Tom Jadi Korban di Rimba - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Tom Jadi Korban di Rimba

Oleh : Agus Dogomo 
Doc.kumparan.com


Pagi-pagi butu, rumah itu di tengah hutan itu dikepung si tangan besi. Sehabis gelap,matahari terbit pancaran cahaya tembusi celah-celah semak dan pepohonan yang berdiri tegak. Pagi itu, mentari pagi yang berwarna kekuning-kuningan berubah menjadi warna  darah.

Drakula tak segan melepaskan peluruh, lulu-lantakan tumbuhan sekitar rumah di hutan belantara. Yosep, Mika, Simon dan Yermia melarikan diri sedangkan Tom kena tembakan drakula di kaki. Ia tak berhasil melarikan diri. Darah basahi kakinya. Melele. Buluh kaki hitam berubah jadi merah. Merah darah. Ia,  dilumpuhkan. Seronbongan drakula mendekatinya, merobek perutnya dengan sangkur. Tali perutnya terurai jelas. Terpampang.

Matahari bergeser mulai naik mengikuti poros bumi yang berputar. Sebatang kayu yang telah ditebang menjadi bantalnya tempat sandaran kepala. Ia tak mampu  berdiri dan melangkah. Kaki kenah peluru dan perut telah di robet pisau.

Ia melihat tali perut terurai jelas, terpampang dihadapan di hadapanya ia mencoba mengembalikan dengan kedua tangan namun tak dapat masuk kembali. Ia menjerit kesakitan. Merintih kesakitan,perih. Rimba saksi bisu. Pohon dan semak menjadi saksi bisu.

“Kita pasti akan merdeka” kata Tom kepada drakula yang haus darah.
“Ah…mau merdeka bagaimana, sudah tak berdaya itu”. Ejek drakula sambil mengelelinginya, memperhatikannya dengan muka beringis itu.

“Kita pasti merdeka” balas Tom lagi. “Bentak drakula serentak mau merdeka bagaimana? Kamu saja tak berdaya”. “Bilang kamu punya pemerintah yang korupsi uang  itu, Jangan minta merdeka”. Lanjut Jono yang sedang mengedong senjata seperti seorang perempuan mengendong anak. Barisan drakula haus darah, masih berdiri mengelilinginya. Tak meninggalkan orang tak berdaya itu.

“Ingat selama kami masih ada, kalian tidak akan pernah merdeka” kata seorang drakula sambil menunjuk Tom yang  tak berdaya itu.

Matahari menampakan diri disebelah  kanannya. Tom masih tetap meneriakan “Merdeka,merdeka,merdeka” di antara mereka sambil mengangkat tangan kiri dan menahan sakit robekan kuku drakula. “Kamu mau merdeka?, tidak akan merdeka selama aparat masih ada di tanah ini”. Kata drakula lagi.

Setelah melumpuhkan kakinya dan merobek perutnya cemohan drakula menghujani banjir bagai darah yang mengalir dan hujan yang turun.

Tom hanya mendengarkan cemohon tersebut, beberapa saat kemudian, ia mencoba menjelaskan manipulasi sejarah Papua yang dilakukan  Indonesia, namun semuanya tak mendengarkan. Mereka meninggalkan, Tom dan lereng bukit itu. Meninggalkan kematian. Meninggalkan tangisan bisu.

Tom mulai, bangun dari lantai tanah dan bantal kayu, mulai merayap turun sambil mengengam tali perut yang beberapa jam lalu terurai. Sambil menjerit kesakitan ia menuruni.

Teruslah merayap, setelah beberapa meter, Tom mulai mendengarkan dendang kidung nyanyian surgawi. Mulai Nampak, jelas, malaikat surgawi menyambutnya. Tanah dan alam sekitarnya, menangis karena merasa ditinggalkan penjaganya. Selanutnya, teman-teman yang lari berkumpul dan melepaskan air matanya.   “Kini Tom meninggalkan kami”, kata seorang kepada yang lain. Semua meratap kepergian teman seperjuangan yang selalu menjalani suka-duka. Mayat Tom di kebumikan di Tanah tercinta Seriui.

(Pelabuhan, Serui tahun 2015) 
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: