Degradasi Budaya Tambrauw Di Era Modern (2) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Degradasi Budaya Tambrauw Di Era Modern (2)

Oleh: Maximus Sedik

Masyarakat Tambraw - Ist

Sabungan.........


Ada empat dimensi utama yang menjadi perhatian melalui program pendidikan inisiasi yang diterapkan, yang pertama, pendidikan dan pelatihan fisik-mental, pendidikan dan pelatihan rohani secara adat, dan pendidikan dan pelatihan cara etos kerja yang baik maupun cara memimpin.

Ada pula melatih setiap orang untuk mampu mengingat dan memahami semua ajaran yang sudah dipelajari bersama berupa dogma adat.Yang disebut di atas sebagai suatu kurikulum  yang diterapkan dalam sistem pendidikan inisiasi, bagi pria dan wanita. Landasan ajaran inilah yang membentuk karakter dan kepribadian para pendidik. Dengan demikian hasil akhir yang dicapai melalui sistem pendidikan inisiasi ini adalah membentuk atau melahirkan para pemimpin masyarakat yang sungguh-sungguh bermutu atau berkualitas dalam segala tindakan.

Melalui tahap teoritis sebagaimana disebutkan di atas seorang pria dan wanita, diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan bagi masyarakat. Dengan demikian mereka secara bertanggung jawab dan berpartisipasi secara penuh untuk turut membengun masyarakat. Dalam sistem pendidikan ini dibentuk secara karakter maupun tindakan sosial dalam pergaulan antara sesama dalam kehidupan.

Dunia berpikir orang Tambrauw dan orang Papua pada masa lampau sama dengan cara berpikir manusia modern, sehingga untuk mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, harus seseorang itu secara sungguh-sungguh dibekali dari sebuah lembaga pendidikan tertentu. Sehingga semuanya, terjawab dan berjalan sesuai dengan orientasi kehidupan sosial yang membaik. Cara ini berbeda pada orientasi penerapannya yang dicapai oleh lembaga yang bersangkutan. Nilai-nilai yang dikedepankan disini adalah menjaga keharmonisan yang baik antara, sesama dalam kehidupan masyarakat. Hubungan yang dibangun antara keutuhan dan kesatuan antara manusia dengan alam, dan sebaliknya alam dengan manusia. Pada masa ini manusia sangat menghargai alam yang sangat ketat, karena alam bukan hanya memberikan nilai ekonomis saja tetapi alam juga sebagai spiritual/rohani, kekuatan kesehatan, energi gizi, kekuatan ilahi, dan kekuatan keindahan.

Orang Papua menerima kontak dengan orang luar dan budaya luar yang berawal mula, zaman ekspedisi bangsa-bangsa Eropa untuk menemukan benua baru yaitu, orang –orang  Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman. Kita orang Tambrauw berhubung dengan dunia luar melalui para misionaris baik Katolik maupun Protestan.

Awalnya, para zending protestan masuk berawal mula di wilayah pesisir, katolik mengikuti dan lebih wilaya pegunungan Tambrauw. Dalam perkembangan ini juga diikutsertakan dalam penyebaran Agama oleh para misionaris maupun para pendeta.

Penyebaran ini meliputi wilayah pegunungan dan pesisir pantai, para pendeta menguasai wilayah pesisir pantai, sedangkan para misionaris katolik menguasai wilayah pegunungan dan dataran rendah sebagian. Orang Papua menerima agama modern sebagai suatu pencerahan baru dalam pribadi masyarakat secara keseluruhan. Setiap suku bangsa mendiami tempatnya masing-masing dan memiliki anekaragaman budaya juga berbeda-beda. Dan kita orang Tambrauw juga bagian yang terlibat secara langsung dengan ini. Sumber-sumber lain menjelaskan secara singkat bagaimana orang Tambrauw berkontak dengan dunia modern terutama agama (katolik dan Protestan).

Masa depan orang Tambrauw, terutama masa depan budaya, adat istiadat, kearifan lokal, bahasa dan seluruh sel-sel hidup yang membentuk kehidupan.Menjadi perhatian kita semua, dan itu disesuaikan kondisi hidup orang Tambrauw hari ini, melalui perkembangan dan perubahan bergerak seperti jarum jam.

Seharusnya, kita tidak boleh meninggalkan adat itu karena akibat dari pembangunan maupun perubahan mendasar berkait. Tugas kita bukan wacana belaka tetapi ada satu konsep yang baik untuk menentukan masa depan adat orang Tambrauw. Seperti, kearifan lokal, arsitektur bangunan rumah, pendidikan adat, sistem belis, barter barang, cara bertani dan hal-hal yang menjadi kebiasaan hidup orang Tambrauw.

Seluruh hutan dan tanah di Tambrauw juga bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Tambrauw. Hutan adalah tempat yang menyimpan berbagai hal seperti nilai-nilai adat itu sendiri. 

Masa atau waktu menurut filsuf M.Buber dan St. Agustinus, menurut kedua filsuf pada hakikatnya watu tidak memiliki waktu lalu dan waktu akan datang. Waktu pada dasarnya pada saat ini atau hari ini. Benteng waktu ini ada di dalam ide atau pikiran dan hati manusia. Ketika manusia memulai suatu ide atau suatu aksi maka pada saat itu atau pada hari itu ia sedang mengkonstruksi sesuatu yang berlanjut pada hari ini, hari ini, sehingga menjadi memori atau kenangan,  yang disebut sejarah dan menjadi cita-cita ke depan adalah harapan.

Menurut kedua filsuf di atas ketika kita memulai suatu karya berarti kita sedang membangun suatu nilai sebagai suatu kekekalan waktu. Karena nilai dan waktu adalah bagian dari kekekalan itu sendiri, yang oleh orang beriman menyebutnya Allah. Berpedoman pada pandangan tentang makna atau arti waktu menurut kedua filsuf mendorong kita untuk melihat kembali  posisi kita saat ini sebagaimana telah saya uraikan pada bagian kedua yaitu kehidupan orang Tambrauw yang saya uraikan di atas. 

Bagaimana kita saat ini, khususnya sebagai generasi muda yang mampu mengkonstruksikan kembali kepribadian kita, sehingga lebih tangguh dan lebih utuh serta lebih berkualitas mampu membangun masa depan Tambrauw maupun Papua secara umum yang lebih baik? Tanpa meninggalkan yang menjadi dan memformulasikan diri kita.

Menurut saya pada saat ini,pada hari inilah kita sebagai generasi penerus Tambrauw harus memulai sesuatu harus sungguh-sungguh belajar, sungguh berjuang dan kerja keras, mulai memberi diri untuk dibentuk, dibimbing, dan diarahkan orang lain melalui sistem pendidikan yang kita tempuh  pada saat ini. Kita harus memanfaatkan ruang , waktu, tempat dan kesempatan untuk membangun landasan kokoh  dalam pribadi kita.

Mulai hari ini, saat ini tinggalkan segala hal yang bersifat negatif dan hilangkan segala hal yang bersifat  destruktif( yang merusak diri sendiri dan sesama) dan membangun sikap dan sifat yang konstruktif( yang membangun diri sendiri dan sesama). Mulai hari ini, saat ini merubah segala mentalitas yang merusak dan merugikan sesama maupun diri sendiri, dan terapkan sesuatu yang baik dalam pribadi kita.

Tambrauw yang akan datang  hanya ditentukan oleh kita yang saat ini, hari ini apakah baik atau buruknya Tambrauw tergantung pada kita semua dan komitmen yang jelas. Bagaimana kita orang Tambrauw membangun tanah Tambrauw tetapi tidak merusak, apa yang dimilikinya baik itu budaya, suku, bahasa, ras, agama, dan alam leluhur kita yang diakui dunia?. Tambrauw menjadi ikon dunia bukan saja dari keindahan alamnya, tetapi budaya atau adat-istiadat juga sebagai bagian yang penting untuk dilestarikan. Dilestarikan bukan karena dibentuk oleh lembaga formal dari institusi pemerintah tetapi itu, dilestarikan karena bagian dari identitas dan spirit kehidupan orang Tambrauw.

Seluruh kehidupan di atas Tambrauw, terutama kehidupan yang sebelum kehidupan modern ada. Kehidupan ini, menjadi bagian yang sangat penting dan fundamen dalam setiap  diri orang Tambrauw. Kita sebagai pewaris dan penerusnya, memiliki kewajiban untuk melestarikan dan merawat sehingga itu tetap ada dan hidup dalam diri orang Tambrauw. zaman ini, menantang kita semua untuk berlomba-lomba untuk bersaing  mencapainya sesuai dengan perubahan zaman.

Perubahan itu mengubah cara berpikir seseorang atau suatu tatanan kelompok masyarakat. Perubahan tidak menuntut orang untuk melupakan diri dalam wujud tertentu (budaya). Kita hidup dalam suatu perubahan dunia melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dan ini dimbangi dengan pembentukan karakter setiap insan yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Setiap orang disebut sebagai manusia yang berakal dan berbudaya, itu dilihat beberapa dimensi seperti karakter dan kebiasaan yang berkembang dalam individu maupun kelompok itu. 

Kehidupan dalam zaman yang memaksa setiap individu  dan kelompok untuk bergerak dan menyesuaikan diri dalam dimensi perubahan itu. Hal seperti bukan sekedar wacana tetapi ini, menjadi satu ruang diskursus untuk membangu ruang berpikir yang baik. Tujuannya untuk, memahami konspirasi yang dibangun dengan dalil perubahan pada kehidupan dengan indeks kelompok kapitalis. Apabila kita tidak mampu untuk memahami, kita dikonstruksikan ke dalam narasi maupun argumentasi yang ini.

Dan sering kita selalu mangkrak dalam kerangka berpikir yang sehingga tidak mampu untuk membaca masalah yang membuat kita mati dalam berbagai konsep. Bahkan adat kita yang menjadi warisan leluhur kita itu ditinggalkan bahwa memandang bahwa itu kuno.

Kekurangan pemahaman yang baik membuat kita mendewakan apa yang disampaikan oleh orang lain dengan suatu misi tertentu. Dengan ini, maka kita menganggap seluruh kehidupan terutama kehidupan budaya atau adat kita mengalami suatu degradasi bahkan punah dengan sendirinya. Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat tetapi kita tetap membangun apa yang menjadi kebiasaan kita.




Penulis adalah Mahasiswa Tambrauw, Kuliah di Yogyakarta Universitas Kaki Abu. Penulis juga sebagai seorang pemulung tinta di beberapa media.  

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: