Angkringan Burjo Rasa Jogja - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Angkringan Burjo Rasa Jogja

Oleh : Jhon Gobai

cp : ilustrasi burjo 


Pada Bulan Mei 2016 saya bertemu Bintul, teman sejak SMA, di tempat tinggalnya, asrama Papua yang berlokasi di jl. Kusuma Negara. Ia tampak lemas, tak bersemangat.

“Sa lapar skali. Ko kasih uang kah?”

Kata Mahasiswa UNY, aktivis AMP, itu sambil membangunkan tubuhnya dari kasur berukuran kos-kosan itu sedang menikmati rasa lapar sambil terbaring mengurung diri.

“Sa ada 20 ribu saja. Kitong pigi makan di Burjo sudah.” Sahutku.

Tak menunggu lama Ia berdiri dan berjalan keluar menuju Burjo Aldi. Jaraknya tak jauh dari Asrama, lokasinya di samping Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) di Jln. Glagasari.

Terlihat dari lampu merah, Burjo Aldi ramai.

 “Pace, jalan pelan saja.”

“Pelan, pelan, apa?Perut sudah demo minta makan ini.”

Bintul tak sabar, Ingin cepat santapi Nasi Telur dan Es Teh, menu spesial anak asrama.

Angkringan Bubur Kacang Hijo, disingkat Burjo, sangat dekat di kalangan masyarakat terutama Mahasiswa. Harganya sangat murah, cukup bermodal 10 ribu rupiah untuk sekali makan, dan buka 24 jam; dan Free Wifi. Sederhana, tempatnya terbuka, dilapisi cat kuning full dinding di luar-dalam, bergaris cat putih, hijau, dan biru mudah kelilingi dinding setinggi 1meter dari lantai.

Dinding bagian dalam tampak terjejer segalah macam jus. Papan menu digantungkan di dinding samping kiri, dan jam dinding tertulis Kopi Good Day berada di sisi kanan. Lantainya terbuat dari Tehel, diatasnya ditata kursi dan meja makan. Tempat lauk dan sayur, gorengan dan makanan ringan lainnya tertata rapih dipojok belakang dan paling belakang adalah Dapur.

Chef Burjo di dominasi laki-laki asal JawaTimur. Hampir semua, dan sapaan akrabnya dipanggil Aa, aa. Penampilan mereka tidak seindah Chef Restoran berbintang, tapi gantengnya tentu menggodai lawan jenis. Sangat ramah, mudah senyum serta pelayanannya baik, juga humoris dan mudah akrab dengan para pengunjung.

“Aa aa, Nastel, dua. Nasihnya satu setengah sendok yaa.”

 “Minumnya apa, Om?” Tanya Chef.

Es Teh, dua”

Jelas Bintul sambil makan tempe dan tahu goreng. Kali ini Ia pesan nasinya dabel dua senduk.

Burjo—selain makanan khasnya—telah menunjukan wajah Jogja dan hanya ada di Jogja.

Pesanannya sudah tiba, hidangan special, Nastel dan segelas Es Teh, di meja. Tak sabar meredam demontrasi di dalam perut, Selamat makan, Bin.”

Rasai Nastel masakan Burjo tentu berbeda dengan yang di rumah makan lain. Nasi ditaburi  kacang goreng diatas Mie Goreng dan diselimuti oleh telur dadar, lalu diberi kuah Sarden, itu sudah, itu Nastel rasa Jogja.

Aa aa, sudah, berapa semuanya?” Sambil habiskan minumannya.

“ Sembilan ribu, Mas. Es Teh-nya gatis.”

Ups... Lupa! Ini hari Jumat, bahwa setiap Senin-Jumat minuman Es Teh digratiskan di Burjo Aldi.

Burjo Aldi, Bintul, pertemuan kita terakhir di Jogja sebelum pulang Papua.

Sudah tiga tahun tak ada kabar sejak pulang ke Papua.

Kawan lain mangatakan Bintul sudah menikah.

Kenyataan kehidupan masyarakat tradisional sudah menjadi bagian darinya. Beban keluarga yang harus dipikul seketika semangat orang tua sudah menurun.

Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan keterbatasan ekonomi. Sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara dan saudara (anak) angkat lainnya, sebagai saudara tertua adalah harapan keluarga. Itu berlaku di masyarakat kesukuan di Papua.

Ia adalah pemuda Papua yang tak sepintar Gusdur. Selalu hadir di ruang-ruang dikusi, aktivitas publik, dimana pun. Argumentasinya analitis, setiap tutur katanya teratur. Agitator handal.

“Bintul itu kepala hipnotis orang. hati-hati dekati dia!”

hahahaha

Gurau teman-teman dekatnya.

Si alumnus kelas Esay Radio Buku (2015-2016) aktif menulis, menyaji Esay analitis, Editor kolom Papua Bicara, di Indoprogress.

Tahun 2014 aktif di Pers Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Ekspresi Online. 2015, aktif meliput di suarapapua saat Alm. Okto Pogau pimpin redaksi.

Selain mengurus  AMP kota Yogyakarta (2015-2017), sebagai sekertaris, kativitas meliputnya mendominan pada kepribadianya. Sibuk pacari leptopnya, pacarnya pun cemburu.

“Adoo, Jhon, leptop hancur ale.”

“Kenapa?”

“Mace banting barang di lantai. Gara-gara sa tra antar ke temannya”.

Diam sejenak. Senyum sipisku menjadi jawaban.

“Kenapa ko tra hipnotis dia saja, biar tenang?” Sahutku sambil bergurau.

Awal tahun seketika di Papua Ia aktif meliput  di Jubi (Situs media local Papua). Kabarnya menghilang awal 2018.

Pertemuan terakhir kita di Burjo Adli.  

Untuk apa belajar menulis jika Ia terus meninghilang dari dunia menulisnya? Itu yang terpikir setiap kunjungi Burjo Aldi.

Mungkin Bintul punya rencana lain. Menulis tak harus menjadi wartawan, penulis buku, kolom opini.
Che Guevawa, Dokter, Gerilyawan, Pendidik, konseptor, photografer, juga penulis handal. kandungan tulisannya sangat bermanfaat untuk gerakan pembebasan rakyat tertindas Karyanya selalu hidup, bernutrisi api perlawanan, jalan mencipta manusia masa depan yang bebas dari segalah bentuk penindasan.

Saya tidak menyarankan Bintul jejaki Guevara; dan Bintul, panggilan kawan, adalah Mikael Kudiai.
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: