Penulis Sastra dari Papua: Mendokumentasikan "Memoria Passionis" - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Penulis Sastra dari Papua: Mendokumentasikan "Memoria Passionis"


Oleh: Manuel Kaisiepo )*

Ketika #AprilaWayar dan novelnya, "MAWAR HITAM TANPA AKAR" terpilih ikut dalam ajang sastra bergengsi Ubud Writter and Readers Festival 2012, sesungguhnya dia menandai eksistensi dan awal berkembangnya generasi penulis sastra dari Papua.

Belum banyak memang, juga belum begitu dikenal dalam khasanah sastra nasional. Namun perlahan tapi pasti, para penulis sastra dari Papua mulai menunjukkan eksistensinya.

Dari yang sedikit itu, beberapa nama sudah mulai dikenal. Selain Aprila Wayar, ada juga Vitalis Goo, Andreas Deda, dan Teopilus B Tebai. Ada juga beberapa penulis novel lainnya, tapi umumnya masih masuk kategori "pop".

Vitalis Goo sudah menghasikkan beberapa novel, di antaranya "TANAH PERKABUNGAN" (2008) dan "PINTU MENUJU NERAKA" (2012).

Kemudian Aprila Wayar dengan MAWAR HITAM TANPA AKAR (2009), DUA PEREMPUAN (2013), dan karya terbarunya, "SENTUH PAPUA: 15000 miles, 153 hari, Satu Cinta" (2018).

Berikutnya penulis muda potensial Teopilus B Tebai telah menerbitkan buku Antologi Cerpen, "AKU PELURU KETUJUH" (2017).

Dari sedikit penulis sastra Papua di atas, yang telah mendapat perhatian luas adalah penulis perempuan, Aprilla R.A. Wayar, yang juga seorang jurnalis.

Karya pertamanya, "Mawar Hitam Tanpa Akar" sudah dua kali cetak ulang, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Rebecca Blair Young berjudul "ROOTLESS BLACK ROSES (2019).

Selain diundang ke Ubud Writer and Reader Festival 2012, nama Aprila juga tercatat dalam daftar penulis perempuan Indonesia yang diundang ke Amsterdam Book Festival 2015, bersama novelis Ayu Utami.

Lalu, kesan umum apa yang bisa diperoleh dari bacaan atas karya para penulis sastra dari Papua yang masih sedikit itu?

Karya sastra adalah wujud ekspresi imajinasi penulisnya. Tapi bukan hanya imajinasi, bisa juga medium ekspresi penulisnya tentang realitas dalam konteks sosial dan historis tertentu. Setiap penulis punya kebebasan memilih "metode" untuk mengekspresikan imajinasi, persepsi, bahkan orientasi politik dan ideologi, tanpa harus menurunkan derajat karya sastranya menjadi sekedar pamflet politik.

Karena itu memahami suatu karya sastra tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan historis kehidupan si penulis. Kita tidak bisa menghayati dengan baik novel-novel Leon Uris, misalnya "Exodus", "Mila 18", dan "QB VII", kalau tidak memahami latar belakang kegetiran hidupnya sebagai keturunan Yahudi di Eropa sebelum Perang Dunia II.
Karya sastra yang baik justru mampu menampilkan gambaran sosial dan nuansa-nuansa kemanusiaan dari suatu realitas sosial dalam konteks historis tertentu.

Dari dua penulis Papua yang sudah saya baca karya-karya mereka, #Apriladan #Teopilus, ada kesan kuatnya kecenderungan realisme sosial, tapi punya kekhasan sendiri. Kekhasan itu berakar dalam konteks sosial, budaya, politik, dan historis Papua, yang belum banyak disentuh penulis sastra di luar Papua.

Maka persoalan riil di Papua seperti trauma akibat represi politik dan militer di masa lalu, pelanggaran HAM, paradoks pembangunan di Tanah Papua, kemiskinan dan marginalisasi rakyat Papua di tengah limpahan kejayaan alamnya yang dieksploitasi pihak luar, adalah tema-tema yang dengan kuat muncul dalam karya-karya mereka.

Seperti penilaian pengamat sastra Dr Yoseph Yapi Taum dari Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:
"......kekerasan, konflik dan pelanggaran HAM di Bumi Papua yang berkepanjangan itu kini telah memasuki ruang produksi budaya. Di dalam wilayah kreatif ini persoalan-persoalan itu perlu ditafsirkan sebagai ekspresi kesadaran kolektif orang Papua. Sastrawan muda berbakat dari Bumi Papua seperti Aprila RA Wayar, Vitalis Goo, Andreas Deda, dan Topilus B. Tebai menyuarakan keadilan historis dan ingatan penderitaan kaumnya".

Jennifer Robinson, pengacara HAM Internasional memberikan komentar senada atas novel Aprila Wayar, "ROOTLESS BLACK ROSESS":
" .....this brave novel, set in West Papua's accurate historical and political context, skillfully weaves together the narratives of one family to provide a compelling picture of West Papuan's experiences under Indonesian oppression...".

Novel Aprila ini juga dikomentari Profesor David Robie dari Universitas Auckland:

"....Rootless Black Roses is both a tragic yet inspirational tale of courage against a brutal backdrop of human rights violations...."
"....Aprila RA Wayar is a gifted and perceptive storyteller with compassion for the anguish of her Papuan brothers and sisters.....".

Pada antalogi Teopilus, penggambaran melalui metafor-metafor membuat kita tersentak tapi langsung memahami pesan sentral yang disampaikan: penderitaan ganda akibat represi militer dan kemiskinan serta marginalisasi secara ekonomi. 

Orang Papua tersingkir (disingkirkan) dari tanahnya sendiri.

Ironis, mereka dipaksa naik "KM Perubahan" berlayar menuju Papua Baru, yang adalah kepalsuan fatamorgana, sementara tanah mereka dikuasai korporasi tambang, HPH, kelapa sawit. "Tanah ini harus steril dari manusia-manusia Papua" (hlm. 1).

Saya kira para penulis sastra dari Papua, khususnya Aprila dan Teopilus, dengan sadar telah melakukan "pendokumentasian" kembali atas ingatan penderitaan (memoria passionis), memori kolektif orang Papua, melalui medium sastra.

Saya teringat Seno Gumira Ajidarma: "....saya menulis tidak hanya dengan imajinasi, tapi juga dengan fakta dan data. Karena fiksi itu sebenarnya juga fakta, bagian dari aktivitas manusia......".

****
             
)* Manuel Kaisiepo, mantan Editor Jurnal PRISMA dan mantan Wartawan Senior Harian KOMPAS.
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: