Degradasi Budaya Tambrauw Di Era Modern (1) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Degradasi Budaya Tambrauw Di Era Modern (1)

Oleh: Maximus Sedik

Masyarakat Tambraw - Ist


Perubahan adalah suatu proses yang tak pernah berhenti dalam dunia ini, termasuk dalam kehidupan manusia. Paradigma perubahan selalu bersumber pada ilmu pengetahuan sebagai ranah kognitif manusia. Selanjutnya, paradigma yang berubah ini berjalan menuju ke tahap nilai (afeksi) dan kemudian pada titik tertentu, membentuk sebuah skill.

Pada akhirnya, semua ini akan terwujud dalam diri manusia dalam bentuk perilaku sikap sosial dalam kebudayaannya. Pergeseran paradigma kognitif dalam ilmu pengetahuan secara simultan akan terus melahirkan peradaban-peradaban baru yang terus mengalami pergerakan.

Jika merujuk pada pemikiran filsafat, sejarah perkembangan umat manusia setidaknya dapat dikategorikan ke dalam empat fase. Empat fase pemikiran filsafat tersebut secara berurutan yakni: Kosmosentris, teosentrisme, antroposentrisme dan logosentrisme.

Masing fase memiliki karakteristik tersendiri, sekaligus memiliki banyak penganut di masanya. Tahap pertama yakni kosmosentrisme, tahap dimana alam semesta bertindak sebagai objek diskursus. Ini terjadi pada peradaban zaman kuno. Tahap kedua yaitu teosentrisme, adalah masa ketika objek kajian berpusat pada tuhan. Masa ini terjadi pada abad pertengahan.

Berikutnya adalah masa antroposentrisme, dengan wacana dominannya adalah manusia dengan kekuatan rasionya dan diunggulkan lebih dari apapun. Masa ini terjadi pada zaman modern yakni, abad ke-19. Dan keempat adalah logosentrisme, yakni tahapan yang menempatkan bahasa sebagai pusat  pembicaraan. Masa ini terjadi pada abad mutakhir (modern), tepatnya di abad ke-21.

Fase pemikiran pertama dan kedua identik dengan era tradisional, sedangkan fase pemikiran filsafat ketiga adalah era modern atau pencerahan. Pada era pencerahan ini semua hal bertitik tumpu pada manusia. Dan beberapa fase yang sangat berpengaruh saat ini, seperti yang masih relevan dalam perdebatan para pemikir-pemikir yakni era post-modernisme (era kekinian).

Fase fase ini menunjukan sebuah revolusi kehidupan manusia dan berjalan sesuai dengan pemikiran-pemikiran sesuai dengan masanya.

Kemerosotan suatu kehidupan terutama kehidupan yang dibentuk secara kultural yang dibentuk berdasarkan corak kebiasaan hidup masyarakat setempat. Penurunan nilai-nilai budaya akibat dari berbagai hal terutama tawaran pembangunan yang terlalu tinggi.

Kehidupan itu dibentuk melalui sebuah proses yang panjang, kehidupan itu diyakini setiap masyarakat yang berada di setiap suku-bangsanya. Kehidupan itu terbentuk  dari suatu pola tertentu dan itu diyakini secara bersama dan berkembang dari generasi ke generasi.

Budaya adalah suatu unsur terpenting dalam membangun sebuah kehidupan baik. Kehidupan di dunia ini,dan bersumber pada suatu kebiasaan yang terwarisi secara baik dan itu terbentuknya  suatu tatanan. Budaya itu bersumber pada lisan yang berkembang sehingga menjadi budaya tulis, setiap suku bangsa di dunia mengenal budayanya mengembangkan sesuai dengan corak kehidupan manusia.

Budaya di berbagai suku bangsa di muka bumi ini memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan itu terbentuk karena adanya suatu kelompok yang memiliki  kebiasaan yang terbangun sejak manusia itu mengenal kehidupannya. 

Berbagai budaya lisan berkembanga dalam kehidupan masyarat diteruskan secara turun-temurun dan dikembangkan. Budaya itu ada, berdasarkan bagaimana manusia yang memiliki budaya megembangkan atau melestarikan. Melestarikan sebagai bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dalam bentuk apapun.

Kelompok masyarakat suatu bangsa  itu dikenal melalui budaya yang dipertahankan baik secara lisan dan tertulis untuk menjadi bahan yang dipublikasi melalui karya-karya ilmiah. Kita dibentuk melalui kebiasaan kehidupan melalui cara hidup dalam kelompok sosial, membangun ekonomi dan berbagai segmen  terkait yang dibangun secara komunal.

Ilmu pengetahuan menjadi suatu esensi utama begitu pula budaya juga menjadi suatu esensi yang tidak bisa dipisahkan dalam perkembangan kehidupan. Setiap kelompok masyarakat menafsirkan budaya yang menjadi bagian jati (eksistensi) diri sesuai dengan dimensi maupun konteksnya. 

Manusia itu disebut sebagai manusia yang seutuhnya apabila mampu melestarikan budaya yang ada sebelum kehidupan yang sifatnya institusi moderen lain.

Banyak pendapat yang menafsirkan budaya terutama ilmu pengetahuan, tetapi itu sebatas menganalisa sesuai dengan kajian sains. Yang memahami dan menunjukan adalah orang yang memiliki budaya itu, karena kelompok inilah lebih mengenalnya  dari itu.

Seperti di kalangan masyarakat Tambrauw memiliki pendidikan inisiasi yang ada di wilayah Tambrauw gunung. Budaya itu, bagian yang penting dalam kehidupan manusia yang terbentuk secara komunal primitif maupun dan menuju pada fase kehidupan berikutnya.

Seluruh kehidupan yang bersumber pada aktivitas manusia, seluruhnya berawal dari konstruksi budaya. Budaya itu terbentuk sesuai dengan hasil cipta, karya, karsa dan rasa yang berkembang dan itu menjadi bagian yang sangat mendasar dalam diri kelompok masyarakat.

Dunia terbentuk berawal dari episode peradaban berkembang di masanya. Kehidupan dunia saat ini ada pada era post-modernisme sehingga memberi pengaruh yang besar dan mengarah pada sebuah peradaban baru. Berpengaruh dari berbagai sudut kehidupan secara spesifik pada seni dan  antropologi dan berefek pada antroposnya. Segi kebudayaan, banyak pengaruh yang memberi dampak yang besar dan itu bagian dari misi perubahan dunia. 

Bagaimana masa depan budaya di tengah era moden, masa depan budaya Tambrauw berada di tangan seluruh pemilik tanah, hutan dan budaya Tambrauw dan menjadi hak  seluruh orang Tambrauw. Dan menjadi kewajiban secara penuh untuk dilestarikan secara luas.

Adat (kebiasaan) itu suatu spirit yang mendasar dalam kehidupan manusia dan bukan menjadi vestifal yang dipamerkan untuk menjadi bahan pertontonan para wisatawan (para pengunjung). Tetapi adat itu, sebagai misteri ilahi yang terbentuk secara natural dan sangat sakral sehingga kita menjaga kesakralan itu.

Adat orang Tambrauw adalah adat yang berbeda dari seluruh adat yang ada di dunia ini, maupun secara khusus Papua. Yang memandang itu adalah orang Tambrauw sendiri dan Orang Tambrauw menjadikan adat sebagai suatu yang menjadi Bagan dari jiwa dan raga yang menjadi penggerak kehidupan.

Tambrauw terdapat dalam lima suku besar yakni, empur, Miyah, Ireres, Madik dan Bikar. Keempat suku lain lebih mendominasi di wilayah gunung dan lembah Tambrauw dan keempat ini juga memiliki bahasa yang berbeda. Dan satu suku berada di sepanjang wilayah pesisir Tambrauw dan berbau juga dengan suku empur dan itu terlihat pada persebaran bahasa. Ini terlihat pada perkawinan campuran (persilangan) antara marga-marga sehingga terlihat sama.
Seluruh masyarakat Tambrauw memiliki mata pencaharian campuran seperti satu kepala keluarga bisa bertani, berternak dan meramu. Aktivitas kehidupan masyarakat Tambrauw berpusat pada alam, alam sebagai sumber kehidupan utama masyarakat.

Sistem pertanian maupun komunitas kehidupannya, sifatnya nomaden. Dan seluruh tatanan budaya sama seperti sistem barter, perang antara sesama, corak arsitektur bangunan juga masih terlestari hingga Tambrauw terbentuk sebagai status daerah otonomi baru. Budaya yang ada di Tambrauw adalah budaya anak Tambrauw sehingga kita mempunyai peranan penting untuk mewarisi itu.

Bagaimana Pola hidup orang Tambrauw di masa lalu, pola bergantung atau berlandaskan pada Aliran kosmos (kosmosentrisme) dan komunal (komunalisme). Yang mengartikan bahwa pusat hidup orang Tambrauw di masa lalu bergantung atau berpusat pada alam. Dan hidup kelompok-kelompok kecil (klein/marga) yang berpusat pada seluruh dusun-dusun kecil.

Seluruh orientasi kehidupan bersumber pada alam, alam menjadi sumber utama hidup mereka secara keseluruhan. Pola relasi yang di bangun adalah pola relasi responsibility yaitu, relasi yang saling menguntungkan dan saling ketergantungan dari semua lapisan sosial yang mereka jalani.

Dalam pemahaman orang Papua zaman lalu ada tiga alam yaitu, alam kosmos, alam empiris atau nyata, dan alam tak nyata atau roh-roh (alam non empiris). Keyakinan yang mereka yakini juga berdasarkan asal-usul mereka  berdasarkan moyang suatu marga yang berupa alam hewan maupun alam tumbuhan. 

Paham ini para antropolog menyebutnya sebagai paham totem (totemisme) yang artinya kepercayaan pada benda yang memiliki suatu kekuatan tertentu. Keyakinan ini juga kita orang Tambrauw meyakini dan itu mengalami pergeseran pada saat misi gereja masuk.

Kita orang Tambrauw saat ini memiliki suatu pola pergeseran melalui suatu teologi baru maupun transformasi. Ada tiga keadaan geografis alam Papua, yang membentuk karakteristik  orang papua secara umumnya yaitu, alam pegunungan, alam pantai atau pesisir, dan alam rawa-rawa. Medan geografis ini juga mempengaruhi mata pencaharian utama mereka, berdasarkan alam dimana mereka berada.

Orang yang mendiami alam pegunungan mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam atau bertani dan berburu, yang mendiami alam pantai mata pencaharian utamanya adalah pelaut atau nelayan, dan yang mendiami alam rawa-rawa mata pencaharian utamanya yaitu meramu dan sedikit juga berburu. Ketiga alam ini juga mempengaru seluruh watak atau karakter yang mereka miliki, watak orang gunung dan pantai sama, keras tegas,prinsipil, pemberontak, kritis, agresif,  emosional, bekerja keras, daya juang tinggi, dan lain sebagainya. Sedangkan watak orang peramu adalah lebih pasif, menunggu, santai, lebih memilih diam, kurang bekerja  keras, tetapi lebih berjiwa seni ( pahat, ukir, dan suara tari), lebih menghargai alam, spontan dan jujur mengatakan apa adanya, polos dan sederhana, dan lain sebagainya yang mereka miliki. Karena pusat hidup  kita orang Tambrauw atau Papua pada saat itu berpusat pada alam (kosmos), maka melahirkan banyak ritus-ritus dan upacara-upacara yang berhubungan alam roh nenek moyang dan sesama yang masih hidup. Misalnya ritus kelahiran,  ritus kematian, dan ada banyak ritus lainnya tidak disebutkan, selain ritus-ritus ada pula upacara-upacara adat, misalnya upacara tebang kebun, upacara tebang sagu, dan upacara ritual lainya.

Selain upacara-upacara ada pula pesta-pesta yaitu, pesta adat, pesta tukar kain timur bagi masyarakat pegunungan Tambrauw memiliki kesamaan itu, dan berupa pesta adat lainya.Tatanan sosial dan nilai-nilai budaya masa lalu, sebagai struktur dan sistem yang bersumber pada sistem marga atau klein yang mendiami suatu tempat tertentu yaitu dusun.

Nilai-nilai budaya, pendidikan melalui sistem pendidikan adat yang disebut pendidikan inisiasi, baik untuk kaum laki-laki maupun kaum perempuan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan atau disepakati bersama oleh para  pendidik. Tujuan dari pendidikan ini, banyak memberi nilai-nilai positif untuk para pendidik yang dididik. Kajian secara analitik untuk mendefinisikan (menjelaskan secara sains masih terbatas atau dibatasi oleh pendidik secara khusus di Tambrauw.

Menurut beberapa ahli yang meneliti tentang proses pendidikan adat atau pendidikan tradisional, menyimpulkan bahwa sistem pendidikan inisiasi memiliki beberapa karakteristik (spesifikasi tertentu) dan dimensi yang khas yang diterapkan kepada para pendidik yang berstatus sebagai murid sebagai subjek inisiasi.

Kata inisiasi berasal dari kata latin’’ pinisium’’, artinya transisi, antara (between) belum jadi beralih ke  jadi, belum dewasa menuju dewasa, peralihan dari belum tahu menjadi tahu, dan sebagainya. Dengan sistem pendidikan adat ini, sistem transmisi harus ditempuh melalui proses yang ketat dan tertutup dari dunia luar. Ini memiliki ciri kesakralan (suci) sehingga untuk masuk pada dunia ini dilalui proses ketat.

Arnold Van Gennep (1873-1857, menyebut ‘’sistem pendidikan adat ini dengan nama sistem pendidikan peralihan dan pengasingan ‘’diri’’. Karena melalui beberapa proses atau tahapan yang ditempuh melalui sistem pendidikan yang diterapkan.Tahap- tahap tersebut tersebut adalah tahap pemisahan tahap transisi atau pengasingan, dan tahap integrasi atau penyatuan.Tahap ini, A,Van Gennep, menyebut tiga tahap ini adalah suatu proses sistem pendidikan yang mengolah,mengembangkan, dan membentuk para murid atau para subjek inisiasi. Ketiga tahap ini dapat ditempuh melalui suatu proses waktu yang cukup lama. Dan juga ketiga tahap sistem pendidikan inisiasi adat ini mencakup tiga aspek atau tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian yaitu, aspek pelepasan atau pemisahan dari keterkaitan biologis maternal-paternal menuju pada tahap personal (ketersendirian atau keterasingan), kemudian menuju pada pembentukan kedewasaan  yang utuh, dan siap diutus atau turun di tengah-tengah masyarakat. 




Bersambung .......!
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: