Ini hasil Wawancara lengkap Ko’Sapa dengan Kelompok Udeido - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Ini hasil Wawancara lengkap Ko’Sapa dengan Kelompok Udeido

   Reporter : Pace Ko'Sapa 

Lukisan Karya Ina Woysiri - Ko'Sapa -Doc.


  Jayapura, Ko’SAPA – Inisitor Komunitas Udeido Ignasius Dicky Takndare menceriterakan sekilas mengenai Komunitas Udeido yang digagas bersama beberapa anak muda Papua lainya.

  “Udeido merupakan kumpulan seniman-seniman muda Papua yang aktif berkarya meski ditengah kesibukannya akan studi dan urusan lainnya,” katanya.
   
  Dicky mengatakan, beberapa dari mereka tengah berdomisili dan menimbah ilmu di Yogyakarta dan beberapa menetap di beberapa kota di Papua, seperti Jayapura, dan Fak-Fak.
   
   Dicky mengatakan, kelompok ini dibentuk pada awal tahun 2018 oleh beberapa pemuda dan pemudi Papua, yang merasa perlu adanya sebuah komunitas anak-anak Papua. Khusus berkarya dan bereksplorasi di bidang seni rupa,” katanya.
   
  Lanjut Dicky, tidak semua anak-anak muda ini mengenyam pendidikan seni rupa, beberapa diantaranya berkuliah di jurusan lain namun menaruh minat dan aktif berkesenian meski dalam skala yang lebih kecil.

“ Udeido sendiri adalah sebuah kata dari bahasa Deiyai, yang merupakan rumpun wilayah adat Mee Pago. Akar katanya adalah UDE yang merujuk pada nama sejenis daun, dalam bentuk jamak Ude akan disebut Udeido. Daun ini biasanya digunakan masyarakat Deiyai untuk membalut dan menutup luka, biasanya setelah dibalut dengan daun tersebut, pendarahan yang terjadi akan segera berhenti,” katanya.
  
   Lanjut Dicky, demikianlah mereka memandang kesenian dengan spirit Udeido, yaitu sesuatu yang menyembuhkan, yang menutup luka, yang menghentikan darah. 

  "Kita terlampau masuk dalam segala permasalahan dan problema sehari-hari yang membuat kita semua menjadi lelah dan letih, sehingga kami berharap suara-suara yang kami bawa lewat karya-karya kami memiliki energi dan semangat penyembuh, pemulihan, dan pengharapan akan yang baik,"katanya.

   1. Nama Event tersebut apa ? kapa dilaksanakan ?

   Ignasius Dicky Takndare mengatakan, Pameran ini kami beri judul Mairi, diambil dari kisah rakyat Teluk Bintuni. Nama Kegiatan Pameran Seni Rupa “Mairi” , pelaksanan Kelompok Seni Rupa Udeido, Waktu, Pembukaan telah dilaksanakan pada Kamis, 3 Oktober 2019, pukul 19.00 WI bertempat di Sangkring Art Project, no.88 Sanggrahan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Durasi : 3 – 10 Oktober 2019. 

   2. Dari Papua berapa orang yang ikut Event tersebut ?

Lanjut Dicky, Udeido nama kelompok kami ini isinya seniman muda Papua semua. Tapi untuk kali ini kami juga ada undang beberapa seniman tamu, mereka orang orang dari luar Papua yang biasa aktif berkarya mengusung tema tema Papua juga.

"Selebihnya kami semua anak Papua dari berbagai daerah, ada yg dari Wamena, Deiyai, Fak-Fak, Sentani, Mimika, dan Biak," katanya.

Sementara itu, salah seorang PERUPA Perempuan Papua Ina Wossiry mengaku senag mengikuti kegiatan tersebut. simak wawancaranya berikut. 

   3. Anda pamerkan berapa lukisan ? Judul lukisan ?   

Ina Wossiry : Saya ikut memamerkan satu karya saja dengan judul dalam bahasa Wondama, asal suku saya, "Buono Wito Ine Kakopa Ne" atau kalau diterjemahkan menjadi "Kamu Kasih Apa ke Tanah Saya"

  4. Tolong berikan gambaran singkat mengenai lukisan tersebut ?

Lukisan Karya Ina Woysiri - Ko'Sapa -Doc.
Ina Wossiry : Karya tersebut dilukis di atas kulit sapi dengan menggunakan cat acrylic. Di tengah-tengah terdapat gambar sapi yang di dalamnya berisi ukiran kayu khas Wondama, wajah patung Karwar khas Biak, patung khas Asmat Papua, burung cendrawasih, tifa, gambaran siluet masyarakat suku dengan aktivitas masing-masing seperti mama Papua dengan noken nya; kepala suku dengan hiasan kepala nya, dan bapa dengan peralatan berkebun. Di sekeliling gambar sapi dipenuhi dengan lukisan wajah dan bagian-bagian tubuh babi dari berbagai macam jenis.

  5. Apa yang melatar belakangi  anda melukis lukisan tersebut ?

Ina Wossiry : Ketika saya pulang ke Sorong kemarin, saya memutuskan berjalan ke tempat-tempat yang orang jarang lewat di daerah kilo. Saya lihat banyak hutan yang sudah alih fungsi menjadi ladang dan padang terbuka. Padang untuk penggembalaan sapi.Sapi bukanlah hewan endemik Papua tapi keberadaan nya di Papua menjadi tanda tanya besar bagi saya. 

Setelah saya telusuri lewat artikel di internet barulah saya tahu jika ada program pemerintah Indonesia yang ingin membuat Papua terkhusus nya "Kabupaten Sorong" sebagai lumbung nya peternakan sapi. Jika pemerintah ingin mewujudkan program tersebut tentu perlu lahan yang luas. 

Secara tidak langsung melakukan "deforestasi", membuka hutan sebagai tempat peternakan. Sangat disayangkan bagaimana babi yang selama ini tinggal di hutan harus terusik dari habitat nya dan mengakui eksistensi sapi sebagai primadona baru. 

Analogi sapi dan babi ini juga bisa dipakai untuk mendeskripsikan keberadaan OAP yang harus terusir dari tanah nya sendiri dan mengakui keberadaan kaum transmigran yang mulai mendominasi segala bidang di Kabupaten Sorong dan juga di seluruh tanah Papua. "Apa yang pemerintah pusat mau kasih ke Tanah ini ? Obat bagi kemajuan atau sel kanker yang diam-diam menggerogoti Papua?" Pertanyaan itu yang terus terbesit dalam benak saya, mendorong saya untuk membuat karya ini

  6.  Apa yang melatarbelakangi anda ikutserta dalam pameran ini?

Ina Wossiry : Kebetulan saya memiliki sedikit bakat di bidang seni dan kk Dicky Takndare sendiri yang meminta saya bergabung bersama teman-teman dalam kelompok Udeido. Ketika kami bertemu dan berdiskusi, saya menyadari bahwa dalam kelompok ini, spirit kami semua sama, yaitu menyuarakan permasalahan di Papua.

  7.  Bagaimana anda memaknai karya karya sendiri, khusunya yang dipamerkan kali ini?

Ina Wossiry : Saya sangat mengapresiasi semua karya yang ditampilkan dalam pameran Mairi. Kami semua datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda tapi mampu menyatukan semangat yang sama demi pemulihan Papua dengan kearifan lokal masing-masing. Semua seniman membawa motif dan corak khas daerah yang sekali lagi menunjukkan bahwa alam Papua begitu diberkati dengan kekayaan adat.

  8. Apa respon orang ketika melihat karya karya yang di pajang ?

Ina Wossiry : Bagi orang awam tentu ada beberapa karya yang mereka kurang paham, apa maksud sebenarnya. Namun dengan penjelasan lebih lanjut dari sang seniman, mereka akhirnya bisa mengerti. Banyak yang mublai merasakan kegelisahan dan kedukaan Papua lewat karya-karya Udeido. Mata batin mereka mulai bergejolak lewat aura luar biasa dari pameran Mairi.
  
 9. Pesan apa yang ingin disampaikan kepada generasi muda yang sedang berkecimpung atau akan berkecimpung dalam bidang ini ?

Dicky Takndare : Kami juga masih muda jadi kitong kirim pesan sebagai sesama orang muda e hahaha. Kitong mau bilang bidang ini bukan pilihan yg kaleng kaleng. Dengan seni ko bisa hidup. Sa secara pribadi berharap lebih banyak anak muda yg mau terjun ke bidang ini. Bicara tentang Papua lewat seni itu menarik. Sa paham sekali barang itu ada dalam kam pu darah semua, kasih keluar, jang tahan tahan. Ko tahan angin saja poro sakit, apalagi tahan talenta besar yang Tuhan kasih.

  10.    Kenapa di Papua jarang dilakukan event seperti ini ?

Dicky Takndare : Sa pikir itu kembali ke seniman seniman di daerah, sa pikir pasti bisa diadakan di Papua sendiri kalau kitong kumpul baru gerak sama sama. Udeido ini contoh gerakan mandiri walaupun kecil kitong siapkan semuanya sendiri, cari dana sendiri, bahan sendiri, sampai dapat donatur. Sa pikir seniman seniman di Papua juga bisa lakukan ini. Sa pu saran, tra usah tunggu pemerintah daerah, bikin saja sendiri walaupun dimulai dengan kecil kecilan, nanti juga lama lama dong lihat, apalagi kam pu karya bagus bagus, jang lupa, karya itu berbiacara, dia sampaikan apa yg tra bisa disampaikan dengan kata kata.

  11.    Ucapan Terima Kasih

Kelompok Udeido mau ucapkan terima kasih kepada HAPIN Netherlands, LSM di Belanda yang mendukung penuh pameran Mairi ini sehingga dapat berjalan lancar dan sukses. Terima kasih karena su perhatian dan bantu seniman seniman Papua.

Terima kasih juga buat Aliakha Art Center di Yokiwa yang mengakomodasi dua senimannya untuk hadir di Jogja dan terlibat dalam pameran ini. Terima kasih buat Sangkring Art Project yang menerima kami berpameran di gedungnya. 


Seperti dilansi Indoprogres.com, 24 November 2016 Max Binur, mengatakan, siklus seni dan budaya manusia Papua – kalau mereka tidak melakukan aktivitas kebudayaan mereka, mereka akan merasa kekosongan dan ada sesuatu yang hilang dalam diri mereka. 

"Setiap anak-anak Papua yang lahir itu jiwa seninya sudah ada, tinggal bagaimana diolah dan dikembangkan," katanya.


Max mengatakan, di era seni yang kontemporer saat ini, tak banyak kita ketahui tentang karya seni yang benar-benar membicarakan persoalan-persoalan yang mendasar tentang Papua. 

"Bahkan, rata-rata karya seni yang sering ditampilkan di berbagai tempat di Indonesia, secara eksplisit mendeskripsikan pembiaran terhadap persoalan-persoalan yang terjadi terhadap tanah dan manusia Papua. Sehingga dari waktu ke waktu tidak ada respon yang positif dari bidang seni sehingga perkembangannya berjalan begitu saja," katanya.


Kosapa @2019


Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: