Kumpulan Puisi Noo, bagian (1) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Kumpulan Puisi Noo, bagian (1)

TUNGKU

Doc. Pribadi 
Mereka berjubah tapi mereka pandai berjudi
Berjudi tentang rahasia Ilahi

Mereka buncit tapi mereka pandai menari
Menari di atas penderitaan rakyatnya sendiri

Mereka diakui sebagai tetua
Tetua yang  lihai memasang janur kuning

Siapa aku ?
Barangkali sama seperti !
Ah aku !

Kampwalker – Waena, (24/09/2018)



ADAKAH HARI ESOK ?

Kencana di payudara menusuk isi rahim
Melambai segala hasrat menjamah surga
Suci pun sirnah di lahap kejamnya birahi
Beranak harta,  susui tahta
Apa lagi tersisa ?

Ratapan mulai usang
Niat pun diusung 
Lirih litani jelas teruntai 
Kuntum novena syaduh mengalir
Mengriringi lorong-lorong jalanan salib

Asa pun datang menari
Menggeliat di benak
Berharap ada yang jatuh
Sekedar memeluk letih jiwa

Hai KAU, masih adakah hari esok ?
Air mata darah menjelang punah

Missi Park Wamena, (5-15/9/2018)
Noo



N A M U K

Aku mengandung segalanya, seisi bumi
Tak dapat kubendung, segalaku dilucuti
Tiada tersisa, telanjang bulat kuberdiri
terlentang surgaku pasrah, ditiduri bejatnya birahi

Saguku dibabat habis maha penguasa sawit
Pisangku digilas bersih maha penguasa padi
Dusunku dipentas kejam maha penguasa gergaji
Binatangku pergi dikejar pemburu yang binatang
Dan aku ?
Dulu akulah pengayau
Menuju punah kini ku diayau


PEREMPUAN ITU

Perempuan itu busung kerempeng,
susuri jalan setapak di lembah kehidupan
demi secuil nafas esok hari,
meski setitik abjad tak ia kenali,
 meski sebanyak angka tak ia pahami.

Disaksinya beragam seragam dengan mata kepala,
bak dirajam jiwanya mati terancam.
Dinikmatinya setiap helai peradadaban dengan senyum kebanggan,
meski setiap hembusan angin membawa debu-debu kecemasan akan ketiadaan.

Seperti sang kejora yg tiada pupus harapan,
Perempuan itu tetap menyusui waktu dengan harapan, perempuan itu masih menoken kehidupan dengan harapan, perempuan itu terus berkebun ria dng harapan.

Untuk perempuan itu,
perempuan Yalli yang sore tadi menampakan harga diri.

Yalli, Mei 18
Noo 


Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: