Menyelamatkan Sastra Lisan Menjadi Tulisan dan Festival Sastra Papua, harus ka ? - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Menyelamatkan Sastra Lisan Menjadi Tulisan dan Festival Sastra Papua, harus ka ?

Reporter : Pace Ko'Sapa
Editor : - 

Pegiat Sastra Papua Bastian Tebay (Depan) Alfrida Yamanop (Tengah) Agus Dogomo paling belakang - (Doc. Kosapa)

Numbay, Ko’Sapa – Pegiat Sastra Papua Alfrida Yamanop mengatakan, kegiatan Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta berbeda dengan festival sastra lainnya seperti Ubud Writers. Kegitan ini lebih kepada para pelaku seni khususnya sastra Jawa dan sastra Indonesia. Sekaligus bagaimana upaya pengembangan sastra lisan ke tulisan di Tanah Papua.

“Begitulah makna yang bisa saya petik setelah mengikuti kegiatan Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta. Kegitan ini sangat memotivasi kami untuk terus menulis dan mengembangkan sastra di Tanah Papua,” katanya kepada Sastra Papua, Jumat, (4/9/2019).

Alfrida mengatakan, kalau peserta dari Papua selalu mendapat perhatian. Itu karena memang penulis dari Papua kurang. “Tetapi sebenarnya bukan dari Papua saja, namun di berbagai daerah seperti Sumatera dan Kalimantan, juga mengalami nasib yang sama dengan Papua” katanya.

Dosen Fakultas Ekonomi itu mengatakan, tujuannya dari kegiatan tersebut adalah bagaiamana pengembangan sastra yang berperan dalam sastra lokal untuk mendukung sastra nasional.

“Sehingga misi untuk menulis produk sastra lokal seperti di Tanah Papua itu menjadi sangat penting. Maka harus ada event-event untuk melahirkan penulis-penulis muda dari Tanah Papua,” katanya.

Lanjut Alfrida Yamanop, hal yang bisa dipetik maknanya dan dipelajari dalam kegiatan Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta pertama informasi tentang perkembangan sastra di Indonesia dan global. Selain itu peserta juga menambah jejaring dalam dunia penulisan khususnya bidang sastra.

“Sebab saat di Jogja kami bertemu dengan banyak penulis yang sudah punya nama besar dan mereka memunyai penerbit tersendiri,” katanya.

Kata Alfrida Yamanop, dalam seminar yang dipaparkan oleh Eka Kurniawan menyatakan bahwa, penulis-penulis dari Papua perlu dilihat dan karya-karya mereka perlu diapresiasi untuk diterbitkan oleh penerbit khususnya yang berada di Jogja.

“Sebab banyak penulis-penulis khusunya bidang sastra yang bermunculan,” imbuhnya.

Alfrida menimpali pernyataannya tersebut dengan bahwa, selama ini dirinya berpendapat bahwa.  Untuk ‘kasus’ Papua kita tidak perlu pikir kualitas dulu, tetapi kuantitas saja dulu.

“Kuantitas ini maksudnya semangat untuk menulis dulu baru nanti ada perbaikannya bersama. Saya juga menyampaikan bahwa tidak mau karya (kami) diterbitkan hanya karena kasihan atau dari Papua. Tetapi Papua perlu didukung untuk kegiatan-kegiatan literasi yang akan kendukung lahirnya penulis-penulis dengan karya-karya yang layak dan pantas untuk diterbitkan,”tegasnya.

Penulis Novel Lembahyung Senja itu mengatakan, setelah pendapat itu dikemukakan peserta dan pemateri setuju dengan apa diusulkan. “Mereka mendukung proses "afirmasi" sastra bagi seluruh daerah di luar Jogja khususnya di Papua,” ungkapnya.

Kilas balik tentang, Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta

Alfrida Yomanop mengatakan, Joglitfest sangat penting bagi penulis sastra untuk dapat mengetahui perkembangan sastra juga membuka jejaring sosial dengan elemen-elemen yang bergelut di dunia sastra.

“Menurut saya tidak ada kerugian yang saya temukan dalam kegiatan ini bagi penulis. Malah sebaliknya, ini adalah bentuk penghargaan bagi para penulis khususnya penulis sastra,” katanya.

Perempuan kelahiran Mindiptana itu mengatakan, kegiatan Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta ini baru pertama kali diadakan di Yogyakarta.

Tetapi sebenarnya sudah banyak kegiatan festival seni lainnya yang sudah diadakan sejak lama di kota seni itu, termasuk event sastra. Kalau berkaitan dengan sastra, sebenarnya sudah sering diadakan oleh berbagai komunitas secara periodik.

“Joglitfest merupakan kegiatan kerjasama berbagai elemen yaitu pemerintah pusat, daerah, penerbitan dan penulis. Panitia melalui kurator dan pertimbangan tim ahli, memilih peserta aktif yang merupakan pelaku seni khususnya sastra dari berbagai daerah di wilayah di Indonesia,” katanya.

Alfrida Yamanop mengatakan, perwakiln dari Papua yang telah mengikuti  event Joglitfest atau Festival Sastra Yogyakarta tersebut yakni saya sendiri dan Gody (penulis ini berasal dari NTT dan saat ini mengajar di Keerom).

“Semua biaya peserta ditanggung oleh panitia (dalam hal ini juga negara) baik tiket dan akomodasi dari tanggal 27-30 September 2019,” katanya.

Harus ada festival sastra di Papua

Sementara itu Pegiat Sastra Lainnya, Bastian Tebay mengatakan, sudah seharusnya di Jayapura harus bikin Festival Sastra Papua. Untuk mengumpulkan pegiat sastra Papua dari berbagi tempat di Tanah Papua. 

“Dalam ivent tersebut,  mestinya di pamerkan buku-buku, ada Iven diskusi, pembacaan cerpen dan puisi, trus lebih ke saling kenal antar mereka, karya-karya mereka, dan apresiasi atas karya-karya yang ada dan memotivasi bagi yang mulai bangkit,” katanya.

Bastian Tebay mengatakan, dengan diadakannya festival pertama, festival sastra Papua akan jadi ajang pameran karya-karya sastra dari anak Papua untuk semakin dikenal. Dua, festival sastra Papua jadi ajang apresiasi sastra.

“Jadi dibahas, didiskusikan, dikritik, dst. Festival sastra Papua akan jadi ajang berkumpulnya sastrawan Papua yang diharapkan dapat berbagi pengalaman, ilmu, berbagi cerita, sehingga produktivitas karya sastra meningkat,” katanya.

Lanjut Bastian, Festival Sastra Papua bisa jadi wahana penguatan kelembagaan,koordinasi dan kerjasama, khususnya dalam hal kepengurusan, pemasaran, penerbitan, dst.

“Festival sastra Papua bisa jadi sarana tepat bagi masyarakat supaya semakin mengenal karya sastra anak Papua. Festival sastra Papua akan mendorong minat dan perhatian masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, sehingga bergabung menekuni dunia sastra. Mendorong minat baca publik. Delapan, festival Sastra Papua akan jadi sarana peningkatan mutu/kualitas karya,”katanya.

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: