Apa yang Dipelajari di Sekolah? - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Apa yang Dipelajari di Sekolah?

Oleh : Patrick Y.)*

Siswa-Siswi yang dibina oleh Gerakan Papua Mengajar (GPM) - nirmeke.com


Suatu ketika, saat anak baru pulang dari sekolah danenghampirinya di pinggir danau samping kebun, de pu bapa tanya anak. 

"Anak, apa yang ko belajar di sekolah?"

Lalu anak menguraikan pelajaran yang didapatnya, seperti berikut. 

"Bapa, di sekolah, sa diajari bahwa Indonesia negara demokrasi, perbedaan dihargai sebagai kekayaan dan Indonesia merawat kemanusiaan; Jakarta tidak pernah tipu-tipu; polisi mengayomi rakyat dan tentara pelindung dan mitra rakyat.

"Sa diajari bagaimana jadi manusia sejati  dengan sekolah tinggi sampai S2 s3, berpakaian kain, makan nasi dan roti saja, trus  tidak tertawa kuat-kuat, tidak makan banyak, makan juga harus pakai piring, sendok, garpu dan pisau, bicara jang kuat-kuat, tersenyum sama orang yang kita musuhi walaupun ko trasuka dia, dan menegur  dengan kata-kata halus-halus, tidapapa tidak jujur supaya lawan bicara tidak tersinggung,  membungkuk dan mencium tangan kepada senior, yang lebih tua, walaupun mereka bicara tidak baik dan jahat, dan mengendalikan perasaan demi adab; agar jadi manusia beradab seperti mereka yang pegang negara.

Saya diajari bahwa Papua masih terbelakang, tidak beradab, tradisional, dan oleh karena itu Indonesia adalah pintu bagi sa utk menuju adab terhormat dalam pergaulan dunia; bahwa pakaian harus menggantikan koteka, busur dan anak panah simbol kekerasan dn tidak boleh dilestarikan, nasi harus menggantikan ubi dan sagu. Saya diajari untuk menerima perkebunan sawit, pertambangan emas dan tembaga, pengeboran minyak dan gas alam; agar sa dapat lapangan kerja, meningkatkan taraf hidup, katanya itu syarat atau pintu menuju masyarakat modern. 

Saya diajari utk meninggalkan kebun dan menyerahkan tanah kepada pemerintah; supaya pembangunan berjalan dan org Papua maju, karena lebih terhormat menjadi bupati, pilot, dokter atau guru dibanding petani dan nelayan gantikan bapak jaga tanah. Sy diajari agar merelakan tanah buat kantor, pabrik, toko, perumahan tranamigran; agar sy bisa melihat dari dekat hidup beradab, lalu meninggalkan hidup mengolah tanah dan melaut yg katanya cara hidup kolot, lalu menjadi pekerja di kios, kantor, perusahaan mereka, hidup dari gaji dan insentif tiap bulan dari mereka; itu hidup modern, diversifikasi kerja, katanya. 

Bapa, di sekolah, sa  selalu yang berada di posisi salah dan kalah; sa diperkenalkan dgn hal-hal yg asing, yang sa tra mengerti, yang sa tra hidupi dalam keseharian.

Sa diajari untuk bela negara; bahwa Polisi menangkap, menahan para penjahat saja dan menjadi sahabat bagi orang baik, bahwa tentara menembaki musuh melindungi rakyat.

Sa diajari bahwa negara selalu benar.  Tentara dan polisi juga selalu benar, karena bertindak profesional, pelindung kemanusiaan dan penegak keadilan.

Sa diajari bahwa untuk membangun ekonomi perlu investasi. Perusahaan harus lebih banyak datang kelola hutan, ambil yang di dalam tanah dan laut, supaya sa sejahtera, katanya. Supaya pendapatan negara tambah besar, katanya.

Mendengar semuanya, Bapa menghela nafas. Ditatapnya anaknya dalam-dalam. 

"Lalu apa yang kau inginkan setelah semua pelajaran itu?" 

"Bapa, sa ingin hidup bersahabat dengan alam; bangun pagi karena kicau nuri dan maleo, minum dari anak kali yang jernih setelah difilter, mandi dari air kali setelah dihangatkan. Sa ingin makan sagu dengan ikan, udang, babi dan rusa. Sa tidak ingin ada polisi, sa tidak ingin ada tentara, sa tidak ingin ada penembakan, penculikan, penangkapan, pemerkosaan, aniaya dan siksa. Sa ingin sa batin ni bebas dan merdeka. Sa ingin tidak ada deru mesin dari kendaraan dan pabrik, sa ingin pakai energi ramah lingkungan, dari air, matahari dan udara saja utk kebutuhan sehari-hari.  

Sa ingin bertani dan berkebun untuk hidup, juga utk mereka yg akan butuh makan di luar sana nanti. Sa tidak ingin beras yg tidak biasa sy tanam. 

Saya ingin jujur saja, bilang salah bila salah dan benar kalau benar, tanpa takut ada yg tersinggung.

Sa ingin belajar tentang cara berkebun modern, cara melaut modern, cara mengelola ubi dan sagu jadi tepung agar awet dan mengelola daging dengan teknologi tinggi ramah lingkungan  agar awet. Sa ingin belajar secara ilmiah pengobatan tradisional pakai tumbuhan dan hewan yang ada sehingga bisa tahan lama dan praktis dipakai,  memelihara dan membiasakan mengonsumsi tumbuhan obat-obatan di pekarangan bari sa pu masyarakat. 

Sa ingin agar sedapat mungkin sa tdk gunakan minyak sebagai bahan bakar, dan menyayangi hutan dan tanah. Sa ingin hidup berdampingan dengan semua orang, siapa pun dia, apa pun bentuk dan warnanya, selama mereka juga mencintai alam, menghargai sesama manusia, dan hidup dari apa yang dapat dihasilkannya sendiri baik dari dirinya sendiri maupun dalam komunitas yang lebih besar, dengan interaksi yang fair dan wajar tanpa nafsu serakah, yang menghargai segenap makhluk bumi." 

Bapa memeluk anaknya dan berbisik di telinganya,  "Bapa bangga, anak sudah menjadi anak Papua yang cerdas karena telah belajar dari mereka untuk menjadi dirimu sendiri." 


Penulis adalah anak Papua, tinggal di Nabire.
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: