MONOLOG BUMI TERJARAH - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

MONOLOG BUMI TERJARAH

Foto: Dok Pribadi

MONOLOG BUMI TERJARAH
"Hari Pribumi Tuk Anak Papua

Persada semakin miris dipangkuan barbarisme dunia
Dalam oligarki tirani bengis yang berwatak jahanam
Bumi keriting meringkih perih di genggaman keparat
Di gilas para badut-badut korporat seraut bertopeng
Berjabat erat, jiwa-jiwa benalu lokal paling serakah

Sang serdadu jadi malaikat pelindung tuan kapitalis
Dengan berdalih mulut bedil melayat belahan bumi
Meringkuk dusun-dusun, menjarah anugrah keriting
Merampas tanah adat sambil mengkebiri masyarakat
Nyawapun di hunus predator dengan timah senapan

Dalam isyarat monolog bumi kulafalkan padamu
Bumi angsur di negeri pailit, bukanlah suatu misteri
Bukan jua, wasiat Sang Khalik atas warisan leluhur
Hanya anjing-anjing pelacak mencium aroma tanah
Dikau tersandera pelbagai halilintar negera adi kuasa

Pertobatan takkan rundung dinurani bangsa tamak
Firman kehidupan sudah bertitah di lembaran kapitalis
Kewahyuan temurun di kitab-kitab yang terpasalkan
Tak perduli langit runtuh atau bumi kering kerontang
Hewan mati atau manusia lenyap, asal kantong terisi

Bumi keriting merintih dengan darah tanah yang cucur
Dalam ratapan terhujam rapuh diam-diam terkuras
Pantaskah, perut bumi cendrawasih harus terjarah
Oh tidak, sadar bergerak bebaskan rakyak dan tanah air
Sebelum bintang-bintang kian jatuh di liang kemusnahan

Hollania, 05/08/2018
Aleks Giyai


***


KABAR BURUK DI BUMI PAILIT

Kabarkan padaku tentang semesta jati dirimu
agar kata-kata ini tak melulu tentang ketamakan
di saat wujud warna identitas luntur dan mengikis
di antara laju waktu yang megalamoniak tunduk
hanya tinggalkan puing-puing berserakan di persada

Ceritakan padaku tentang derita panjangmu
biar tawa ini terhenyak kaku dan malu sendiri
ketika airmata-airmata di bumi pailit
hilir ke hulu tiada terbendungi dalam hidup
dan terus menetes rinai dari langit bangsamu

Beritahukan aku mengenai lukamu
supaya suka cita ini tak terlanjur menipu
pada perih memar yang tak kunjung terbalut
saban hidup merintih di sayati tirani benggal
melafas jiwa-jiwa terkunkung dalam nestapa

Bisikkan di telingaku tentang sunyimu
agar hingar bingar ini tak larut tanpa daya
supaya kau tangguh pacuh mencari kehidupan
walau tiap ruang di henkang sang predator
menghekang tapak jejak dalam buntutan serdadu

Sampaikan padaku tentang kehilanganmu
biar aku sudahi ketangguhanku yang pura-pura
terlena di balik musnah insan yang tak terkira
di saat satu persatu pergi tinggalkan tuk di kenang
ratapannya terborgol di relung hati yang terkulai

Suratkan untukku selembar puisimu
agar tak ku tinggal tidur di beranda penjajah
membaca kabar buruk tentang diri dan bangsamu
di tiap bait syairnya penuh luka peluh darah
dengan tinta buram kelabu yang meringkih hati

Lalu bila waktunya masih bersekutu
Datanglah dengan semangat enam satu dulu
Agar amarahku dan bencimu bersatu padu
iklarkan jiwaku dan hatimu dengan seia sekata
lalu seutuh kita mengusir kaum bejat keparat

Bukit Keheningan
Samping Pusara KEBADABI
Giyai Aleks, 26/04/19



***


BAWALAH AKU PULANG

Bawalah aku pulang ke kampungmu
Ke lubuk pantaimu ke nurani ombakmu
Ke tubuh telukmu ke jiwa tanjungmu
Dengan tabuhan tifa bertautan semesta
Di sana kita bernyanyi tentang diri sendiri

Bawalah aku pulang ke kampungmu
Ke lembah hatimu ke palung jiwamu
Ke lereng imajimu ke dusun ragamu
Dengan merias arang di seraut alam
Di sana kita berdandang tentang diri sendiri

Sampai aku lupa, tak ada sesiapa
Sampai kau ingat, tak ada apa-apa
Kala monster bernama modernitas
Laju menggeliat dalam palung teror
Selalu saja megalomaniak ketertundukan

Hollandia, 06/08/18
Giyai Aleks
Print Friendly and PDF

Tentang : kosapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: