Dibawah Bendera Revolusi - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Dibawah Bendera Revolusi

IST 
Oleh : Dolly Iyowau

01 Desember 2016

Subuh itu sang sampari (Bintang Kejora/timur ; Bahasa Biak) menyambut fajar lebih awal. Lebih awal dari si jago merah. Di atas langit tampak cerah di taburi bintang-bintang dan rembulan yang memperelok rupa langit, dari cahaya sisa yang mulai kalangkabut mengisyaratkan sebentar lagi berganti fajar. Entalah Bumi bergejola kami beraksi...!

Ruangan wisma Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang berukuran panjang dan lebar yang tak terlalu besar itu, dipenuhi para demostran, sebelum berganti Revolusi. 

Dalam perbaringan sekedar lepas malam, juga lepas penat dari perjalan yang panjang, sejak satu hari menempuh batas-batas kota dan provinsi.

Pukul 01:54 WIT, Korlap kumandangkan agar semua masa aksi agar segera bersiap-siap menuju ke LBH Jakarta, di kawasan Pangeran Diponegoro itu.

"Semua kawan-kawan jangan mandi, nanti mandi di LBH", serunya.  

Lanjutnya, "Disana ada kamar mandi lebih, dan yang sedang tidur bangun dan bisa lanjutkan tidur di sana. Sekarang kawan-kawan siapakan apa yang mau hendak dibawah saja’’ perintah Kawan-kawan Panitia aksi.

Segera semua orang bergerak, sibuk dengan bawaan masing-masing sebelum meninggalkan penginapan. Di luar ada empat mini bus sudah menanti tempat di depan wisma. 

Jumlah para demostran kurang lebih ratusan massa demostran, dari se Jawa-Bali yang tergabung di bawah Bendera Revolusi Aliansi Mahasiswa Papua.

***

Bus terus melaju, hiraukan sepada motor yang sedang membantin diri di depan motor lain tanpa disenggol itu. Sedangkan Para demostran hanya membutuhkan Jarak sekitar 5 km untuk sampai di LBH. 

Di sana kawan-kawan dari Jawa Barat dan kawan-kawan FRI-West Papua (Front Rakyat Indonesia untuk West Papua) front Yang beberapa bulan lalu dideklarasikan. Ini aksi Pertama kalinya mereka bersolidaritas bagi bangsa Papua.

"Itu LBH Jakarta " Pinta, Nia mengingatkan. Lantas, Perempuan Lesung manis itu telah lama bermukim di mama politan (Metro Politan).

Hanya butuh beberapa menit, massa Demostran tiba di LBH Jakarta. LBH itu  akan menjadi rumah kedua mereka berjumpa dengan kawan-kawan seiman lainnya. Perjumpaan itu membayawar kerinduan yang sudah lama terpendam. 

Kami saling bersalaman, berpelukan dalam rasa yang sama, cinta kasih yang lama terpendam. Sebab cinta yang membawah setiap orang kesini untuk memperjuangkan hak-haknya, dengan tuntutan yang sama.

“Hak menentukan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Barat Sebagai Solusi Demokratis”. itulah ayat cinta yang tersyair abadi bagi para revolusioner dibawah bendera revolusi. 

Detik demi detik, menit demi menit , terasa lewat begitu cepat. Setiap pasang mata menyaksikan dan merasakan hal yang sama dalam kondisi terjaga, sambut fajar yang merekah. 

Ia, melepas subuh menerima mentari pagi bersinar, diselah penantian setiap orang larut dalam dunianya masing-masing. Ada yang ngobrol diluar sekedar lepas rindu dan tawa, ada juga kawan-kawan yang tidur saling berdesak-desakan dalam ruang yang tak terlalu lebar dengan polosan kramik putih yang dingin.

Mereka alas jaket sebagai bantal. Juga ada yang menggunakannya sebagai selimut, ada juga membersihkan diri lansung untuk menghindari pagi yang macet, yakni antrian yang mecemas di Kamar-kamar kecil Milik LBH itu.

***

Siska, darah manis berparas kurus sedang itu diantara yang kelompok akhir. Ia Mandi dan bersiap-siap langsung, sejenak Siska membaringkan tubuhnya yang terlihat Kelelahan. 

Sekedar lepas lelah dengan berselimutkan almamater hijau karena hari itu, memang semua Demostran di Wajibkan Memakai Almater masing-Masing, siska salah satunya yang memenuhi Syarat itu.

Persis Pukul 06.00 WIB, seluruh massa yang tidur dibangunkan demi mempersiapkan segalanya, yang belum mandi untuk mandi segera mandi. 

Pada pukul 06.30 sarapan sudah tiba "kawan-kawan, sarapan sudah siap. Yang diluar boleh masuk’’, perintah HKG seorang Perempuan Papua yang terlihat Keras dan tegas, sejak kemarin lalu. Ya, Itulah Perempuan Papua itu Keras, kata Kebanyakan orang. Satu yang luput, lembut di kala laki-laki Papua menari dalam badai, perempuan Papua lah yang akan ada di garda terdepan, memimpin revolusi. Itulah Keharusan Perempuan Papua karena, kekerasan dan penindasan negara yang berlapis-lapis itu akan menjadikan perempuan dan anak adalah lapisan pertama dari korban negara.

***

Beberapa Kawan terlihat sibuk. Tidak seperti biasanya, pagi itu, Nia membantu beberapa kawan laki-laki membagikan snack dan Aqua mineral. Massa Demostran itu arahkan memenuhi Lantai Utama. 

Lantai Utama yang berkurang Lebar dan luas 4 persegi dengan 2 pintu Utama, di sudut kiri dan kanan serta dinding ruangan yang di poles warna hitam dengan Pintu-pintu berkaca hitam itu seakan tak terlihat ditutupi massa aksi yang memadati ruangan namun massa kian bertumpah Rua hingga ada yang di berdiri di pintu keluar utara, sebab sebentar lagi. Arahan akan di paparkan.

"Itu yang dong bilang Vero Tohh " tanya Siska dan Mei, sambil menyimpan beribu pertanyaa ?

" Iyoo, dong yang nanti akan menjadi kuasa hukumnya kita, mereka dari pihak LBHI yang akan mendampingi kita ", Jawab Nia. 

Tak lama kemudian, enam orang berdiri dan memperkenalkan nama mereka ke Massa Demostran. Enam orang tersebut itulah Tim yang di maksud Nia tadi kepada Siska dan Mei.

"Kenali wajah mereka, mereka adalah pendamping kalian. Jangan memberikan identitas kalian pada polisi atau siapun yang akan mengintegrosi kalian, kecuali mereka yang meminta’’ tegas VK sebagai pengacara yang diutus LBH untuk para demonstran. 

VK sambil meminta Massa demostran itu hafal muka-muka dari ke 5 Kolagenya jika terjadi represif. 

"Jangan gunakan atribut BK lebih dulu’’, tegasnya pagi itu Di depan para demonstran. VK antara lima kolege lelakinya, terlihat anggung dengan mata sipitnya. 

Seusainya sambut dengan arahan pimpinan AMP pusat, JW. dan Pimpinan FRI-West Papua SA. Pada massa aksi yang berjumlah 200-an demostran itu.

"Saat kita long mach, kawan-kawan Indonesia akan memimpin dimuka dan kawan-kawan papua tugas kita memback up kawan-kawan Indonesia, demikian pun saat penyerangan," tegas pimpinan Pusat AMP, lelaki berperawakan sedang itu, mengahiri arahan sebelum long march.

***

Langit Jakarta sepertinya bersahabat, mentari pagi bersinar penuh pesona memberi sapaan atau sekedar tersenyum pada jalanan yang tampak tak sesepi dan sesunyi itu. 

Sudah ada pohon-pohon hidup yang bersembrangan yang menjadikan suasana adem, adem karena massa diberikan penjagaan yang ketat selagi didalam rumah. Sebentar lagi pohon-pohon itu tumbang dimana-mana menjaga bangunan bisu yang sebisu mereka itu.

Tampak beberapa wartawan asing maupun partisipan sudah hadir diluar pagar. Padangan mata Siska terarah ke dua pasangan jurnalis, hampir tak Siska kenali. Perempuan yang berperawan gendut tinggi, berkulit putih layaknya perempuan barat dengan rambut pirang ungguhnya. apalagi prianya. Sama sekali tak di kenali.

"Kawan, ko ingat dong kah tra ? (kawan, kamu mengenali mereka kah tidak ?)"
saut Mei. Perempuan berparas elok, seelok cendrawasih itu mengingatkan siska yang berada disisi kirinya.

"Trada" (tidak) balas Siska.

"Ko ingat Marica, pemberi jempol dan bunga mawar merah didunia maya?’’, katanya. 

"ya, astaga sayang, benar sa ingat" kata Sisca terharu.

"Itu sudah sayang, dong dua su dua hari disini tiba dari Australia, mau saksikan Demostrasi lansung di tanah kolonial ini’’, kata Mei, penuh senyuman simpul, sembari memberi keterangan tentang, kabarnya.

"Dong dua sering terlibat juga di Student Australia internasional aliansi, bersama kawan-kawan disana,"kata Nia menjelaskan tentang keberadaan kedua wartawan asing itu. 


"ya, benar sayang. Sering lihat fotonya tapi rambut pirangnya itu yang sa hampir tra kenal dia," kata Sisca. 

"Hahaa", balas Nia sambil senyum. 

"sayang hormat," balas Siska pada kawannya.

‘’hahahhaaa’’ tawa Siska maupun Mey pecah mengahiri perbincangan kecil merek.

***

Pukul 08.10 Wib.

Sudah waktunya bagi para demostran melakukan long much dari kantor LBH, kawasan Diponegoro menuju istana kepresidenan. Massa aksi yang lebih dari 200 orang dengan teratur berbaris empat bersap menuju ke istana kepersidenan, dikawali pepohonan hidup yang ada didepan dan dibelakang yang siap siaga untuk membanting diri jika ada kesempatan atau sengaja mencari kesempitan untuk membanting tanpa nurani.

"Papua.....!"

"Merdeka"

"Papua....!"

"Merdeka"

Suara-suara Ajakan itu di seruhkan oleh sang orator, sejak saat long much. Saling saut menyaut dengan massa Aksi. Langit yang bisu, bumi, dan bangun-bangun tua menjadi saksi bisu. Pepohonan dan dedaunan hijauh sekedar bergoyang, menudungi barisan Tim Kuasa Hukum maupun wartawan yang sedang mengawali para demostran itu.

Semetara suara perlawan masih menemani, tangan-tangan kiri massa Demostran menjunjung Tinggi ke langit-langit Imannya. ditengah massa aksi, kedua pimpinan; Jendral Lapangan itu masih tegak berdiri Kokoh, Sebut Saja SA yang dari FRI-WP dan JG dari AMP. 

Mereka masih menggengam toah itu di iringi Orasi-orasi yang memukau, menggemah dan Bergema di sudut-sudut daun Telingah para pemakai Jalan Raya, Seakan mereka mengetuk nurani penguasa yang tak bernurani itu, saling ganti dan begantian menyeruhkan perlawanan serta memandu barisan massa dalam keteraturuan juga kedisplinan demi Terjaganya garis komando.

Lagu, yel-yel maupun jargon-jargon perlawanan terus di kumandangkan. Sesakali memutar lagu kebangsaan “Hai Tanahku Papua" ada air mata yang Tetlihat disitu, terlalu pedih juga peri dikenang hingga menusuk dan menikam
rasa. Berapa air mata yang jatu ? tidak! ini bukan tentang berapa yang menangis tapi setiap hati yang menangis dari tahun berganti tahun.

Dalam keteraturan itu massa memasuki kawasan Imam Bonjol pada pukul 09.00 WIB, lebih. Mereka dihadang ratusan polisi dengan peralatan lengkap. Massa di larang memasuki kewasan Istana Negara, orasi-orasi politik masih di kumandangkan oleh beberapa orator yang sudah di mobil komando di kawali Kedua Jenderal Lapangan.

Dari Kejauhan, Tak Ada Sorot Mata yang Sayup, tak ada Mulut tak Berucap. Dengan Gagah Berani Suara-Suara seperti Sekam Api Api, Sekam Yang Membakar Daun Telinga Massa Drmostran yang ada respontanitas dari Seluruh Massa, Mereka ada di panggun politiknya.

Ya, Mereka pimpin Komando, Jendral Lapangan adalah penanggung jawab Massa Demostran. Mereka melihat ketika tak dilihat, bahkan mendengarkan ketika berbicara, tak kedip saat yang Lain Berkedip sebab Mereka Penentu di Medan Pagi yang tak lama lagi akan berakhir itu, di persimpangan jalan pagar-pagar hidup sudah siap siaga sekedar menjadi pohon hidup dalam sehari.

Beberapa menit kemudian massa demostran Damai dipukul mundur oleh para aparat yang katanya pelindung Rakyat itu, ada juga yang berseragam juga memakai baju sipil, juga Ormas Reaksioner. Dengan intruksi dari Jendral
Lapangan, Massa di minta menggunakan ikat kepala bergambar bintang kejora sebagai symbol perlawanan.

Simbol itu nampaknya menikampara keparat itu tepat di uluh Hati. keganasan dan keburutalan pun kian menjadi-jadi, seluruh massa diserang dengan keji sambil berusaha melepaskan ikatan dengan paksa dengan membabi buta sambil menendang massa aksi. 

“Jangan terprovokasi…! "

"Awas! Jangan terprovokasi! Kita datang ke sini untuk mengingatkan mereka, bukan ikut-ikutan seperti mereka, jangan terpropokasi kawan-kawan,tetap tenang, tetap Berada di pada garis Komando….!!” kumandang JG, Jenderal Lapangan saat itu. 

JG dan kawan-kawan Terus Mengawasi Massa Aksi dari Atas Mobil Komando, Sambil terus orasi dan memberi Arahan-arahan ditengah parah pendemo dan Ormas reaksioner itu. 

"Kawan-kawan tetap tunjukan kepada mereka kalau kita adalah mahasiwa yang terdidik, tetap tenang kawan-kawan’’ Lanjutnya Lagi, sambil Mengkepalkan Tangan Kirinya ke atas Langit yang masih biru-berawan. 

Di kiri kanannya Masih Terlihan 2 kawannya, BM dari AMP dan Sam FR-WP sambil Arahan-arahan itu terus di kumandangkan, massa aksi yang kian bergelora itu saling mengingatkan satu dengan lain untuk memperkuat Komando, juga saling menegasi menjaga tali komando yang hampir didubruk trus oleh para aparatutur Negara dengan tindakan reprensifnya.

Ormas-ormas reaksione mengeluarkan beberapa kawan dari barisan, diluar barisan sedang mengintimidas dan melakukan reprensi kepada beberapa demostran. Lagi dan lagi mereka mencari kesempitan, menarik sebagian massa ditendang lalu dipukuli berulang.

"Woeee Bangsat, penghianat, penghianat, penghianat, tarik itu yang penghianat.’’ guman beberapa polisi berpakaian sipil itu dari sisi kiri jalan itu kepada SA, Jubir FRI-WP itu sambil menarik dari barisan massa, mengejar lalu di pukuli hingga babak belur, di tendeng dua oleh orang dari kiri jalan, SA yang prawakannya Tinggi Gemuk itu terlihat Mukanya memar dan Pelipis berdarah.

Di depan barisan mereka Juga menarik JW yang hendak keluar barisan menolong SA itu, di pukul dan di masukan kedalam mobil sabara, terlihat mereka membawah kedua pimpinan beserta beberapa dari massa aksi itu di bawah Polda Metro Jaya.

***

Siang itu. Ditengah-tengah kerumunan massa yang bergejolak, tiba-tiba langit seperti terbelahdua tepat diatas kepala para demostran. Para massa Aksi yang sedang berdemostraso menuntut Hak yang dirampas oleh NKRI Dengan jalan konfrontasi Militer yang penuh manipulative, intimidasi, terror, pembunuhan dan pemerkosaan selama 57 Tahun itu.

Ya, itu tembakan water cannon. Sekali lagi tembakan water Connon, seperti air berkah,percikan energy yang memberkati para demostran. Pikiran aparatur beserta para ormasnyaseperti kalang kabut dibuatnya, takjub karna pikir mereka jauh dari harapan, sejatinya Water Cannon tidaklah peluit mundur, seperti perkiraan mereka. itulah peluit untuk selangkah lebih maju dalam energy yang kian membara.

Seperti aliran listrik yang menyalahkan semangat perlawanan, ditengah pasang air yang condong ke ara massa aksi itu. mereka menari bersama air bah! yang lagi, lagi, dan lagi di tembakan kea arah massa itu. tak pedulih benda yang anti air dan tak peduli akan segalanya.

Yang ada air membakar jiwa, ia kian menambah energi dan kian membangkitkan semangat juang dengan kekuatan berlipat ganda.

Sementara Aksi masih memanas, polisi masih geram dan menrebos masuk dengan paksa, sambil ada yang menarik rambut gimbal para demostran. Yah, entah mengapa dengan rambut gimbal itu selalu saja rambut gimbal itu digemas para polisi itu dengan geram dalam murka penuh barah.

Seolah gondrong rambutnya itu dikebiri oleh pendemo atau sekedar meramas ramasnya. Agresiviitas polisi kian menjadi-jadi tak terahankan. Sekali lagi Dengan aba-aba Jenderal Lapangan, Para demostran maju membuka jalan yang dipagari aparat.

Para demostran masih bersi tegang dengan aparat yang lagi dan lagi tak mengisingkan massa aksi menyampaikan tuntutannya ke tugu itu, jalanan masih di pagari pohon-pohon barisan merah putih Di tengah para demostran, diantara bangunan-bangunan bisu yang megah. 

Sang Jenderal tetap berdiri gagah di mobil Komando, di tangan kananya sang Sampari, ditangan kiri-nya bendera Revolusi AMP dan FRI-WP terpasang Erat di siku-siku mobil Komanda.

Mereka tak hentinya mengontrol jalannya aksi. JG Berperawan Tegap dan tinggi, Sam yang berbadan kurus dan tinggi, juga BM tinggi sedang agak gemuk itu tanpa lelah dan sangsi, mereka terus berorasi. Menggenggam speaker dengan pasti, berteriak dalam irama Revolusi, tetap pada substansinya. 

Mata mereka dimana-mana, melirik mencurigai adanya provokasi, matanya mengamat-amati dan massa tak lagi jauh dari pandangnya. Dengan terus mengajak massa terkendali dalam tali komando tanpa tepropokasi.

"Kami akan menyerakan diri, bukan karna kita kalah tapi karna Dua Kawan kita di tahan dan dibawa ke porlesta metropolitan’’, Intruksi sang Jenderal Lapangan
setalah Melakukan Negosiasi dengan beberapa kawan untuk pengambilan sikap akhir.

"Kita datang sama-sama, kita harus pulang sama-sama. Kita duduki mabes porli hingga semua kawan dibebaskan.

"Kawan-Kawan Siap....?" seru Sang Senjendral Lapangan.

"Siap", balas barisan massa sambil jalan ke arah sabara itu, Bergabung dengan Mereka.

"Ya, Kami kembali ke rumah persinggahan. esok kami akan kembali ke Batavia-mu sebelum Revolusi mengulingkan Batavia-mu, kami akan kembali hingga revolusi berganti membawah Sang Bintang Fajar di Hollandia kami,".



Daun Kering  (12/12/2016)
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: