Jika Mairi dan Udeido, Seharusnya Tidak Menyiksa ! (2) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Jika Mairi dan Udeido, Seharusnya Tidak Menyiksa ! (2)

Reporter : Manfred Kudiai 

Lukisan Karya Ina Woysiri - Ko'Sapa -Doc.

Sekali lagi, ini saya menulis berdasar pada  sudut pandang saya!

Di dunia tulis-menulis, bagi penulis menentukan judul sebelum menulis, tetapi bagi pembaca menentukan judul setelah membaca. Hal ini juga menurut saya  berlaku di seni rupa. Jadi suka-suka saya, menilai pemeran ini dengan sudut pandang saya.

Bagian ini, saya tidak pedulikan penjelaskan-penjelasan dari pihak mana pun, termasuk para seniman-seniman muda Papua yang karyanya dipamerkan secara publik itu. Dan ini adalah bagian terakhir dari tulisan saya tentang PAMERAN MAIRI.

Selain mengkat pluralisme problematik di Papua, melalui seni rupa, di sini saya menemukan sudut pandang saya yang mungkin tidak diperhatikan oleh pengjung lain. Pada hari pertama, saya seperti orang bego. Yang kerjanya ikut-ikutan menemukan makna dibalik seni rupa yang dipamerkan oleh kelompok Seni Rupa Udeido tersebut setelahnya saya pulang tidak membawa kasan apa-apa kecuali mengangumi  karya-karya mereka.

Selang satu hari istirahat, dan kembali ke dua kalinya di Sangkring Art Project, saya dijemput dengan suasana hening. Dan dalam keheningan itulah saya membaca satu per satu setiap karya yang terpasang indah itu.

Dalam keheningan itulah saya menemukan jawaban. Jawabannya adalah ketika saya menemukan sebuah kesan tersembunyi yang terletak pada urutan peletakan karya-karya seni rupa tersebut dan mengatakan ini persis dengan perhentian-perhetian, yang saya membanginya terdapat 24 perhentian. Setiap perhentian memiliki ceritanya sendiri, yaitu setiap arti dari karya-karya seni rupa yang terpasang itu. Dan ini menurut saya, telah menemukan sebuah jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang masih membelenggu sejak pertama kali saya datang berkunjung di tempat ini.

Berikut adalah perhentian-perhentian yang saya susun berdasarkan apa yang saya lihat:



Perhentian I:

Markus Rumbino dan Wiliam Kelengkongan
“Yokiwa”
Photo Printing dan Soundcape
120x57
2019


Perhentian III:
Syam Terrajana
“Boo”
Arcrilic, Gliter On Canvas
45x65 cm
2019


Perhentian IV:
Michael Yan Devis
Rahim Ibu”
Digital Paioting on Paper
 29x42 cm
2019


Perhentian V:
Michael Yan Devis
“420”
Digital Paioting on Paper
29x42 cm
2018

Perhentian VII:
Michael Yan Devis
“Papua mencari Mairi”
Digital Paioting On Paper
29x42 cm
2019


Perhentian VII:

Michael Yan Devis
“Papua mencari Mairi”
Digital Paioting On Paper
29x42 cm
2019


Perhentian VIII:

Michael Yan Devis
“Nduga Mencari Mairi”
Digital Paioting On Paper
29x42 cm
2019


Perhentian IX:
Michael Yan Devis
???”
Digital Paioting On Paper
29x 42
2017


Perhentian X:
Laudry Garfield Somnaikum
"Tera Kandep"
Print On Paper
40x56 cm
2019


Perhentian XI:
Betty Adii
“Iki Pelek”
Water Calor On Paper
56x76 cm
2019


Perhentian XII:
Nelson Natkime
Neo Temen Lamenge?”
Pen On Paper
 57x78 cm
2019


Perhentian XIII:
Constantin Raharusun
“Kata Ku. Perspektif Mu”
Acrylic on Barkcloth,
100x220 cm
2019


Perhentian XIV:

Ervance Havefun
“Paradise Bird Survival”
Sllhscreen on paper (15 Edition)
42x60 cm
2018.


Perhentian XV:
 Lejar Daniartana Hukubun
“Pop Display Wayang Suku Malind”
Print on banner
50x 170 cm
2019


Perhentian XVI:
Ignasius Dicky Takndare
“The Deat Dresses”
Oil and Acrylic on  Barkcloth and Canvas


Perhentian XVII:

Brian Suebu
“Abu –Affa”
Acrylic on Barkcloth,
104x106 cm
2019

Perhentian XVIII:
Fredi Munim
“Khayouw”
 
Mix Media On Barkcloth
89x110 cm
2019

Perhentian XIX:
Widya Amir
“Titian Rasa, Asa dan Lara”
80x60 cm
2019

Perhentian XX:
Ina Wassire
“Buono Wito Ine Kapoke Ne”
Arcylic on cow's hide
70x90 cm
2018

Perhentian XXI:
Ignasius Dicky Takndare
“Deep Silent Sio Insose”
Oil On Canvas
2013


Perhentian XXII:

Yanto Gombo
Di Negeriku”
Oil on Canvas
70x100 cm
2019




Perhentian XXIII:
Andre Takimai
“Dimi Gai Matiyoo”
Instalasi,
50x50 cm
2019

Dan terakhir saya membaca isi dari pameran yang ditulis oleh penulis pameran Mairi, Heri Kurniawan.


Akhir catatan dari ini Pameran Mairi

Perhentian ke perhentian  dari setiap karya yang dipampang itu mengambarkan betapa lucunya negara memperlakukan Manusia serta alam yang kaya akan emas dan uranium serta kekayaan alam yang melimph rua itu. Serta kehidupan manusiainya di tanah Papua yang adalah  pemilik sesuanggunha yang seakan dijadiakn sebagi orang asing di negerinya sendiri.

Jika di sindiri melalui lukisan, audia fisual serta Photo Printing dan Soundcape, karya-karya itu  mengilutrasikan sebagai fenomena yang terjadi sejak Paengabungan Papua kedalam NKRI yang ddapat dikatakan jauh dari roh sejahtera. Bagi orang non- Papua mungkin cukup menarik untuk mleihatnya karya-karya  tersebut sebagai hiburan atau inspirasi kedidupan. Tetapi saya sebagai orang asli Papua melihatnya sebagai upaya pengobatan batin serta membangkitkan kesadaran atas sebenarnya yang terjadi. Dan kehadiran saya di tempat tersebut membuat semakin mengikis batn saya, dan itu membuat batin saya tersiksa.

Jika setip insan yang hidup melihat dan memahami realita yang terjadi, mungkin bisa dikatakan cukup sudah penderitaan ini. dan mendukung apa yang diinginkan orang Papua. Namun mustahil sekali hal itu terjadi. Sebab ketika seniman bicara, hanya orang yang punya nurani saja yang dapat mengartikan maksud serta karya-karya yang dihasilkan oleh kelompok seniman Udeido ini.


Mungkin orang yang peka akan kemanusianlah yang terinspirasi untuk melihat kehidupan orang Papua dalam kumpulan gambar-gambar yang menyidir pemerintah saat ini.

Dan teguran keras bagi orang Papua melalui karya-karya ini adalah hanya manusia (OAP)  yang mengejar duniawitidak pernah sadar kapan masuk dalam lubang kematiannya karena memang tidak pernah mengingat akhirat yang dilihat hanyalah harta. Dan selanjutnya Kemiskinan, persolan pelanggaran HAM serta penindasan yang terjadi saat ini di Papua  hanya jadi tontanan. Sehingga manusia PApua cenderung terlibat menagmbil bagian dalam sisem yang tersusun rapih. Semua persoalan itu seakan dipupuk dan menghasilkan berbabagai penyakit [persoalan] imbasnya kematian secara pelan-pelan.

Akan tetapi tidak semua manusia Papua mengkhiyanati alamnya serta koleganya. Buktinya banyak yang mengorbankan nyawanya. baik itu melalui kerya-karya yang mengatakan tidak pada penindasan. Makanya Pameran ini menyikasa saya. Dan mengatakan menolak tobat!.



Catatan:
·         Pembahasan ini penulis uraikan dengan sudut pandang penulis sendiri. Tanpa terpengaru oleh pendapat orang tentang pameran ini. 
·         Jika penasaram, silahkan saja berkunjung di sana. Selagi masih ada kesempatan. Sebelum akhirnya ditutup pada tanggal 10 Oktober 2019).




Penulis adalah editor di kabarmapegaa.com
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: