"Belajar Dari Sejarah" - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

"Belajar Dari Sejarah"

Oleh : Albert Rumbekwan

Ist.


Numbay, Ko’Sapa - Pertanyaan mendasar  yang pasti terlontar atas tiga kata yang  terangkai jadi satu kalimat di atas adalah : Apa yang mau kita pelajari dari sejarah?...

Dalam sejarah terdapat tiga hal: 1.Sejarah sebagai kisah, yang hidup dalam ingatan maka selalu di ceritakan. 2. Sejarah sebagai peristiwa, yakni sejarah yang ditulis sebagai ilmu sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan kebenarannya. 3. Sejarah sebagai nilai (velue). Sejarah yang memiliki nilai, pengalaman yang menginspirasi orang yang membaca dan mau belajar dari sejarah.

Merefleksi perjalanan saya bersama Pdt. Wanma Hans memberikan materi seminar sejarah  di Mansinam, Klasis GKI Ransiki dan di GKI.  H. J. Agter Korido. Terdapat beberapa hal dan pembelajaran sejarah setiap peristiwa masa lalu yang berlangsung di tiga daerah tersebut, antara lain : 1). Mansinam menjadi pusat peradaban orang Papua mengenal Nama Tuhan dan Gereja fisiknya,  sebagai tempat perjumpaan orang Papua dengan Tuhan yang tidak kelihatan. 

2). Ransiki dan sekitarnya merupakan salah satu lumbung ketahanan pangan bagi Zending hingga ketika perang dunia ke-2, Ransiki menyuplai berbagai hasil pertanian dan perkebunan ke berbagai daerah. 

3). Korido Supiori Selatan, memiliki latar historis yang memiliki 12 Mambri yang terkenal jahat dan pemotong kepala. Namun sekitar tahun 1940-1950-60, Korido menjadi pusat pendidikan dan kesehatan dengan adanya YVVS dan MVVS serta rumah sakit "Rumande", melahirkan generasi emas Papua dimasanya.

Dengan demikian terdapat beberapa hal yang menjadi pelajaran dari sejarah:

1. Nieuw Guinea (Papua) di masa lalu telah tertata secara baik dan teratur  oleh Adat, masyarakat Papua hidup dalam tatanan adat yang tersirat secara lisan namun hidup dalam perlakuan.

2. Mansinam, Ransiki, dan Korido, merupakan daerah orang Biak. Maka mengapa orang Biak penting dalam pekerjaan Zending saat itu karena keberanian, ketangguhan, kemampuan maritim yang menjadi modal sosial untuk melayarkan obor injil yg dibawa para Zending ke daerah2 lain.

3. Nieuw Guinea, ketika itu telah dibangun oleh Zending dan Pemerintah Belanda secara baik dengan berbagai pendekatan sosial, ekonomi, dan budaya.

4. Berbagai fakta Sejarah telah membuktikan bahwa wilayah Nieuw Guinea bukan daerah baru dan kosong penghuni dan pembangunan, sehingga harus di bangun dengan pendekatan Sejarah dan interdisiplin ilmu lain.

Maka setiap pemerintah, gereja, LSM, swasta dan lainya mesti bekerja dengan pemikiran historis,  geografis antropologis, ekonomi, teologis dan sosiologi, untuk merumuskan perencanaan pembangunan yang strategis, bijak dan humanis berdasarkan keadaan lingkungan dan karakteristik suatu daerah.

Belajar dari sejarah berarti belajar dari warisan leluhur. Belajar dari sejarah menjadikan kita berpikir bijak, kritis dan idealis. Seorang yang tidak tahu sejarah akan kehilangan jati diri. Dan orang yang tidak tahu sejarahnya, ia sama dengan orang biadab dan tidak tahu adat budayanya.

Tulisan ini hanyalah refleksi historis untuk mengajak kita untuk memiliki kesadaran historis, idealisme historis dan berpikir kritis historis untuk melihat masa kini dan masa depan sebuah bangsa di atas tanah dan negerinya.


Salam : "Historia Vitae Magistra"
Abepura, 5 Oktober 2019.
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: