’alofa dan biasanya disajikan di pesta-pesta makan atau sebagai bagian dari santapan Minggu.

Pentingnya Anadara untuk orang Tonga pertama melampaui sekadar konsumsi dan bagian dari makanan sehari-hari. Dengan sedikit modifikasi pada bibir cangkang, setiap cangkang dapat digunakan sebagai alat untuk mengupas talas, kulit kayu, atau untuk digunakan dalam mengerik bahan lain. Alat ini adalah salah satu artefak paling banyak ditemukan di situs-situs arkeologi Tongatapu.

Penggalian kita menemukan kategori artefak kerang Anadara lainnya, penggunaannya tidak kelihatan sebagai alat pengupas atau pengerik. Puncak setiap cangkang Anadara ditutupi oleh tonjolan, disebut sebagai umbo. Dari spesimen yang ditemukan di Nukuleka, dan beberapa situs lainnya di Laguna Fanga ’Uta, sejumlah besar cangkang Anadara sudah hilang umbo-nya, meninggalkan lubang di mana ia seharusnya ada. Kita berasumsi bolongan ini ada untuk merangkai atau menempelkan cangkang, kemungkinan besar sebagai pemberat untuk beberapa jenis jaring saat menangkap ikan. Penggunaan ini diilustrasikan oleh foto-foto yang menunjukkan jaring ikan 1950-an dari Kaledonia Baru. Penangkapan ikan menggunakan jaring di Nukuleka pada 2007 masih umum untuk menangkap ikan dalam jumlah besar di desa itu. Tapi rasa skeptis itu masih bertahan. Jumlah cangkang ini tampak jauh melebihi yang diperlukan untuk pemberat jaring. Dan mereka juga sering ditemukan di tumpukan sampah rumah tangga, keberadaan ini sulit dijelaskan.

Selang proyek ekskavasi kita pada 2007 di Nukuleka, hampir semua pekerja yang kita libatkan berasal dari desa lokal. Ini adalah sekelompok laki-laki yang baik dan giat, dan yang tertarik pada proyek kita dan apa yang kita temukan. Hari kerja biasanya termasuk istirahat untuk minum teh dan makan siang, dimana kru kita bermain catur atau kartu.

Namun, ada permainan lain yang dilakukan oleh kelompok laki-laki ini jika papan catur mereka sedang digunakan atau kartu-kartu ketinggalan di rumah. Ini adalah Taupita, yang mereka sebut sebagai ‘perang menggunakan cangkang kerang’. Tapi tidak semua jenis kerang bisa digunakan, cangkang kerang Anadara antiquata yang diambil dari hasil penggalian yang telah kita kumpulkan dari lokasi itu yang digunakan.

Permainan taupita melibatkan dua pemain yang duduk berhadapan, masing-masing memiliki jumlah cangkang kerang Anadara yang sama ketika permainan dimulai. Saat permainan start, pemain pertama memegang mulut cangkang Anadara dengan sisi dalamnya menghadap ke atas. Kerang lawan diletakkan di atas tanah dengan sisi dalamnya menghadap ke bawah. Menggunakan kekuatan sekeras mungkin, dan umbo (tonjolan cangkang) sebagai palu, pemain menyerang ke bawah, ke umbo cangkang yang tetap di permukaan tanah. Jika cangkangnya rusak, cangkang berikutnya diletakkan dan pemain itu berlanjut. Jika cangkang tidak pecah, atau cangkang pemain pertama retak, sang lawan lalu menjadi pemain.

Taupita adalah permainan antardua orang yang cepat dan bolak-balik, dengan semangat yang sama seperti bermain kartu atau catur. Pemenangnya dinyatakan saat cangkang pemain lainnya habis. Meskipun permainan itu menghibur, menarik, dan cukup tak terduga, itu hanyalah produk sampingannya. Sisanya adalah tumpukan sampah cangkang yang rusak, tetapi ada beberapa cangkang Anadara hilang umbo-nya. Cangkang ini sama dengan yang kita gali dari situs kita, dan yang kita tafsirkan awalnya sebagai pemberat jaring.

Kita diberitahu oleh para kru bahwa Taupita adalah permainan yang populer di Nukuleka. Cangkang kerang dapat dengan mudah dikumpulkan di tepian pantai, dan siapa pun bisa bermain, meskipun ia paling sering dimainkan oleh anak muda. Kita mencatat peraturannya dan meminta pekerja kita untuk memainkan permainan dengan cangkang yang baru, bukan artefak yang diambil dari situs kita. Hasilnya tetap sama. Kita memeriksa kembali koleksi dari permukiman awal lainnya di laguna yang sama dan menemukan bukti adanya taupita di Ha’ateiho dan Pea. Kita lalu menyurvei sebanyak mungkin orang di luar Desa Nukuleka, mencari pengetahuan lain tentang permainan ini atau sejarahnya. Dalam hal ini kita gagal, permainan itu tampaknya hanya populer di Nukuleka saja.

Dengan proyek 2007 di belakang kita, kita bisa mengidentifikasi banyak penemuan penting dari penggalian itu, termasuk dokumentasi zaman dahulu yang cukup besar di Nukuleka. Tapi tidak ada yang lebih unik daripada taupita. Penelitian ini, secara kebetulan, menemukan sebuah permainan yang memiliki sejarah 3.000 tahun, yang juga adalah implikasi penting dalam interpretasi arkeologis. Pada saat yang sama, semuanya tampak unik. Dengan cara yang hampir terlalu mistis, kita telah menjadi saksi suatu hubungan dari Nukuleka di masa lalu dengan Nukuleka di masa kini. Di tempat yang sama, dan mungkin karena alasan yang sama, kru kita dan leluhur mereka orang-orang Lapita telah memainkan taupita. Arkeolog jarang mengalami hal-hal seperti ini. (Matangi Tonga)

David V. Burley adalah profesor arkeologi di Simon Fraser University di Kanada. Dia pernah melakukan penelitian arkeologis di Tonga. Sean Connaughton bekerja sebagai konsultan arkeologi di Vancouver.



Editor: Kristianto Galuwo

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: