Tauboria Kehilangan Gereja Kecil - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Tauboria Kehilangan Gereja Kecil

Doc. Ko'Sapa 

Oleh Selekage Wita

Tempo dulu asrama Katolik Tauboria memiliki sebuah kapel kecil. Namanya kapel St. Ignasius Loyola. Gereja kecil itu terletak sangat strategis. Dibangun di tengah - tengah asrama. Letaknya tepat diantara rumah pembina dan wisma II asrama Tauboria.

Pembangunan Gedung Gereja

Gedung Gereja sendiri dibangun dengan berkat kerja keras pembina asrama dari Tarekat Yesuit, Pater Wolfgan, SJ (2000). Untuk membiayai proyek pembangunan tersebut, beliau meminta bantuan atau sumbangan kepada umat Katolik di Belanda.

Disana, beberapa Paroki menjalankan sumbangan lewat kolekte. Dari uang tersebut beliau membeli bahan dan material serta membayar tukang bangunan.

Gedung Gereja itu dibangun dengan ukuran penghuni asrama Tauboria, baik dari Wisma I maupun wisma II. Luasnya mampu menampung semua penghuni.

Membentuk Mental, Psikologi, Spritualitas dan Kepemimpinan

Gereja kecil itu merupakan sebagai sarana untuk membina dan meningkatkan spritualitas bagi anak muda Katolik 5 Keuskupan di Papua (Keuskupan Agung Merauke, Agats, Jayapura, Timika, dan Manokwari - Sorong).

Dengan adanya Gereja kecil itu, anak - anak tidak perlu keluar untuk ikut ibada atau misa rutin di luar asrama. Mereka hanya bisa ke Paroki pada hari Minggu dan hari besar tertentu. Lebih banyak sembahyang di kapel kecil ini.

Biasanya anak - anak mendapat giliran untuk pimpin misa. Disini mereka tidak hanya belajar tentang iman Gereja, akan tetapi juga tetang kepemimpinan secara praktis. Hal ini benar - benar membuat orang tua tempo dulu terlatih dan terdidik dari segi spritual maupun dari segi kepemimpinan.

Karena gedung Gerejanya sudah ada, maka pembina dan penhuni tidak perlu sibuk memikirkan tentang dimana nanti mereka akan sembah (yang) maha esa dimana. Asrama sudah punya kapel, jadi pembina hanya bagi tugas kepada semua orang yang tinggal di asrama untuk pimpin misa, mengisi lagu, doa Bapa kami dan lainnya.

Semuanya berjalan sesui harapan. Output-nya pun sangat bagus. Karena anak - anak yang dulu malu dan berat untuk tampil dan ambil bagian di depan orang, mulai berani dan bisa tampil di depan orang banyak. Mental, psikologi, spritualitas dan kepemimpinan mereka Fatih dan dipraktekkan lewat ibada dan misa di kapel tersebut.

Penutupan Asrama
Namun semuanya mulai berubah dan mengarah pada kehancuran. Perubahan yang mengarah pada kehancuran itu mulai terjadi pada tahun 2006. Saat itu, setelah Sidang Sinode Keuskupan Jayapura Ke-I. Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM melayangkan beberapa surat kepada pembina.

Isi suratnya adalah agar asrama tersebut ditutup sementara waktu dan pembina asrama meninggalkan asrama.

Hal ini pernah mengundang perhatian bagi alumni, pembina, donatur dan penghuni. Pihak Keuskupan Jayapura membangun pendekatan lewat orang yang sepaham dengan mereka untuk melakukan kompromi pada targetnya.

Beberapa alumni, seperti Bapak "J' dan lainnya berperan besar. Mereka ditugaskan untuk menjadi pembina asrama untuk mengantikan Pater Wolfgan yang "diduga" dideportasi secara "paksa".

Dari 2006 - 2009, asrama Tauboria ditutup berdasarkan surat yang dikeluarkan Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM.

Pengalihfungsian Wisma II, Kapel dan Rumah Pembina

Hal ini membuat perdebatan memakan waktu yang cukup lama. Alumni lain mendesak supaya asrama kembali dibuka. Uskup telah menerima permintaan itu.

Tetapi Bapa Uskup meminta supaya Wisma II, Kapel St. Ignasius Loyola dan rumah pembina itu dialihfungsikan untuk kepentingan para calon imam Keuskupan Jayapura.

Para alumni sepakat atas permintaan Uskup, yang penting wisma I tetap digunakan untuk kepentingan pembinaan atau tempat kaderisasi kaum awam muda Katolik.

Dalam kesepakatan itu, alumni dan Uskup mengangkat Bapak Jhon untuk menjadi pembina.

Selama beliau menjadi pembina, tidak ada kegiatan pembinaan seperti yang dijalankan oleh Pater Wolfgan.

*Asrama Tauboria Kehilangan Gereja Kecil

Dinamika itu terjadi pada tahun 2009. Sejak itu pula penghuni asrama Tauboria kehilangan tempat untuk memuji Tuhan. Hingga saat ini mereka tidak hak lagi pada kapel St. Ignasius Loyala itu.

Bahkan saat itu juga asrama Tauboria kehilangan wisma II. Saat itu juga asrama Tauboria kehilangan rumah pembina. Dan saat itu juga asrama Tauboria kehilangan perpustakaan untuk mahasiswa semester akhir dari berbagai jurusan. Saat itu juga asrama Tauboria mulai hancur.

Ruangan Baru Penganti Kapel Lama

Saat ini, anak - anak penghuni asrama tidak punya Gereja lagi. Mereka hanya punyasatu barak asram (dulu wisma I). Wisma II, Kapel St. Ignasius Loyala dan Rumah Pembina sudah menjadi milik orang lain. Status kepemilikannya berubah menjadi milik para frater.

Saat ini , Wisma II mereka sudah rubah nama menjadi Rumah Studi Keuskupan Jayapura, St. Maria Vianei (Marvin).

Akibatnya, dari 2009 - 2019 ini, mereka, penghuni asrama awam muda Katolik dari 5 Keuskupan di Papua, sembahyang di sebuah ruang kecil yang berukuran 2 x 4 meter.

Lebar 2 meter. Panjang 4 meter. Ruangan itu hanya bisa menampung 7 - 10 orang. Sangat sempit. Tidak bisa bergerak. Bahkan sangat sesak.

Tetapi mau apa lagi? Itu jalan satu - satunya untuk penghuni meningkatkan spritualitas tanpa pembina. Mereka juga sadar. Bahwa memuji Tuhan tak perlu di tempat yang indah dan megah.

Tetapi mereka tetap menginginkan wisma II, Kapel dan rumah pembina menjadi miliki asrama Katolik Tauboria kembali. Mereka merasa bahwa tidak layak bila Keuskupan Jayapura mengambil ahli atau mengalihfungsikan asrama kaum awam menjadi Rumah Studi para calon imam Keuskupan Jayapura.

Awam maupun imam sama - sama penting untuk membangun Gereja. Jadi, mereka meminta Keuskupan Jayapura harus serahkan semua aset asrama yang direbut dan diambil alih untuk segera dikembalikan sebagaimana mestinya.

Merek ini sembahyang di tempat yang dulunya alumni dan pembina mereka menyembah Tuhan. Mereka sudah tidak nyaman dengan gedung kecil saat ini. Karena penghuni lain kalau ibada tidak dapat tempat hingga duduk di luar.

Kalau hujan, yang di luar biasanya kenah basah. Di ruangan baru ini sudah tidak layak. Untuk itu, mereka mengharapkan Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM kembalikan semua yang sudah ambil dari pusat kaderisasi kaum awam Gereja Katolik Keuskupan Jayapura.


Penulis adalah Umat Katolik Keuskupan Jayapura
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: