Gema Sastra dari Lampung Untuk Papua - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Gema Sastra dari Lampung Untuk Papua

Musa Heri Marisan di acara
Baca Puisi (Boleh Orasi) Save Papua Love Papua
di Bandarlampung 3/9/2019. Foto:

www.jp-news.id


Ko’Sapa,-Konfik yang terjadi di Papua membuat banyak masyarakat di Indonesia prihatin, di Lampung Muchlas E Bastari politisi PKS mengagas acara yang bertajuk “Baca Puisi (Boleh Orasi) Save Papua Love Papua”. Acara ini di gelar di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS (LSIS), Tanjungsenang, Bandarlampung 3/9/2019.

Sejumlah puisi bertema Papua sudah disiapkan, baik dari penyair Lampung maupun sumbangan dua penyair dari Ambon. Rudi Fofid dikenal sapaan Opa menymbangkan dua puisi salah satunya berjudul Tong Punya Koteka, selain itu ada pula Eko Poceratu yang juga menyumbang dua puisi.

"Sampaikan salam dari Maluku dan Papua. Acara baca puisi inilah yang membuat Papua tetap merasa menjadi Indonesia. Makin banyak rakyat yang mati di tangan kekuasaan, makin suburlah semangat untuk merdeka," kata Rudi Fofid seraya berharap masalah Papua segera kondusif (www.jp-news.id).

Muchlas E Bastari sebagai penggagas kegiatan berharap kegiatan ini menjadi momentum bersatunya rakyat dan bangsa Indonesia, “Kalau Papua tersakiti kita ikut sama merasakan. Mudahan–mudahan Papua tetap menjadi bagian dari NKRI, dan konflik dapat segera terselesaikan. Kerusuhan tidak akan menyelesaikan masalah, sama-sama akan hancurkan. Acara ini bagian dari kecintaan kita sebagai bangsa kepada saudara-saudara di Papua,” jelasnya.

Semarak acara yang meriah dihadiri oleh Musa Heri Marisan, salah satu mahasiswa Papua yang kuliah di Universitas Lampung (Unila) Fakultas Ekonomi, kepada www.jp-news.id ia mengatakan, “Ada banyak orang yang bilang, kalau kita di Papua itu punya Freeport, minyak, dan lainnya. Kita hidup di atas emas, faktanya kita hidup saja sudah susah. Karena itu, kejadian kemarin sangat sakit bagi kita”,

Karena itu, Musa terkesan dengan kepedulian masyarakat Lampung akan Papua. Tak ada perbedaan rambut, warna kulit, suku, dan ras.

Sementara itu Erika Novalia Sani politisi Nasdem membaca puisi Tong Punya Koteka karya Rudi Folid dan Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri.

Sa punya kekasih ada di mana
dia punya air mata jadi emas
atau jadi panah dan peluru
o wayar, o aronggear, sa ingat
ko bilang ini bukan tanah kosong

Ko sudah lihat tong punya kulit to hitam sampe,
laksana malam hanya dengan mata jiwa,
ko tahu tong punya hati putih sampe
lebih putih dari salju Cartenz

Ko sudah lihat tong punya rambut to keriting sampe,
laksana pagar kawat durihanya dengan mata jiwa,
ko bisa tahu tong punya pikiran lurus sampe
lebih lurus dari garis ekuator


Ko dari mana saja, datang sudah
ko itu putih kah, ko itu hitam kah
ko itu kuning kah, ko itu abu-abu kah
datang saja, tong sumpah darah
sebab darah sama merah saja mo

Datang sudah, tong tinggal sama-sama biar cuma di honai-honai sederhana asal tong punya cinta ini merdeka asal ko suka makan bakar batu asal ko suka dengar tong punya mop

Kalau ko datang, tong yospan
tong ajak ko makan pinang
tong bilang ko petik emas
tong antar ko mandi lintah
tong bungkus ko dengan daun

Ko mau noken? ambil!
ko mau anak panah? bawa saja!
ko mau bintang kejora? terserah
tong sumpit cendrawasih tanpa bikin luka asal ko baik, sa baik, tong semua baik

Ko boleh putus pusa di sini
ko boleh putus nafas di sini
ko bisa goyang dalam lingkaran
ko bisa menari kasuari
ingat, ini bukan rimba tak bertuan

ko bisa tarik tong punya busur
untuk tong semua punya nama
ko bisa lepas tong punya anak panah
untuk tong semua punya mimpi
asal jangan lukai kepercayaan

Ko bisa semua-semua, bisa apa saja
satu-satunya yang tidak bisa ko injak
ádalah tong punya koteka-koteka
sebab di dalam rahasia koteka
ada harga yang lebih mahal dari emas

Ko musti tanam di ko punya isi kepala bahwa tong bukan ko punya ayam potong tong ini burung yang terus berdiri sondor tidur sepanjang umur tong lihat semua, tong dengar semua
Ko perlu banyak meditasi di arfak

lalu tumbuhkan di ko punya pikiran
burung surga hanya menari di tanah surga maka pukullah tifa di tepi mamberamoair mengalir dari tigris dan eufrat, itu sudah said parentah,
(30 Agustus 2019)

Pehujung acara ditutup oleh pengampu Lamban sastra Isbaidy, Zs mengucapkan banyak terima kasih kepada wakil rakyat yang hadir, dan segenap insan Pers yang hadir termasuk Musa mahasiswa Papua di Lampung.

Isbedy menegaskan, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya akan membuat kita hancur sebagai bangsa. Dia mencontohkan Timor Timur, Aceh, dan lainnya. Pada era Orde Baru, ia berkisah, pernah menulis puisi “Negeri Sepatu” dengan bait terakhir berbunyi: ‘kini kubayangkan/ tak lagi kudengar derap sepatu/ juga aum serdadu’.

“Kami mencintai Papua dan tak ingin Papua memilih jalan sendiri. Untuk itu, kegiatan ini diharapkan dapat menyentuh seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya Isbedy Stiawan ZS menutup acara malam itu.

Dirangkum dari berbagai sumber oleh Pace Ko’Sapa.









Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: