3 Jam Bersama Kamrade Vicktor Yeimo - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

3 Jam Bersama Kamrade Vicktor Yeimo

Victor Yeimo - Doc. Pribabdi 

Oleh : Jhon Gobai


 “Salam Pembebasan!”

“Bersama kebenaran sejarah sang bintang kejora.”

Teriakan itu menghantui rumah berwarna kuning.

Itu terjadi di ruang tengah, sering mereka menyebut ruang pertemuan, yang dikelilingi empat pintu kamar dari setiap penjuru angin.  

TV dan rak buku, perpustakaan mini, berada di depan jendela. Sementara kursi terbuat dari kayu di samping meja berada sebaris dengan rak buku.
Teriakan itu merupakan salam pembuka sebuah pertemuan puluhan Mahasiswa Papua dan seorang tokoh muda, aktivis Papua, di ruangan pertemuan itu.

Ia adalah kamrad Vicktor Yeimo. Lelaki Papua itu duduk berdampingan bersama Rulan, aktivis AMP, sebaris dengan mahasiswa lainnya yang duduk melingkar

Jakarta yang panas, tentu Ia mengenakan celana berukuran lutut dan topi birunya tak pernah beralih posisi dari kepaa. Ia duduk bersilang kaki sambil bercerita seperti Si pengkotbah di tengah massa.

Juru Bicara Internasional organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) itu buka dengan perkenalan diri terlebih dahulu.

Sejak 2008 Ia bersama kawan-kawannya meninggalkan Pulau Jawa dan mendirikan organisasi KNPB di Papua. Organisasi yang kerap di tuduh separatis oleh pemerintah. Asal-usulnya Yeimo dan KNPB mengatur aksi mogok Pilpres 2009 di Papua. 

Demonstrasi damai dengan memobilisasi ribuan massa menjadi ciri khas mereka. Bersama aktivis Papua lainnya, Ia sering ditangkap dan mendekam di penjarah. Pengejaran, penangkapan, represi, bahkan ditembak mati, “… itu konsekwensi logis yang aktivis Papua hadapi, saat ini.” Jelasnya.

Mantan Ketua Umum KNPB (2012-2018) itu seminggu yang lalu tiba usai menghadiri pertemuan Internasional di Filiphina.

Di pertemuan yang dihadiri oleh berbagai organisasi dan negara itu Ia menjelaskan situasi konflik dan kondisi pengunsi Nduga.

Perang Institusi Militer Tentara Nasional Indonesia (TNI dan TPN PB) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) di Nduga telah mengorbankan banyak kerugian

Sejak terjadi saling kontak pada 2 Desember 2018 hingga saat ini, ratusan rumah, Gereja, Gedung-Gedung sekolah habis terbakar. 40 ribu warga mengunsi ke luar. Paling sedikit 139 warga meninggal dalam pengunsian. Kondisi kesehatan buruk, kekurangan makan, gisi buruk, putusnya akses sekolah, tempat tinggal, menjadi cerita wajah pengunsi di hari-hari mereka dibawa Camp beratap terpal.

Pendudukan Indonesia dengan cara Militeristik itu bukan baru pertama kali. Taman Lorenz di Nduga menjadi incaran pemodal dibalik konflik itu. 

Sehingga rakyat di usir dengan penyisiran. TPN PB menyadari akan hal itu. Sehingga Egianus Kogoya nyatakan tak boleh ada pembangunan jalan sepanjang Indonesia masih menduduki, sebab itu keuntungannya tidak untuk rakyat Papua Barat.

Seorang Ibu asal Nduga, warga pengunsi, juga bercerita aktivitas anak-anak usia sekolah di sana. Ia terlihat bersemangat, tiba-tiba tampak sedih di setiap alur ceritanya.

“Saya saksikan sendiri kondisi pengunsi. Banyak anak usia beranjak remaja yang rajin mencari makanan, kadang daun pohon apa saja dipetik, masak, lalu makan.”

Diam sejenak. Tunduk sebentar lalu husap air matanya. Kesedihannya membuat Ia berhenti bercerita.

Perempuan lainnya ikut menangis. 

Tutur katanya tentu memikat pendengar. Irama pembicaraannya sangat menggairahkan.

Cerita terus berlanjut dari gunung, ke lembah, selatan ke utara, kondisi Nduga ke peran mahasiswa dalam perjuangan rakyat melawan penindasan di muka bumi ini.

Yeimo, sebagai mantan aktivis Mahasiswa, AMP Surabaya itu banyak memberi pencerahan keberadaan mahasiswa dalam masyarakat-sosial sebagai kelompok yang terpelajar.

Anda disebut terpelajar karena terdidik.

Anda belajar mampu merefleksikan realitas keberadaan rakyat Papua.

Tugas selanjutnya mempelopori rakyat tertindas untuk bebas, menemukan kondisi objektif baru.

Kondisi ruangan menghangat seketika. Terjadi dialog yang sangat membangkitkan semangat perlawanan.

Mereka saling bergantian tanya-jawab, bercerita, berpendapat. Saya menyaksikan terjadi semacam sebuah ledakan besar yang akan terjadi, tapi tidak terjadi, dan terus menikmati setiap alur cerita, juga dinamikanya.
Sampai saya lupa ini sudah tiga jam berdiskusi. Semua mengalir tanpa hadangan dan sangat menikmati.

A luta Continua!

Perjuangan terus berlanjut.

Diskusi selesai.

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: