Jika Mairi dan Udeido, Seharusnya Tidak Menyiksa ! (1) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Jika Mairi dan Udeido, Seharusnya Tidak Menyiksa ! (1)

Reporter : Manfred Kudiai

Lukisan Karya Ina Woysiri - Ko'Sapa -Doc.

 “Sebelum saya mulai menuliskan ini, (tentang Pameran Mairi)  izinkan saya berdoa  terlebih dahulu menurut keyakinan saya, agar apa yang  saya lihat oleh indra penglihatan saya itu benar-benar menerjemakan dengan baik, menusuk masuk nurani saya, dan menjadi sebuah doa menuju tanah perjanjian [MAIRI].  Namun terlebih dahulu saya ingin sampaikan kepada yang akan membaca, tulisan ini  bahwa dalam menjelaskan tentang Pameran MAIRI, penulis akan menjelaskan dengan menggunakan gaya bahasa tulisan penulis sebagai orang Papua.”

Setiap pengunjung yang  datang menikmati hasil karya  seni rupa  yang dipamerkan oleh kelompok Seni Rupa Udeido di Sangkring Art Project tentu dengan sudut pandangnya masing-masing. Sama seperti saya yang datang di hari pertama dengan sudut pandang yang saya punyai. Sudah pasti, tujuan setiap pengunjung berbeda.  Perbedaannya  jelas. Berada pada sudut pandang itu sendiri.  

Pada hari pertama, (03/10/20190 saya hanya fokus pada peliputan dan mengabaikan apa yang terpasang rapi dinding Sangkring Art Project itu. Hari pertama saya ke sini tujuannya hanya satu itu. Meliput acara pembukaan Pameran Mairi. Selanjutnya saya pun memotret guna abadikan  momen ini, serta kepentingan foto jurnalistik. Menurut laporan yang saya himpun, terdapat 195 pengunjung di hari pertama.  

Seluruh rangkaian acara saya mendokumentasikan dalam dua bentuk: foto dan video. Selanjutnya saya jadikan sebuah berita dan video dokumentasi. Fokus saya terbagi, sehingga saya tidak menikmati setiap lukisan yang menawarkan mata untuk lebih lama lagi untuk memandang. Namun saking penasaran, membuat saya kembali kedua kalinya di tempat ini. 

Kesempatan Kedua

Tanggal 5 Oktober 2019  adalah kesempatan kedua saya untuk menikmati seluruh isi pemarean ini. Pada kesempatan kedua ini, saya datang membawa pertanyaan-pertanyaan sebelumnya (saat hari pertama)  yang telah terkesan. Terlalu banyak pertanyaan yang tertanam dalam alam  bawah sadar saya. Pertanyaan-pertanyaan itu lahir setelah saya mewawancarai beberapa pengujung yang datang di hari pertama. Hal itu saya lakukan sebagaimana pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis alias  wartawan.

Setiap jawaban  atas pertanyaan yang disampaikan oleh nara sumber saya di hari pertama  semaking membuat saya bertanya-tanya. Salah satunya yang membekas adalah datang dari salah satu  warga  yang hidup sekitaran  Sangkring Art Project berada. Seorang pria, Kira-kira usianya memasuki kepala empat itu bercerita kepada saya. Dirinya mengatakan, dari tahun 2010 adalah awal diaman Sangkring membuka pelayanan Pameran. Setiap pameran yang dilaksanakan di tempat ini, menurutnya Pameran Mairi adalah yang terbaik. Entah mengapa dirinya mengatakan demikian, tetapi tidaklah mengapa, mungkin itu sudut padang darinya.

“Ini pameran keren, sangat menarik, pameran yang perlu dilhat oleh pemikir-pemikir kebudayaan. Artinya bahwa di Timur sana itu ada sesuatu. Sesuatu yang saya maksud adalah terdapat persoalan-persoalan yang sangat komplek. Kali ini ini persoalan-persoal ini telah diangkat lewat bahasa-bahasa yang  artistik,” katanya.

Menurutnya, keseluaruhan karya-karya yang dihasilkan adalah luar biasa. Karya-karya seperti ini susah dan ini sangat-sangat cerdik dalam menyampaikan probelm  yang mereka alami. Mereka sangat cerdik dalam mengemas itu. “Sangat luar biasalah pokoknya, saya hormat sama kawan-kawan dari Papua terutama, Dicky,” katanya.

“Jika karyanya tidak terlalu bagus, mana ada Sangkring mau menyediakan tempat buat pemeran seperti ini. Sangat sulit. Itu, seleksinya sangat ketat. Nggak semuda untuk masuk kesini, kalo memang nggak ada kualitas mana ada bisa pamerean di sini. Buktinya lihat, kita bisa menikmati hasil karya di ruang ini,” bebernya penuh keisma.

Seleksinya sangat ketat? Karyanya sangat bangus?

Pernyataan-pernyataan ini semakin membuat saya bingun, sebetulnya apa  yang tersirat  atau apa pesan yang tersembunyi di balik gambar-gambar yang dihasilkan oleh kelompok Seni Rupa Udeido? Atau mungkin saya sendiri yang  keliru lantaran awam dalam hal membaca gambar?.  

Begitu pergumulan saya seketika pertama kali datang di pameran ini. Pada dasarnya tujuan saya adalah satu. Yaitu, meliput rangkaian acara pembukaan. Itu tugas saya sebagai seorang wartawan, selebinya adalah mengisi waktu kosong termasuk menikmati gambar-gambar itu.

Tetapi saya mendapatkan pelajaran dari nara sumber  saya  tadi.  Pengunjung Pria kira-kira memasuki usia kepala empat itu mengerti tentang seni rupa. Hal itu saya pelajari ketika dirinya menjawab setiap perntanyaan saya dengan bijak. Dirinya mengatakan: “Bicara soal gagasan teknik dan eksplorasi bahan material sangat bagus.  Jadi intinya mau dari manapun jika tidak ada kualitas ndak bisa masuk di sini. Bicara soal seniman, tidak semua seniman mampu membuat hasil karya seperti ini. Saya secara pribadi sangat apresiasi kepada adik-adik dari Papua. Pokoknya sangat luar biasa,” katanya lagi.

Setelah saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa itu, saya pun melakukan wawancara bersama seniman, Heri Dono yang juga membuka kegiatan pameran ini. Kata Heri.

“Seni rupa di Indoesia itu, sebetulnya lebih kaya dari yang dibayangkan sebelumnya,  karena potensi karya-karya seniman dari Papua itu, baik secara nasional maupun Internasional, sudah memenuhi syarat sebagai karya seni yang bisa ditampilkan dunia .

“Seharusnya, prepektif tentang seni atau tentang kebudayaan di Indonesia itu harus dilihat  dari prepektif yang  tidak membuat  pendiktean dari pusat ke daerah-daerah, tetapi bahwa daerah –daerah itu sangat penting daripada pusat,” tutur Heri Dodo saat diwawancara di ruang pameran.

“Daerah-daerah itu, tidak hanya Papua tetapi juga di Aceh, Sulawesi,  Kalimatan serta daerah-daerah yang lainnya.”

Kata Dono, esensi dari seoarang seniman adalah soal kemanusian. Jadi setiap karya yang dihasilkan oleh pameran Mairi  ini, betul-betul mengangkat  soal kemanusiaan. Dan kegiataan kali ini sangat luar biasa.

Dari apa yang disampaikan oleh seniman, Heri Dono semakin membuat saya bingung. Mungkin itu hal yang wajar, sebab saya secara pribadi kurang paham  dalam  tata cara membaca gambar atau seni rupa seperti yang dibuat oleh kelompok seni rupa Udeido ini.

Selama ini, saya melihat gambar tanpa membaca maknanya. Ketika kualitas gambar  menawarkan mata saya untuk menikmati dan mengatakan indah, sejauh itu adalah yang terbaik. Disitu saya menganggap gambar tersebut adalah yang terbaik. Namun nyatanya,  tidak seperti itu. 

Bagi seniman, khususnya di seni rupa mereka menjelasakan sebuah persoalan dalam bentuk gambar. Dan saya simpulkan, satu gambar bisa sampai satu buku bahkan lebih jika dijelaskan  secara terinci. Hal itu saya pelajari kali ini di Pameran Mairi.

Bahkan anggapan saya tentang kehadiran banyak pengunjung adalah sesuatu yang luar biasa, sekaligus pengenalan karya-karya anak Papua ini di Jogja, sekaligus mengatakan kepada dunia bahwa  muda-mudi Papua juga bisa. Namun, menurut beberapa seniman  yang ikut terlibat dalam kegaitan ini mengaku merasa  gugup. 

“Sa awalnya belajar asal bikin gambar, akahirnya bisa di pamerkan di Jogja. Jadi saya mulai  belajar gambar sejak kecil karena memang saya suka gambar. Saya secara pribadi merasa bangga namun karena pertama sekali sehingga saya sedikit gerogi datang di tempat yang lebih ramai dan didatangi oleh banyak orang dari berbagai ras, suku dan bahasa,” kata  Brian Suebu, salah satu peserta yang karyanya dipamerkan di Sankring Art Project.

Pada dasarnya, karya-karya yang dihasilkan oleh muda-mudi Papua ini tidak sekedar gambar tetapi dalam gambar itu terdapat ujud-ujud doa, sesuai tema yang diangkat dalam pemaran ini yaitu: MAIRI dan Udeido.

“Dalam seni rupah itu indah, karena tidak ada yang baik, tidak ada yang salah. Jadi bebas untuk berekspresi itu yang membuat saya terus mencoba belajar melukis,”  beber Suebu.

Dalam kesepatan itu, Seniman muda Papua ini, kembali mengajak kepada generasi muda Papua secara khusus maupun gerasi muda di Indonesia supaya menekuni bidangnya  masing-masing.

“Untuk teman-teman Papua maupun luar Papua,   apa yang kamu miliki, khususnya di seni rupa dan selain seni rupa pun agar  terus belajar dan menekuni bakatnya masing-masing. Karena dengan mencintai karya kita bisa mencapai apa yang kita inginkan.”

Ajak  Suebu, pada intinya menyuarakan segala persoalan yang terjadi di Papua. Karena mungkin cara itu yang Tuhan pake buat kita masing-masing. Jadi, lakukan terus menerus dan jangan berhenti.

Cerita  unik lainnya datang dari pria kelahiran Agimuga, Nelson Natkime. Nelsoan menceritakan awal motivasi untuk  memulai  belajar gambar.

“Motivasi  awal dimulai dari kegelisaan. Jadi saya mulai belajar melukis berawal dari kegelisaan saya tentang saya punya tanah, dimana kami ini seperti orang-orang yang  anggap saja dari tempat yang lain.. orang –orang terbuang, seperti itu,” jelasnya.

Penjelasan Seniman satu ini membuat saya tambah bingung, bahkan bisa dikatan hampir tres menerjemakan maksud yang disampaikan lewat lukisan-lukisan itu. “Jadi saya gelisa, mulai dari dulu orangtua saya  bilang sampai sekarang  tidak dapat apa-apa. Makanya saya gelisa. Saya belajar otodidak,  soal gambar memang saya suka dari sejak kecil,” jelas Natkime.

Untuk menerjemah, butu waktu!

Jujur saja, saya butuh waktu untuk menerjemakan penjelasan-penjelasan singkat, padat dan bijak itu, yang disampaikan oleh  dua seniman Papua; Warga Jogja serta dari  Seniman Heri Dono.   Pejelasan dari seniman, sudah membuat saya bertanya-tanya, dan itu telah menyita waktu saya, apalagi menerjemahkan  24 karya yang terpasang rapi di Sangkring Art Jogja

Belum lagi membaca lukisan secara detail, baik itu tentang aliran-aliran dalam seni lukis,  yang digunakan, misalnya membedakan mana lukisan yang menggunakan aliran dan seni lukis. Itu sulit bagi saya. Hanya pelukis (Seniman) saja yang barangkali dapat mengartikan secara detail. Sebab yang saya ketahui hanya sebutan kata “Lukisan” dan mengabaikan pengertian dari seni lukis itu sendiri.

Jangankan itu, saya pun tidak pernah membaca secara detail tentang seni lukis yang juga merupakan salah satu cabang dari seni rupa itu. Walaupun saya mengerti tentang pengertiannya namun hanya secara singkat saja: menorehkan garis dan warna pada permukaan dua dimensi untuk mewujudkan suatu objek tertentu, dan jadilah gambarnya, hehe. 

Kira-kira seperti itu arti seni lukis  yang saya ketahui. Maklum, saja saya jarang membaca definisi-definisi dari para ahli mengenai ini.  Maka dari itu, saya mengatakan memang butuh waktu untuk masuk menyilami kedalam dunia para seniman ini, khususnya di bidang Seni Rupa.

Jika Mairi dan Udeido, seharusnya Tidak Menyiksa!

Ini yang menjadi judul saya. Judul ini saya temukan setelah kunjungan yang kedua kali. Jika Mairi? Yang Mairi mengutip dari  selebaran Pameran yang saya dapat sejak sehari sebelum kegiatan pemeran ini dilaksnakan:

“Mairi adalah sebuah nama tempat dalam kisah rakyat Bintuni yang diceritakan turun temurun dari generasi ke generasi, Mairi adalah sebuah negeri yang indah, sejahtera dan damai, tempat tidak ada lagi air mata dan kedukaan. Untuk menuju Mairi siapapun harus melewati belantara raya di mana apa saja bisa terjadi. Dengan segala tantangan dan rintangannya, ada yang lalu terhilang dan ada yang akhirnya tiba di sana.

Demikianlah kami mencoba melihat kondisi Papua dengan jiwa kisah Mairi ini. Papua juga sedang dalam perjalanan ke Mairi-nya sendiri. Ada begitu banyak masalah dan rintangan yang menghadang di jalan ini. Banyak yang tergoda oleh kenikmatan duniawi, harta, jabatan, dan akhirnya melupakan tujuan awal perjalanan.

Namun sebagaimana dikisahkan dalam dongeng tersebut, kelak kita akan tiba di sana dengan berbagai didikan dan pelajaran, Tanah Papua yang damai dan sejahtera akan terwujud. Pameran seni rupa Mairi adalah wujud pengharapan dan doa untuk Tanah Papua yang lebihbaik. Lewat karya-karya kami apresiator akan diajak untuk merenungkan tiap babak dari perjalanan Papua menuju Mairi yang bisa saja merefleksikan perjalanan tiap individu yang mengkontemplasikan dirinya kedalam kisah ini.”

Mairi merajut pada sebuah tempat tepat pribadi mengartikannya dengan sudut pandang saya sendiri, tanpa harus menjelaskan setiap lukisan yang terpasang di dingding Sangkring Art Project. Menurut kaca mata saya, setiap gambar yang terpasang faokus atau klimaksnya ada di Mairi itu. Namun Mairi ini kembali menyiksa saya untuk menjelaskan dengan bahasa pribadi saya dengan sudut pandang saya pula.

Menurut saya, menuju Mairi, memang menyiksa. Saya tidak menemukan jawaban dibalik pameran yang diberi tema pameran Mairi. Karena, untuk sampai ke Mairi, tidak sebatas mengatakan karya-karya seni rupa yang dihasilkan oleh kawan-kawan  yang mengatasnamakan kelompok Seni Rupa Udeido  itu  tidak bisa dengan sebatas kata, terharu atau mungkin mengatakan indah. Atau mengabadikan momen ini dengan sebatas foto di depan lukisan-lukisan itu.  Batin saya menolak mengatakan terharu, apalagi indah.

 Kemudian bagaimana dengan kata  Udeido?

 Kata Udeido ini juga tetap membuat mengores batin yang meninggalkan luka. Namun sebelum masuk ke dalam pembahasan ini, mari kita simak mengapa seniman-seniman muda papua itu memberi nama kelompok Seni Rupa Udeido. Berikut adalah penjelasannya:

“Udeido merupakan kumpulan seniman-seniman muda Papua yang aktif berkarya meski ditengah kesibukannya akan studi dan urusan lainnya. Beberapa dari mereka tengah berdomisili dan menimbah ilmu di Yogyakarta dan beberapa menetap di beberapa kota di Papua, seperti Jayapura, dan Fak-Fak.

 Kelompok ini dibentuk pada awal tahun 2018 oleh beberapa pemuda dan pemudi Papua yang merasa perlu adanya sebuah komunitas anak-anak Papua yang khusus berkarya dan bereksplorasi di bidang seni rupa. Tidak semua anak-anak muda ini mengenyam pendidikan seni rupa, beberapa diantaranya berkuliah di jurusan lain namun menaruh minat dan aktif berkesenian meski dalam skala yang lebih kecil.

Udeido sendiri adalah sebuah kata dari bahasa Deiyai, yang merupakan rumpun wilayah adat Mee Pago. Akar  katanya adalah UDE yang merujuk pada nama sejenis daun, dalam bentuk jamak Ude akan disebut Udeido. Daun ini biasanya digunakan masyarakat Deiyai untuk membalut dan menutup luka, biasanya setelah dibalut dengan daun tersebut, pendarahan yang terjadi akan segera berhenti.”

Udeido itulah nama kelompok  yang diangkat oleh seniman-seniamn muda Papua ini. Namun setelah saya menyimak kata ini, mungkin nama tersebut digunakan dengan maksud tertentu oleh seniman-seniman muda Papua tersebut. Tetapi bagi saya, tetap saja sama. Jika bagi mereka adalah  untuk menghentikan pendaraan, namun bagi saya itu sama saja tidak menghentikan tangisan saya. Tangis tak terdengar yang terus mengungat dalam hati.

Mengapa Mairi dan Udeido Menyiksa saya?

Pada dasarnya, kedua nama itu adalah jembatan mengantarkan karya-karya mereka. Yakni Seni Rupa. Bagi pencinta seni, lukisan mempunyai makna tersendiri. Bagi  saya lukisan tidak mempunyai makna apa pun. Namun tidak dapat dipungkiri lagi dan saya mengakui karya-karya tersebut. Maka dari itu, di awal tulisan ini, telah saya utarakan, setiap lukisan yang terpasang rapih itu, jika dijelaskan  tidak cukup mengulasnya dalam 1500 kata.

Ia, karena mulai dari goresannya dan warnanya yang tertuang dalam kanvas, mempunyai makna dan konsepnya tersendiri. Seperti lukisan-lukisan dari kelompok Seni Rupa Udeido ini. Dari lukisan meraka, serta penjelasan sngkat dari beberap seniman muda Papua mempu membangkitkan kesadaran, bahwa, di saya punya  tanah, di Tanah Papua saat ini sedang dilema dalam berbagai persoalan, baik itu, pelanggaran Ham, Perampasan tanah adat, penindasan secara sistematis, budaya yang makin hari makin hilang dan seterusnya, dan seterunya.

Dari setiap lukisan mereka, saya menemukan siapa saya, dari mana saya dan kemana saya akan pergi. Lukisan-lukisan itu  yang mempunyai makna yang mendalam, yaitu merefleksikan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan alam; mengungkapkan realita dalam bentuk seni rupa.

Menilai Pameran Mairi  dari sudut pandang saya sebagai jurnalis

“Jika pengunjung pameran ke arah barat, saya akan ke arah timur, sebaliknya, jika pengujung pameran ke arah timur saya akan ke arah barat.” Atau “Jika Seniman membaca lukisn mulai dari goresannya dan warnanya yang tertuang dalam kanvas, yang menurut mereka  mempunyai makna dan konsepnya tersendiri maka saya mulai membaca  dari konsep  pemarean Mairi serta urutan seni rupa yang terpasang di dinding.”

Kalimat ini sebagai titik temu rasa kepuasan yang dirasakan sendiri  setelah mengunjugi pameran Mairi yang di selenggarakan oleh kelompok seni rupa  Udeido. Sebagai  seorang jurnalis dan selama hidup baru pertama kali menyaksikan  serta mengunjugi serta mendapatkan kesempatan untuk mewawancara para seniman yang ada. Saya, secara pribadi hanya mampu mengatakan hebat kepada seniman-seniman muda Papua itu.

Saya pun mungkin sebagian dari mereka [seniman] entalah, mau dikatakan apa itu urusan pembaca,  sebab yang saya ketahui tentang sebutan  Seniman adalah orang-orang yang memiliki bakat seni untuk menciptakan suatu karya, baik itu membuat karya atau hanya menambah karya yang sudah ada hingga bernilai seni tinggi, salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh seniman adalah insprirasi. Jadi, seniman itu tidak hanya pelukis, penari, pengukir, penyanyi, pemeran  yang bisa digolongkan sebagai seorang seniman, penulis juga termasuk seniman.

Dengan dasar itu, saya mungkin mengkritisi sekaligus menilai  pameran ini dengan meletakan judul yang demikian, yang mungkin membingungkan. Namun tidak  sama sekali merendakan karya-karya seni rupa yang dihasilkan oleh mereka.  Yah, judul dari tulisan ini lahir ketika terciptanya inspirasi dari konsep yang digunakan dalam pameran ini. Jadi,  bagi saya, melalui pameran ini, saya sebagai orang Papua merasa kembali menyiksa batin saya.

Perhentian-perhentian

Ketika membahas mengenai perhentian, bagi nasrani dengan mudah dapat mengartikan kata “perhentian” tersebut.  Sebelum memulai pembahasan ini, saya petik kalimat terakhir  dari penjelasan tentang MAIRI.

... Pameran seni rupa Mairi adalah wujud pengharapan dan doa untuk Tanah Papua yang lebih baik. Lewat karya-karya kami apresiator akan diajak untuk merenungkan tiap babak dari perjalanan Papua menuju Mairi yang bisa saja merefleksikan perjalanan tiap individu yang mengkontemplasikan dirinya kedalam kisah ini...

Wujud pengharapan dan doa untuk Tana Papua yang lebih baik. Arti ini menurut saya tidak jauh beda dengan peristiwa Jalan salib yang diyakini umat nasrani di belahan dunia, yang selanjutnya disebuat sebagai Jalan Salib. Pehentian-perhentian menurut tradisi yakni dimulai sejak perhentian ke-1, Yesus dijatuhi hukuman mati sampai dengan perhentian ke-14, Yesus dimakamkan, sedangkan Jalan Salib menurut  Kitab Suci, perhentian ke-1, Yesus di Taman Getsemani sampai dengan perhentian ke-14, Yesus dibaringkan di kubur-Nya.

Baik itu, jalan salib menurut tradisi dan Alkitab, maknanya tetap sama, yaitu, Yesus wafat di salib untuk menebus dosa umat manusia.  Kematian Yesus di salib adalah kemenangan.



Bersambung ......!
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: