GRASBERG - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

GRASBERG

Oleh; Dwidjo U. Maksum )*

Ahad pagi, empat hari lalu cukup istimewa. Bersilaturahmi ke kediaman Pak Wakil Ketua RT lingkungan tempat tinggal saya: selain disambut secangkir kopi dan gado-gado, juga mendapat hibah cerita yang luar biasa. Hingga kini, saya masih tercenung mengingat seluruh detail kisah beliau.
Bang Yon, begitu saya dan warga sekitar menyapanya. Sarjana arsitektur itu mendisain rumahnya seperti loji. Komposisi bangunan yang lumayan tinggi dengan menyisakan ruang terbuka di sekeliling bangunan, membuat hawa tropis selalu hadir membawa kesejukan. Makin terasa asri karena tanah di antara pagar dan dinding depan rumah disulap menjadi kolam ikan koi. Di atasnya ditata struktur kayu mirip anjungan setinggi setengah meter. Saya sering melihat Bang Yon duduk sembari memetik dawai gitar listrik di atas kolam. Di anjungan kayu itulah kami mengobrol. Di bawah kanopi berbalut tanaman markisa.
Berjarak dua meter dari tempat kami duduk, dua kawan: Iwan Cabe dan Ilham Tomat Zulfikar sibuk membenahi scooter tunggangan Bang Yon. Vespa PX 1981 warna biru langit itu yang setiap hari menemani lelaki berputera dua itu ke kantornya di Balai Kota Kediri. Di tempat itu dia kini mengabdi, setelah meninggalkan karirnya sebagai karyawan profesional di PT Freeport Indonesia, perusahaan raksasa di bawah kendali Freeport Mac Moran yang bermarkas di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat.
Buat Bang Yon, kawasan di bawah puncak Carstensz Gunung Jayawijaya adalah memori masa lalu tak terlupakan. Menghabiskan masa kecil sebagai anak pekerja tambang, lembah-lembah di dataran tinggi di sekitar Mimika membentuk karakter yang tak mudah menyerah menghadapi kenyataan hidup. "Saat duduk di bangku SD, saya minta ayah saya membelikan gitar," kisah Bang Yon.
Kok gitar? Pergaulan dengan anak-anak para pekerja tambang di sekolah dengan fasilitas sangat komplit, membuat persaingan prestasi jadi sarapan sehari-hari. Yang tidak memiliki keistimewaan tertentu, biasanya jadi bahan olok-olokan. Gitar pemberian sang ayah--salah satu tenaga ahli di kawasan tambang-itulah yang membuat rasa percaya diri Yon kecil bangkit. Buku chord gitar juga dibelikan agar dia bisa belajar mandiri menggenjreng gitarnya.
Pada sebuah perayaan di sekolah, Yon tampil membawakan lagu "Di Radio" milik Gombloh. Saat itu lagu penyanyi balada itu meledak dan sangat populer di seantero Nuswantara, termasuk Papua. Teman-teman, guru, wali murid, kagum dengan penampilan Yon di atas panggung. "Sejak saat itu, saya tak lagi diolok-olok, dan bisa belajar di sekolah dengan kusyuk," kenang Bang Yon.
Cerita terus bergulir. Hidup di lingkungan tambang yang serba tercukupi, harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial orang tuanya. Ikatan persaudaraan antarkeluarga pekerja terus disemai. Meskipun di lokasi pemukiman para pekerja tambang di kota Tembaga Pura disediakan fasilitas angkutan penghubung ke semua kawasan, tapi banyak yang memilih jalan kaki. Agar bisa ngobrol dan saling mengenal. Sekolah, masjid, gereja, klinik, bisa dijangkau dengan mengayun langkah, sembari mengusir hawa dingin dataran tinggi.
Di bawah gunung bersalju abadi, tak perlu AC pendingin udara. Yang dibutuhkan mesin penghangat ruangan. Rumah-rumah susun dan kelas belajar di sekolah, sangat bergantung pada mesin penghangat. Juga beberapa unit perkantoran yang dibangun dari bekas kontainer, dirombak menjadi ruang kerja yang nyaman lengkap dengan alat penghangat.
Bang Yon menyimpan foto-foto saat masih tinggal bersama keluarga hingga akhir karirnya di Timika. Ketika ayahnya pensiun dan pulang ke Kediri, dia melanjutkan perjuangan sang ayah menjadi pekerja tambang. Peluang itu dia ambil setelah menuntaskan kuliahnya di Malang.
Beberapa tahun bekerja di perusahaan yang menggunakan sistem penambangan block caving, Bang Yon memutuskan berhenti. Dia memilih pulang ke Kediri, membangun kehidupannya mulai dari nol bersama Santi, istri tercintanya. "Saya senang pernah mengajak mertua saya masuk tambang di bawah tanah. Beliau sangat tercengang," kisah Bang Yon.
Cerita Bang Yon tentu masih banyak. Jika diteruskan bisa-bisa jadi biografi mini lelaki yang kini mengembangkan keahliannya di bidang arsitektur, di sela-sela menjadi amtenar di Pemerintah Kota Kediri. Buat dia kawasan lembah di kaki Carstensz mengajarkan bagaimana alam menyediakan ruang tak terbatas bagi kebutuhan praktis manusia. Ikhtiar yang dilakukan untuk menggali potensi kandungan sumber daya alam, harus diimbangi dengan kesejahteraan buat alam sekitar termasuk manusia yang berada di dekatnya. Jika itu bisa dilakukan, niscaya alam akan memberi semakin banyak apa yang dibutuhkan manusia. "Saya terus berharap, tidak ada seorangpun yang dirugikan dari proses kita mengambil sesuatu dari alam," kata dia.
Harapan Bang Yon adalah mimpi seluruh umat manusia, termasuk suku-suku yang menghuni kawasan pegunungan yang kini jadi zona pertambangan Freeport di bumi Papua. Suku Amungme yang tinggal di dataran tinggi, Kamoro di pesisir pantai Mimika, juga lima suku kerabat dua suku itu: Dani, Moni, Damal, Mee (Ekari), dan Nduga.
Dari berbagai literatur dan artikel yang saya baca, penambangan di dataran tinggi Mimika sesungguhnya adalah mimpi yang terwujud. Angan-angan, asumsi, hipotesa, dimulai dari kisah petualangan mengenali alam semesta. Adalah Jan Carstensz yang mengawali semuanya, ketika pada 16 Februari 1623, pelaut Belanda itu melihat puncak tertinggi di Irian Jaya. Namanya, hingga kini diabadikan menjadi nama puncak Gunung Jayawijaya.
Pada 23 November 1936, ekspedisi geologi dilakukan Colijn dan Jean Jacquez Dozy. Beberapa tanda yang dicatat dua orang itu diteliti Dr C Shouten pada tahun 1936, dan menyimpulkan, kawasan Carstenz menyimpan kandungan tembaga dan emas.
Tahun 1960, Forbes Wilson dan Del Flint menelusurui laporan Colijn dan Dozy. Penelitian itu semakin memperkuat kesimpulan yang dikemukakan Shouten tentang adanya tembaga dan emas.
Enam tahun kemudian, temuan itu menjadi dasar digelarnya pembicaraan antara Freeport McMoRan dan pemerintah RI di Jakarta. Hasilnya, Kontrak Karya I ditandatangani pada 5 April 1967 dan dimulailah penambangan terbuka di Ertsberg pada 1973.
Penambangan itu sudah pasti mengganggu kehidupan dan ketenangan suku Amungme yang telah tinggal di kawasan penambangan sejak berabad-abad silam. Benturan kebudayaan terjadi. Memasuki 1974, konflik antara suku Amungme dan Freeport mulai mengemuka yang kemudian bisa diredam dengan "January Agreement".
Pada 1976, Indonesia mendapat bagian saham 8,5 persen yang kelak pada 1988 naik menjadi 10 persen. Kenaikan nilai kepemilikan saham itu berbarengan dengan ditemukannya kandungan emas lebih banyak di kawasan Grasberg. Ditafsir ada 18 juta ton cadangan tembaga dan 1,430 ton emas, hingga 2014. Sejak saat itu Grasberg berubah. Dataran tinggi tempat bergantungnya kekuatan spiritualisme suku-suku itu tak lagi sunyi. Hiruk-pikuk alat berat meraung hingga ke lembah-lembah suci tempat ruh agung yang dihormati bersemayam.
Kecilnya nilai kepemilikan saham pemerintah RI kerap menjadi perbincangan luas masyarakat Indonesia, mulai dari istana presiden hingga warung kopi emper toko. Pembagian hasil dinilai tidak seimbang, mengingat Indonesia adalah negara yang berdaulat atas kawasan tambang itu. Belum lagi dugaan adanya kerusakan bentang alam akibat limbah.
Lebih miris lagi, jika melihat kondisi kehidupan suku-suku di sekitar kawasan tambang yang sepertinya tidak terkatrol oleh keberadaan perusahaan yang tiap hari mengeruk keuntungan besar dari tanah-tanah dimana suku-suku itu memiliki hak ulayat. Kemiskinan ekonomi dan budaya jelas terpampang di kawasan itu. Konflik dan pertikaian yang memicu korban jiwa terus terjadi hingga menguar menjadi dugaan adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Namun, sepertinya eksplorasi harus terus berjalan. Kontrak Karya baru pun sudah disepakati hingga 2021.
Hingga kini masih berlangsung perjuangan menuntut keadilan yang dilakukan para pemegang hak ulayat dengan berbagai cara. Tentu ini sebuah fakta yang tidak boleh dipandang sebelah mata atau dianggap main-main. Seseorang yang tidak punya hak kepemilikan atas suatu lahan, yang kemudian mendirikan warung kecil untuk mencari nafkah saja, jika tiba-tiba digusur akan menangis meraung-raung. Apalagi suku-suku di sekitar Grasberg yang merasa memiliki kesatuan hidup dengan tanah dan alam hasil inisiasi nenek moyang mereka.
Agar tidak berlarut-larut, pasti ada formula terobosan sangat adil untuk mendinamisir kemanfaatan hasil eksplorasi alam. Sehingga seperti kata Bang Yon, "tidak ada seorangpun yang dirugikan."
Bang Yon tentu punya mata hati sendiri untuk melihat secara obyektif ketika kini berada jauh dari lembah berhawa dingin dan berkabut. Bagi dia, apa yang dilakukan Freeport adalah kinerja luar biasa yang bisa berpotensi memajukan peradaban manusia. Dan ikhtiar itu akan jauh lebih bermakna jika segala hal yang bisa mengganggu stabilitas alam semesta bisa dieliminir hingga titik nadir.
"Belum terlambat untuk membenahi semuanya menjadi semakin bernilai buat umat manusia, khususnya buat saudara-saudara yang lebih dahulu bermukim di area tambang. Karena, spirit itulah yang menjadi fondasi dasar mengeksplorasi kandungan alam," kata dia.
Ketika pamit pulang, Bang Yon menawari saya membaca buku warisan ayahnya yang berjudul "Grasberg". Ayahnya termasuk orang istimewa yang mendapat kenang-kenangan buku yang dicetak dalam jumlah terbatas itu. Buku bersampul merah itu satu-satunya kenangan paling berharga untuk membuka memori tentang hidup di kawasan elit di tengah-tengah dataran tinggi belantara Papua.
Buku itu ditulis oleh George A. Mealey, insinyur pertambangan yang merintis dan mengakhiri karirnya sebagai penambang. Sepintas saya buka-buka halaman demi halaman, penuh data tentang kandungan kekayaan Grasberg. Pada ketinggian 3.550 di atas permukaan laut, jika dilakukan pengeboran, akan ditemukan emas dalam jumlah tak terkira. Hingga di kedalaman berapapun yang bisa dijangkau, kemungkinan kekayaan yang tersimpan di tubuh Grasberg semakin tidak terhingga. Begitu kira-kira salah satu penjelasan Mealay dalam buku yang diluncurkan penerbit di Singapura tahun 1996 itu.
Bang Yon ingin sekali saya membawa pulang buku itu. Tapi saya menolak. Biarlah tersimpan di lemari buku di rumah mirip loji. Toh, Bang Yon berkali-kali mengatakan, siapapun boleh meminjamnya jika memang dibutuhkan untuk memperkaya amunisi intelektual yang bisa menjadi jembatan memahami apa yang sesungguhnya tersimpan di gunung-gunung purba itu.
"Saya tak kuasa membaca kekayaan yang melimpah di tepi kemiskinan yang membuncah, Bang Yon," kata saya.
Bang Yon tersenyum. Sepertinya dia tahu, bahwa saya sedang merasa menjadi pengecut karena tidak bisa melakukan apapun untuk menjembatani lahirnya keadilan di kawasan luas kaki Carstensz itu.

(DUM: bawah pohon mertega ~ Kamis 28/1/2016 subuh)

)* Dwidjo U. Maksum, Pemimpin Redaksi www.kediripedia.com
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: