Cinta Tanpa Pertemuan - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Cinta Tanpa Pertemuan

Oleh : Eman Magai

cp : Sourch Google

Terangnya purnama di bulan Juli taburkan seberkas kisah yang lebih hangat rasahnya. Cerita tamerintih hati  seakan menceritakan nasib tuan nantinya setelah baca.

Malam bergemas purnama pun mulai bermunculan dari ufuk timur tersenyum diatas gunung gedo, cahaya bulan beri gradasi warna baru jingka. Beberapa gumpalan awan putih yang bersemayan dibalik gunung itu masih bisa kusangka, awan masih memutih. 

Taburan bintang dilangit bawah anganku ke angkasa menambah indannya suasana malam yang tak berseliweran di kota tua holandia. Angin bersepoi dikala unggas malam bernyanyi nari, kepakan sayap unggas-unggas itu buatku gelisa sedikit demi sedikit.

Malam ini tak seperti biasanya
, kamarku sedikit panas kali ini.  Keringat yang membasahi sekujur tubuhku menjadi sahabat baikku kala itu yang membuat aku begitu gelisa. Aku ambil posisi berdiri dan kelur kamar dengan perlahan kuayungan langkah jaga bunyi dentungan kaki yang mengganggu ketenangan kamar tetangga.

Hupsssss!

Bunyi  dorongan pintu utama ruang tamu yang sedikit kendor itu bangunkan Ibuku dari lelapnya,
“woiiiii, siapa itu.” Beber ibu, kiranya aku maling yang menyusup.
enggak Bu, ini sa Awalis Bu.” Jawabku sedikit gaget.
“kamu kema nak.” tanya ibu lembut.
“keteras depan Bu.” Jawabku pelan pula.
“Nak nggak usa keluar pagar ya, diluar ada senjata milik kapitalis bekeliarang 24jam.” sahut ibu kwatir
“Iya Bu, sa diteras aja.” jawabku meyakinkan.

Mataku terpanah melihat keindahan rembulan pada malam itu dengan angin menghampar lembut nan dingin tubuhku merinding. kupejamkan mata menarik nafas dalam dalam lalu hembuskannya pelan. Kakiku terus melangkah menuju teras yang berukuran satu meter depan rumah, berbaring hadap langit sambil mengurai bintang satu persatu namun kegelisaan terus bersahabat dalam jingka rembulan purnama.

Ya Tuhan! Hantu apa lagi yang membucukku hingga tubuhku begitu gelisa?
Mengapa aku gelisa?
Apa yang terjadi pada diri sebernarnya?
Beribu tanya dalam angan kala itu tak bisa ku banyangkan, hanya sangkaku. Sepertinya, aku dibelai desir lembut angin cinta. Ya, itu tentu!

Sapaanku pada bintang yang berbinar taburkan sinar di alam raya namun tak ada sepata kata duduk kumerenung dan berdiri atur langkah menuju parapara yang terbuat dari kayu besi olahan industri kayu local dua tahun lalu sejak aku masih duduk dibangku SMK kelas dua, di salah satu sekolah ternama didaerah Nabire dengan luas dan terbesar kejuruan utama Nabire yang dibangun sekitar tahun 1998an oleh swata.

S
unyi nan sepi, hanya sebatang roko dan segelas kopi yang siap membunuh gelisa pada tubuhku. Kini suasana malam hening sejenak, kepakkan sayap unggas yang biasanya sibuk berebutan buah gersen disamping rumah tak lagi  kudengar. Pohon ketapan yang teduhkan para-para itu pun terlihat diam membisu. Purnama masih setia terangi gelapnya malam, ku sodorkan hanphoneku sedikit jau dari tempat kududuk dan terdiam seperti seorang pawan hujan bersemedi saat musim purnama.  Angan hangat merajut kening dalam hayalan sambut keheningan. Tiba-tiba hanphoneku begetar, sepertinya ada pesan yang masuk, kulegas mengambil dan penjat tombol aktif ternyata inbox dari malaikatku yang sedang merindu.
 " hi, I miss you beb." Sapa dia membuka obloran awal.
"I miss you to beb". Balasku.
 "sa bisa telfon ka beb? sa rindu ko skali!” Jawabnya rindu.
 " Bole beb, sa juga rindu beb". Balasku.


O
bloran kami sangat sinkat dan tak terduga. Semenit sesudah beradu rindu, ia menelphoneku dan aku pun lekas klik tombol jawab. 

“hallo beb” sapaku seraya menjawab panggilan.

“iya beb, Beb dimana?” tanya si dia.

Sa masih duduk di teras beb!” jawabku.

“Sedang apa di teras beb?” tanya dia lagi.

Sa jadi penikmat kopi asli mapia malam ini!” balasku bernada rindu
“Sip yaaa beb, Sa suka ya beb!” balasnya membungkam rindunya pula.

“Tapi kali ini sa jujur, sa begini karna sa rindu ko skali beb. serius beb sa rindu ko sampe sa tra bisa sono skali beb.”  Balasku seraya menjelaskan perasaanku.

“Yeskon! Beb.  ko tau kha, kalau sa juga rindu ko, bahkan sa juga tra bisa sono sebelum dengar ko suara”. Balasnya juga jelas pula ada rindu.

Setelah rindu berpadu dan berbincang lama, rasa rinduku masih saja merajah lelah di setiap nafas, memaksaku untuk menghirup nafas rindu dalam desakan dada.

***

Cinta tanpa pertemuan selayak pacar, namun aku bahagia walau hanya sekali menatap wajah cantiknya melalui video cell di via telphone. Dan kraternya di VC itu menbuat ku benar-benar yakin kalau kepribadiannya dewasa dengan apa yang kusangka dia adalah gadis idolaku yang kukenal sejak dia VC dengan saudaranya dari kota tua Holandia Jayapura. Saat itulah kami saling menukar nomor Whats Ap.

Hari demi hari terlewati kami semakin akrab saja setiap harinya melalui VC di via messenger pribadi, tawa kita makin akrab pula seakan kami pernah bertemu disuatu tempat.

Jarak terlalu kejam memisakanku dengan malaikatku, gelisa sambut rindu hati merajam merasuk nadi hilang dalam kedipan ketika angin padukan rindu di ruang (jaringan) terkomunikasi udarah menjadi obat pereda gelisa tadi. Kini jam dinding menujukan tepat pukul 9:30 Wpb. Akhirnya gelisa itu hilang bertanda rindu terobati pula. Setelah  sekitar dua jam 2 Kami bagi cerita.

awan hitam membungkus bulan yg tadinya cerah bercahaya. Sedikit demi sedikit gerimis berjatuhan entah, dari mana datangnya, embun pun menyelimuti kota Nabire. Gemurung gilat dan petir menyambar di atas gunung gedokotu. Hanya beberapa menit saja hujan deras kuyup bumi bri kesuburan dan rasa pada pepohonan jeruk disela kota Nabire. Hujan itu buatku tak tenang, aku pun bergegas masuk rumah. Orang-orang sudah pada tidur semua.

Setibanya aku di kamar, seperti biasa kusodorkan  Alkitab yang ku letakkan diatas mejabelajarku kemudian kubaca dan renungkan beberapa Ayat dari Surat Yohanes Bab 5. Usai itu aku ambil  posisi duduk sambil melipatkan tangan dan berdoa.

"Bapa trimakasih atas penyertaan mu disetiap langkah kaki ku untuk hari ini. Malam ini, Esok dan Lusa ku serakan padamu, Bapa Tuhan Allahku.. Amin." Spontan doa ini adalah rutinitasku tiap malam sebelum tidur.

kemudian ku letakkan tubuhku dipembaringan posisi kepala kepala diatas bantal berwarna biru. Tengahnya bergambarkan love warna merah jambu, milik kakak perempuanku yang kupinjam dua haru hari yang lalu untuk kupakai selam berlibur pulang ke Nabire. Malam telah larut, dentingan hujun yang terus berirama diatas seng itu telah terhanyutku dalam derasnya arus mimpi.


“Via telephone jadi saksi rindu. Rindu jadi jalan untuk kami bertemu. Ketika saatnya tiba.


The And.
Penulis Adalah Mahasiswa Papua.
Kulia Di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura.

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: