Api Asmara Di Jalur Revolusi - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Api Asmara Di Jalur Revolusi

Foto: Ist

***

Api Asmara Di Jalur Revolusi

Hati membara di bakar api cinta
hangat segar marak di sanubari
langkah cinta dan juang menyatu
dalam rindu yang bercinta sejarah

Biarkan ia membara dalam jiwa, o sayang!
di bakar hangus oleh api asmara
menghangatkan hati yang gersang
eratkan jiwa demi baluti luka bangsa kita

Adakah hidup lebih bahagia, o sayang!
dari hati yang slalu di bakar penindasan
padamu kasih,  kita setia pada bangsa
demi pembebasan melebur bermesra
kasmaran di jalan-jalan revolusi

Adakah hati lebih gembira, o sayang!
dari luka yang slalu di sayat penjajah
padamu sayang, rindu pada kemerdekaan
cinta kita kembang dalam jalan revolusi
melepaskan maklhuk  yang tertindas

Oh sayang, kekasih hatiku
bawalah dirimu kita bercumbu bibir
dan saling bergenggam erat-erat jemari
kepakkan tangan kiri berdua bersama
terjang tumbuk pada tirani-tirani benggal
yang berserakan di penjuru bangsa kita

Hollandia, 01/08/17
Aleks Giyai


***


Balada Bangsa Tertindas

Kami ialah sisa dari yang sudah musnah
suara orang-orang tertindas
tapi kami masih bernafas
‘tuk hidup memberontak lagi

Kami adalah sisa dari yang di buru
setiap detik dalam waktukarena kebenaran
kata orang-orang terjajah
tapi engkau tak dapat memadami
kobaran ideologi di lubuk hati kami

Kami adalah sisa yang di memenjarakan 
dari negara demokrasimu
kata orang-orang terbungkam
namun kami akan bangkit melawan
ketidakadilan, penindasan di atas negeri

Kami adalah sisa dari yang di marginalkan
hidup anak negri di alamnya
kata orang-orang tersingkir
namun kami akan berjuang
menentukan perahu kehidupan kami

Kami adalah sisa dari sgala kekayaan yang di rampas
dari tangan hidup di atas pusaka kami
kata orang-orang yang di eksploitasi
tetapi kami akan merebutnya
demi tanah tumpah darah kami west Papua

Hollandia, 01 Juni 2015
Aleks Giyai


***


Surat Revolusi Untuk Kekasihku

Suara ini hanya tinggal separuh 
Selebihnya ada pada pilihan hati
Tapi kita bawa mulut 'tuk menuntut 
Niscaya kebebasan ada menunggu

Riak kaki harus kibas debu jalanan
Tangan tebar usap keringat jalanan
Bibir wajib mengincar angin jalanan 
Di sanalah bersemayam kebebasan

Jika denyut nadi sama di badan
Berbicara dalam hati pun serupa 
Saling bergenggam erat jemari 
Melangkah pun seirama berjuang

Itu pertanda kita sejiwa sayang 
Jodoh yang di satukan kolonial 
Cinta yang di iklarkan penindasan 
Memadu asmara di jalur revolusi

Oh kekasih jiwaku,
Ini adalah surat cinta dalam sajak
Utuh hati kita berkasmaran di sana
Hingga membuai benih-benih revolusi

Hollandia, 11-12-18
Giyai Aleks

Print Friendly and PDF

Tentang : kosapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: