Menelusuri Tangga Nada “Tetratonis” Dalam Nyanyian Tradisional Suku Mee - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Menelusuri Tangga Nada “Tetratonis” Dalam Nyanyian Tradisional Suku Mee

Oleh : Miquiel Takimai
Seni tari tradisional suku Mee

Mengenal tangga nada tetratonik etnik Mee, klasifikasi irama, dan tempo di dalam music tradisional Mee.

Pengantar
Dengan segala keterbatasan, kali ini saya ingin sedikit berbagi ilmu mengenai lagu-lagu tradisional (etnik) yang berasal dari suku Mee. Tidaklah mudah untuk mengurai dan menuliskan ini di tengah keterbatasan. Selain, sulit mencari nara sumber yang mengetahui seluk beluk mengenai lagu etnik Mee yang meliputi seluruh daerah Mee, karena sudah tidak ada lagi ruang bagi lagu-lagu etnik untuk dinyanyikan lagi.
Saya tidak memiliki latar belakang akademik music. Namun, hanya karena memiliki minat terhadap music, saya berusaha mengumpulkan beberapa hal yang pernah didengar sejak kecil hingga pada saat ini. Itu pun, dengan segala kekurangan kekayaan syairnya. Namun, hasil dengaran tersebut membuat saya merasa penting untuk berbagi sebagian yang telah diketahui kepada publik. Terutama kepada pecinta music etnik, dan khususnya kepada generasi muda yang ingin melihat kembali jati dirinya.
Keterbatasan lain adalah sumber berdasarkan kecakupan wilayah. Beberapa hal yang akan saya uraikan bersumber dari lagu-lagu etnik yang selalu diputar ulang, hasil rekaman dari loka karya 1998 dan beberapa pentas yang telah diadakan di Gereja Katolik Waghete. Selain itu, hasil rekaman dari Tota Manaa Grup 1998/9, dan beberapa group music lainnya yang berusaha memadukan lagu-lagu tradisional di dalam rekamannya. Dengan demikian, saya lebih banyak memahami lagu etnik yang khas dari sekitaran danau Tigi dan beberapa Mapiya dari hasil pendengaran saya. Oleh karena itu, sangat terbatas pengetahuan berdasarkan cakupan wilayah mengenai irama etnik yang khas dari setap daerah. Di samping itu juga, saya belum pernah melakukan penelitian secara khusus untuk menggali music dari beberapa wilayah seperti Komopa, Obano, Tage, Kamuu, Mapiya, dan beberapa tempat lainnya yang memang memiliki penyebutan dan irama yang berbeda pula.

Pengertian Tetratonis dan klasifikasi dalam lagu etnik Mee
            Sebenarnya, terlalu berat untuk menyematkan tangga nada yang dikenal oleh Mee ke dalam tetratonis. Alasannya, karena hanya satu nada, yakni re. Tangga nada ini, hanya menyinggung salah satu nada yang berasal dari Mapiya berdasarkan pengamatan saya. Namun, yang memberanikan saya menyematkan tetratonis karena, pada dasarnya, hampir semua lagu yang dinyanyikan oleh Mee, terdiri dari empat nada.
Secara etimologis, tetratonik berasal dari kata (angka) dalam bahasa Yunani, tetra artinya empat. Sedangkan tonic yang berarti nada. Tetratonik adalah tangga nada yang terdiri dari empat nada. Tetratonis dikenal juga oleh berbagai macam suku di dunia yakni,  suku indian Planis, orang Inuis juga Greenland, suku Maori,  di Afrika (wilayah Gana), suku Juang dan Bhuyan dari Negara bagian Orissa (India), Rusia (pada umumnya pentatonic tetapi menggunakan skala tetratonik), Eropa barat yakni music rakyat Skandinavia, Jerman, Inggris, dan Skotlandia (sekarang pentatonic, namun diyakini dikembangkan dari tetratonik), dan pada umumnya juga dikenal oleh Polinesia dan Melanesia. Salah satunya, di beberapa suku di Papua. Yang akan saya Bahas di sini adalah yang dikenal oleh suku Mee pada umumnya. Namun, ada kekecualiannya di dalam suku Mee, yakni di Mapiya yang disebutkan juga oleh Edmar Ukago (Pemerhati Seni Budaya Papua) bahwa satu jenis lagu di Mapiya yang menggunakan re [1].

Mengenal tangga Nada tetratonik dalam suku Mee
Pada umumnya, suku Mee mengenal empat nada, yakni do, mi, so, la. Hanya re saja yang digunakan di dalam salah satu nyanyian daerah yang berasal dari Mapiya. Lebih lanjut, bahwa dari semua irama yang ada dinyanyikan oleh suku Mee merupakan hasil kolaborasi yang kemudian membentukkan pola tertentu dari empat nada di atas. Kemudian, pola-pola tersebut membentuk satu kesatuan. Selanjutnya pola-pola nada tersebut diberi nama yang kemudian disesuaikan dengan keadaan pengungkapnya tersebut. Pola-pola ini dinyanyikan baik dalam kelompok dan juga secara individual.
Irama-irama yang dikelompokkan di dalam pola-pola tersebut, terbagi kedalam empat kelompok irama berdasarkan sebutannya yakni, Ugaa, Tuupe, Waanii, Gowai, Gaupe, Wiyaanii, dan Uwayawe. Ketujuh irama ini juga mempunyai beragam jenisnya. Baik berdasarkan jenis nyanyiannya, juga berdasarkan perbedaan irama yang terbentuk oleh letak geografisnya. Perbedaan irama juga berdasarkan kegunaan.[2] Misalnya, Ugaa terdiri dari beragam sebutan, yakni Agapiugaa (nyanyian pada siang hari), Bedougaa (nyanyian burung), Komaugaa, Koteugaa, Kotekaugaa, Totaugaa, Wakaugaa Yapeugaa, Yegeugaa, dst.[3] Beberapa daerah memiliki sebutan yang sama tetapi irama yang berbeda pula berdasarkan fungsinya, misalnya Totaugaa dari bagian Okomo (salah satu daerah yang terletak sekitaran danau Tigi bagian utara, Deiyai) berbeda dengan daerah Tigi bagian Barat dan juga Timur). Khusus untuk Komaugaa yang dikenal di Mapiya, yakni duwai komaugaa berbeda irama dengan yang dinyanyikan di Tigi.[4]
Berikut ini adalah uraian berdasarkan kegunaan. Agapiugaa dinyanyikan pada siang hari oleh dua orang sambil beristrahat setelah melakukan pekerjaan berkebun. Bedougaa atu nyanyian burung, merupakan lagu pujian terhadap seseorang yang telah berhasil melakukan usaha tertentu. Komaugaa adalah lagu yang dinyanyikan pada saat sedang membawa perahu dari gunung hingga ke tepian sungai atau kali. Ada pembedaan khusus dengan komaugaa dari Mapiya, yang iramanya berbeda dengan yang dinyanyikan oleh orang Paniai dan Tigi. Komaugaa Mapiya, juga melalui notasi re, ini merupakan suatu kekecualian dari tangga nada ini. Koteugaa merupakan lagu ejekan terhadap seseorang yang keras kepala (tidak menuruti nasehat) dan dinyanyikan setelah ia telah kena batunya (menerima konsekuansinya) yang sedang dalam penyesalan. Kotekaugaa juga merupakan lagu pujian terhadap seseorang yang telah berhasil. Totaugaa biasanya dinyanyika pada saat yuwo (pesta yang diadakan oleh seorang Tonawi). Wakaugaa dinyanyikan pada saat prosesi penyatuan antara seorang pria dan wanita. Melalu irama ini, pihak lagi-laki maupun perempuan akan mengungkap balas penilaian terhadap kedua mempelai. Yapeugaa dinyanyikan dalam rangka berperang. Yegeugaa merupakan nyanyian ratapan.
Tuupe dan Waanii dinyanyikan dalam rangka pujian terhadap Tuhan (setelah kontak dengan Ogai). Waanii biasanya dinyanyikan oleh dua orang sebagai solis dan reffreinnya akan diikuti oleh semua orang yang sedang berada di sekitar itu. Gowai biasanya dinyanyikan secara tunggal sebagai ungkapan perasaan seseorang. Gaupe adalah nyanyian pemberian nama terhadap seorang anak yang baru lahir. Pada saat ini, biasanya digunakan untuk memberikan nama seseorang Imam dan beberapa orang yang memiliki peran penting dalam lingkungan masyarakat.

Tempo
Tempo dalam konteks etnik Mee sangat tergantung pada suasana hati, ungkapan kalimat, dan tarinkan nafas. Oleh karena itu tidak teratur pewaktuannya. Jika dibandingkan dengan konteks tempo yang berlaku secara internasional, sulit untuk menyamakan untuk kebanyakan nyanyiannya. Misalnya, Wiyaanii, Gowai, dan Waanii, tetapi itu pun bila dipaksakan. Terlebih khusus untuk wiyaanii, iramanya sangat memenuhi tempo pada umumnya. Oleh karena, itu bisa dijadikan sebagai pengiring dengan metode looping nada. Tetapi, selain dari pada itu sangat sulit untuk kita kemas di dalam tempo yang kita kenal sekarang. Keberatanya, tentu saja dalam konteks etnik (terutama di telinga orang-orang tua yang sudah pernah mengalami, dan mendengarnya) akan merasa tidak mengena jika dikolaborasi dengan musik-musik modern walaupun sebagai iringan jika kita memaksakan.
Pada umumnya, setiap irama yang dinyanyikan polanya berbeda-beda. Namun, hal yang khas adalah pengulangan pola. Syair-syair yang diungkapkan pun berbeda secara kesastraan. Sebenarnya, penting juga untuk digali lebih dalam mengenai kesastraan. Tetapi di sini saya tidak akan membahas mengenai kesastraannya. Tentu juga karena butuh penggalian yang lebih dalam. Konsep penciptaan syair dari Ugaa dengan Tuupe berbeda-beda antara setiap nyanyiannya. Syair-syair yang terbentuk di dalam Ugaa sendiri pun berbeda dengan syair dari Agapiugaa berbeda dengan Komaugaa, dan juga berbeda pula dengan Wakaugaa, apalagi dengan Gowai.
            Menyadari segala kekurangan, saya membutuhkan berbagai saran, masukan, dan kritikan akan uraian ini. Sehingga, kedepannya uraiannya dapat lebih kaya dari berbagai sumber yang lain. Sehingga, irama-irama khas dari setiap daerah menjadi terpelihara.

Penulis adalah anak jalanan penikmat musik etnik dan musik populer sepanjang zaman yang berasal dari Meepago.



[1] Catatan singkat sebagai ajakan untuk mencintai music lokal Mee, dalam rangka Natal Se-jawabali 2017 melalui pesan singkat. Kemudian catatan itu diupload ulang lagi melalui facebook, pada tanggal 20 Mei 2018.
[2] Catatan pribadi, buku catatan ke-7, yang ditulis tahun 2016.
[3] Klasifikasi ini dibuat pada tahun 2015 di buku catatan harian pribadi (buku catatan ke-5).
[4] Saya tidak memiliki banyak data yang cukup mengenai Mapiya dan Paniai secara mendetail sehingga contohnya hanya dari lingkup Tigi saja.
[5] Adama adalah orang lanjut usia;tua;orang lama. Jika ditambahkan Adama-do akan menjadi kata plural, Adamaido yang artinya para orang tua/orang lama (Takimai, Bertus. Kamus Praktis Bahasa Mee-Indonesia. 2015, 13)
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: