Makna Gerakan Mesianik Suku Biak-Numfor di Papua - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Makna Gerakan Mesianik Suku Biak-Numfor di Papua

Oleh: Celly Akwan )*

Judul     : Koreri Messianic Movements in the Biak-Numfor Culture Area
Penulis     : Freerk Ch. Kamma
Tempat, penerbit, tahun: The Hague: Martinus Nijhoff, 1972
Non-fiksi  : 342 halaman
Kategori : ANTROPOLOGI-BUDAYA, FILSAFAT KEMANUSIAAN, AGAMA

***

Kata “Koreri” (diucapkan sebagai “koREri”) adalah suatu kata bahasa Biak-Numfor yang berarti Negara Ideal, Negara Utopian, Negara-Bahagia. Menurut suku Biak-Numfor, kondisi mirip sorga ini akan diwujudkan oleh seorang tokoh mirip Mesias, seorang pembebas atau juru selamat. Tokoh itu adalah Manseren Koreri (kata pertama diucapkan sebagai “MANseren” atau “manSEren”): Tuhan Negara-Bahagia. Ada nama-nama lain dari Manseren Koreri, seperti Manseren Manggundi dan Sekfamneri (dipakai khusus penduduk Raja Ampat asal Biak). 

 

Pembebas atau Juru Selamat yang Dinantikan
Judul disertasi Kamma berisi kata “Mesianik”. Apa maksudnya?

Istilah “Mesianik” pada judul itu tidak mengacu pada pengaruh Yahudi atau Kristen, atau pada suatu identitas fundamental. Ia mengacu pada suatu analogi resmi yang disebabkan munculnya tokoh-tokoh mirip Mesias; selain itu, analogi resmi itu disebabkan juga oleh pengharapan utopian akan kedatangan kembali mereka. Pada umumnya, istilah “Mesianik” dipakai dalam antropologi-budaya untuk memerikan kepercayaan akan seorang pembebas atau juru selamat yang dinantikan, seperti yang dibahas dalam penelitian Kamma.

Di samping itu, masyarakat yang memiliki kebudayaan primitif sendiri sudah memerhatikan analogi resmi tadi. Dalam konteks ini, perhatian mereka membenarkan pemakaian istilah “Mesianik”. Misalnya, seorang informan asal Biak mengatakan kepada Kamma bahwa pesan Injil mula-mula menimbulkan kesan bahwa Kristus dan Manggundi, tokoh Mesianik di Biak, adalah orang yang sama.

Tokoh mirip Mesias
Gerakan-gerakan Mesianik timbul dari pengharapan akan keselamatan dan melibatkan kembalinya seorang tokoh mirip Mesias. Gerakan-gerakan ini berasal dari suatu masa pra-sejarah mitikal, bertolak dari kepercayaan religius, dan berisi unsur-unsur apokaliptik. Pemberontakan manusia melalui gerakan-gerakan itu adalah terhadap ketergantungan manusia pada umumnya, yaitu, pada penyakit dan kematian; secara khusus, pemberontakan itu untuk melawan situasi-situasi gawat atau parah yang baru timbul. Gerakan-gerakan itu bersifat milenial bila gerakan itu tidak melibatkan kedatangan kembali secara khusus dari seorang Mesias.

Tokoh-tokoh mirip Mesias menunjukkan kemiripan yang mengherankan dengan para pengkhotbah dalam Alkitab Perjanjian Lama. Mereka menyatakan keselamatan Mesianik tanpa penghakiman ilahi dan, karena itu, disebut nabi-nabi palsu. Di pihak lain, mereka mirip tokoh-tokoh Mesias palsu dalam Yudaisme dan agama Kristen; mereka juga mirip Imam Mahdi dalam ajaran Islam.

Misalnya, Musa dari Kreta, pulau terbesar Yunani di Laut Aegea bagian Selatan, menyebut dirinya Mesias pada abad ke-5 Masehi. Dia berhasil membujuk para pengikutnya untuk menjatuhkan dirinya dari suatu tanjung ke dalam laut dan mengakibatkan banyak di antaranya tewas. Mereka menjatuhkan dirinya ke laut karena percaya akan janji Musa bahwa mereka akan hidup-hidup ke Tanah Perjanjian, yaitu, Palestina.

Gerakan-gerakan Mesianik universal
Gerakan-gerakan Mesianik sudah terjadi sepanjang sejarah manusia dan di semua tempat. Kerinduan akan seorang Mesias hampir setua catatan-catatan tertulis umat manusia. Hampir 1.500 tahun sebelum ada acuan pertama kepada seorang Mesias dalam tulisan-tulisan Yahudi, Ipuwer dari Mesir kuno merumuskan penantian Mesianik. Selain itu, gerakan-gerakan Mesianik dilaporkan terjadi di zaman kuno di Babilonia, Mesir, Yunani, Roma, dan Turki. Gerakan-gerakan itu diadakan juga di seluruh Eropa, di China, India, Indonesia, Madagaskar, Filipina, Melanesia, dan Polinesia. Kepercayaan akan tokoh Mesianistik dan gerakan-gerakan yang menantikan kembalinya mereka tidak hanya ada dalam agama-agama primitif tapi juga dalam agama-agama utama dunia: Buddhisme, Hinduisme, Islam, dan Kristen.
Rodjau Obinaru from Wardo, the informant in 1952

Esensi manusia
Penantian akan datangnya keselamatan yang dibawa tokoh Mesianik adalah esensi atau inti manusia. Manusia yang menantikan datangnya keselamatan itu tidak dibatasi oleh realitas atau oleh pembatasan yang berasal dari kebudayaannya. Dia malah menerobos kendala itu, kalau perlu dengan kekerasan. Penantian itu dikaitkan dengan suatu realitas adialami (supernatural) dalam arti religius yang ketat, atau dengan suatu bentuk utopia yang diduniawikan.

Konteks budaya Biak
Penelitian Kamma berupaya menempatkan gerakan-gerakan Koreridalam konteks budaya Biak sendiri dan menjelaskannya berdasarkan konteks ini. Suatu gerakan Koreri hanya bisa dipahami dalam kerangka budayanya sendiri. Mencirikan gerakan-gerakan Mesianik dari Biak melulu melalui peristiwa-peristiwa luar dan sering spektakuler di dalamnya adalah suatu upaya yang berbahaya. Dalam hubungan yang luas, Kamma yang membahas gerakan-gerakan Koreri di daerah kebudayaan Biak-Numfor meneliti juga manusia dalam totalitasnya sebagaimana yang diungkapkan dalam kebudayaannya. Masalah yang dihadapi para penganut Koreri dan peserta gerakan-gerakan Koreri bukanlah masalah sosio-ekonomik atau psikologis melainkan masalah kebudayaan; karena itu, seluruh aspek manusia harus dipertimbangkan.

Daerah Kebudayaan Biak-Numfor
Selain itu, Kamma menyebutkan “daerah kebudayaan Biak-Numfor”. Apa maksudnya?

Istilah “daerah kebudayaan” mengacu kepada suatu lingkungan geografik dengan pendukung-pendukung kebudayaan (material dan spiritual) yang memiliki pola-pola kebudayaan yang pada dasarnya sama. Berdasarkan pengertian ini, daerah kebudayaan Biak-Numfor mencakup penduduk pulau Biak dan Numfor dan kawasan-kawasan emigrasinya, yaitu, Dore (Manokwari), pulau Roon (di utara Semenanjung Wondama), Waigeo Barat (Kepulauan Raja Ampat), kawasan yang dihuni suku Sawai di Halmahera Timur dan barangkali Seram Utara, beberapa kelompok kecil emigran Biak di Waigeo Tengah (Kepulauan Raja Ampat), sejumlah kecil suku Biak yang mengalami kawin campur dengan suku Moi dan Madik di Barat-laut Kepala Burung tapi tidak lagi berbahasa Biak, dan barangkali beberapa penduduk Pulau Gebe (Kepulauan Raja Ampat) yang juga tidak lagi berbahasa Biak. Sekitar pertengahan tahun 1950-an, ada kira-kira 40.000 penduduk suku Biak-Numfor, 30.000 tinggal di Biak dan selebihnya di kawasan-kawasan emigrasi yang sudah disebutkan. 

Kebudayaan material yang pada dasarnya sama dalam daerah kebudayaan Biak-Numfor mencakup antara lain teknologi pembuatan rumah, perahu, dan model busana yang kurang lebih sama. Kebudayaan spiritualnya dipahami di antaranya melalui bahasa dan kepercayaan tradisionalnya. Kecuali untuk suku Sawai dan suku-suku kecil yang tidak lagi berbahasa Biak di Kepulauan Raja Ampat, semuanya berbahasa Biak, dengan dua belas kelompok dialek. Sembilan kelompok dialek dipakai di Biak dan Numfor sementara tiga kelompok dialek dipakai di Roon, Dore, dan Waigeo Barat. Selain dipersatukan oleh satu bahasa dengan keduabelas kelompok dialeknya, penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor dipersatukan juga oleh kepercayaan mereka akan seorang tokoh mirip Mesias. Tokoh ini ditolak masyarakat Biak-Numfor di masa lampau lalu pergi ke Barat tapi berjanji akan kembali lagi. Mereka yang percaya kepadanya menantikan kembalinya dia melalui gerakan-gerakan Koreri. Pendek kata, kebudayaan material dan spiritual penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor pada dasarnya sama.

Realitas Aktual vs Realitas Ideal
Gerakan Koreri di daerah kebudayaan Biak-Numfor pada umumnya adalah reaksi terhadap sisi negatif kehidupan masyarakat Biak-Numfor. Di dalam sisi negatif kehidupan itu, muncullah perpecahan yang nyata antara realitas ideal dan aktual.

Masyarakat tradisional daerah kebudayaan Biak-Numfor percaya akan adanya realitas ideal dan aktual. Rasa tidak aman yang tinggi dalam realitas aktual mendorong mereka mendambakan realitas ideal, tempat ada kebebasan dari kehidupan sehari-hari yang tidak mereka sukai. 

Realitas aktual berisi banyak krisis hidup. Ini mencakup penyakit dan kematian, tanah yang tidak subur, perang-perang pengayauan (head-hunting raids) yang berdarah, wabah yang sewaktu-waktu mengorbankan ribuan orang, kuasa-kuasa gaib yang menimbulkan rasa takut, panen yang gagal karena serangan hama, cuaca yang buruk, ancaman perang dari satu klen terhadap klen yang lain, praktek sihir hitam, dan lain-lain. Eksistensi aktual ini tidak mereka cita-citakan dan, sebagai akibatnya, menimbulkan reaksi-reaksi negatif dari penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor: mereka tidak menyukai realitas aktual ini dan ingin bebas dari padanya. 

Akan tetapi, keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan kekuasaan lain dari kecendekiaan mereka tidak memberi kemungkinan realistik bagi mereka untuk mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Pilihan yang mereka buat adalah mencoba menerobos ke dalam kenyataan mitikal, realitas ideal yang mereka yakini ada. Keberadaan ideal ini berisi akhir dari rasa tidak aman mereka. Eksistensi utopian ini mencakup hidup yang kekal, kesuburan tanah, panen yang berlimpah-limpah, hidup yang sehat-walafiat, cuaca yang baik, perdamaian dan rasa damai, kebaikan, dan hal-hal lain yang baik dan indah. 

Untuk mencapai realitas ideal, penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor berusaha mewujudkan Koreri, Negara-Bahagia. Mereka mencoba mentransendensi realitas aktual itu supaya eksistensi yang mereka rindukan bisa diwujudkan. Realitas ideal itu berada di dalam dan melalui pahlawan mitikal mereka, Manseren Koreri, Tuhan Negara-Bahagia.

Siapakah Manseren Koreri? Dia seorang leluhur tradisional atau leluhur yang sungguh ada. Leluhur itu mengejawantahkan (embody) banyak pahlawan mitikal. Dengan kata lain, dia adalah “konsentrasi dari banyak pahlawan mitikal dari seluruh mitologi Biak.” Dia seorang penengah (mediator) antara Koreri, realitas ideal, dan realitas aktual karena dia sendiri memiliki ikatan mutlak dengan Koreri. 

Sejarah Ringkas Gerakan Koreri
Catatan atau laporan sejarah orang Barat tentang Manseren Manggundi dan gerakan-gerakan yang menantikan kedatangannya kembali di daerah kebudayaan Biak-Numfor dan kawasan tertentu pesisir Nieuw Guinea Belanda bagian utara, seperti yang dibahas Kamma, muncul antara kira-kira pertengahan abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 sampai dengan tahun 1967. Laporan pertama kali dibuat tahun 1854 lalu muncul lagi tahun 1855 di Numfor. Laporan-laporan orang Barat lain paruhan kedua abad ke-19 muncul tahun 1857; 1860 (Numfor); 1861 (Mansinam dan Wandamen, kini Wondama); 1864 (Amberbaken, pesisir utara Kepala Burung); 1866 (Roon, utara Semenanjung Wondama); 1867 (Wondama dan Dusner, di seberang Teluk Wondama); 1868 (Waropen dan Numfor); 1868 (Wariab, utara pulau Rumberpon di Teluk Cenderawasih masa kini); 1868 (Dore, Manokwari); 1869 (Dusner); 1875 (Mansinam, sebuah pulau dekat Manokwari); 1877 (Mansinam); 1880 (Mansinam); 1881 (Meoswar, Teluk Cenderawasih masa kini); 1882 (Mansinam); Biak; Biak; 1884 (Biak); 1890 (Mansinam); 1892 (Dore); 1894 (Roon);  dan 1894 (Pulau Waar, Teluk Cenderawasih masa kini). Dalam abad ke-20, gerakan-gerakan Koreri muncul tahun 1900-1908 (Roon); 1901 (Numfor); 1909 (Biak dan Numfor, Teluk Cenderawasih masa kini); 1910 (Mamberamo, pesisir utara Papua masa kini); 1910 (Numfor); 1920 (Manokwari); 1923 (Biak); 1926 (Biak); sekitar 1926 (Kepulauan Padaido, Biak); 1927-28 (Biak); 1925 (Yapen, Teluk Cenderawasih masa kini); 1927 (Kurudu, Teluk Cenderawasih masa kini); 1931 (kepulauan Ayau, Raja Ampat); 1932 (kampung-kampung Amber, Waigeo Raja Ampat); 1933 (kepulauan Ayau); 1934 (Batanta, Raja Ampat); 1936 (Pam, Raja Ampat); 1941 (kepulauan Ayau); 1947 (Yefbo, Raja Ampat); 1938-1943 (Biak, Numfor, dan Yapen); dan 1962, 1966, dan 1967 (Arefi-Yensawai, Raja Ampat).
Konoor Warbesren Rumbewas in prison (1934)

Gerakan-Gerakan Serupa di Nieuw Guinea bagian Barat (kini Provinsi Papua dan Papua Barat)
Kepercayaan akan Koreri, tokoh Mesianik, dan gerakan-gerakan yang menantikan kembalinya dia seperti yang dipercaya masyarakat di daerah kebudayaan Biak-Numfor cocok dengan struktur kebudayaan suku-suku Papua yang lain di bekas jajahan Belanda itu. Mitologi kawasan pesisir bagian utara sering sangat mirip dengan mitologi di Biak. Di Biak, dan di tempat lain, gerakan-gerakan mirip Koreridiketahui diadakan, tapi dalam banyak hal informasi yang tersedia tidak memadai untuk memberikan penjelasan yang memuaskan. Akan tetapi, Dr. Kamma mendaftarkan gerakan-gerakan dalam Lampirannya dengan harapan mempermudah penelitian lebih lanjut di masa depan.

Dia mendaftarkan 26 gerakan mirip Koreri di berbagai kawasan di Nieuw Guinea Belanda dan Irian Barat. Gerakan-gerakan itu diadakan di kawasan pesisir bagian utara, beberapa daerah di pedalaman, dan beberapa lagi di selatan bekas jajahan Belanda yang masa kini bernama Papua dan Papua Barat. Gerakan pertama muncul sekitar tahun 1900 di Tabati dan Injeros, dua kampung pesisir di Jayapura masa kini, disusul gerakan lainnya yang muncul dalam satu tahun atau beberapa tahun, biasanya secara timbul tenggelam, sampai dengan tahun 1962.

Info Tambahan
Penelitian F.C. Kamma (1906-1987) dilakukan ketika dia dan keluarganya tinggal di antara penduduk berbahasa Biak yang tinggal di kawasan Raja Ampat (Sorong), Nieuw Guinea bagian Barat (kini provinsi Papua Barat) antara tahun 1932 dan 1942. Kamma seorang pendeta, misionaris Protestan dari Gereja Hervormd (Reformasi) Belanda, ahli antropologi-budaya, dan ahli sejarah gereja, khusus di Nieuw Guinea Belanda (kini Papua dan Papua Barat). Dia dan keluarganya mahir berbahasa Biak.

Tiga dari gerakan Koreri yang dia perikan dalam disertasinya terjadi di kawasan itu. Kejadian itu memampukannya meneliti gerakan-gerakan itu melalui partisipasi dan observasi.

Buku ini adalah hasil terjemahan dan revisi Kamma dari disertasinya untuk mendapat gelar doktor pada Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 1954. Judul aslinya dalam bahasa Belanda: De Messiaanse Koreri-Bewegingan in het Biaks-Numfoorse Cultuur-Gebied dan diterbitkan J.N. Voorhoeve, Den Haag, 1954. Disertasi Kamma berisi 11 bab ditambah satu lampiran, sedaftar singkatan, bibliografi, indeks umum, foto-foto, dan peta-peta.

Gerakan Koreri Masih Berlanjut
Data Kamma berakhir tahun 1962 barangkali karena pemerintahan atas Irian Barat waktu itu beralih dari Belanda ke Indonesia Agustus 1962. Meskipun demikian, kepercayaan akan Koreridan gerakan yang menyertainya yang tidak dicatat Kamma dalam disertasinya masih muncul di zaman Indonesia. 

Mingguan Tempo Online (28 Januari 1978) mengatakan gerakan Koreri diadakan di Yamnaibori, sebuah gunung yang keramat dalam mitos keramat tentang Koreri, Biak. Kegiatan mereka mencakup menyanyi sambil menantikan kedatangan Manseren Koreri di gunung itu.

Harian Kompas terbitan Rabu, 10 Juni 2009 (halaman 24 kolom 5-7) menyatakan bahwa ajaran kuno Koreri asal Biak menjadi dasar motif kelompok bersenjata pimpinan Decky Imbiri di Mamberamo Raya. Selama sebulan, mereka mengakibatkan lapangan terbang perintis Kampung Kapeso kabupaten itu tidak bisa dipakai untuk lalu lintas penerbangan. Sesudah menewaskan tiga orang anggota kelompok itu, polisi berhasil membebaskan lapangan terbang itu dari kelompok bersenjata tadi. Mereka masih mengejar Decky dan pengikutnya yang lain.

Menurut keterangan yang diperoleh Kompas, perlawanan kelompok bersenjata tadi diduga didorong oleh ajaran kuno masyarakat Biak tentang Koreri. Pelopor gerakan ini adalah Helena Yanserem (64), seorang ibu, biasa dipanggil Mama Nela, dan Agus Sulo (14). "Dalam ajaran ini, mereka menantikan kedatangan seorang pahlawan yang akan membebaskan orang Papua dari penjajahan," tulis Kompas. Mama Nela yang sebelumnya ada di Yapen Waropen mengatakan dia mendapat "wangsit" melalui mimpinya untuk pergi  bersama Decky Imbiri ke Mamberamo. 

Impian Sukma dan Kalbu Masyarakat Papua dan Papua Barat
Munculnya kembali gerakan Koreri, menurut kedua laporan tadi, membuktikan sekali lagi pernyataan Dr. F.C. Kamma bahwa penantian akan Koreri dan kembalinya Manseren Koreri adalah esensi manusia. Laporan tertulis menelusuri kepercayaan tradisional penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor ini dan penduduk daerah kebudayaan lain di Nieuw Guinea Belanda seawal-awalnya pada tahun 1854 dan sedini-dininya pada tahun 1967. Tapi kepercayaan tradisional itu yang tidak dicatat diperkirakan sudah terjadi jauh sebelum pertengahan abad ke-19. Sesudah tulisan Kamma berakhir 1967, kisah kepercayaan tradisional suku Biak-Numfor itu masih muncul menjelang akhir 1970-an dan akhir 2000-an. Selama masyarakat salah satu suku besar di Papua dan Papua Barat masa kini menyadari adanya perpecahan antara realitas aktual dan ideal dan tidak menemukan pemecahan yang memuaskan atas realitas aktual yang tidak mereka sukai, kepercayaan akan Manseren Koreri dan gerakan-gerakan yang menantikan kembalinya dia membawa kondisi firdausi akan tetap ada dan muncul ke permukaan. Esensi manusia, termasuk manusia Papua dari daerah kebudayaan Biak-Numfor yang percaya akan tokoh mereka yang mirip Mesias, abadi.

Disertasi F. C. Kamma yang dinilai istimewa itu layak dijadikan sebuah acuan utama oleh mereka yang terlibat dengan pembangunan masyarakat Papua dan Papua Barat masa kini dan masa depan. Apa yang dia bahas dan perikan boleh dikatakan adalah impian kalbu dan sukma mereka. Menanggapi kerinduan yang paling dalam mereka melalui pembangunan yang nyata akan memecahkan banyak masalah di kedua provinsi itu, termasuk masalah Organisasi Papua Merdeka (OPM).

)* Penulis buku, "Ditawan Naga, cerita rakyat Irian Jaya" (1991), "Beberapa aspek teater tradisional: Di daerah kebudayaan Biak-Numfor" (1984), Alumni Univesitas Satya Wacana Salatiga, tinggal di Jakarta.

Anda dapat membacanya juga di Google Book;







Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: