Ratu Pemilik Duka; Cendrawasih - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Ratu Pemilik Duka; Cendrawasih

Oleh : Loncky H. Makay
ist,

Antara Aku, Ratu, dan Duka yang menghujan kepedihan.
“Ratu”. Namanya Cendrawasih, tapi dia hidup bukan sebagai setangkai Mawar liar. Yakni dia seorang darah dengan perawakan yang indah. Sungguh, bukan main indahnya. Kulitnya cokelat bersih, berambut panjang Kuning keemasan juga kriting halus, dan sedikit memerah bagai buah Matoa dari hutan Papua.
Cendrawasih, dikaruniai oleh Tuhan ‘Sang pencipta’ lesung pipi pada sisi kiri dan kanan rupanya. Matanya yang sendu dan jernih membuat hati siapa saja yang memandangnya merasa damai. Wajah tirusnya yang estetis, artistik, dan berseni unik memancarkan kelembutan seperti seorang dewi kahyangan.
Namun, ada satu hal yang masih menjadi teka-teki. Hampir satu bulan aku mengenalnya di kota tua yang direngut penguasa ini. Ia terlihat lebih banyak murung manakala duduk sendirian dibawah pepohonan Matoa itu, tempat pertama kali aku bertemu dan mengenalnya di sebuah belantara.
Setiap kali aku datangi hutan di lembah itu, mataku tak alpa melihat juwita berjuba emas itu, siurannya terdengar merasuk nadi. Disana aku menghampirinya, ya dia adalah Cendrawasih, dalam lamunannya yang disertai air mata, maka dengan tergesa-gesa dia akan memalingkan wajahnya membelakangiku. Kemudian mengusap air matanya dengan kedua ‘sayap’ tangannya. Setelah itu dia merapikan rambut panjangnya dan tanpa sengaja membuat leher jenjangnya kadang terlihat, digusur ijin ilegal.
“Sungguh, Cendrawasih adalah Ratu titipan Dewa dari kahyangan seperti dalam mimpi-mimpiku,” tuturku dalam hati, “Begitu besar keinginanku mengapus air matanya, mengukir senyum dibibirnya. Namun, aku pikir tiada guna. Ibarat menggenggam air tanpa gaun, juga menimbah air sungai dengan maksud untuk mengurasnya hingga kosong. akan tetapi tiada guna, jika pada hulunya tetap mengalir’’.
Dan aku, tidak ada daya untuk menggapai mata air pada hulu itu. Terlalu lebat tropis romantika yang mesti dilalui menuju hulu air matanya yang kukira itu ciptaan dari rangkaian masa lalunya yang menjadi duri dalam kehidupannya. Sekalipun bangsanya (beretika ramah) tidak anargis, hanya penguasa jadi duri itu.
Dan aku, tidak ada daya untuk menggapai mata air pada hulu itu. Terlalu lebat hutan romantika yang mesti dilalui menuju hulu air matanya yang kukira itu diciptaan dari rangkaian tragedi masa lalu yang menjadi duri dalam kehidupannya. Sering kali aku bertanya tentang pulunya, “ada apa denganmu kenapa dikau diam saja” jawabnya dengan sura parau “aku terluka, hari hari dipukuli dengan besi bajai milik Jakarta”.
Aku lalui hari bersamanya di sudut kota tua ini, aku benar-benar tak melihat cerah untuk meredam dukanya. Juga aku tak tahu menahu soal masa lalunya, sekalipun masa silamnya itu HAM. Ah, lagi pula masa lalunya itu tiada hak pada diriku, untuk menuntaskan persoalan kelam yang menjadi duri dalam kehidupannya itu. sementara aku juga senasib dengannya. ini yang lebih menyulitkanku.
Senja mulai memerah memaancarkan sinar kuningan pada rantingan pohon cemara di pantai timur Holandia. Hampir sejam sudah aku duduk disampingnya, sembari membaca sebuah buku. Edisi Atologi Cerpen karya Tuan Topilus B. Tebay, penulis cerpen “Aku Peluru Ketujuh”, walakin aku merasa segan untuk menegurnya kali ini.
Setelah kupikir pikir, dukanya selaras dengan yang di alami oleh seorang buruh truk dari bekas gusuran perusahaan ilegal (Kopermas) milik penguasa di wilayah Menou, Kibisai, dan Wami di barat kota Nabire. Kisahnya serupa pula dengan tokoh utama dalam cerpen “aku peluru ketujuh” yang kubaca tadi malam dalam situs KO’SAPA.
“KO’SAPA adalah komunitas Sastra Papua. Situs perkembangan sastra di Papua dan sejarahnya”
Kembali pada cerita. Dalam bumi manusia, akhir kisahnya menceritakan tentang nasib Cendrawasih di bumi penjajahan. Seringkali kita bayangkan. Seperti halnya para revolusioner yang sering gugur di medang penentuan. Mako dan beberapa toko revolusionel lainnya yang tersapuh karena selonsong peluru panas di tiap akhir pekan, rakyat sipil merasa terpukul sekali atas peristiwa perstiwa itu.
Ya, mungkin sepedih itulah kisah yang di alami Ratu akhir akhir ini. Tapi ia tidak akan mengakhiri hayatnya sendiri sekalipun ada setan yang selalu kentayangan, menghantui ketenangan hidupnya akibat gusuran abadi yang selalu menggores pipi gumpalnya hantarkan air mata derita.
“Oh, kepedihnya!”
Kepedihan itu sudah lamah merintih, menanti kebebasan jiwa. Cukupkan saja duka pada Ratu malang ini, tuturku dalam hati. “Ya Tuhanku, Tuhannya seluruh yang bernyawa. Kumohon padamu, cukupkanlah dukanya, hilangkan rasa kepedihannya. Berikan haknya sebagai pemilik surga kecil ini”. Kemudian heningku masih berlanjut.
Hembusan angin dari barat daya mulai terasa lebih sejuk, bertanda kulita akan menyelimutiku. Bunyi resingan perlahan hilang, boca boca yang tersisa di kota tua ini tak lagi berseliweran. Bisingan di kota ini sudah tersasa sepi, bertanda kegelapan telah tibah mebungkus alam raya.
Ingar bingar doa telah berlalu, Cendrawasih tak lagi mengepakan sayapnya. Ratu itu masih terus menunjukan suara seraknya dengan muka sedih kepada kaum intruksi dunia. Di Republik yang katanya plural ini mengakui segenap kepercayaan untuk menghargai keadilan, namun dalam realita kehidupannya, mayoritas selalu menuntut minoritas untuk mengalah dan menghargai sepenuhnya tanpa kebenaran, tapi kadang tidak berlaku sebaliknya.
”Lempar batu kemudian sembunyi tangan, itulah mayoritas manusia anarkis”
Ya, begitulah manusia bila tanpa adanya rasa toleransi. Yang ada hanya membungkam dan dibungkam, selebihnya adalah ingkar janji terhadap tindakan dalam toleransi itu sendiri.
Untuk kesekian kalinya, betul juga kata perempuan . Dense, senada dengan Mr. Nelson Mandela. Bahwa di dunia ini sudah banyak orang yang tidak jujur, hanya berkata dalam kata kata, mereka luar biasa. Namun dalam realitanya yang kita bisa amati, aksi nyata mereka tak sebanding lurus dengan acakapkali.
Lanjut dalam cerita kepedihan. Entahlah, karena angin apa yang jadikan hingga akhirnya Cendrawasih berbuluh emas ini seloro. Menegur penguasa dengan suaranya yang masih serak “hey penjajah, belum cukupkah engkau kuliti seluruh lapisan pori poriku”.
Cukup lama engkau menyiksaku, aku diam saja dan engkau jadi exportir nadiku. Jika aku bersuara, lawanku amputasi. Engkau memenggal kaki, tangan, bahkan leherku.
Ratu, “pak Intruksi, engkau mau mengengar aku bercerita?”
Intruksi, “tentu saja Ratu, kenapa tidak?”
Ratu, “aku ingin bercerita kepada engkau tentang kepedihan dan kenanganku”.
Intruksi,” boleh, ayo ceritakan” .
Ratu, “tapi Intruksi, perihal cerita ini taruhanya nyawa pribadiku”.
Intruksi, “ ceritanya benar benar kejam ya, Ratu”.
Ratu, “seperti ini ceritanaya”.

***
Sembari menutup buku yang sejak tadi terbuka di pangkuannya, ia pu merebahkan kepalanya pada tembok ruangan sebalah kiri bagian tengah. Kemudian Ratu lanjut bercerita.
Percuma aku di beri nama yang katanya indah ini. Dan sekarang, aku hanya seorang gadis yang sakit akibat asmara puzzle yang kini kujalani begitu kejam menganiaya rasa lewat lelaki yang tak kucintai.
Pelarian demi pelarian dari resahnya jiwa yang lama meronta aku telah jalani. Namun kau tahu bukan? Cinta yang dulu aku tanam sedalam relung itu berkehendak lain, jatuh pada lelaki yang tak pernah aku impikan hingga jiwaku tersandra, akhirnya dia menguras dan pergi sembunyi kebenaranku dalam tuku monas. Itu adalah jiwaku satu satunya.
Sekarang aku rasain betul rasanya hampa jika tak ada kejujuran. Anehnya, ada gaduh yang tiada kan ruang dalam diriku, sesak sekali rasanya dalam dadaku ini. Aku tiada ruang demkrasi, berbagai spesiesku di garuk habis.
Aku pernah berpikir hal ini juga, Jika aku tahu persis letak gaduhnya itu, akan aku damaikan sendiri. Tapi, aku benar benar kalah dalam hal ini. Suaraku dalam orasi sejarah diabaikan, aku dianggap pelacur. Aku tertati.
Dan kini, aku jadi sarang amarah. Namun enggan untuk berkoar. Jika besok atau lusaku dia hadir dalam ingatan, aku benar benar bingun. Aku tak ingin bertemunya lagi. Cukup raut wajahnya yang melekat begitu kuat hantui pikiranku.
Dulu, dia sangat pandai mengukir tawa padaku, bahkan dia juga yang mampu nyanyikan lagu kesukaanku dengan kenopi mulutnya, mirip aslinya. Kelamaan kemudian dia berkhianat dengan kejam padaku. Hepsssssssss! aku capeh sekarang, (pekiknya).
Aku sedik sadar, dulu aku begitu sombong pada semesta. Dulu aku begitu riang, tapi bukan belarti dia harus abadi bersamaku.
Aku tak berdaya, hingga aku abaikan semiotik pada raut wajahnya, tepat sebelum dia mulai mengucapkan kata kata yang membuat semestaku kiamat. Tentu, kiamat yang membalikkan semestaku menjadi puing puing yang aku pungut di sisa sisa sanggupku ini. Dan kini, bagiku tiada esok yang lebih layak untuk kujalani, melainkan memilih lepas dari genggamannya. Mengadu nasib sendiri dalam setiap detik jengkel yang ada pada garis kedepannya yang meniti…”
Usai cerita, kemudian isak tangis mulai lepas jatuh dari (dakcrio sista) tempatnya membuat pipinya basa lapis bibirnya.
***
Pada akhir ceritanya, sontak seperti terpukul. Kisah Cendrawasih ini bagaikan godam yang menghujam dada, merasuk nadiku. Hingga munculkan kembali kepedihan dari kenangn yang memburai pada setiap sudut malam dalam keterbatasan pandanganku dengan kehendak angan yang pedih.
Menghayati kehidupan dan kembali. Akhir pekan ini, wilayahku Deiyai (Meepago) juga pernah dikelumungi selonsong perak panas milik Jakarta yang menembus juba pemuda pemudiku disana. Tawa kita hilang dalam kedipan, rasa dalam kalbukuu benar benar hancur, ketika perihal seperti itu membungkam setia dalam ketulusan cintaku. Aku bisa pastikan yang dialami Cendrawasih akhir akhir ini lewat air matanya.
Sekarang, di Republika ini tiada lagi toleransi yang selaras dengan keadilan, mungkin asas dalam amandemen toleransi Soekarno 1945 itu sudah tiada guna lagi di Jakarta.
Dan Allah sendiri adalah saksi atas perstiwa dan serentetan tragedi sejarah yang hantarkan kepedihan saling bersahutan akrab antara aku dan Ratu malang itu. Tentu, ini adalah segenap tanya tentang amputasi dan exproitasi bumi Cenrawasih (Papua) oleh Jakarta.
The End
Penulis adalah: Mahasiswa Papua, tinggal di Jayapura
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: