“Cinta Mama Tak Pernah Pudar” - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

“Cinta Mama Tak Pernah Pudar”

Oleh: Roberthus  Yewen

Foto : Travel Tempo.co 

 
Setiap orang pasti bangga, karena dilahirkan oleh seorang wanita yang hebat. Begitupun saya adalah anak laki-laki yang paling beruntung, karena dilahirkan dari rahim seorang wanita pekerja keras dan tak pernah menyerah, untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan semangat keibuan yang tertanam dan terpatri di dalam hidup mama saya.

Saya lahir dan dibesar disebuah kampung bernama “Lembah Kebar” pada 29 tahun yang silam atau tepatnya pada tanggal 4 Juli 1990. Saya adalah anak kedua dari tiga orang bersaudara. Saya menghabiskan masa kecil dan sekolah dasar (SD) di Lembah Kebar. Setelah itu bersama keluarga pindah ke Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat.

Mama pernah cerita kepada saya bahwa sejak masih berusia 3 tahun, saya pernah mengalami kesakitan yang cukup parah dan pernah dirawat di rumah sakit. Saat itu nafas saya sempat berhenti beberapa menit. Waktu itu yang jaga saya adalah mama. Setelah melihat saya sudah terkapar dan tak berdaya, maka kemudian mengeluarkan air mata dan dengan spontan dia berdoa kepada Tuhan katanya “Tuhan dosa apa yang saya perbuat, sehingga anak saya yang menanggungnya. Jangan ambil dia daripadaku, tetapi sembuhkanlah dia”. Doa yang tulus dan penuh cinta ini menjadi obat yang membuat saya sembuh hingga saat ini.

Ketulusan doa dari seorang mama buat anak-anaknya selalu menjadi kisah tersendiri bagi setiap anak, terutama anak laki-laki. Karena seorang anak laki-laki itu memang cinta pertamanya adalah mamanya.  Oleh karena itu, seorang anak laki-laki selalu lebih dekat dengan mamanya, dibandingkan dengan ayahnya. Hal inilah yang saya rasakan, karena di dalam keluarga,  saya dan adik bungsu, kami berdua saja yang laki-laki, sehingga kami begitu dekat sama mama dan cinta mama kepada kami berdua lebih besar.

Setelah kami pindah sekolah di Manokwari, ayah saya adalah seorang PNS yang bekerja di kampung, sehingga kami jarang bertemu. Kehidupan saya sejak SD, SMP, dan SMA, serta kuliah lebih banyak saya habiskan bersama-sama dengan mama, sebab mama setiap hari bersama-sama dengan kami. Bagi saya mama adalah pahlawan yang sangat luar biasa dalam kehidupan saya secara pribadi.

Untuk membiayai sekolah anak-anaknya setiap hari, khususnya saya, mama harus berjualan setiap hari di pasar. Mama tak pernah mengenal panas, hujan, siang, bahkan malam. Mama menghabiskan hidupnya di pasar, untuk kebahagian dan kesuksesan anak-anaknya di kemudian hari. Inilah yang saya lihat dari mama sejak menyekolahkan kami dari bangku SD hingga menyelesaikan studi di jenjang paling tinggi.

Sebagai anak laki-laki kami pernah melawan, bahkan tak sedikit nasehatnya mama yang tidak kita turuti, namun mama tak pernah bosan, apalagi mengeluarkan kata-kata kekecewaan dalam dirinya terhadap kami anak-anaknya. Mama dengan tenang membina dan mendidik kami bertiga, sehingga kelak menjadi anak yang berguna bagi sesama. Bagi mama kebahagiaan anak-anaknya jauh lebih penting dari kehidupannya. Justru itu, tak heran jika mama selalu dinobatkan sebagai pahlawan tanpa jasa.

Setelah menyelesaikan SMA tahun 2009, maka saya kemudian melanjutkan kuliah di salah satu universitas terbesar dan pertama di Provinsi Papua. Saya adalah anak kedua yang pertama kuliah, karena kakak saya berhenti di SMA dan tidak melanjutkan studi, sehingga saya yang berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Sejak kuliah, mama saya tak pernah berhenti, untuk mendulang rupiah dengan tangan dan keringatnya sendiri di pasar. Mama berjualan dari pagi hingga malam setiap hari hanya untuk membiayai kuliah saya.

Sejak memasuki semester lima, saya harus kehilangan orang yang kita cintai dan sayangi, yaitu ayah saya. Sejak ayah saya meninggalkan kami bersama-sama dengan mama, tentu sesuatu yang sulit, apalagi mama harus memainkan dua fungsi sekaligus, baik sebagai seorang mama, tetapi juga berperan sebagai seorang ayah. Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh mama waktu itu, tetapi tentu dia (mama) pasti memikirkan kondisi anak-anaknya dan lebih daripada itu adalah kebahagiaan anak-anaknya kedepan. Sebagai serang anak saya berpikir bahwa Tuhan tidak adil, karena mama kini harus memainkan peran sebagai seorang ayah dalam membiayai kehidupan kami, terutama pendidikan dan masa depan saya dan adik saya yang waktu itu masih SMA.

Keluh-kesah itu teryata saya tak pernah melihat sedikitpun dari raut wajah mama. Karena mama selalu menyimpan semua rahasia dalam hidupnya, untuk kebahagiaan orang-orang yang dia cintai, terutama kebahagiaan anak-anaknya. Mama kini harus bekerja lebih keras lagi, untuk membiayai studi saya yang waktu itu sudah dipertengahan jalan. Semangat mama dan cintanya dalam membiayai studi saya di perguruan tinggi sangat luar biasa.

Mama bekerja keras mengeluarkan keringatnya di pasar, hanya untuk membiayai studi saya. Mama bahkan harus mengali lubang dan menutup lubang atau meminjam dan menutup pinjaman hanya untuk membiayai uang semester dan uang sekolah adik saya. Namun lagi-lagi, semua itu mama tanggung sendiri dan tak pernah sedikitpun mengeluh atas seluruh jerih payah dan perjuangan hidupnya untuk saya meraih gelar sarjana. Kerja keras perannya yang sangat luar biasa teryata tidak sia-sia, karena saya berhasil menyelesaikan studi sarjana dengan nilai IPK yang sangat memuaskan.

Kebahagiaan dari raut wajahnya terlihat, saat berdiri disamping anaknya yang kini memakai toga di kepala. Rasa haru bercampur bahagia terukir dari senyum kebahagiaan yang dilontarkan waktu itu. Mama bahagia dan bangga, karena saya bisa membuatnya bangga, walaupun belum membalas seluruh perjuangan hidupnya untuk saya dan adik saya. Setidaknya toga yang saya pakai telah menghapus sebagian dari keringat dan perjuangan hidupnya selama ini, untuk memainkan peran sebagai seorang ayah, tetapi juga sebagai orang mama.

Kebahagiaan yang telah saya persembahkan untuk dirinya (mama) teryata hanya sebentar saja, sebab mimpi mama melihat saya untuk bekerja dan bisa memberikan uang hasil keringat saya kepadanya teryata tidak terwujud. Tuhan berkendak lain, karena berselang beberapa bulan kemudian mama kemudian jatuh sakit. Mama harus keluar masuk rumah sakit untuk berobat.

Saat mama sakit adik saya baru selesai SMA dan melanjutkan kuliah di salah satu universitas terbesar di Malang Jawa Timur. Sementara saya selesai lulus kuliah masih berada di Jayapura,

Kesakitan yang diderita oleh mama membuat Tuhan harus memanggilnya untuk selama-lamanya. Kepergian mama menyimpan duka yang sangat mendalam  bagi saya dan adik saya, karena saat-saat terakhir menghembuskan nafas dan mengantarkannya  dalam peristirahatan yang terakhir kali kami berdua tidak berada di samping mama. Walaupun kami tidak berada di sampingnya untuk yang terakhir kalinya, tetapi kami yakin bahwa cinta dan sayangnya tak pernah pudar, bahkan hingga saat ini kami masih merasakan kehadiran mama dalam kehidupan kami, walaupun secara fisik malaikat tanpa sayap yang kami miliki selama ini telah tiada untuk selama-selamanya.

Kini mama telah tiada, namun cinta dan perjuangan hidupnya selama ini, terutama menjadi sosok ayah dan menjadi mama telah saya lanjutkan, sebab itulah amanah yang mama berikan sebelum menutup mata untuk yang terakhir kalinya. Saya harus mengantikan perannya untuk menjadi mama dan ayah, sekaligus menjadi kakak dalam melanjutkan semangat perjuangannya, untuk tetap membiayai perkuliahan adik saya.

Terima kasih untuk mama atas segala nasehat dan perjuangan hidupmu. Mama memang sudah tidak ada lagi, tetapi nasehat-nasehatmu dan perjuangan yang telah kami ajarkan kepada saya akan terus saya lanjutkan. Walaupun mungkin tidak akan sehebat mama, tetapi saya akan terus berjuang dan berusaha untuk menjadi kakak yang baik, sekaligus juga mengantikan peran sebagai mama dan ayah bagi keluarga.

Mama adalah pahlawan dalam hidup saya. Kamu telah mengajari banyak hal untuk saya sebagai anakmu, semoga setiap untaikan katamu dan perbuatanmu yang telah mama lakukan akan kami lanjutkan dalam kehidupan kami hari lepas hari. (*).


Penulis Adalah Wartawan Cenderawasih Pos dan Anggota Komunitas Sastra Papua (Ko-SAPA)


Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: