Duka Papua, Semoga Tuhan Beri Kami 1000 Guru - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Duka Papua, Semoga Tuhan Beri Kami 1000 Guru

Google Sourch

Cerpen: Sesilius Kegou)*
Sore itu tak seperti biasaya, suyi. Hujan mengguyur, badai petir dan guntur berlomba di angkasa.  Banyak moment telah gagal.  Seperti rindu dan duka campuri dalam hayalku di halaman gereja Katolik St. Theresia Muyou, ujung kota Nabire menjadi saksi bisu. Hawa dingin menusuk nadi, tubuh dan jiwaku serupa  tak ada artinya ketika itu.
Gugusan awan putih membubung punjak gunung Towai.
Aku duduk setengah berdiri di kursi besi makin karat dekat mading milik OMK, ku sodorkan buku Kumpulan Ibadat ditulis oleh Ernest dan Marianto, terbit di Kanasius Yogyakarta, setelahnya aku baca beberapa halaman.  Jiwaku tak tenang,  aku memandang sekitarku. Tak sengaja mataku menajam pada mading. “Dr. Neles Tebay, Pr. Telah dipanggil Tuhan” aku melihat hanya judul tulisan tertera di mading.
Letakan bukuku diatas serambi kayu, ku mulai megikuti literasinya, “Dr. Neles Tebay meninggal di Jakarta.” Seperti mimpi, bahka hanya sandiwara.
“Sperti rusa rindu” aku dengar yanyian rindu itu dalam gereja, mengiring terpancar. Sang peguasa menyergap hunianku. Kebisiganku, aku terurai tulisan Jhon Kayame, tulisan tentang kepergian sang Inspirator Dr Neles Tebay, Pr. “Sepertinya tulisan ini baru saja tempel tadi.”
Sore itu lampu-lampu kerucut tak nyala menderang seperti biasanya. Keramaian umat di pintasan jalan kampung tepat hari Miggu. Ibadah hari minggu Palma bagi umat Katolik awal pekan Suci di pimpin oleh Fincensius, Pr. Pastor utusan Paroki St. Yoseph Nabire Barat.
Emperan Gereja Tua itu terhiasi dengan dedauan palma,  bahkan   dalam gereja. “Tadi saya ikut misa, tapi tidak ada pengumuman bahwa beliau telah meninggal,” haya itu dalam pikirku. Aku kembali duduk tak ada daya.
Matahari bergeser perlahan hingga menyinar lagi kemiringan barat daya, uggas hutan menyiur. Cicak dekatku pun suara meneriak. Awan putih pelan-pelan meyelimuti sekitarku. Kampungku tepian danau Yamor. Ku lihat semuanya menjadi muram. Para Nelayan berlabu ke Danau.

***
Cakrawala mulai suram.
Saya butuh teman bicara hari itu. Hanya pena hitam dalam genggamanku. Menulis capek luar biasa semalam. Sepertiya aku tidak punya inspirasi. Tokoh-tokoh gereja mulai dipanggil Tuhan.
‘Hay! Anak muda, kami duka,” Terkejut, lelaki tua berjuba Putih dengan ringan tangannya  membuka pitu ekaristi. Aku melihat dua lampu lilin sekitaran sana dinyalahi. Igin melihatnya, tapi dipelehi muka pintu dengan tubuhnya.
Diatas lemari ada piala dan hosti, dan dua botol anggur hanya itu aku lihat tapi dalam semenit. Lelaki itu sama sekali aku tidak mengenalnya. “Ku sadari popor senjataku, kaca mataya hanya menutup mata nurani manusia.” Apa yang kau pikir! Lelaki itu menegurku. “Ahk! Apakah dia malaikat?” tubuhku gementar. “Di tahu isi hatiku.”
Aku agak bingung perkataanya. Lelaki tanpa mengenal identitas,  meyuruhku masuk. Seakan dia kenal aku. Aku bergegas menghampirinya. Ruangan gelap itu itu tak ada lampu satu pun, hanya satu balon lampu Philips tapi sama sekali mati. Beberapa sarang burug aku temui di plafon kayu Jati.
“Sungguh, kematian tentu ada.”
“Apa maksudya?”
Dengan ekspresi wajah tembokya membuat saya diam. “Ssssstt!” dia semakin menatapku perlahan. Malu dan takut perlahan menggoresku. Tatapanku memandang beberapa lukisan lama di gantongi sekitarku, bayak lukisan para oranng suci.
“Jangan membogkar rahasiaku,” nyaris bisik dekat telingaku.
Ruangan gelap itu melingkari sarang laba-laba di beberapa pojok. Tapi hiasan seperti kamar orag Belanda. Tertata rapi.
Lelaki itu balik menatapku.
Juba putih yag rapi, harum. Potongan kumis biasa-biasa saja tapi kekar dan berotot. Sorot matanya yang tajam di balik beberapa helai gimbal rambutnya yang melingkar kedepan  menutupi jidatnya. Hidugnya sedikit mancung.
“Eeeee! Jadi kau tidak tahu peristiwa?”
“Apa.” Denyut jantungku.
Sedikit membingungkan. Aku menatapnya. Mataku terasa berkaca-kaca. Baru bertemu manusia seperti dia.
“Banyak inspirator telah pergi. Mereka tinggalkan jasa dan karya-karyanya. Papua membutuhkan sosoknya. Dalam polotik hukum, Agama bahkan sosial siapa penggantinya.”
Ruangan tua tertata rapi itu hanya aku dan lelaki itu duduk bertatap.
“Hee! Ko tahu, umatku duka?” raut wajahnya mengengekpresi sedikit sedih.
“Kali ini tidak seperti biasanya. Dr. Neles Tebay, Pr seorang cendekiawan, aktivis dan Imam katolik. Dia juga Jarigan Damai Papua (JDP),dia juga pimpinan sebuah lembanga yang ia dirikan untuk menjembatani dialog antara Jakarta-Papua dalam rangka menyelesaikan permasalahan HAM, Politik, dan ideologi di Papua.”
Kedua tangaku ku letak diatas meja. Lelaki itu sodorkan bukunya diatas meja itu, lelaki tua itu tanpa memandangku geserkan buku tebalnya kemudian baca.
“Abepura 10 Oktober 2012
Orang-orang muda yang saya hormati,
Izinkan saya menyampaikan salam khas papua : Wa Wa Wa.
Saya menulis surat ini dari Papua yang masyarakatnya majemuk. Anggota masyarakat Papua terdiri dari berbagai sukubangsa baik dari Papua maupun dari luar Papua.
Tanah Papua menjadi tanah konflik sejak 1963 hingga kini, konflik menewaskan banyak orag, baik rakyat biasa maupun anggota POLRI dan TNI. Kekerasan digunakan utuk meyelesaikan masalah, sebab itu berita dari Papua selalu menyangkut kekerasan. Kekerasan tidak pernah meyelesaikan masalah sebaliknya kekerasan melahirkan kekerasan baru, memberkeruh suasana, melukai hati, memperdalam rasa kebencian dan melahirkan kecuragan dan ketidak percayaan antara pemerintah dan rakyat Papua
Saya percaya bahwa dialog merupaka jalan untuk menyelesaikan masalah, membangun lerasi yang harmonis dalam masyarakat yang heterogen. Berdasarkan kepercayaan tersebut, saya terus memajukan budaya dialog, sekalipun saya menghadapi berbagai tantangan dan ancaman karena mendorong dialog Jakarta – Papua.
Saya masih mempunyai harapan bahwa orang-orang  muda Indoesia akan mengutamakan dialog sebagai cara yag bermartabat dalam membangun persahabatan dan persatuan, memelihara keunikan dari setiap budaya dan agama, dan menyelesaikan berbagai konflik
Salam
Neles Tebay.” Suaranya yang lembut, aku dengar di kepingku.
Di dalam ruang Ekaristi, Rajutan jubi dan rotan ukirnya di dinding terhias tata. Hanya satu jedela. Suasana semakin mencekam. Terimakasih dengan tergesah-gesah  menata destinasi ruangan yang suram itu. Hanya lampu lilin yang menerangi kami, tapi tidak terlalu terang.
Hilir mudik depan pintu sambil sekali mataku melilirik jam yang gantung di dindig ruagan. Sesaat kemudian suara yang tak membayagkan berseru.
“Hei, ayo keluar! Tanah air ini sepertinya goyang.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berhetak  berderap-derap.
“kalian yang ada dalam ruangan, ayo keluar!” teriak sebua suara. Kali ini aku dengar suara permpuan.
Lelaki itu duduk menuduk kepala, menutupi wajahnya. Pejamkan matanya, tanda salib depanku dan berdoa. Aku turuti gerakannya, berjam-jam aku hening, mataku telah tutup tadi.  Ruangan itu menjadi sepi.
Jiwaku terbawa ke bangunan megah, tinggi. “Rumah Sakit St Calorus Jakarta” terpampang tulisan depan banguan itu.  Bangunan klosial yang indah, bentuk bangunan seperti bangunan peninggalan kejayaan Yunani atau Romawi.  Tak ragu, aku memandang pintu utama sudah terbuka. Tak ada penjaga. Sembaran angin menyambur sekujur tubuhku ketika aku melagkah  masuk IGD, aku melihat ada dua belas pintu yang mirip satu yang lain. Tapi sebelas pintu tak ada nyalahi lampu, hanya ruangan ujung pancaran lampu merobos menderang di jendela kaca.
Ada semacam desus-desus suara keluar dari ruangan itu. Aku bergegas mendekati ke ruangan ujung itu, beberapa orang kerumuni, melingkari sesuatu. Tanguisan tak aku bayangkan. Ada perbincangan tak jelas terdengar di teligaku. Aku mendekatinya.
“Ini bahaya.”
“Dr. Neles Tebay, Pr. Telah hembuskan nafasya, tepat Minggu Palma.”
“Pasor Nato Gobay juga meninggal 15 Februari 2015, hari minggu.”
“Ia. Berharap pada siapa lagi. Mereka sosok pedamaian Papua.”
“Ia benar. Karena Pastor Jack Mote, Pr juga telah di panggil Tuhan”
Aku menepi dan mendengar semacam desus-desus suara tagisan keluar dari ruangan tak henti-henti oleh kerumunan orang.
“Kepergian mereka meninggalka luka bagi kami. Seterusnya, kami amat sagat merasa kehilangan. Bagi kami, kalian adalah guru tidak hanya umat tuhan di West Papua tetapi juga negri ii. Dari timur, kalian telah mendidik negara ini bagaiman ciptakan kedamaian antara dua bangsa dalam satu negara.”
“Amin, semoga Tuhan beri kami 1000 guru.”
Setelah semua itu aku saksi. Aku buka mata. Di ruangan ekaristi  itu hanya aku. Lelaki berjuba putih itu  entah kemana, menghilang.  Aku pun bergegas keluar  pulang tiggalkan tempat aku duduk.

)*Penulis adalah wartawan Suarameepago.com
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: